Moving On

Moving On
Paniknya Zeroun



Zeroun masuk dengan wajah panik. Bos mafia itu bersandar di dinding sambil menatap pintu kamar mandi tanpa berkedip. Ingin sekali ia menerobos masuk untuk melihat keadaan kekasihnya saat ini. Tetapi, langkahnya terhenti saat Zeroun sadar atas status di antara keduanya. Zeroun dan Emelie belum menikah. Pria itu tidak memiliki kebebasan atas tubuh kekasihnya.


Tidak lama menunggu, Emelie muncul dari kamar mandi dibantu oleh Lana. Wanita itu mengukir senyuman saat melihat wajah Zeroun berdiri tidak jauh dari posisinya.


“Zeroun,” ucap Emelie dengan suara pelan.


“Sayang,” jawab Zeroun sambil berjalan mendekati tubuh Emelie. Pria itu memegang pundak kekasihnya dengan wajah bingung.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Zeroun sambil mengangkat tubuh wanita itu. Lana yang masih berdiri di samping Emelie, memilih untuk mundur dan menghindar. Kekhawatiran Zeroun membuat wanita tangguh itu lagi-lagi kagum. Ada senyum manis di bibir Lana saat melihat adegan romantis di kamar itu.


“Zeroun,” ucap Emelie dengan dua tangan di leher jenjang Zeroun.


“Aku baik-baik saja. Hanya perlu beristirahat.” Emelie menyandarkan kepalanya di dada bidang Zeroun. Wanita itu masih merasakan sakit pada bagian perutnya. Tapi, sekuat tenaga ia menutupi semua itu agar Zeroun tidak semakin panik.


“Lana, ambilkan sarapan di meja. Emelie belum sempat sarapan tadi.” Zeroun meletakkan tubuh kekasihnya dengan lembut. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Emelie dari terpaan angin pagi itu.


“Baik, Bos.” Lana berjalan meninggalkan kamar itu.


“Aku baik-baik saja,” ucap Emelie yang terus saja berusaha menghilangkan wajah panik kekasihnya itu.


“Aku sangat mengkhawatirkanmu. Apa itu sakitnya luar biasa?” Zeroun meraih tangan Emelie. Mengecupnya berulang kali. Satu tangannya yang lain mengusap lembut pipi lembut Emelie.


Emelie hanya mengukir senyuman indah miliknya. Dulu, setiap kali ia merasakan sakit. Selalu ada Adriana di sampingnya. Adik kesayangannya itu selalu saja mengkhawatirkan keadaannya setiap kali dia merasa sakit. Tidak pernah terbayangkan di dalam pikiran Emeli, kalau Adriana bisa berubah menjadi wanita yang cukup jahat seperti itu.


Bahkan, hingga detik ini. Emelie juga masih belum tega untuk membunuh wanita itu. Walau penderitaan hidupnya kini semua disebabkan oleh Adriana. Putri kerajaan itu masih menyimpan seribu tanya atas penyebab sikap Adriana berubah. Ingin sekali Emelie mengetahui isi hati Adriana saat ini. Walau mungkin semua itu terbilang mustahil.


“Baby ....” ucap Zeroun dengan lembut. Saat melihat Emelie diam melamun.


“Apa yang kau pikirkan?” Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama.


Emelie menggeleng kepalanya pelan. Ada buliran air mata yang menetes di sudut matanya. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain, untuk menutupi wajah sedihnya.


“Emelie, apa yang kau pikirkan? siapa yang membuatmu sedih seperti ini?” Zeroun mengusap air mata yang sempat menetes. Pria itu tidak lagi tahu harus berbuat apa atas kesedihan yang di alami kekasihnya.


“Terkadang, pada saat seperti ini. Aku bisa berubah menjadi jauh lebih sensitif. Seperti mudah marah dan mudah menangis.” Emelie mengukir senyuman kecil.


Zeroun menarik napas dan membuangnya secara perlahan, “Aku akan selalu berusaha untuk memahami dirimu.”


Suara pintu terbuka. Lana masuk dengan sarapan yang sempat dimasak oleh Emelie. Wanita itu terlihat khawatir dengan kesehatan Emelie saat ini. Walaupun sama-sama mengalami hal seperti itu, tetapi Lana tidak pernah melewatinya dengan rasa sakit seperti yang Emelie rasakan saat ini.


“Nona, ini sarapannya.” Lana meletakkan nampan itu di atas meja yang ada di samping tempat tidur Emelie. Zeroun membantu kekasihnya untuk duduk agar mudah saat memakan sarapan pagi itu.


“Bos, saya permisi dulu.” Lana menunduk sebelum pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.


Zeroun meraih memotong roti bakar buatan Emelie dengan ekspresi dinginnya. Pikirannya cukup bercabang pagi ini. Tadinya ia ingin segera pergi untuk mengatur strategi penyerangan di gudang senjata besok. Tetapi, melihat kekasihnya seperti ini membuat Zeroun tidak punya pilihan lain selain tetap berada di dalam rumah.


Dengan hati-hati, Zeroun menyuapi Emelie untuk menghabiskan sarapan itu. Pria itu terlihat bersabar saat memasukkan sedikit demi sedikit potongan roti ke dalam mulut Emelie. Setelah roti yang ada di piring habis, Zeroun mengambil air putih. Memberikan air putih itu kepada Emelie.


“Aku sudah cukup kenyang. Sekarang giliranmu untuk sarapan.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan senyuman.


“Aku akan menunggumu di sini sampai kau sembuh, Emelie.”


Lukas dan Lana kembali muncul ke dalam kamar itu dengan Dokter wanita di belakangnya. Dokter itu tersenyum ramah saat bertatap muka dengan Emelie.


“Selamat pagi, Nona.” Dokter itu berjalan mendekati Emelie. Zeriun beranjak dari duduknya untuk memberi ruang kepada Dokter itu untuk memeriksa kekasihnya.


“Bos, saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda.” Adak ode atas ajakan Lukas pagi itu. Tetapi kode itu hanya diketahui oleh Zeroun dan Lukas saja. Bahkan Lana juga tidak terlalu mencuirgai perbincangan dua atasannya itu.


Zeroun mengangguk pelan sebelum menatap wajah Emelie, “Sayang, Aku sarapan dulu di dapur. Lana akan menemanimu. Aku tidak akan lama.”


Emelie menganguk tanpa mengeluarkan kata.


Zeroun dan Lukas pergi meninggalkan kamar mewah itu. Dua pria tangguh itu berjalan ke arah halaman depan untuk menyusun strategi atas penyerangan mereka besok pagi.


Pasukan Gold Dragon telah berbaris rapi di halaman depan dengan wajah cukup serius. Setumpuk kotak juga sudah siap di dalam mobil gerobak.


Zeroun menatap mobil itu dengan seksama. Tadinya ia ingin turun tangan langsung untuk memasang bom-bom itu. Tapi, kali ini ia akan mempercayakan semuanya kepada Lukas. Kondisi Emelie tidak baik untuk ia tinggal. Pria itu tidak sanggup jika harus berbohong lagi saat pergi berkelahi.


“Bos, semua sudah siap.” Lukas berjalan ke arah mobil dan membuka kain biru yang menutupi senjata api dan bom itu.


Zeroun mengangguk pelan dengan mata cukup tajam, “Pasang bom itu di beberapa titik yang sudah kita tentukan. Jika kita tidak berhasil mendapatkan senjata itu. Heels Devils juga tidak boleh mendapatkannya. Apapun itu caranya,” Zeroun menatap wajah pasukannya dengan tatapan membunuh.


“Bunuh semua orang yang berstatus musuh kita. Tidak peduli itu polisi atau mafia.”


“Baik, Bos,” jawab Gold Dragon secara serempak.


“Bagus, hari ini bekerja dengan hati-hati. Lukas yang akan memimpin aksi kalian pagi ini. Tetap brhati-hati,” sambung Zeroun lagi sebelum memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam. Pikirannya tidak lagi tenang sebelum melihat keadaan kekasihnya saat ini.


“Emelie, apa Kau baik-baik saja? apa Kau sangat menderita saat ini? apa yang bisa Aku lakukan agar kau tidak lagi merasakan sakit?” ucap Zeroun di dalam hati dengan perasaan berkecambuk.