Moving On

Moving On
Terbongkar



Lana terus saja memukul lawannya tanpa ampun. Aksi bela dirinya sudah jauh lebih baik setelah Lukas melatihnya beberapa waktu ini. Wanita itu terlihat ahli saat melintir tangan musuhnya. Di tambah lagi, pukulan tangannya selalu saja tepat sasaran.


Saat pintu lift mau terbuka, Lana menghalangi wanita itu untuk keluar. Lana tidak ingin memberi kesempatan kepada musuhnya untuk lari malam itu. Wanita itu menyimpan harapan kalau ia akan menang dalam petarungannya malam ini.


“Siapa yang mengirimmu?” Lana melintir tangan lawannya dengan begitu ahli. Tidak ingin kalah secepat itu, satu pukulan dengan sikut diberikan musuh Lana ke arah perut Lana. Membuat genggaman tangan Lana terlepas. Dalam waktu yang bersamaan, pintu terbuka di lantai berikutnya. Wanita itu berlari untuk menghindari Lana di dalam lift.


Dengan sigap, Lana mengeluarkan pistolnya. Mengarahkan tembakannya ke arah wanita itu. Satu tembakan dilepaskan Lann hingga membuat lorong hotel itu menjadi begitu berisik.


Tapi, wanita itu berlari dengan sangat cepat. Hingga peluru yang dikeluarkan Lana tidak berhasil mengenai tubuhnya. Tidak ingin tertinggal jauh, Lana mengambil vas bunga dan melempar vas bunga itu ke arah musuhnya. Kali ini Lana beruntung. Vas bunga itu mengenai kepala musuhnya dan membuat wanita itu jatuh tersungkur ke lantai. Dengan cepat wanita itu mengambil pecahan vas bunga dan melemparkannya ke kaki Lana. Lana menghindar, membuat pecahan vas bunga itu tidak berhasil melekat ditubuhnya.


Lana melompat ke arah wajah musuhnya. Kini wanita itu berada di atas tubuh musuhnya. Melihat musuhnya tidak lagi bisa untuk melawan, Lana memiliki kebebasan untuk memukul lawannya. Pukulan demi pukulan ia layangkan dengan kekuatan penuh.


Darah terus saja mengalir dengan deras di hidung wanita itu. Sesekali wanita itu mencoba untuk melawan Lana. Namun, usahanya sia-sia. Wanita itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan Lana malam itu.


“Kali ini Aku harus bisa mengalahkanmu, wanita jala*g,” ucap Lana dengan wajah dipenuhi amarah.


“Lepaskan Aku, Aku hanya orang bayaran.” Wanita itu tidak lagi bisa melawan Lana. Jalan satu-satunya adalah memohon pada Lana agar bisa tetap hidup.


Lana menghentikan pukulannya. Tetapi, tiba-tiba saja perkataan Lukas mengiang di telinganya. Pria itu selalu memperingati Lana untuk tidak pernah bertarung dengan menggunakan hati. Ada senyum kecil di bibir Lana, sebelum wanita itu melanjutkan pukulan terakhirnya.


“Berpikirlah dua kali sebelum mencari masalah dengan Gold Dragon.”


Pukulan terakhir Lana membuat musuhnya tidak lagi bergerak. Kali ini Lana menang saat bertarung. Ada wajah bahagia dan bangga di dalam hatinya.


Wanita itu beranjak dari tubuh musuhnya. Di ujung lorong, muncul Zeroun dan Lukas dengan beberapa luka di bagian wajahnya.


Melihat wajah Zeroun, membuat Lana kembali ingat dengan seseorang.


“Nona Emelie!”


Di atas gedung.


Damian dan Adriana saling berciuman dengan begitu mesra. Mereka melepaskan rindu satu sama lain karena sudah lama tidak berjumpa. Pelukan Damian terlihat begitu erat dan sangat posesif.


Emelie masih berdiri mematung di balik tiang beton. Dengan hati-hati ia mengintip pemandangan itu. Tangannya terkepal kuat saat melihat kemesraan Adriana dan Damian malam itu. Kini Putri Kerajaan itu sudah berhasil mengetahui hubungan terlarang adik angkatnya dengan pria yang berstatus tunangannya itu.


Emelie tidak lagi bisa menahan emosinya. Wanita itu keluar dari persembunyiannya untuk memandang langsung wajah Adriana dan Damian.


“Sejak kapan kalian merencanakan semua ini?” teriak Emelie dengan suara yang begitu lantang.


Perkataan Emelie menghentikan cumbuan Damian malam itu. Sepasang kekasih itu memandang wajah Emelie dengan wajah yang dipenuhi kebencian.


Adriana tersenyum kecil saat melihat wajah Emelie. Wanita itu merangkul mesra tangan Damian untuk memamerkan hubungannya.


“Sayang, kenapa wanita ini masih hidup? apa wanita tadi tidak berhasil menyingkirkannya?” Adriana bersandar di pundak Damian dengan manja.


“Wanita tadi pembunuh yang kalian kirim untuk menghabisi nyawaku?” Emelie tersenyum kecil.


“Wanita lemah seperti itu yang kalian kirim?” Emelie melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap wajah Adriana dan Damian secara bergantian.


“Wanita pembawa sial!” celetuk Adriana dengan senyum licik.


“Kalimat itu sangat pantas untuk dirimu, Adriana. Kau anak pembawa sial. Karena kehadiran dirimu, keluarga kami menjadi berantakan. Kau bahkan tidak pantas hidup di dunia ini lagi.” Emelie mengepal tangannya hingga memutih.


“Kau!” Adriana ingin memukul Emelie. Dengan cepat, Damian menahan langkah Adriana.


“Sayang, jangan kotori tanganmu untuk memukul wanita ini.” Damian memetikkan jarinya hingga beberapa pengawal tersembunyi Damian keluar dan menodongkan senjata ke arah Emelie.


Emelie memandang pistol-pistol itu. Tapi, tidak ada wajah takut sama sekali di raut wajahnya. Wanita itu justru semakin ingin melawan Adriana malam itu.


“Apa kalian lupa, kalau kalian membunuhku kalian tidak akan mendapatkan sepeserpun harta Ratu?” Emelie menaikan satu alisnya dengan wajah angkuh favoritnya.


Damian menyipitkan kedua bola matanya. Pria itu tertawa dengan bebas sambil berdiri di belakang Adriana. Memeluk wanitanya dengan begitu mesra.


“Emelie apa kau tidak tahu kalau kini pria yang kau cintai itu sedang bertarung nyawa. Kami bisa saja menyuruh Jesica untuk membunuh kekasihmu itu dan mengirimkan kepalanya ke sini.” Ada senyum kemenangan di bibir Damian.


Emelie terdiam seribu bahasa. Ancaman Damian malam itu membuat Emelie kehilangan keberaniannya untuk melawan Damian dan Adriana. Lagi.


“Gold Dragon kini bertarung di lantai bawah untuk memperebutkan sebuah chip. Apa kau tahu, permusuhan dua mafia ini disebabkan oleh siapa?” Damian mencium pipi Adriana. Membuat wanita itu tertawa kecil.


“Kau Emelie,” sambung Damian dengan wajah penuh kemenangan.


“Kau berbohong,” ucap Emelie yang terus saja berusaha untuk tidak percaya.


“Kau pria jahat Damian. Kau pasti berbohong.” Emelie masih menahan air mata kesedihannya. Kini hatinya dipenuhi dengan kekhawatiran atas keselamatan kekasihnya.


Damian mengangkat kedua bahunya, “Apa kau pikir setelah Zeroun Zein menjadi buronan di Inggris. Bos Mafia itu masih memiliki niat untuk membawa seorang wanita berjalan-jalan ke Brasil? Kau begitu polos Emelie, hingga mudah ditipu oleh orang lain.”


“Tentu saja, Zeroun Zein berbohong padanya. Jika pria itu jujur, wanita payah ini akan menghalangi rencananya.” sambung Adriana dengan wajah berseri.


Seperti sebuah pukulan yang sangat melukai hatinya. Kini Emelie sudah mengetahui tujuan utama Zeroun pergi ke Brasil. Pria itu ingin menyelesaikan balas dendamnya kepada wanita bernama Jesica. Tidak hanya itu, semua kekacauan yang dialami Zeroun Zein disebabkan olehnya. Kaki Emelie terasa sangat lemah. Rasa kecewa karena dibohongi dan rasa takut kehilangan kini melebur menjadi satu.


“Satu lagi Emelie, pihak kerajaan tidak ada yang tahu kalau Adriana bukan anak kandung Ratu. Kami sudah menghabisi semua orang yang berhasil mengetahui identitas Adriana. Jika kau mati malam ini, maka harta Ratu akan jatuh ketangan Adriana. Karena dia masih berstatus sebagai Putri kandung Raja dan Ratu.” Damian memandang wajah pengawalnya untuk segera membunuh Emelie malam itu.


Kini semua pengawal itu menodongkan senjata ke arah Emelie dan siap menarik pelatuknya.


Like, Komen,Vote.