
Baru beberapa langkah Emelie berjalan. Langkahnya lagi-lagi harus terhenti. Lampu di rumah itu tiba-tiba saja mati. Dengan cepat, Lana meraih tangan Emelie. Satu tangannya yang lain mencengkram kuat pistol yang ia miliki dengan sikap waspada. Sama halnya dengan Lukas. Pria itu juga terlihat sangat waspada saat ini.
“Apa yang terjadi?” tanya Emelie dengan bingung. Tidak ada yang bisa ia lihat selain cahaya rembulan yang tembus dari jendela kaca.
“Tenang, Nona.” Lana menarik tangan Emelie sambil berjalan menuju ke arah jendela.
Di luar rumah tepatnya dari arah pantai. Terlihat cahaya warna-warni bersamaan dengan suara letusan bunga api. Lana melepas genggaman tangannya dari tangan Emelie. Dari arah samping yang menghubungkan ke arah pantai. Telah hidup lilin-lilin yang dikelilingi kelopak mawar merah yang begitu indah. Hanya sekali melihat, Lana sudah tahu kalau ini semua hasil kerja Zeroun Zein.
“Apa ini?” tanya Emelie bingung.
“Nona, anda akan tahu jawabannya setelah anda mengikuti petunjuk itu,” jawab Lana dengan senyuman. Wanita itu sudah tahu kalau akan ada pertunjukan romantis beberapa saat lagi.
Emelie melangkahkan kakinya ke arah jalan yang dipenuhi lilin-lilin. Jantung Emelie berdetak dengan cepat saat itu. Ia tidak tahu, kejutan apa yang kini di buat oleh kekasihnya. Di luar rumah, suara bunga api itu masih terus memenuhi angkasa. Emelie mempercepat langkah kakinya agar bisa segera tiba di lokasi.
Lampu kembali menyala saat Emelie sudah berada di luar rumah. Emelie mematung saat melihat apa yang tersaji di depan matanya. Bunga api warna-warni itu menyala di tengah-tengah laut tanpa henti. lampion-lampion berterbangan di angkasa. Satu suara yang membuat Emelie semakin syok malam itu.
Alunan biola yang mengiramakan lagu selamat ulang tahun. Emelie tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Kedua bola matanya mencari dimana keberadaan kekasihnya saat ini. Bibirnya tersenyum lagi saat melihat Zeroun berdiri dengan setelan serba hitamnya. Pria itu memegang buket bunga mawar berwarna pink sambil mengukir senyum indah di bibirnya.
Emelie tidak lagi mau menunggu. Wanita itu berlari untuk memeluk tubuh kekasihnya. Hatinya benar-benar bahagia malam itu. Bahkan dirinya sendiri lupa kalau malam ini adalah ulang tahunnya. Masalah dan kehidupan yang bertolak belakang dengan kehidupan sebelumnya. Membuat Emelie tidak lagi membesar-besarkan masalah tanggal lahir.
“Zeroun,” ucap Emelie dengan nada yang sangat pelan saat langkah kakinya hampir dekat dengan tubuh Bos mafia itu. Rasa sedih dan bahagia bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Saat melihat Emelie semakin dekat. Zeroun membuka kedua tangannya untuk memeluk tubuh kekasihnya itu. Kedua tangan Emelie langsung terkunci di pinggang Zeroun saat dirinya berhasil memeluk pria itu tanpa halangan.
“Selamat ulang tahun, Emelie.” Zeroun mengukir senyuman sebelum melingkarkan tangannya di tubuh Emelie. Bunga dan sebuah kado masih memenuhi kedua tangannya. Membuat Zeroun sedikit kesulitan untuk mencengkram tubuh kekasihnya itu.
“Terima kasih,” jawab Emelie pelan sebelum melepas pelukannya. Wanita itu mendongakkan kepalanya untuk melihat lampion yang berterbangan di angkasa. Bibirnya mengukir senyuman, “Ini sangat indah.”
“Apa kau menyukainya?” tanya Zeroun dengan wajah penuh percaya diri.
Emelie menganggukkan kepalanya, “Ini sangat-sangat indah.” Lagi-lagi kedua bola matanya menatap bunga api yang meletus di tengah-tengah laut. Tidak pernah terpikirkan oleh Emelie kalau Zeroun menghilang selama beberapa jam hanya karena kejutan romantis ini.
“Apa ini untukku?” Emelie merebut kado dan buket bunga mawar yang sejak tadi di pegang oleh Zeroun. Putri kerajaan itu mencium aroma bunga mawar berwarna pink itu dengan penuh penghayatan. Matanya terpejam sambil diselimuti hembusan angin pantai yang cukup kencang.
Zeroun memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Ia juga memandang bunga api yang telah ia persiapkan untuk melewati malam pergantian usia kekasihnya.
“Tidak ada yang jauh lebih penting saat ini dari pada dirimu Emelie.”
Emelie mengukir senyuman saat mendengar kalimat yang baru saja disebutkan oleh Zeroun. Wanita itu merasa sangat beruntung memiliki Zeroun di sampingnya.
‘Hidupku memang tidak bisa menghindar dari masalah. Tapi, setidaknya aku bisa selalu ada disisimu.
Pria itu tidak mau di ganggu oleh siapapun atas rencana kejutannya malam ini. Sejak awal, Zeroun sudah tahu dengan masalah yang menimpa rekan kerjanya saat ini. Tapi, Zeroun lebih mengutamakan Emelie. Ia ingin hadir di detik ini. Dimana wanitanya menginjak usia yang ke 26 tahun.
Dari sisi lain.
Lana terlihat bingung dengan tatapan mata Zeroun saat itu. Setelah Zeroun tidak lagi memandang ke arahnya, tiba-tiba saja Lukas mengeluarkan kata.
“Kita harus pergi sekarang,” ucap Lukas tanpa memberi alasan yang berarti.
Lana tercengang untuk beberapa detik. Sekarang langit masih gelap. Bahkan jam juga baru saja menginjak angka 12. Ia belum ada istirahat sejak tadi pagi. Bisa di bilang, selama satu harian penuh hidupnya hari ini ia habiskan dengan mata terbuka.
“Kemana?”
Lukas menghentikan langkah kakinya sebelum memutar tubuhnya menatap Lana.
“Monako.”
Lana lagi-lagi mematung. Lana masih ingat dengan perkataan Lukas di menara tadi. Pria itu bilang kalau mereka akan berangkat saat pagi telah tiba. Tapi, apa yang ia dapat sekarang tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Lukas.
“Tapi tadi kau bilang kita akan pergi pagi hari. Kenapa harus mendadak seperti ini?” protes Lana sambil terus mengikuti jejak kaki Lukas dari belakang.
“Malam ini kita harus menolong Inspektur Tao dan Agen Mia. Setelah berhasil menolong mereka kita akan berangkat bersama-sama ke Monako.” Lukas berhenti di sebuah lemari yang besar. Pria itu mengganti senjata apinya dengan pistol yang jauh lebih bagus.
Lana melirik kumpulan senjata api itu. Ia juga tidak mau kalah. Lana mengambil salah satu senjata yang menarik perhatiannya. Ada senyuman di bibirnya saat melihat Lukas tidak memarahinya malam itu. Lemari itu koleksi senjata milik Lukas. Biasanya pria berbahaya itu akan marah jika ada yang berani menyentuh barang berharganya. Namun, malam itu Lukas tidak terlihat keberatan.
“Ayo, kita harus segera berangkat.” Lukas menutup lemarinya. Mengambil tas hitam yang juga sudah terisi aneka senjata tajam dan bahan peledak. Tatapan matanya terlihat sangat tajam malam itu.
“Sepertinya aku akan kehilangan waktu tidurku dalam waktu yang cukup lama,” ucap Lana sambil menghela napas kesal. Padahal Lana masih ingin berada di rumah itu untuk menyaksikan kejutan ulang tahun kekasih bosnya. Tapi, apalah daya dirinya yang hanya seorang bawahan. Ia hanya bisa menurut dengan perintah Lukas jika dirinya masih ingin berada di antara Gold Dragon.