
“Aku mencintaimu,” ucap Zeroun dengan tatapan khasnya. Hanya menatap saja. Kedua tangannya masih ada di samping tubuhnya. Diam dan belum melakukan apa-apa. Tapi ... tidak tahu kenapa. Emelie merasa melayang saat mendengar pernyataan cinta sang suami. Wanita itu mengukir senyuman indah di wajah meronanya. Ia menyelipkan sendiri rambutnya di balik telinga.
“Aku juga mencintaimu,” jawab Emelie dengan suara manjanya. Kepalanya menunduk untuk menutupi wajah malunya yang kini memerah bagai kepiting rebus. Hatinya bahagia. Sangat-sangat bahagia. Walau ini bukan yang pertama kalinya Zeroun mengungkapkan rasa cintanya. Tapi, tidak tahu kenapa. Setiap kali Zeroun mengatakan aku cinta padamu selalu saja membuat Emelie kasmaran seperti pasangan yang baru saja jadian. Godaan Mantan Bos mafia itu memang selalu saja terasa berbeda.
Zeroun mengukir senyuman saat mendengar jawaban yang terucap dari bibir sang istri. Ya, walaupun wanitanya tidak menjawab. Zeroun Juga sudah sangat yakin dengan perasaan istrinya. Wanita itu pasti mencintainya dan akan selalu mencintai dirinya.
“Aku sangat sangat mencintaimu,” ucap Zeroun Zein lagi. Pria itu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Ia mengusap lembut rambut panjang dan wangi milik istrinya. Sesekali ia mendaratkan kecupan di pucuk kepala Ratu Cambridge tersebut. Hanya sentuhan sederhana tapi bisa menghasilkan kebahagiaan yang tiada tara.
Emelie membalas pelukan sang suami. Wanita itu memejamkan matanya dan menghirup aroma tubuh pria yang sangat ia cintai. Tempat ternyaman bagi Emelie memang ada di dalam dekapan Zeroun. Wanita itu tidak pernah sanggup jika berada jauh dari tubuh suaminya. Zeroun harus selalu ada di depan matanya dan dekat dengan dirinya. Di tambah lagi jabatannya sebagai seorang ratu. Tentu saja membuat Emelie mudah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Zeroun menarik dagu Emelie sebelum mendaratkan kecupan di sana. Bibir merah dan basah milik istrinya tidak pernah bisa membuatnya untuk diam saja. Zeroun selalu menagih hal lebih setelah mengucapkan kata cinta. Tidak peduli langit di luar gelap atau terang. Jika ia ingin, ia harus mendapatkannya. Terkesan posesif bahkan sangat posesif. Tapi, Emelie sangat menyukainya. Seperti itulah cara Zeroun mencintainya selama ini. Dan ... Emelie merasa dirinya bukan hanya seorang Ratu di Cambridge. Melainkan Ratu di mata suaminya.
Entah sudah berapa lama bibir mereka menyatu. Emelie juga sudah mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang milik suaminya. Kakinya sedikit berjinjit untuk menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan sang suami. Zeroun juga menarik pinggang Emelie agar wanita itu mudah menyeimbangi tinggi tubuhnya. Mereka saling memejamkan mata. Menikmati momen kebersamaan yang kini mereka miliki.
Kecupan Zeroun turun hingga ke leher jenjang Emelie. Pria itu terlihat ahli memeriksa setiap inci tubuh istrinya. Memberi godaan hingga membuat sang empunya melayang. Kedua tangannya tengah sibuk membuka resleting gaun indah yang dikenakan Emelie saat itu.
Tangan Emelie juga tidak bisa diam saja. Rambut Zeroun yang masih setengah kering menjadi daya tarik sendiri baginya. Jemarinya mere*mas rambut Zeroun sambil mengacaknya tanpa sadar.
Zeroun memutar tubuh istrinya. Kali ini pria itu ingin mengecup bagian punggung istrinya yang memang sudah terbuka. Matanya terpejam saat bibirnya telah sibuk mendarat cantik di kulit putih dan mulus milik Ratu Cambridge tersebut.
“Sayang, aku ....” Zeroun mengeluarkan suara. Pria itu sudah semakin tidak sanggup menggoda istrinya. Ia ingin segera berbaring di atas ranjang dan melanjutkan sesi berikutnya di sana. Namun, memang sejak dulu Zeroun adalah pria yang sopan dan sangat menghargai pasangannya. Ia selalu meminta izin sebelum melakukan sesuatu terhadap tubuh istrinya.
Emelie merasa merinding saat bibir sang suami mendarat di daun telinganya. Embusan napas pria itu memang membuatnya sedikit geli. Dengan bibir membisu, Emelie membuat anggukan kecil sebagai tanda setuju. Wanita itu melirik langit gelap yang ada luar. Matanya merayap ke arah dinding. Sekilas, wanita itu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sejenak ia kembali ingat. Sebentar lagi waktunya baby Jordan minum susu.
Setelah membaringkan tubuh Emelie di atas tempat tidur, Zeroun berdiri di pinggiran ranjang. Pria itu membuka jas yang terpasang rapi di tubuhnya. Meletakkannya di pinggiran tempat tidur. Pria itu melanjutkannya dengan membuka satu persatu kancing kemejanya. Memamerkan dada bidang miliknya yang memang selalu terlihat indah.
Lagi-lagi wajah Emelie merona malu. Wanita itu mengukir senyuman sambil membuang tatapan matanya ke arah lain. Rasanya, saat mereka bertatap muka dalam keadaan seperti itu. Masih saja terasa canggung dan aneh.
Setelah kemeja putih itu terlepas, Zeroun mulai membungkuk. Pria itu naik ke atas tempat tidur. Ia mendaratkan lagi bibirnya di bibir Emelie. Memberi godaan yang lebih lagi agar wanitanya siap menerima dirinya nanti. Gaun Emelie telah turun dan memamerkan bagian atas tubuhnya.
Tangisan baby Jordan membuat Zeroun menghentikan aksinya. Pria itu segera mengangkat tubuhnya dan berdiri di tepian ranjang. Tidak pikir panjang, Zeroun segera berlari menuju ke pintu yang menjadi penghubung kamar miliknya dan kamar putranya. Tidak memperdulikan keadaan sang istri yang sudah terbuka dan menggoda.
Emelie memejamkan mata sambil mere*mas seprei yang ia tiduri. Wanita itu mengatur napasnya agar tidak terpancing emosi. “Baby!” teriaknya hingga memenuhi seisi kamar.
Zeroun memutar tubuhnya sejenak. Pria itu menatap wajah istrinya yang tengah duduk di atas tempat tidur. Emelie telah menatapnya dengan wajah murkah.
“Sayang, maafkan aku,” ucap Zeroun sebelum masuk ke dalam kamar baby Jordan.
Emelie menarik paksa gaun yang sudah turun hingga ke pinggang. Wanita itu merapikan rambutnya dan turun dari tempat tidur. Ia melangkah dengan gusar untuk mengikuti Zeroun melihat baby Jordan di dalam kamarnya.
Aneh tapi nyata. Ya, sejak awal Emelie bukan mengkhawatirkan anaknya yang akan menangis dan meminta susu. Tapi, wanita itu lebih mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri. Setiap kali Zeroun mendengar suara tangis anak pertamanya. Pria itu segera menghentikan aktifitasnya dan berlari menemui sang baby. Tidak peduli saat itu kegiatan apa yang ia lakukan.
Zeroun telah menjadi daddy siaga yang selalu ada untuk Jordan kapan saja. Bahkan kasih sayang pria tangguh itu melebihi kasih sayang seorang ibu kepada putranya. Jangankan orang asing. Pelayan istana yang sudah lama bekerja di dalam istana saja tidak mudah mendapatkan izin dari Zeroun untuk mendekati baby Jordan.
Bukan hanya masa lalunya saja yang mengganggu dan membuatnya waspada. Tapi, Zeroun lebih suka mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan orang lain. Ia tidak peduli bagaimana kegiatannya di istana. Yang terpenting bagi hidup Zeroun, Baby Jordan baik-baik saja dan tidak menangis.
Mohon maaf ya reader. Ada peraturaan baru dari pihak NT yang membuat Author tidak bisa melanjutkan rencana Author. Karena sangat merugikan author. Mohon maaf sekali lagi. Ada beberapa part yang sudah saya rencanakan dan akan saya ketik, Tapi gak banyak ya. Mungkin hanya sekitar 5 bab aja. Mohon maaf sekali lagi. Salam sayang, Author.