
Beberapa hari kemudian, Spanyol.
Lana bangun dengan wajah yang sudah mulai segar. Kondisinya sudah jauh lebih baik, walau kini ia masih ada di dalam kekuasaan Morgan. Lana duduk di atas tempat tidur sambil kembali memikirkan Lukas. Sudah dua hari ia menunggu, namun tidak ada juga tanda-tanda kemunculan Lukas. Ia sangat rindu dengan pria itu. Ia ingin segera bertemu dan memeluknya.
Lana menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kamar yang kini ia tiduri adalah kamar yang biasa ia tiduri dulunya saat masih menjadi kekasih Morgan. Semua dekorasi yang ada di dalam kamar itu masih tertata rapi seperti dulu.
Lana menghentikan pergerakannya saat mendengar suara sepatu mendekat ke arah pintu kamarnya. Wanita itu kembali berbaring dan pura-pura tidur. Ia tahu, kalau suara sepatu itu pasti milik Morgan. Lana tidak ingin berdebat dengan pria itu.
Morgan masuk ke dalam kamar sambil mengeryitkan dahi. Hari sudah cukup siang tapi Lana belum juga bangun. Pria itu berjalan mendekati tempat tidur. Memegang dahi Lana untuk memeriksa suhu tubuh wanitanya.
“Kau sudah tidak demam lagi. Apa kau masih marah padaku?” ucap Morgan dengan suara yang cukup pelan.
Pria itu berjalan ke arah sofa. Ia masih ingin berada di dekat Lana. Dengan melihat Lana berbaring di rumahnya seperti itu saja sudah bisa membuat Morgan merasa tenang.
Suara ponsel Morgan berdering. Pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku lalu melekatkannya di telinga, “Ada apa?”
[Bos, kami kehilangan wanita itu.]
Morgan terlihat marah pagi itu. Pria itu meremas ponselnya lalu membantingnya ke lantai, “Shi*t! Menjaga wanita seperti itu saja mereka tidak bisa.”
Dengan wajah kesal, Morgan pergi meninggalkan kamar Lana. Ia kembali memikirkan cara untuk menangkap Agen Mia lagi. Hanya wanita itu yang menjadi senjatanya agar Lana tetap ada di sampingnya. Tanpa Agen Mia, mungkin Lana sudah berusaha kabur sejak kemarin-kemarin.
Lana membuka matanya saat pintu kembali tertutup. Bibirnya mengukir senyuman licik. Agen Mia sudah berhasil kabur dari sekapan Morgan. Ini saatnya ia yang berusaha untuk kabur agar bisa terbebas dari Morgan.
Lana berlari ke arah lemari. Wanita itu segera mengganti pakaiannya dengan yang baru. Tidak ada senjata apapun yang bisa ia bawa. Kamar itu memang sengaja di kosongkan oleh Morgan agar Lana tidak berani berbuat yang aneh-aneh.
Lana berjalan menuju ke arah jendela. Kamar itu terletak di lantai dua. Cukup sulit bagi Lana untuk kabur melalui jendela tersebut. Dengan wajah bingung, Lana memperhatikan beberapa pasukan Morgan yang terlihat berjaga-jaga di bawah.
“Bagaimana caranya agar aku bisa kabur,” ucap Lana dengan wajah frustasi.
Lana kembali duduk di sofa. Ia harus bisa lari saat ini. Apapun caranya, sebelum Agen Mia kembali tertangkap oleh Morgan. Setidaknya rencana pelariannya ini akan membuat perhatian Morgan tidak lagi fokus kepada Agen Mia. Hanya ini cara yang di miliki Lana untuk melindungi rekannya itu.
“Aku tidak bisa menunggu seperti ini,” ucap Lana. Wanita itu bertekad untuk kabur dari pintu.
Lana membuka pintu secara perlahan. Baru saja pintu itu terbuka beberapa centi, ia sudah di sambut dengan todongan senjata api. Lana menghela napas. Ia berusaha tenang agar tidak menimbulkan rasa curiga.
“Apa kalian berani menembakku?” ledek Lana dengan senyum tipis. Wanita itu berjalan dengan santai menuju ke kamar Morgan, bukan ke arah tangga.
Pasukan milik Morgan tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Mereka juga tidak akan mungkin menghalangi Lana yang ingin menemui Morgan.
Lana mengukir senyuman. Ia harus segera lari dari tempat itu sesegera mungkin sebelum Morgan menemuinya. Namun, nasipnya tidak seberuntung Mia. Baru beberapa meter Lana berjalan, Morgan sudah muncul dari dalam kamar. Pria itu keluar dengan penampilan siap bertarung. Ada senjata api dan belati yang ia bawa.
“Mau kemana kau?” ucap Morgan dengan tatapan menyelidik.
Lana memandang senjata api yang di miliki Morgan. Ia bertekad untuk merebut senjata itu agar memiliki senjata untuk kabur, “Aku hanya ingin mencari udara segar,” jawab Lana ketus.
Morgan menatap penampilan Lana. Wanita itu mengenakan baju lama yang biasa ia pakai dulu. Hati Morgan terasa berbunga-bunga dan sangat bahagia. Ia berpikir, kalau Lana sudah menyerah dan kembali padanya. Secara perlahan, Morgan berjalan mendekati Lana.
“Honey, kau tidak sedang merencanakan trik kabur dari pelukanku ’kan?” Morgan semakin dekat dengan Lana. Pria itu menarik pinggang Lana hingga wanita itu berada di dalam pelukannya, “Aku sangat merindukanmu.”
Lana membuang tatapannya. Ia tidak lagi ingin luluh dengan sifat lembut Morgan. Detik itu ia harus berhasil mencuri senjata api yang di miliki Morgan, “Aku akan kabur saat memiliki kesempatan,” jawab Lana.
Morgan menarik dagu Lana lalu melekatkan bibirnya dengan Lana. Ia sangat rindu atas sentuhan lembut kekasihnya. Sejak dulu, hanya Lana satu-satunya wanita yang membuatnya tergila-gila.
Lana menahan amarah yang sudah memuncak di dalam hatinya. Wanita itu tidak ingin menjauhkan Morgan dari tubuhnya sebelum senjata api itu berhasil ia rebut. Walaupun harus mengorbankan bibir yang seharusnya hanya menjadi milik Lukas.
“Kau jauh lebih menurut saat ini,” ucap Morgan sambil mengusap lembut bibir Lana, “Aku sangat ingin bercinta denganmu lagi,” sambung Morgan dengan tatapan sensualnya.
Lana mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sudah berhasil merebut pistol milik Morgan. Sekarang saatnya ia menyimpan pistol itu sebelum Morgan menyadari semuanya, “Benarkah?”
Morgan mengukir senyuman tipis, “Masih ada hal penting yang harus aku lakukan. Aku akan segera menemuimu nanti,” ucap Morgan sebelum pergi meninggalkan Lana.
Lana mengukir senyuman tipis sambil memasukkan pistol yang sudah berhasil ia rebut. Saatnya kabur. Seperti itulah pikiran Lana. Dengan gerakan cepat, Lana kembali ke dalam kamar. Ia akan kabur melalui jendela kamar.
Dua pengawal yang sempat menjaga kamar Lana tidak curiga sama sekali. Melihat Lana dan Morgan yang tidak berdebat justru membuat mereka berpikiran kalau Lana dan Morgan sudah baik-baik saja.
Lana mengunci pintu kamarnya dengan napas yang terputus-putus. Hampir saja ia ketahuan. Tidak lama lagi Morgan akan menyadari senjata api yang ia curi. Dengan gerakan cepat, Lana berjalan menuju ke jendela. Wanita itu menembak satu persatu pasukan milik Morgan sebelum melucur turun dengan tali.
Morgan yang sudah mulai menyadari pistolnya berlari kencang menuju kamar Lana. Beberapa pasukannya mendobrak pintu kamar agar bisa memeriksa Lana di dalam. Tidak di sangka, wanita itu sudah tidak ada di dalam kamar. Jendela terbuka dengan tali yang bergelantungan menuju ke bawah.
“Tangkap dia!” perintah Morgan dengan wajah yang cukup kesal.
Sorot matanya yang tajam menatap Lana yang telah berlari kencang untuk menghindari kejaran pasukan milik Morga, “Awas saja kau!”
.
.
Like dulu....