Moving On

Moving On
Chapter 5



(Nino)


Hari ini, aku menjadi pengantin pria. Dimana aku berdiri di depan altar bersama wanita bernama Anita. Perjodohan adalah sebagai alasan,yang akhirnya aku menikah dengannya. Bagiku, ini adalah pernikahan bisnis. Aku tak bisa berkata tidak,untuk permintaan mamaku.


Anita,sosok wanita yang baik hati dan kepribadian mandiri. Awal pertemuan dengan Anita,aku langsung menerima perjodohan ini,karena ini adalah cara satu-satunya aku keluar dari ke egoisan mama.


Aku memang anak laki-laki,tapi keputusanku selalu berada di tangan mama. Pernah aku menjadi anak pembangkang, berani meminta restu nikah di depan keluarga. Setelah itu, aku bertengkar dengan mama,karena wanita yang aku bawa hanya gadis biasa. Baginya,harta adalah segalanya. Mama selalu memandang seberapa kaya nya seseorang.Tapi aku bukan tipe seperti itu.


Hari ini, banyak tamu yang hadir di acara wedding party ku,kebanyakan mereka adalah kolega-kolega orang tuaku dan mertua.


"Hai,Nino.Selamat Yaaa..."sapa Fani. Dia adalah teman masa sekolahku.


"Makasih,Fan." jawabku.


"Udah ambil makan kan?" tanyaku.


"Udah dong. Liat piringnya sampai bersih kaya gini." jawabnya. Dia menunjukan piring kosong didepannya.


"Hahaha, bagus deh. Btw, datang sama siapa?"


"Aku datang sama Almira, tapi dia masih ada didepan kayanya. Lagi ngobrol sama teman."


"Serius!" Aku terkejut kedatangan Almira. Dia adalah sahabatku di masa SMA,dan dia menghilang entah kemana tanpa kabar. Aku mendengar dari salah satu temanku,dia berada di Paris. Aku bahagia mendengar bahwa sahabatku baik-baik saja dan kini dia semakin sukses dengan kariernya.


"Serius Nino... Katanya,kamu nggak ngundang dia,makanya aku ajak dia."


"Emang benar,aku gak ngundang dia. Soalnya aku gak tau mau ngirim kemana."


"Owh gitu."


Tiba-tiba ada orang berteriak di belakangku,"Tante Fani!"


Aku dan Fani,berbalik arah. Ada gadis kecil berlarian menuju ke arah kita. Kemudian,langsung menyapa dengan anaknya Fani yang berada gendongannya.


"Adek Queen" Panggilnya.


"Kaka,Ara dari mana?" tanya Fani.


"Tadi,Ara nemenin mama ketemu teman mama. Tapi lama ngobrolnya,kan Ara bete tante." Gadis yang bernama Ara tersebut merajuk dengan Fani.


Aku tak bisa berpaling dari seseorang yang berada di belakang gadis kecil yang kini bersama Fani. Dia adalah Almira. Aku terkejut melihat Almira datang,dia melangkah menghampiri ke arah ku.


"Hai..." sapanya.


Dia mengulurkan tangan,"Selamat ya,Nin."


Aku membalas jabat tangannya,"Iya,makasih. Lama tak berjumpa Almira."ujarku


"Iya Nino.Lama tak berjumpa." jawabnya.


Dia tersenyum kepadaku,aku hanya terdiam. Dalam hatiku, aku begitu rindu dengannya. Akan tetapi, entah kenapa aku tak bisa menjadi bisu. Meski dalam pikiranku, banyak sekali pertanyaan untuknya.


Sorot matanya menjadi sedih, karena aku hanya terdiam saja. Suasana menjadi canngung.


"Mom, Ara mau pipis." ujar gadis kecil yang tadi memanggil Fani.


Aku terkejut,gadis kecil itu memanggil Almira dengan sebutan Mom.


"Oke baby. Kita cari toilet dulu ya." ujarnya.


"Ya,Mom."


"Bentar ya,aku cari toilet." Pamitnya dengan Fani. Dia tersenyum lagi kearahku.


"Oke Al." jawab Fani.


Almira dan Ara melangkah menuju keluar. Aku masih memandang mereka berjalan, hingga mereka menghilang.


Aku menghembuskan nafas. Entah kenapa, aku menjadi sangat lelah.


"Are you okey?" tanya Fani.


"Ya. Almira sudah nikah?" tanyaku. Aku sangat penasaran dengan sosok Almira yang baru.


"I don't know. Sepertinya,Iya. Kan dia udah punya anak juga, pasti udah nikah lah." jawabnya


"Kok,sepertinya?"


"Privasi Nin." katanya.


"Aku minta nomer hpnya Almira."


"Oke,aku kirim lewat Whatsapp."


"Thanks,Fan."


Tiba-tiba, Anita datang menghampiriku.


"Iya sayang."


"Aku cari-cari ternyata disini."


"Iya sayang,habis ngobrol sama Fani." Aku tersenyum dengan Anita.


"Halo mbak." sapanya kepada Fani.


"Selamat ya,Anita."


"Makasih mbak."


"Hayoo..Mas"


"Oke." Aku berdiri menggandeng tangan Anita.


"Duluan Fan,terusin makanya." ujarku.


"Siaapp,Nin." jawabnya.


Aku menggandeng tangan Anita,berjalan menyapa tamu-tamu yang hadir. Anita terlihat bahagia sekali hari ini, meski di matanya terlihat bahwa dia sudah lelah.


Aku melihat Almira kembali, dia berjalan menggandeng putrinya. Mereka menuju ketempat Fani berada. Aku masih tak percaya, bahwa Almira sudah menikah dan punya anak. Banyak pertanyaan dalam otakku.


Saat ini,Anita sedang mengobrol dengan teman-temannya. Aku melirik lagi ke arah Almira. Dan ternyata, dia juga sedang memandang ku.Aku tersenyum ke arahnya,dan dia membalas dengan senyuman. Hatiku berdetak lebih kencang, saat melihat senyumannya.


Aku melihat, dia berdiri dan berjalan keluar bersama Fani dan anaknya. Suasana hatiku berubah menjadi sedih,setelah Almira pulang. Aku seperti orang yang sedang kehilangan seseorang.


Acara weeding party,selesai hingga sore. Aku dan Anita menginap di hotel tersebut. Ke esoknya,kita kembali ke rumah baru yang di belikan orang tuaku dan Anita.


***


Saat ini, aku hanya memandang Hp yang berada di tangan. Layar menampilkan nomor hp Almira, yang di berikan sama Fani.


Aku bingung, ingin menyapa tapi gak tau mau berkata apa. Entah kenapa aku jadi begini.


Ku beranikan mengirim pesan kepada Almira.


✉️Almira


Hai,boleh ketemu?


*Nino


Setelah menunggu beberapa menit, dia membalas


✉️ Okey


Kapan?


Besok, aku kabari tempatnya


oke.


Mungkin ini saatnya, aku harus bertemu dengannya. Menyelesaikan yang seharusnya di selesaikan. Aku ingin tau apa yang terjadi padanya.


Dulu, aku pernah menyakitinya. Dan sekarang, aku ingin meminta maaf dengan benar. Kesalahan-kesalahanku padanya menghantui diriku. Aku sangat menyesal pernah menyakitinya.


Anita datang


"Mas, makanan udah siap. Yukk makan." Ajaknya.


"Iya sayang."


Kita berjalan berdamping keluar dari kamar menuju ruang makan. Anita sudah menyiapkan beberapa makanan. Ku akui, Anita jago memasak. Waktu, bertamu dirumah orang tua Anita, dia pernah menyajikan hasil masakannya. Rasanya sungguh enak sekali.


Makanan lokal, seperti opor, rendang dll, bisa ia masak. Dan aku sangat menikmatinya.


Dia begitu lemah lembut, akan tetapi kepribadian tegas dan tangguh. Dalam berbisnis dia sangat berbakat sekali.


Bisnis keluarga Anita dan keluargaku sangat berkaitan. Makanya saat pertama kali mama bertemu dengan Anita, langsung meminta ijin kepada keluarga Anita untuk menjodohkan dengan putranya.


Anita menyiapkan makanan untukku, kemudian dia mengambil untuk diri sendiri. Kita menikmati makan siang hari ini dengan status suami istri.


Tak menyangka di usia muda,aku sudah menikah. Nggak ada dalam rencanaku untuk menikah muda, karena bagiku pernikahan itu butuh persiapan mental menghadapi dunia baru.


Good night chingu... 😍


Selamat membaca ♥️


Jangan lupa untuk Like 👍cerita ini dan Follow akun ini.


Dan jangan lupa Vote nya chingu♥️