
Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menembus kabut malam yang begitu dingin. Sesekali ia kembali melirik ke arah ponsel. Sebelum pergi, Zeroun sudah meletakkan camera cctv agar ia bisa melihat wajah cantik istrinya. Bibirnya mengukir senyuman indah setelah berhasil melihat wajah istrinya yang sedang terlelap dengan begitu tenang.
“Aku akan selalu menjagamu, Sayang. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama hingga membuat kita berpisah lagi.”
Setelah beberapa menit berada di jalan. Kini mobil Zeroun berhenti di sebuah dermaga yang di penuhi oleh pasukan Gold Dragon dan kapal-kapal pesiar yang berbaris rapi. Dari dalam mobil, Zeroun memperhatikan satu persatu wajah bawahannya. Sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Wajah-wajah yang ia lihat kebanyakan wajah baru. Bahkan ia tidak lagi memiliki waktu untuk menyelidiki kesetiaan bawahannya tersebut.
Zeroun mematikan mesin mobilnya. Pria itu turun dari dalam mobil lalu berjalan mendekati pasukan miliknya. Semua orang menunduk hormat saat Zeroun telah tiba. Memberikan salam sebagai bentuk sambutan.
“Apa kalian sudah melakukan tugas yang saya berikan?” ucap Zeroun tanpa banyak basa-basi. Ia ingin segera selesai agar bisa segera kembali ke hotel.
“Sudah, Bos. Ini berkas yang anda inginkan?” Salah satu pria maju dari barisan. Ada beberapa lembar berkas yang berisi informasi terbaru perkembangan mafia White Tiger.
Zeroun menerima berkas tersebut. Memeriksanya dengan seksama. Wajahnya cukup serius. Beberapa poin penting menjadi perhatiannya. Setelah selesai memeriksa berkas tersebut, ia memegang foto Morgan dan foto Arron. Ada senyum tipis di sudut bibir Zeroun malam itu.
“Mereka tidak bekerja sama, Bos,” ucap salah satu anggota Gold Dragon yang seolah mengerti isi pikiran Zeroun.
“Belum. Bukan tidak,” jawab Zeroun sambil mere*mas kuat berkas tersebut. Semua sudah ia baca dan ia ketahui. Tidak ada lagi yang harus ia simpan. Kini yang ada di dalam pikiran Zeroun adalah rencana selanjutnya untuk mengalahkan Arron maupun Morgan.
“Besok senjata dari Hongkong akan segera di kirim. Kalian bisa mulai latihan dan mempersiapkan diri mulai besok,” ucap Zeroun dengan begitu tegas.
“Baik, Bos,” jawab pasukan Gold Dragon secara serempak.
“Jangan pernah menampakkan diri kalian di depan Emelie. Aku tidak ingin ia tahu dan menjadi khawatir nanti,” ucap Zeroun dengan sorot mata yang cukup serius.
“Baik, Bos,” jawab sekali lagi secara serempak.
Zeroun mengambil pistol dari dalam saku.
DUARRR DUARRR
Dua tembakan ia lepas ke arah dua pria yang berbaris dibelakang pasukan Gold Dragon tersebut. Semua orang tercengang dan bingung.
Ini pertama kalinya Zeroun membunuh pasukan miliknya sendiri sebelum melakukan kesalahan. Dua pria yang tertembak itu terjatuh ke tanah dengan mata yang melebar. Peluru dari Zeroun menancap di dahi hingga membuat nyawa mereka tidak tertolong lagi.
“Bunuh siapa saja pengkhianat yang ada di dalam Gold Dragon,” ucap Zeroun tanpa mau menjelaskan lebih panjang lagi. Pria itu memasukkan pistolnya lalu memutar tubuh. Ia berjalan menuju ke arah mobil tanpa memberi perintah tambahan.
Zeroun telah menembak dua wajah pengkhianat. Tidak ada yang luput dari perhatian Zeroun. Termasuk dua musuh yang menyeludup ke dalam geng mafia miliknya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Zeroun memperhatikan wajah dua pria yang sudah tidak bernyawa itu.
“Dia sudah ada di sini. Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya,” ucap Zeroun pelan sebelum masuk ke dalam mobil.
***
Keesokan harinya, Hongkong
Pagi yang cerah di kota Hongkong. Lana mulai membuka matanya saat merasakan cahaya masuk dan memenuhi isi kamarnya. Kedua bola matanya masih belum jelas untuk memandang. Lana mengucek kedua matanya dengan tangan. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat Lukas duduk di samping tempat tidurnya. Pria itu tersenyum manis kepadanya.
Lana kembali mengingat kejadian tadi malam. Tepatnya saat dirinya belum terlelap ke dalam mimpi yang buruk. Dokter tiba setelah Lukas memintanya datang. Kata Dokter Lana hanya terlalu banyak pikiran dan kurang menjaga kesehatannya. Tidak ada sakit yang harus di takuti. Lana hanya butuh istirahat total sampai benar-benar pulih dan kembali bebas beraktifitas.
“Aku bermimpi buruk,” ucap Lana dengan wajah sedih, “Aku bermimpi kau meninggalkanku. Wajahku terlihat sangat menyedihkan di dalam mimpi itu.”
“Mimpi buruk?” tanya Lukas sambil mengeryitkan dahi. Pria itu meraih tangan Lana lalu menggenggamnya dengan begitu erat, “Aku di sini menemanimu sampai tidak tidur. Bagaimana mungkin mimpi buruk itu hadir di dalam mimpimu.”
Lana memperhatikan barang-barang yang berserak di atas nakas. Ada obat-obatan yang di berikan oleh Dokter, ada juga bekas kompres Lana, gelas kosong hingga sebotol minuman beralkohol. Lana mengeryitkan dahi saat melihat minuman keras itu ada di samping obat-obat miliknya.
“Kau yang meminumnya?” tanya Lana curiga.
Lukas memandang botol minuman yang sudah kosong, “Ya.”
Lana menghela napas dengan ekspresi wajah yang mulai tenang. Memang seperti itu minuman favorit kekasihnya. Ia tidak akan mungkin melarang Lukas untuk tidak meminum minuman keras seperti itu.
“Kata Dokter kau harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran. Apa yang kau pikirkan hingga bisa jatuh sakit? Kita tidak dalam arena perang saat ini.” Lukas mengusap lembut punggung tangan Lana, “Aku cukup sibuk hingga tidak bisa memperhatikanmu.”
“Aku tidak memikirkan apapun. Aku memang suka sakit sejak dulu. Hanya butuh istirahat saja, sudah bisa membuatku sembuh.”
“Kau memiliki fisik yang cukup lemah kata Dokter. Tapi, selama ini kau berperan seolah wanita yang cukup tangguh dan tak terkalahkan,” sambung Lukas dengan wajah yang cukup serius.
“Aku sakit biar mendapat perhatian lebih darimu. Ini hanya sakit karena rindu,” jawab Lana sambil tertawa kecil.
Lukas menghela napas kasar. Jawaban Lana memang tidak mengubah sedikitpun kekhawatiran di dalam hatinya. Tubuhnya membungkuk untuk mendekati wajah Lana. Bibirnya mendarat sempurna di bibir Lana. Dengan kelembutan dan cinta Lukas mencium bibir Lana. Matanya terpejam hingga ciuman itu cukup membuat Lana menjadi tenang dan nyaman.
Lana memegang lengan Lukas seolah tidak mau di tinggal jauh. Ia ingin Lukas terus seperti itu. Bernapas di depan wajahnya. Menyentuhnya dengan kasih sayang. Menjaganya dari bahaya yang akan menyerang. Lana sangat membutuhkan Lukas dalam kondisi seperti ini.
Setelah cukup lama Lukas dan Lana berciuman, Lukas mulai menjauhkan bibirnya. Pria itu mengusap lembut rambut Lana sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana, “Aku akan mengambil sarapan untukmu. Aku baru saja memesannya beberapa menit yang lalu. Seharusnya masih hangat.”
Lana mengangguk dengan senyuman manis, “Jangan lama-lama. Aku tidak ingin di tinggal terlalu lama.”
Lukas memandang Lana dengan ekspresi dingin favoritnya sebelum beranjak dari tempat tidur Lana. Langkahnya terhenti saat ponselnya bergetar di dalam saku. Pria itu menatap wajah Lana sekilas sebelum keluar kamar. Ia kembali memastikan pintu telah rapat tertutup sebelum mengeluarkan kata.
“Selamat pagi, Bos,” ucap Lukas dengan wajah khawatir. Tidak mungkin Zeroun menghubunginya sepagi ini jika bukan karena ada masalah. Di tambah lagi, Lukas cukup tahu kalau bos kesayangannya itu dalam perjalanan bulan madu.
Setelah cukup lama mendengarkan perkataan Zeroun, wajah Lukas mulai berubah. Hingga akhirnya panggilan telepon itu terputus. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, “Lana, maafkan aku.”
.
.
Like dulu.