Moving On

Moving On
Lomba Renang




(Kira-kira gini khayalan author🤭)


Di sebuah kolam renang berbentuk persegi panjang. Zeroun dan Emelie terlihat berenang ke sana ke mari. Pantulan cahaya matahari membuat kilauan indah di permukaan air yang jernih. Kolam renang itu terletak di pinggiran dengan sajian pemandangan laut yang cukup mengagumkan. Sesekali Emelie menatap lautan biru dari dalam kolam renang itu. Bibirnya tersenyum cukup indah saat merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


Emelie dan Zeroun berenang ke sisi kolam renang dengan gaya renang yang cukup indah. Putri Kerajaan itu memiliki keahlian yang cukup bagus saat renang. Bahkan trik renang yang dimiliki Emelie jauh lebih indah daripada gaya renang yang dimiliki oleh Zeroun. Wanita itu cukup berbakat karena berulang kali berhasil mengalahkan Zeroun saat lomba berenang. Setelah puas berenang di bawah terik matahari. Kini sepasang kekasih itu duduk di tepian kolam renang dengan posisi menghadap ke pantai.


Emelie menutupi tubuhnya dengan handuk putih yang telah ia siapkan sebelumnya. Wanita itu tidak lagi berenang dengan mengenakan gaun. Kali ini ia mengenakan baju renang yang telah disiapkan oleh Lana di dalam lemari. Baju renang yang dikenakan Emelie cukup ketat, hingga membuat Emelie sedikit merasa tidak nyaman.


Sejak pertama kali ia tiba di kolam renang, Emelie memberi peringatan kepada Zeroun agar tidak mendekatinya. Wanita itu tidak ingin kekasihnya melakukan perbuatan apapun selain berenang. Ancaman Emelie memang cukup berguna untuk menjaga jarak antara dirinya dan Zeroun saat itu.


“Apa kau sudah lelah?” tanya Zeroun sambil menatap ke arah lautan. Emelie tidak memberi ijin kepada dirinya untuk memandang lekuk tubuhnya saat itu. Zeroun hanya bisa menurut dan terus menjaga kedua bola matanya agar tidak memandang tubuh kekasihnya.


“Aku ingin istirahat,” jawab Emelie pelan.


“Berarti renang kita berakhir sampai di sini,” ucap Zeroun sambil beranjak dari kolam renang itu. Pria itu berjalan ke arah kursi untuk mengambil handuk miliknya. Ia tidak langsung masuk ke kamar untuk mandi. Zeroun justru mengambil ponselnya untuk memeriksa beberapa informasi yang belum ia ketahui.


Emelie beranjak dari kolam itu dan berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Ada rasa bahagia di dalam hatinya, saat melihat sikap Zeroun yang benar-benar menjaga matanya agar tidak memandang tubuhnya yang sedikit terbuka.


Zeroun melirik Emelie saat wanita itu berlari masuk menuju ke kamar. Pria itu tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya, “Dasar gadis nakal.”


Zeroun kembali mengalihkan tatapannya ke arah ponsel yang ada di genggaman tangannya. Ada senyum bahagia saat bos mafia itu membayangkan satu kejutan kecil untuk Emelie nanti malam, “Aku harap kau senang dengan kejutanku ini, Emelie.” Zeroun meletakkan ponselnya kembali pada tempatnya sebelum beranjak dari kursi itu. Hatinya cukup yakin kalau rencana kejutannya akan berhasil dan Emelie pasti suka dengan kejutan itu.


***


Malam-malam seperti ini sering ia lalui dengan kesendirian dulunya. Dulu, ia memimpikan kehidupan yang bisa membuatnya menetap di satu tempat saja. Namun, kini takdir berkata lain. Wanita itu merindukan kebebasan yang pernah ia miliki dulu.


Apa saja bisa ia lakukan tanpa harus ada yang memberinya perintah atau menghukumnya bila melakukan kesalahan.


Lana memutar tubuhnya saat mendengar langkah kaki seseorang yang semakin mendekatinya. Wanita itu mengukir senyuman sebelum membuang minuman kaleng yang ada di tangannya, “Aku pikir kau tidak akan datang.”


Lana berjalan mendekati Lukas. Wanita itu mengukir satu senyuman sambil menatap wajah Lukas, “Terima kasih karena kau sudah mau datang. Sekarang, ayo ikuti aku.” Lana memimpin jalan di depan.


Lukas menatap keadaan sekitar sebelum melangkahkan kakinya untuk mengikuti Lana. Pria itu benar-benar tidak tahu, malam ini Lana akan membawanya pergi kemana.


Lana membawa Lukas ke sebuah terowongan untuk menyaksikan tarian jalanan. Terowongan itu menjadi tempat berkumpulnya para musisi dan dan penari jalanan yang ada di Brasil. Setiap kali datang ke tempat seperti itu, Lana selalu merasa senang dan sangat bahagia. Wanita itu ingin Lukas merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan. Tertawa dan menari bersama. Melupakan masalah berat yang sempat memenuhi pikiran.


“Apa kau suka?” tanya Lana sambil menarik tangan Lukas menuju ke arah gerombolan orang yang sedang menyaksikan seseorang menari. Lana terlihat bahagia saat bisa menyaksikan tarian seperti itu lagi malam ini. Sudah lama ia tidak melihat atraksi hebat seperti itu.


“Lukas, kau tunggu di sini dulu,” ucap Lana sambil membuka jaket yang malam itu ia kenakan. Wanita itu berjalan menuju ke tengah-tengah untuk menampilkan bakat tarian yang ia miliki. Lana menciptakan satu tarian salsa yang memang sering ia pakai saat hatinya sedang bersedih.


Tarian salsa yang seksi, indah dan cukup memukau itu menarik perhatian semua orang. Bahkan lekuk tubuh Lana cukup menggairahkan setiap pria yang menatapnya. Gerakan yang ia buat mengikuti ketukan lagu yang dikombinasikan beberapa alat musik. Sentakan kaki, tendangan ke depan ditambah tepuk tangan para penonton, juga menambah irama lagu pengiring tarian malam itu.


Lukas mengeryitkan dahi saat melihat Lana menari dan menjadi pusat perhatian semua orang. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil menatap tarian Lana dengan ekspresi dingin.


Baru beberapa detik ia memandang wajah Lana yang sibuk dengan tariannya. Tiba-tiba saja kedua bola matanya melebar seperti ingin keluar. Kini wanita itu berjalan mendekati posisinya berdiri. Dari sorot mata Lana saja, Lukas sudah merasakan satu firasat buruk di dalam hatinya.