
Lukas dan Lana kini dalam perjalanan menuju kota Rio. Di belakang mobil mereka telah berbaris rapi pasukan Gold Dragon. Malam itu, Lukas sengaja membuka lebar kaca mobilnya untuk membiarkan udara malam masuk dengan bebas. Satu tangannya ia letakkan di pintu mobil. Sesekali pria berbahaya itu menatap ke arah samping untuk melihat kesunyian kota di malam hari.
Lukas kembali ingat dengan kehidupannya waktu pertama kali membentuk Gold Dragon. Gold Dragon dibentuk bermodalkan kekuatan petarung yang mampu bertahan hingga akhir. Hanya ada Lukas dan Zeroun waktu itu. Setiap kali ada pertarungan mereka hadir untuk memamerkan kekuatan yang mereka miliki hingga mafia itu bisa terbentuk. Di tambah lagi, harta Zeroun yang berlimpah sejak dulunya membuat Zeroun sangat mudah memperluas areal kekuasaannya.
Masih terngiang jelas di dalam pikirannya. Bagaimana dulu ayah kandungnya memberikan amanah untuk mematuhi Zeroun. Ayah kandung Lukas waktu itu berjabatan sebagai tangan kanan orang tua Zeroun. Sejak kedua orang Zeroun di bunuh dengan keji, sejak itu juga Lukas kenal dengan Zeroun. Ayah kandung Lukas yang menyelamatkan nyawa dan harta yang dimiliki Zeroun saat itu.
Namun, sayangnya ayah satu-satunya yang ia cintai harus pergi untuk selamanya, saat dirinya masih menginjak usia 17 tahun. Sejak saat itu kehidupan jalanan mulai di lakukan Zeroun dan Lukas. Kata sapaan yang dulunya Tuan berganti dengan kata Bos.
“Lukas,” ucap Lana memecahkan lamunan Lukas.
“Hmm,” gumam Lukas tanpa memandang. Pria itu tetap fokus pada jalan di depan yang terlihat sunyi.
“Kita mau kemana?” tanya Lana penuh ragu-ragu. Wanita itu tahu kalau saat ini tujuan utama mereka menyelamatkan Agen Mia dan Inspektur Tao di kota Rio. Namun, Lana gak tahu. Di mana pernyerangan itu saat ini terjadi.
“Kantor Polisi,” jawab Lukas cepat.
“Apa?” celetuk Lana kaget, “Apa aku tidak salah dengar? Kita akan bertarung di kantor polisi. Apa itu tidak sama saja menyerahkan diri kepada polisi? Hanya Agen Mia dan Inspektur Tao yang mempercayai kita. Sisanya masih menganggap kita sebagai buronan.” Lana memiringakan tubuhnya untuk menatap Lukas dengan seksama.
“Kadang tempat yang paling berbahaya adalah tempat paling aman,” jawab Lukas santai tanpa beban sedikitpun.
Lana membisu sambil membuang tatapannya. Perkataan Lukas cukup menyakinkan malam itu. Ya, walaupun hati Lana kini masih di selimuti keraguan. Mobil yang dikemudikan Lukas melaju dengan sangat cepat. Menembus kabut malam yang pekat, hingga akhirnya beberapa saat kemudian Lukas dan Gold Dragon tiba di lokasi.
Gedung polisi itu tidak lagi utuh. Ada api dimana-mana serta orang yang berlari ke sana ke mari. Suara tembakan terdengar dimana-mana. Kantor polisi itu seperti arena perang dalam sebuah game yang terjadi dalam dunia nyata. Mafia VS Polisi.
Lana melepas sabuk pengamannya sambil mengamati keadaan sekitar. Pasukan Gold Dragon juga turun dari mobil untuk menunggu perintah Lukas selanjutnya. Lukas mengambil pistolnya sebelum keluar dari dalam mobil. Kedua bola matanya menatap tajam satu persatu wajah bawahannya.
Dengan cekatan, Lukas membagi Gold Dragon menjadi tiga kelompok. Tim pertama di depan gedung, Tim kedua di dalam gedung dan tim ke tiga di area belakang gedung. Lana mengeryitkan dahi saat dirinya tidak di tunjuk untuk masuk ke salah satu tim yang baru saja di bentuk Lukas.
“Lalu aku bagaimana?” tanya Lana sambil mengeryitkan dahi.
Lukas menatap wajah Lana dengan seksama, “Kau tetap di sini!”
“What?” teriak Lana kaget. Wanita itu cukup kecewa atas keputusan akhir Lukas. Ia juga ingin bertarung malam ini. Bukan memberi pekerjaan yang bisa mebuatnya bersemangat, justru Lukas menyuruhnya untuk tetap tinggal di mobil.
“Aku tidak mau,” protes Lana.
“Aku tidak mengijinkanmu pergi kemana-mana. Jika aku kembali kau tidak ada. Awas kau!” ancam Lukas sebelum pergi meninggalkan Lana bersama dengan Gold Dragon.
“Ok. Dia bosnya! Dia segalanya karena hanya perintahnya yang berlaku di sini!” Lana duduk di depan mobil dengan tatapan sangat tajam. Walau terdengar pekerjaan yang cukup sepele, tapi Lana tidak mau ceroboh malam itu. Musuh bisa datang dari segala arah dan dengan cara apapun. Lana mengenggam pistol yang sejak tadi menemaninya dengan erat. Bahkan senjata itu terlihat telah siap siaga. Hanya dengan menarik pelatuknya, peluru itu akan segera mengincar korbannya.
Sudah 15 menit Lana menunggu tanpa melakukan apapun. Keadaan di sekitarnya juga terlihat sangat aman. Tetapi tiba-tiba. Di lokasi yang tidak terlalu jauh darinya, seorang wanita berlari cepat menuju ke arah jalanan. Dari kejauhan, ada Lukas yang mengejar wanita itu. Lana mengeluarkan tembakan berulang kali untuk melumpuhkan musuh yang di kejar Lukas. Namun, tembakannya selalu meleset. Musuhnya malam itu sangat ahli dalam menghindari tembakan.
Lana berlari untuk mengejar wanita itu. Ia juga tidak akan membiarkan musuhnya lolos begitu saja malam ini. Baru beberapa puluh meter berlari, Lana menghentikan langkah kakinya. Di depannya sudah ada segerombol orang yang siap menembak ke arahnya. Lana menatap keadaan sekitar dengan begitu cekatan.
Lana berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Belum sempat ia menemukan solusi, peluru-peluru itu sudah melesat cepat ke arah tubuhnya. Lana mengeluarkan tembakan seadanya untuk melindungi diri. Walaupun ia tidak tahu apakan tembakannya berhasil mengenai musuhnya atau tidak.
Tiba-tiba saja tangan dingin melingkar di perutnya. Lana merasa tubuhnya terbang dan berputar. Tembakan-tembakan itu terdengar semakin mengerikan. Tidak jauh dari posisinya berdiri juga sudah terlihat kemunculan pasukan Gold Dragon. Lana sedikit tersenyum karena bala bantuan telah menolongnya tepat waktu. Namun, hatinya di selimuti tanda tanya atas pemilik tangan kekar yang baru saja melindunginya.
Setelah kakinya berhasil berdiri dengan sempurna, Lana memutar tubuhnya untuk melihat sosok malaikat penolongnya. Matanya melebar saat melihat wajah Lukas yang ia temui saat itu.
“Apa tadi aku bilang?” tanya Lukas sambil menaikan satu alisnya.
Lana menyeringai penuh rasa bersalah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Pasukan Heels Devils pergi meninggalkan lokasi itu setelah kemunculan polisi dan Gold Dragon yang secara bersamaan. Malam itu, lawan mereka sudah tidak seimbang lagi.
Lukas melirik Lana sekilas. Tatapannya sangat dingin. Bahkan jauh lebih dingin jika di bandingkan suhu malam itu. Setelah tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Lana, Lukas melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil. Pria itu tidak lagi mau mengeluarkan kata-kata perintah. Lana mengikuti Lukas dari belakang. Pasukan Gold Dragon juga masih utuh saat itu. Mereka kini juga berjalan mengikuti langkah Lukas dan Lana dari belakang.
Apa dia marah karena aku tidak mematuhi perintahnya?
.
..
...
Awal bulan kita update banyak lagi ya reader. Biar masuk hitungan bulan Sembilan.
Sebenarnya bulan ini uda sampai 60.000 kata, udah lebih mala. Gak update juga gak ada masalah. Tapi, karena sayang sama reader aku tetap update.
Tapi aku mau curhat dikit. Gpp ya. Jadi nulis itu sampai berjam-jam belum tentu dapat inspirasi. Bisa di bilang kalau aku update banyak itu inspirasinya ge banyak. Gak mungkin aku ngetik banyak isinya ngawur.
Terima kasih pengertiannya.
Kalau ada yang uda gak sabar dengan ceritanya pangen cepet tamat. Biar aku tamati cepet. Kalian juga pasti tahu, aku kalau buat novel action romantis pasti sampek 200 episode. Kalau sampai 200 episode, berarti bab ini masih setengah jalan kan. Udah ah, cuap-cuapnya. Like jangan lupa ya reader.