
Zeroun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia memandang ke samping untuk melihat kekasihnya. Sejak pertama kali masuk ke dalam mobil, Emelie terus saja mengukir senyuman indah. Putri kerajaan Inggris itu benar-benar bahagia atas kejutan indah yang di berikan Zeroun.
Jemarinya terus saja ia gerak-gerakkan sambil kembali membayangkan momen Zeroun melamarnya. Padahal baru kemarin ia berharap Zeroun memberinya sebuah cincin. Dalam waktu yang singkat, ia sudah berhasil mendapatkannya. Semua barang pemberian Zeroun memang barang terindah yang pernah dimiliki oleh Emelie. Tapi, cincin tunangan itu merupakan barang yang akan selalu melekat di jemarinya hingga ajal menjemputnya nanti.
“Sayang, apa kau tidak bosan memandang cincin itu?” ucap Zeroun sambil mengukir senyuman.
“Tentu saja tidak. Ini cincin terbaik yang pernah aku miliki,” ucap Emelie sambil memiringkan tubuhnya, “Seumur hidupku.”
Zeroun tertawa saat mendengar jawaban Emelie malam itu. Ia melirik ke belakang. Beberapa mobil Gold Dragon berhenti untuk menghadang Heels Devils yang ingin menyerang Zeroun malam itu.
“Emelie,” ucap Zeroun sambil mengambil pistol yang terselip di samping jok mobil.
“Iya,” jawab Emelie sambil memegang lengan Zeroun. Senyum wanita itu luntur detik itu juga saat melihat kekasihnya memegang senjata api. Sudah bisa di pastikan kalau kini mereka berada dalam bahaya, “Apa yang terjadi?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin bertanya, apa kau bisa mengendarai mobil?” Zeroun mengukir senyuman seolah tidak terjadi masalah apapun.
“Mengemudi?” tanya Emelie dengan ragu-ragu. Wanita itu kembali mengingat kapan terakhir kali ia mengemudi. Memang ia pernah belajar waktu dulu bersama dengan Adriana. Tapi, ia juga kurang yakin kalau kini masih bisa mengendarai mobil itu.
“Sayang,” ucap Zeroun sekali lagi sambil melirik beberapa mobil yang kini masih mengejarnya.
“Hmm, aku bisa mengemudi tapi ....”
“Bagus. Sekarang, kau yang mengendalikan mobil ini,” ucap Zeroun sambil menghentikan laju mobilnya. Dengan gerakan cepat, pria itu keluar dari dalam mobil dan berlari ke arah bangku kemudi.
Emelie masih tidak percaya dengan ide Zeroun yang terkesan mendadak. Wanita itu kini menatap wajah kekasihnya dengan seksama yang sudah menunduk dan menatapnya di samping mobil.
“Cepat, pindah ke kursi itu,” perintah Zeroun dengan wajah serius.
Emelie menghela napas sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu duduk di balik kemudi sambil menatap wajah Zeroun dengan ragu-ragu, “Aku, kurang yakin bisa mengendarainya.”
“Ada aku, sekarang kemudikan mobilnya. Aku tidak ingin mobil belakang berhasil mendahuli kita.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie.
Emelie memandang mobil yang ada di belakang. Cahaya mobil itu terlihat semakin mendekat. Dengan hati-hati, Ia mulai melajukan mobil sedan hitam milik kekasihnya.
Zeroun mengukir senyuman tipis sebelum tatapan matanya berubah tajam. Mobil yang ada di belakang sudah semakin mendekat. Dengan gerakan perlahan, Zeroun membuka kaca mobil. Mengarahkan pistolnya ke arah ban mobil lawannya yang ada di belakang.
DUARR!
“Apa yang terjadi?” ucap Emelie dengan wajah paniknya. Mobil itu kehilangan kendali dan miring ke kiri secara tiba-tiba.
“Sayang, kosentrasilah. Kau bisa mencelakai kita berdua jika tidak fokus dengan laju mobilmu,”’ jawab Zeroun sebelum membidik lagi musuhnya yang ada di belakang.
“Kau menipuku, ZEROUN ZEIN!” umpat Emelie kesal. Tidak tahu harus berbuat apa agar bisa selamat. Emelie berusaha menambah laju mobilnya. Wanita itu memfokuskan tatapan matanya ke arah depan. Di sela-sela kekhawatirannya, ada senyuman di sudut bibirnya saat ia berhasil mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Zeroun mengalihkan pandangan matanya ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Pria itu juga mengukir senyuman saat melihat musuhnya sudah mulai tertinggal jauh.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” ucap Zeroun dengan penuh kepanikan. Pria itu segera memegang wajah Emelie dan memeriksa seluruh tubuh kekasihnya. Ia kembali bernapas lega saat melihat tubuh kekasihnya tidak terluka sedikitpun malam itu.
“Bagaimana ini?” ucap Emelie sambil memandang ke arah depan. Kedua bola matanya memperhatikan beberapa mobil yang berbaris di depan untuk menghalangi laju mobilnya.
Zeroun juga mengikuti arah pandangan Emelie saat itu. Ekspresi pria itu tidak sama dengan kekasihnya. Wajahnya terlihat cukup tenang dan penuh percaya diri. Ia sangat yakin kalau mobil yang kini ia tumpangi akan tiba di kota Salvador dengan selamat.
“Zeroun,” ucap Emelie sekali lagi.
Zeroun mengambil satu pistol lagi. Pria itu membuka jendela kaca dari kedua sisi. Tatapan matanya begitu tajam saat itu, “Sayang, pilih jalan yang ada di sudut sana.” Pria itu menunjuk sisi jalan yang masih di penuhi oleh mobil musuh.
“Bagaimana caranya?” tanya Emelie bingung. Ia tidak yakin kalau kini kekasihnya memintanya untuk menabrak mobil-mobil yang berbaris rapi itu.
“Dengarkan perintahku maka kita bisa lolos dari mereka,” ucap Zeroun sambil menarik leher Emelie. Pria itu mengecup pucuk kepala Emelie, “Aku yakin kau bisa melakukannya.”
Emelie mengangguk pelan. Wanita itu masih tidak yakin dengan apa yang akan terjadi beberapa detik yang akan datang. Satu hal yang membuatnya percaya hanya Zeroun. Ia cukup yakin kalau kekasihnya akan selalu melindungi saat ini.
“Sekarang injak gas itu dengan kecepatan tinggi,” Zeroun mulai mengatur strategi singkat yang baru saja ia temui.
Tanpa mau menjawab lagi, Emelie menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalan yang sempat di beri tahu Zeroun menjadi tujuan utamanya saat itu. Debaran jantungnya semakin tidak normal. Bahkan napasnya seakan terhenti saat mobil yang ia kemudikan semakin dekat dengan mobil yang berbaris rapi untuk menghalangi itu. Tanpa di tebak oleh Emelie sebelumnya. Zeroun memutar paksa stir mobil ke arah kiri hingga membuat mobil yang mereka kemudikan berputar arah. Pria itu mendorong tubuh Emelia agar bersandar dan melepas stir yang ada di genggamannya.
Di detik-detik mobil itu berputar Zeroun mengangkat kedua pistol yang uda ia persiapkan. Tembakan demi tembakan ia lepas ke arah kanan dan kiri melalui kaca mobil yang terbuka. Beberapa peluru yang ia keluarkan berhasil menembus kaca mobil musuh dan membuat supir mobil itu tewas seketika.
Emelie melebarkan kedua bola matanya dengan bibir terkunci. Kini peluru-peluru itu berlalu lalang tepat di depan matanya. Sedikit saja ia bergerak mungkin peluru itu akan menancap di salah satu bagian kepalanya.
“Sayang, keudikan mobilnya ke sisi kanan,” perintah Zeroun di tengah-tengah aksi penembakannya.
Emelie kembali mencengkram stir mobilnya. Kakinya kembali menginjak pedal gas mobil dengan napas yang terputus-putus. Wanita itu melajukan mobilnya ke sisi jalan yang di perintahkan oleh Zeroun. Sisi yang hanya memiliki celah sedikit untuk di lewati karena sisi kanan dan kiri jalan itu masih ada mobil pasukan Heels Devils.
Zeroun melepas tebakan lagi ke arah depan. Hingga membuat laju mobil Emelie tidak lagi terhalangi. Mobil hitam itu berhasil lolos dari kepungan Heels Devils yang cukup menakutkan.
“Ini sungguh luar biasa!” teriak Emelie kegirangan.
Zeroun mengeryitkan dahinya saat mendengarkan teriakan kakasihnya malam itu. Tanpa ia sadari malam itu ia telah mengajak kekasihnya bertarung. Bahkan mengajarkan teknik mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.
“Luar biasa?” Zeroun mengulang perkataan Emelie dengan satu senyuman tipis.
Like jangan lupa ya Readers...
Vote yang banyakkkk..
Bab selanjutnya akan segera nyusul..karena reviewnya GK bersamaan tadi.