Moving On

Moving On
S2 Bab 51



Di depan kamar yang di gunakan Lukas dan Lana beristirahat, Dokter itu berdiri dengan wajah bingung. Kotak yang berisi sampel darah Lana ia pandang dengan rasa khawatir yang begitu mendalam. Dokter itu berjalan cepat menuju ke arah pintu. Ia memandang pengawal yang selalu menjaganya dengan wajah yang cukup serius.


“Temani aku ke rumah sakit. Aku ingin memeriksanya dengan segera,” ucap Dokter itu sambil berjalan cepat.


Pria dengan setelan hitam-hitam itu membungkuk hormat, “Baik, Dok.” Pria itu membuka pintu untuk memberi jalan kepada Dokter tersebut.


Di halaman depan terlihat jelas beberapa mobil pasukan Gold Dragon yang baru saja menyala. Perlahan mobil itu mulai berjalan pergi meninggalkan halaman rumah dokter tersebut. Dokter itu mengukir senyuman bahagia. Ia cukup bangga telah bergabung bersama Gold Dragon.


“Silahkan, Dok.” Pria itu membuka pintu mobil untuk memberi jalan kepada Dokter agar masuk ke dalam mobil. Dokter itu masuk dan duduk dengan posisi nyamannya.


Pria berstatus pengawal itu berlari kecil mengitari bagian depan mobil. Ia duduk di balik bangku kemudi sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


***


Di dalam kamar Lukas menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Lana. Ia duduk di tepian tempat tidur dengan tatapan sedih. Satu tangannya mengusap lembut rambut Lana. Sesekali tangannya juga mengusap lembut pipi wanita yang ia cintai itu.


“Kenapa kau harus mengalami hal seperti ini. Kau baru saja bersedih karena kehilangan Alika.” Lukas membuang tatapannya ke arah lain. Giginya menggertak saat membayangkan rencana licik yang telah di lakukan oleh Morgan.


Bahkan bagi Lukas, Kematian saja tidak setimpal untuk menebus kejahatan yang telah di lakukan Morgan. Lana, wanita yang sangat ia cintai harus menerima penderitaan seperti itu karena dendam masa lalunya bersama Morgan.


Lukas beranjak dari tempat tidur. Pria itu memutuskan untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Sejak bertarung di jalanan dengan white tiger, bajunya menyisakan noda darah dan debu dari tanah. Lukas menghubungi bawahannya untuk menyiapkan setelan baju sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Lukas memandang wajahnya sendiri di depan cermin. Pancuran air dingin membasahi seluruh tubuhnya di mulai dari rambut. Pria itu melekatkan satu telapak tangannya di cermin.


Bayangan senyuman Lana kembali membuat hatinya kembali tenang. Lukas mengukir senyuman tipis yang memang cukup langkah ia ukir di wajahnya yang kaku itu. Setelah merasa tubuhnya segar kembali, Lukas menyelesaikan mandinya. Pria itu melilitkan handuk berwarna putih di pinggang. Sebuah handuk berukuran kecil ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


Lukas keluar dari dalam kamar mandi. Betapa terkejudnya dia saat melihat Lana mengigau tidak jelas. Lukas berlari cepat menuju ke tempat tidur. Suhu tubuh Lana sangat tinggi. Detik itu juga Lukas panik bukan main.


Lukas kembali beranjak dari tempat tidur. Namun, kali ini langkahnya terhenti. Lana mencengkram kuat tangannya. Bahkan menarik tubuhnya agar mendekat dengan tubuh Lana yang memiliki suhu tidak wajar itu.


Lana terlihat sangat nyaman dan berhenti mengigau tidak jelas saat tubuh Lukas melekat sempurna di tubuhnya. Jelas saja, Lukas baru selesai mandi. Tubuh pria itu dingin dan sangat pas dengan tubuh Lana yang kini mengalami suhu tubuh yang cukup tinggi.


Lukas menatap wajah Lana yang kini hanya berjarak beberapa centi dengannya. Bibirnya kembali mengukir senyuman tipis, “Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini.”


Lana mengalungkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Lukas. Baginya, Lukas seperti sebuh guling yang cukup membuatnya nyaman. Lukas mengeryitkan dahi saat melihat tingkah kekasihnya.


“Bahkan saat sakit saja kau bisa menggodaku. Kau memang wanita nakal, Lana.” Lukas tertawa kecil sebelum mengatur posisi tidurnya. Ia tergeletak di samping Lana. Membiarkan lengan kekarnya sebagai bantal untuk Lana. Kedua tangannya memeluk tubuh Lana seperti sebuah selimut yang memberi kehangatan.


Lana terlihat sangat nyaman dengan posisi tidurnya. Wanita itu masih memejamkan mata dengan posisi memeluk tubuh Lukas. Ia juga tidak sadar dengan semua yang ia lakukan. Rasa lelah dan reaksi racun yang ada di dalam tubuhnya membuat dirinya tidak lagi bisa menyadari perbuatannya.


“Jangan salahkan aku tidur seperti ini. Ini semua juga karena kau yang memaksa,” ucap Lukas sebelum memejamkan mata. Pria tangguh itu terpaksa tidur dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tidak terpikirkan bagaimana sulitnya malam itu ia menekan hasratnya agar tidak menyerang wanita yang ia cintai. Tapi, semua berhasil ia lakukan demi cinta sucinya kepada Lana.


Kamar itu berubah hening. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Lukas terlihat gelisah dengan posisi tidurnya. Pria itu terbangun dari tidur singkatnya. Walau hanya tertidur beberapa menit saja sudah membuatnya bertemu dengan mimpi buruk.


Lukas bermimpi kehilangan Lana selamanya. Sepertinya pengaruh racun itu bukan hanya mempengaruhi kesehatan Lana. Tetapi juga mempengaruhi pikiran Lukas.


Lukas melepas kedua tangan Lana yang memeluk tubuhnya. Pria itu mendaratkan satu kecupan sebelum turun dari tempat tidur.


Lukas mengambil baju yang telah tersedia. Ia mulai mengenakan pakaian yang seperti biasa ia kenakan. Kemeja putih dengan jas hitam. Celana hitam yang ia kenakan telah ia selipkan sebuah pistol.


Lukas menatap wajah Lana yang terlelap dalam tidurnya sebelum pergi meninggalkan kamar tidur. Lukas memang bukan tipe pria yang bisa tenang jika seseorang yang ia sayangi berada dalam bahaya. Dengan langkah cepat Lukas berjalan ke arah pintu.


Lukas menatap beberapa pasukan Gold Dragon yang berjaga sekilas sebelum berjalan menuju ke arah mobil, “Apa Dokter itu telah pergi ke rumah sakit?”


“Ya, Bos,” jawab pasukan Gold Dragon.


“Aku ingin menemuinya.” Lukas menatap tajam bawahannya, “Jangan ikuti aku. Jaga Lana, beri kabar segera jika terjadi sesuatu.”


“Baik, Bos.” Pria itu menunduk hormat sebelum membuka pintu kemudi.


Lukas masuk dan duduk dengan posisi nyaman di bangku kemudi. Pria itu menghidupkan mesin mobilnya sebelum melajukannya dengan kecepatan tinggi. Lukas ingin segera mendapatkan kabar terbaru mengenai kesehatan kekasihnya saat ini. Ia tidak lagi mau menunggu walau hanya satu detik.


Jalanan terang yang ada di depan matanya terasa seperti jalanan gelap yang membuatnya tersesat. Hanya Lana dan Lana yang memenuhi pikirannya. Tidak ada nama lain selain wanita itu.


"Lana, kau wanita pertama yang membuatku mengerti artinya cinta. Aku tidak menyangka, harus seperti ini jalan cerita cinta kita. Kau seorang wanita yang tidak pantas berada dalam posisi seperti itu. Kenapa bukan aku saja yang mengalaminya. Semua masalah ini juga karena diriku."