Moving On

Moving On
Penuh Tawa



Emelie membawa Zeroun, Shabira dan Kenzo berkeliling istana. Wanita itu mengukir senyuman yang cukup indah. Setiap kalimat yang di katakan oleh Paman Walker masih terngiang jelas di dalam pikirannya. Emelie sudah tidak sabar untuk menyambut hari bahagianya bersama dengan Zeroun.


“Kak, di istana yang luas seperti ini. Di mana tempat favorit kakak?” tanya Shabira dengan wajah penasaran. Wanita itu merangkul tangan Emelie dengan senyuman bahagia.


“Di taman samping. Setiap pagi Kakak selalu duduk di taman itu untuk menikmati matahari pagi,” jawab Emelie sambil memandang wajah Shabira.


Di tempat yang tidak terlalu jauh dari posisi Emelie dan Shabira ebrada, ada Zeroun dan Kenzo berjalan dengan langkah yang cukup tenang. Memperhatikan dengan seksama setiap sudut istana yang mereka lalui malam itu.


“Sayang, sudah larut malam. Ayo kau harus segera beristirahat.” Kenzo memandang wajah Shabira yang masih terlihat asyik pada obrolannya dengan Emelie.


“Kak, aku tidur duluan ya. Kakak jangan lama-lama tidurnya,” ucap Shabira sambil mengukir senyuman.


Emelie mengangguk pelan, “Mimpi yang indah, Shabira. Kakak harap kau bisa betah tinggal di Istana ini.”


Shabira mengukir senyuman sebelum berjalan pelan mendekati Kenzo. Wanita itu memandang wajah Zeroun untuk berpamitan.


“Zeroun, aku masuk duluan.” Kenzo menepuk pundak Zeroun sebelum merangkul pinggang Shabira dengan mesra. Lelaki itu membawa istrinya berjalan menuju ke dalam istana.


Kini di lorong itu hanya ada Emelie dan Zeroun. Sepasang kekasih itu saling memandang sebelum melempar senyuman indah. Zeroun berjalan mendekati posisi Emelie berdiri. Hatinya juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan apa yang kini di rasakan Emelie.


“Zeroun, aku sangat bahagia malam ini. Terima kasih karena sudah menolongku di Monako waktu itu.” Emelie kembali mengingat pertemuanya dengan Zeroun. Ia tidak pernah menyangka kalau pertemuan itu akan berlanjut hingga ia berhasil menjadi tunangan lelaki yang sempat ia benci sebelumnya, “Aku merasa beruntung karena telah mengenalmu.”


“Emma?” celetuk Zeroun pelan. Lelaki itu kembali mengingatkan Emelie dengan nama samaran yang sempat di gunakan. Ada tawa kecil di sudut bibir Zeroun saat kembali mengingat kejadian menggelikan itu.


Emelie juga tertawa saat mendengar kalimat yang di ucapkan Zeroun. Wanita itu berjalan mendekati Zeroun lalu melingkarkan tangannya di pinggang tunangannya. Sorot matanya di penuhi dengan bunga-bunga cinta yang kini bermekaran indah, “Kau pahlawanku. Malaikatku. Cinta pertamaku. Cinta sejatiku dan akan segera menjadi suamiku, Zeroun Zein.”


Zeroun menarik pinggang Emelie agar lebih dekat dengan tubuhnya. Lelaki itu juga merasa beruntung telah mengenal Emelie. Karena Emelie ia bisa kembali mengenal cinta dan berani melangkah ke depan untuk menjalin hubungan lagi.


“Kau malaikat dalam hidupku, Emelie.” Zeroun mendekatkan dahinya di dahi Emelie. Hembusan napas mereka saling tertukar dan dapat jelas di rasakan. Untuk beberapa saat sepasang kekasih itu saling memejamkan mata. Menikmati kebersamaan mereka saat ini.


“Terima kasih karena kau sudah hadir di dalam hidupku. Aku sangatmencintaimu, Zeroun.” Ada tetesan air mata haru di pipi Emelie. Wanita itu masih tidak menyangka kalau kebahagiaan ini nyata. Terlalu sulit hidup yang ia jalani akhir-akhir ini hingga membuatnya trauma untuk memiliki mimpi yang indah.


Zeroun mendaratkan ciuman di bibir Emelie. Lelaki itu mengecup kekasihnya dengan lembut dan mesra. Di bawah cahaya rembulan yang cukup terang dan di atas lantai putih yang bersinar karena pantulan cahaya bulan. Angin yang berhembus menambah keharonisan momen indah itu.


Dari lokasi yang tidak terlalu jauh terdengar suara tawa seorang wanita. Zeroun menjauhkan bibirnya sambil mengeryitkan dahi. Lelai itu menatap wajah Emelie dengan seksama, “Siapa yang berani tertawa keras di istana ini?”


Emelie mengangkat kedua bahunya sebelum menggeleng pelan, “Ayo kita lihat.”


Zeroun memandang tangan Emelie yang telah menarik tangannya. Lelaki itu mengikuti jejak langkah Emelie yang kini berjalan menelusuri lorong sunyi yang menjadi tempat sumber suara itu terdengar.


Semakin dekat dengan lokasi yang ingin mereka datangi. Suara itu semakin terdengar jelas. Tidak hanya suara seorang wanita, tapi ada juga suara seorang pria di dalamnya. Sesekali terdengar obrolan ringan sebelum di sambung lagi dengan tawa renyah.


Zeroun dan Emelie mempercepat langkah kaki mereka agar bisa segera tiba di lokasi. Langkah mereka terhenti pada sebuah pintu coklat yang menjulang tinggi. Sepasang kekasih itu memperhatikan desain pintu yang kini ada di hadapan mereka.


Zeroun menarik tangan Emelie agar wanita itu berada di belakang tubuhnya. Lelaki itu cukup waspada. Ia tidak ingin mengambil resiko jika orang yang ada di dalam ruangan itu adalah musuh.


Dengan hati-hati dan penuh perhitungan Zeroun menggenggam handle pintu. Setelah berhasil menggenggamnya, ia segera mendorong pintu ruangan itu.


Zeroun dan Emelie mematung dengan wajah Syok saat melihat wajah penghuni ruangan kosong itu.


“Lana,” ucap Zeroun bingung.


“Lukas?” sambung Emelie dengan wajah yang tidak kalah bingung dari Zeroun.


Lana yang saat itu sedang menjahit luka Lukas, segera berdiri dan memberi hormat kepada Emelie dan Zeroun. Hal itu juga di lakukan oleh Lukas. Walau jahitan di lengannya belum selesai, tapi ia membungkuk untuk menghormati Zeroun.


“Selamat malam, Bos,” ucap Lana dan Lukas secara bersamaan. Sepasang kekasih itu saling memandang sebelum membuang tatapannya kepada Zeroun dan Emelie yang kini berdiri di hadapannya.


Emelie memandang wajah Zeroun sekilas sebelum menatap wajah Lana dan Lukas secara bergantian, “Apa yang kalian lakukan di sini? Lorong ini cukup sunyi dan biasa menjadi tempat berkumpul para pelayan kerajaan. Saya sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar untuk kalian berdua. Tapi, kenapa kalian bisa ada di tempat seperti ini.”


Zeroun mengukir senyuman kecil. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Menatap wajah Lukas tanpa berkedip. Ia sudah cukup penasaran dengan hubungan Lukas dan Lana sejak tadi sore. Malam ini adalah momen yang cukup tepat untuk menanyakan hal itu langsung kepada pihak yang bersangkutan. Ia cukup yakin, kalau kedua bawahannya itu tidak akan berani berbohong.


Namun, tatapan Zeroun terhenti pada luka yang ada di lengan Lukas. Luka itu baru saja di jahit, hingga membuat Zeroun seketika berubah khawatir. Sudah bisa di pastikan kalau luka itu juga pasti baru saja di dapatkan oleh Lukas.


“Apa yang terjadi dengan tanganmu, Lukas?” tanya Zeroun cepat. Ekspresinya cukup dingin hingga membuat lawan bicaranya tidak memiliki keberanian untuk berbohong.