
Lana membuka matanya secara perlahan. Wanita itu merasakan ada tangan kekar yang kini memeluk tubuhnya. Secara perlahan Lana memiringkan wajahnya untuk melihat wajah sang pemilik tangan. Bibirnya tersenyum bahagia.
“Selamat pagi, bagaimana keadaanmu pagi ini?” ucap Lukas pelan. Pria itu menyingkirkan rambut Lana yang menutupi wajah.
“Aku merasa jauh lebih baik,” jawab Lana. Wanita itu mengatur posisi tidurnya agar kepalanya berpindah di atas lengan milik Lukas, “Selama ada dirimu di sampingku, maka semuanya akan menjadi baik-baik saja.”
Lukas mengukir senyuman tipis. Pria itu mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana, “Aku akan selalu menemanimu.”
Lana kembali ingat dengan racun yang di katakan oleh Morgan. Wanita itu mendongak untuk menatap wajah Lukas, “Apa Morgan benar telah meracuniku? Kenapa aku merasa tidak ada yang terjadi di dalam tubuhku saat ini.” Alisnya saling bertaut. Lana yakin kalau kalimat yang di ucapkan Morgan hanya sebuah alasan saja agar ia bisa kabur dari serangan Lukas.
“Bukan tidak terjadi tapi belum terjadi,” gumam Lukas di dalam hati sambil melamun.
“Hei, Lukas. Apa kau mendengarkanku?” protes Lana sambil menepuk pelan pipi Lukas.
“Soal itu. Aku juga tidak tahu.” Lukas menarik kepala Lana agar ada di bawah lehernya. Pria mengecup rambut Lana dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca. Ia tidak akan sanggup mengatakan rasa sakit yang akan dihadapi Lana nantinya, “Aku akan membalas semua perbuatannya.”
Lana merasa ada yang beda dari Lukas. Pria tangguh itu tidak pernah memiliki sifat selembut itu. Ia selalu saja cuek dan seolah tidak peduli dengan Lana. Bahkan saat Lana memancingnya agar bersikap manis juga jarang berhasil. Tapi, pagi ini Lukas terlihat seperti pria yang sedang memanjakan kekasihnya.
“Kita ada dimana?” ucap Lana sambil memperhatikan beberapa prabot yang ada di dalam kamar tersebut.
“Rumah Dokter,” jawab Lukas cepat.
“Siapa yang sakit?”
“Aku.”
Lana melepas pelukan Lukas. Kali ini wanita itu duduk dan menatap wajah Lukas dengan wajah tidak percaya, “Sakit apa? Apa pria sepertimu bisa sakit juga?”
“Apa aku tidak boleh sakit?” protes Lukas. Pria itu juga duduk di atas tempat tidur. Menatap wajah Lana dengan sorot matanya yang tajam, “Ayo kita pergi ke markas.”
“Kau benar sedang sakit?” Wajah Lana berubah panik.
Lukas tertawa kecil. Pria itu menarik tengkuk Lana lalu mengecup bibir kekasihnya, “Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik.”
Lana semakin bingung dengan kalimat yang di ucapkan kekasihnya. Wanita itu menggeleng pelan dengan wajah bingung, “Sepertinya kau benar sedang sakit. Tapi sekarang kau kelihatan sudah sembuh. Ayo kita kembali ke markas.”
Lana turun dari tempat tidur tanpa rasa curiga sedikitpun. Sedangkan Lukas. Pria itu masih duduk di atas tempat tidur sambil melamun membayangkan tubuh Lana yang tidak lama lagi akan lumpuh dan kesakitan.
“Maafkan aku, Lana. Aku akan menemukan penawar itu secepatnya. Apapun resiko yang nanti aku terima akan aku hadapi.”
***
Beberapa saat kemudian.
Lukas dan Lana tiba di depan markas Gold Dragon. Seluruh pasukan Gold Dragon berkumpul di depan markas. Tidak ada satu orangpun yang berani masuk ke dalam gedung berukuran luas tersebut.
Lukas dan Lana terlihat sangat khawatir saat melihat pasukan Gold Dragon berkumpul. Sepasang kekasih itu berlari kencang untuk mendekati para pasukan yang berkumpul.
“Apa yang terjadi?” tanya Lukas dan Lana bersamaan.
“Nona Emelie, Bos.” Pria itu kesulitan untuk merangkai kata penjelasan kepada Lukas, “Dokter baru saja tiba dan Bos Zeroun memerintahkan kami untuk keluar dari markas.”
Lukas dan Lana saling memandang. Mendengar kata Dokter sudah pasti membuat mereka khawatir dengan kesehatan Emelie. Dengan gerakan cepat mereka masuk ke dalam markas.
Di sebuah kamar berukuran luas, Emelie duduk bersandar. Perutnya yang tadi terasa sangat sakit kini sudah berangsur membaik. Zeroun duduk di samping Emelie sambil menggenggam tangan wanita itu. Tidak jauh dari posisi Zeroun ada Agen Mia dan Dokter wanita.
“Sayang, bagaimana sekarang?” ucap Zeroun dengan wajah khawatir.
Zeroun kembali bernapas lega. Pria itu mengecup punggung tangan istrinya berulang kali sebelum meletakkannya di pipi kanan, “Aku tidak tega melihatmu kesakitan.”
Emelie mengukir senyuman, “Aku tidak jadi sakit jika melihatmu seperti itu. Kau pria yang sangat manis.” Emelie mencubit pipi Zeroun dengan gemas.
Agen Mia melipat kedua tangannya di depan dada. Hanya dia wanita di rumah itu yang bisa di suruh-suruh oleh Zeroun untuk membantu Emelie. Dengan sangat terpaksa ia menemani Emelie yang selama ini seharusnya menjadi tugas Lana.
Suara pintu terbuka. Lana dan Lukas muncul di dalam kamar. Kemunculan sepasang kekasih itu mendapat sambutan mengerikan dari Zeroun. Sorot mata Zeroun yang tajam dan mengerikan menatap wajah Lana dan Lukas secara bergantian.
“Selamat pagi, Bos,” ucap sepasang kekasih itu secara bersamaan.
Zeroun beranjak dari tempat tidur yang ia duduki. Meletakkan kembali tangan Emelie di atas tempat tidur, “Apa kau tidak tahu, kalau aku memberi perintah kepada semua pria untuk tidak masuk melihat Emelie.”
Lukas mengeryitkan dahi sebelum menatap wajah Emelie. Ia melihat tidak ada yang salah dari tubuh istri bosnya itu. Bahkan wajah Emelie juga terlihat segar dan tidak pucat seperti orang sakit. Tapi, ada satu hal yang membuatnya bingung. Ada Dokter wanita di dalam kamar tersebut. Tiba-tiba saja, Lukas ingat akan satu hal.
“Nona Emelie sedang-” ucapan Lukas terhenti. Pria itu kembali menunduk. Ia tahu bagaimana perubahan sikap Zeroun saat Emelie datang bulan. Tiba-tiba saja di dalam hati Lukas merasa geli saat membayangkan wajah khawatir Zeroun.
“Kau meledekku?” protes Zeroun yang seolah mengerti dengan apa yang di pikirkan Lukas pagi itu.
“Maafkan saya, Bos. Saya akan pergi,” ucap Lukas dengan kepala masih menunduk.
“Nona Emelie, apa anda baik-baik saja?” ucap Lana dengan suara yang lembut.
Emelie mengukir senyuman, “Aku baik-baik saja. Lana kemarilah. Aku ingin bercerita denganmu.”
Lana mengukir senyuman lalu melangkahkan kakinya secara perlahan. Kepalanya menunduk saat tubuhnya berpapasan dengan Zeroun. Tapi, langkah Lana seperti tidak sempurna. Tiba-tiba saja wanita itu berhenti dan merasa sesuatu yang aneh dengan tubuhnya.
“Apa yang terjadi?” ucapnya pelan. Keringat dingin keluar dengan deras hingga membuat seluruh tubuh Lana menjadi basah.
Lukas mengangkat kepalanya sambil memperhatikan punggung Lana. Sama halnya dengan Zeroun. Pria itu juga menatap Lana dengan tatapan curiga.
“Lana, apa kau baik-baik saja?” tanya Emelie dengan wajah khawatir.
Lana berusaha menggerakkan tubuhnya lagi. Tapi, tiba-tiba ada rasa sakit yang seperti menusuk-nusuk di seluruh tubuhnya. Lana kehilangan keseimbangannya untuk berdiri. Tubuhnya melayang dan siap untuk jatuh ke permukaan lantai.
Zeroun dan Lukas sama-sama berusaha menahan tubuh Lana. Namun, gerakan Lukas yang jauh lebih cepat. Pria itu berlutut di lantai dengan tubuh Lana di dalam pelukannya.
“Apa yang terjadi pada tubuhku?” ucap Lana sambil menatap wajah Lukas.
Lukas membisu. Pria itu tidak tahu harus menjawab apa kepada Lana, “Maafkan aku, Lana. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik.”
Zeroun dan Emelie semakin bingung, “Apa yang telah terjadi?” ucap Zeroun sambil memperhatikan wajah Lana yang terlihat berbeda.
“Morgan memberi Lana racun, Bos,” jawab Lukas sambil menekan kesedihan di dalam hatinya.
“Racun?” celetuk Emelie dan Zeroun bersamaan.
Lana menghela napas dengan bibir tersenyum kecil, “Apa kau berusaha membohongiku tadi? Apa aku akan mati saat ini?”
Lukas hanya diam sambil menatap wajah Lana. Pria itu mengangkat tubuh Lana lalu berdiri, “Saya permisi dulu, Bos. Saya akan mengantarkan Lana ke kamarnya.”
Zeroun hanya diam tanpa merespon sedikitpun. Berbeda dengan Agen Mia. Wanita itu melipat tangannya dengan bibir tersenyum kecil, “Sepertinya sudah mulai bereaksi. Racun yang cukup hebat,” gumamnya di dalam hati.
Gemes dech aku lihat Agen Mia Thor🤣, sabar lho reader. Ada cerita panjang di balik sikap Agen Mia.