
Hongkong.
Lana duduk di sofa sambil menonton televisi. Wajahnya terlihat sangat bosan. Bukan seperti ini hidup yang ia inginkan. Tiba-tiba saja ia merindukan perkelahian. Hidup yang ia jalani sejak masuk ke dalam Gold Dragon membuat Lana menjadi sosok wanita yang lebih jago dalam bertarung.
Walau dulu ia sempat memiliki mimpi untuk hidup dengan tenang tanpa perkelahian. Tapi, detik ini ia salah. Lana rindu perkelahian. Ia ingin menembak, memukul dan menusuk. Ada kepuasan tersendiri saat ia berhasil mengalahkan lawannya di areal pertempuran.
Agen Mia yang baru saja muncul dari arah dapur menjadi sorot perhatian Lana. Wanita tangguh itu berjalan dengan santai melewati Lana. Ada satu minuman kaleng di tangannya. Senyum tipis terukir di bibirnya saat menatap Lana seolah tatapan mengejek.
Lana yang saat itu memang sangat muak dengan kelakuan Agen Mia lagi-lagi harus menahan amarah. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah televisi agar tidak terpengaruh dengan keberadaan Agen Mia saat itu.
Bukan menjauh, justru Agen Mia duduk di sofa yang sama dengan Lana. Wanita itu juga merebut remot Televisi yang ada di tangan Lana. Tingkah lakunya memang terlihat memancing amarah Lana sore itu.
Lukas tidak ada di rumah. Pria tangguh itu telah sibuk di markas Gold Dragon. Ada banyak pasukan yang baru di kirim oleh Kenzo untuk menjadi bagian Gold Dragon.
Lukas ingin mendidik agar pasukan barunya menjadi pasukan tangguh dan setia seperti pasukan yang sebelumnya ia miliki.
Lukas tidak membawa Lana karena memang Lana sendiri yang menolak ikut. Awalnya Lana ingin istirahat karena merasa kurang enak badan. Tidak di sangka, ia justru akan melihat wajah Agen Mia di rumah itu.
Lana melirik wajah Agen Mia. Wanita itu masih berusaha menahan amarahnya. Kepalanya juga terasa sangat sakit. Sepertinya ia benar-benar jatuh akit saat itu. Dengan wajah kesal, Lana beranjak dari duduknya. Wanita itu memilih pergi dan menjauh dari Agen Mia.
“Lana, apa kau menghindariku? Apa kita tidak bisa berteman? Kau memiliki hutang budi padaku. Kenapa kau tidak pernah mengucapkan kata terima kasih,” ucap Agen Mia tanpa mau memandang wajah Lana.
“Aku tidak ingin mengucapkan terima kasih kepada wanita sepertimu. Sampai kapanpun jangan pernah bermimpi untuk menjadi temanku.” Lana mengambil kunci mobil yang ada di atas meja. Wanita itu pergi begitu saja untuk menghindari Agen Mia. Ia lebih baik pergi walau sekedar mengelilingi kota daripada harus di rumah bersama Agen Mia.
Agen Mia menatap punggung Lana dengan wajah kesal. Ini pertama kalinya tawarannya di tolak oleh seseorang. Ia benar-benar tulus ingin berteman dengan Lana. Baginya cukup tidak nyaman memiliki musuh di dalam satu rumah yang ia tempati.
“Kalau bukan demi bertahan hidup dan menghindar dari kejaran polisi. Aku tidak akan ada di sini. Aku seperti ini juga karena mereka,” umpat Agen Mia kesal.
Diluar rumah, Lana memegang kepalanya yang terasa sangat berat. Suhu tubuhnya semakin tinggi. Tenaganya terasa hilang hingga membuat wajahnya terlihat sangat pucat.
“Apa yang terjadi. Kenapa kepalaku sakit sekali,” ucap Lana dengan suara pelan.
Tapi ia tidak mau menyerah. Lana terus berjalan menuju ke arah mobil. Tidak tahu mau pergi kemana. Satu hal terpenting, menjauh dari rumah dan Agen Mia. Walau sakit tetap ia paksakan.
Lana duduk di bangku kemudi sambil memegang stir mobilnya. Ada keraguan di dalam hatinya kalau ia tidak akan baik-baik saja jika memaksa untuk pergi.
Lana meraih ponsel yang ada di dalam saku. Ia kembali ingat dengan kekasihnya. Lukas pasti bisa membantunya saat ini. Kira-kira seperti itulah harapan yang memenuhi isi hati Lana.
Sangat di sayangkan. Berulang kali Lana menghubungi Lukas tapi nomor pria itu tidak dapat di hubungi. Dengan wajah kecewa Lana mulai melajukan mobilnya. Ia berniat untuk menemui Lukas di markas Gold Dragon.
***
Markas Gold Dragon terlihat semakin ramai. sangat jauh berbeda dengan keadaan yang terakhir kali dikunjungi Lana dan Lukas. Senjata api juga sudah mulai berdatangan mengikuti jumlah anggota yang sudah semakin banyak.
Lukas baru saja selesai melatih bawahannya. Tubuh pria itu basah karena keringat yang berkucur deras. Sebuah belati yang sejak tadi membantunya untuk melatih bawahannya, sudah ia lemparkan kembali pada tempatnya. Tiba-tiba saja ia merasakan firasat buruk terhadap Lana.
Debaran jantungnya tidak lagi normal. Dengan wajah yang cukup serius Lukas membuka bajunya. Ia mengganti dengan baju yang masih kering.
Lukas ingin segera menemui Lana. Hatinya tidak akan tenang jika belum melihat Lana baik-baik saja. Setelah merapikan penampilannya, Lukas berjalan cepat menuju ke arah mobil.
Langkahnya terhenti saat melihat mobil Lana tiba di hadapannya. Bibirnya mengukir senyuman bahagia karena wanita yang sejak tadi ingin ia temui tiba di depan mata. Lukas berjalan mendekati mobil Lana. Ia berdiri untuk menunggu Lana turun dari dalam mobil.
“Apa sudah selesai?” ucap Lana dengan senyum manis di bibir pucatnya.
Lukas mengeryitkan dahi saat melihat wajah pucat Lana. Pria itu berjalan menghampiri kekasihnya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Lukas kepada Lana. Pria itu ingin meraih dahi Lana untuk memeriksa keadaan kekasihnya.
Tapi, Lana menghindar.
“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kecapean. Mungkin karena kurang istirahat dan terlalu banyak pikiran.” Lana melewati Lukas. Wanita itu berjalan masuk ke dalam markas. Ia tidak terlalu ingin menceritakan keadaannya saat ini. Sebisa mungkin Lana menutupi rasa sakit yang kini ia rasakan.
“Kau tidak baik-baik saja,” bantah Lukas. Pria itu mencengkram tangan Lana sebelum menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya, “Apa kau sakit?” Lukas semakin khawatir saat merasakan suhu tubuh Lana yang cukup tinggi.
“Tidak,” ujar Lana sambil memeluk Lukas. Tubuh Lukas terasa sangat dingin. Untuk suhu tubuh yang terasa dingin seperti yang kini di rasakan oleh Lana. Sangat nyaman bila bersentuhan dengan suhu tubuh yang hangat seperti Lukas.
“Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa keadaanmu,” ucap Lukas sambil memeluk tubuh Lana. Pria itu mendaratkan satu kecupan cinta di pucuk kepala kekasihnya.
“Aku hanya ingin seperti ini. Aku membutuhkanmu, bukan Dokter.” Lana mulai memejamkan mata. Entah kenapa semakin lama matanya terasa semakin berat. Secara perlahan Lana mulai tidak bisa mengendalikan kesadarannya. Hingga tubuh wanita itu menjadi lemah dan tidak bertenaga.
Lukas yang telah merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh kekasihnya mulai terlihat panik. Pria itu menahan pinggang Lana agar wanita itu tidak terjatuh. Saat Lana tidak lagi sadarkan diri, Lukas berhasil menahan tubuh Lana.
“Lana, bangun. Lana,” ucap Lukas dengan wajah panik. Pria itu mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya lalu membawanya pergi meninggalkan markas Gold Dragon.
.
.
.
Main tebak2an lagi...Agen Mia jahat apa baik hayoo...😂