
Mobil Zeroun dan Kenzo terpisah. Kali ini Lukas yang mengambil alih kemudi mobil yang di tumpangi Zeroun. Sedangkan Kenzo dan Shabira memiliki supir sendiri. Mobil Lana ada di belakang dua mobil yang sedang melaju kencang. Wanita tangguh itu mengemudikannya sendiri. Sesekali bibirnya mengukir tawa saat membayangkan perkataan Lukas sebelum mereka terpisah.
“Jika mobilmu tidak kelihatan dari kaca spionku. Maka aku akan segera menghukummu nanti!”
Ancaman itu cukup berhasil. Setiap kali mengingat ancaman itu, Lana langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tetap berada di bawah pantauan kekasihnya.
Lukas cukup sering memandang ke arah spion. Sesekali ia mengukir senyuman yang cukup indah. Wajahnya terlihat sangat berseri. Hal itu berhasil mencuri perhatian Zeroun. Bos mafia itu sudah pasti tahu siapa yang sejak tadi di perhatikan oleh bawahannya.
“Dia akan tetap ada di belakang,” ucap Zeroun untuk meledek Lukas.
“Dia wanita yang cukup susah di atur, Bos.” Lukas menjawab perkataan Zeroun tanpa berpikir lebih dulu. Seolah-olah pertanyaan dan jawaban yang ia katakan mengalir secara alami. Dalam hitungan detik ekspresi wajah Lukas berubah. Lelaki itu berdehem pelan sebelum fokus pada jalan yang ada di depan.
Zeroun tertawa kecil saat melihat perubahan sikap bawahannya saat itu. Tawa yang di hasilkan oleh Zeroun berhasil mencuri perhatian sang kakasih. Emelie sejak tadi memperhatikan pemandangan yang tersaji sambil melamun. Bahkan wanita itu tidak sadar dengar obrolan singkat antara Lukas dan Zeroun.
“Zeroun, apa yang kau tertawakan?” ucap Emelie sambil menatap wajah Zeroun dengan seksama. Tidak ada Kenzo di dalam mobil itu. Hanya ada Lukas si pria es yang memang cukup sulit untuk bercanda. Bahkan sebelumnya suasana mobil itu terasa sangat hening. Tawa Zeroun benar-benar satu hal yang mencurigakan bagi Emelie.
“Aku terlalu bahagia karena akan menikah denganmu hingga tertawa seperti ini,” ucap Zeroun yang masih menutupi tentang Lukas dan Lana. Ia tidak ingin menceritakan hubungan bawahannya itu kepada Emelie. Mengingat sifat kekasihnya yang suka meledek Lukas, ia tidak ingin Lukas dan Lana nantinya akan berjauhan karena malu. Di tambah lagi, Zeroun juga tidak tahu status hubungan bawahannya itu.
Emelie mengukir senyuman saat mendengar perkataan Zeroun. Putri kerajaan itu menjatuhkan kepalanya di pundak Zeroun dengan posisi manja. Hatinya benar-benar bahagia, hingga kebahagiaan itu sangat sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata, “Aku juga sangat bahagia karena bisa menikah denganmu, Zeroun Zein. Aku mencintaimu selamanya.”
Zeroun mengusap lembut punggung tangan Emelie. Lelaki itu mendaratkan satu kecupan mesra di pucuk kepada kekasihnya. Ia sendiri juga sudah tidak sabar untuk menikah dan hidup bersama wanita yang ia cintai.
“Hei, Lukas. Apa kau akan ikut pindah ke Inggris bersama Zeroun,” ucap Emelie sambil memandang ke arah depan.
“Maaf, Nona. Saya akan menetap di Hongkong. Namun, setiap kali Bos Zeroun membutuhkan saya, saya akan tiba tepat waktu.” Lukas menatap wajah Emelie sekilas melalui spion sebelum memandang ke arah depan lagi.
“Sebaiknya kau juga tinggal di Inggris. Aku akan memberimu jabatan yang bagus,” bujuk Emelie dengan bibir tersenyum.
“Sayang, Lukas tidak suka ikatan dan aturan. Ia pria yang bebas. Aku setuju dengan pendapatnya untuk menetap di Hongkong.” Zeroun membantu Lukas saat itu. Apapun yang di katakan Lukas tidak akan pernah membuat hati Emelie puas. Ia akan terus bertanya lagi dan lagi. Namun, saat Zeroun yang angkat bicara, Putri Kerajaan itu tidak lagi mau mengajukan pertanyaan.
“Terima kasih, Bos,” ucap Lukas dengan senyuman.
Zeroun hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. Tatapannya teralihkan ke wajah Emelie yang semula ceria kini berubah sendu, “Sayang, apa yang kau pikirkan?”
Emelie memandang lokasi pemakaman yang kini mereka lewati. Pemakaman kerajaan yang berada tidak terlalu jauh dari pintu masuk gerbang utama istana. Wanita itu kembali ingat dengan kedua orang tuanya yang sudah terbaring di pemakaman itu.
“Zeroun, sebelum menikah nanti. Aku mau kita mengunjungi pemakaman Raja dan Ratu,” ucap Emelie dengan suara lirih. Wanita itu mendongakkan wajahnya untuk memandang wajah sang kekasih, “Aku ingin mengenalkanmu kepada mereka.”
“Kenapa harus nanti. Kenapa kita tidak sekarang saja mengunjungi mereka,” ucap Zeroun penuh semangat. “Lukas berhenti!”
“Semua akan baik-baik saja,” sambung Zeroun cepat. Lelaki itu memandang wajah Emelie dengan seksama. Satu tanganya mengusap lembut pipi kekasihnya, “Apa kau mau memperkenalkanku kepada kedua orang tuamu, Sayang?”
Emelie mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu cukup bahagia dengan keputusan yang di ambil Zeroun sore itu. Lukas keluar lebih dulu dari dalam mobil. Keluarnya Lukas dari dalam mobil di ikuti Shabira dan Kenzo serta Lana.
Zeroun dan Emelie juga menyusul keluar dari dalam mobil saat yang lain telah berdiri di samping mobil masing-masing.
Pemakaman itu memang sangat sunyi. Walaupun indah dan terawat tapi tetap saja terlihat menakutkan. Suasana terasa cukup hening di areal itu. Angin bertiup dengan begitu kencang. Pepohonan yang ada di sekitar lokasi tampak bergoyang hingga membuat dedaunan kering berguguran.
Zeroun berjalan mendekati posisi Emelie berdiri. Lelaki itu menggandeng pinggang kekasihnya dengan sentuhan mesra, “Sayang, ayo kita masuk.”
“Tapi aku tidak membawa apa-apa,” ucap Emelie dengan wajah sedih.
Zeroun kembali memperhatikan keadaan sekitar. Ada bunga-bunga indah yang bermekaran di pinggiran jalan. Lelaki itu mengukir senyuman sebelum melepas tangannya di pinggang Emelie. Ia memetik beberapa bunga warna-warni lalu merangkainya dengan cukup indah. Setelah merasa bunga rakitannya cukup sempurna, Zeroun membawa dua bunga itu kepada Emelie.
“Apa ini cukup?” ucap Zeroun dengan wajah penuh harap.
Emelie mengangguk dengan perasaan haru. Zeroun memang selalu bisa membuat hatinya tersentuh, “Terima kasih.”
Kenzo dan Shabira sudah mengerti dengan tujuan mereka saat itu. Dari tulisan yang ada di pemakaman itu saja sudah bisa di pastikan kalau ada keluarga Emelie yang sangat ingin ia kunjungi.
Zeroun membawa Emelie masuk ke dalam pemakaman. Diikuti Kenzo dan Shabira di belakang. Sedangkan Lukas dan Lana, lebih memilih mengawasi lokasi itu dari arah pintu masuk. Posisi pemakaman Raja dan Ratu tidak terlalu jauh dari jalanan. Hingga memudahkan Lukas dan Lana menjaga Bos mereka saat itu.
Lana bersandar di pintu mobil dengan kaki terlipat. Kedua tangannya juga terlipat di depan dada. Bibirnya mengukir senyuman sambil memandang wajah kekasihnya. Hatinya selalu saja tenang setiap kali memandang wajah Lukas.
Berbeda dengan Lukas yang tidak terlalu memperhatikan Lana. Ia tidak ingin Lana semakin besar kepala hingga membuat wanita itu berlari untuk mendekatinya. Ada Zeroun di lokasi. Ia tidak ingin terlalu memamerkan hubungan percintaannya kepada Bos mafia itu.
“Dasar pria es. Kenapa dia tidak mau memandang wajahku. Awas saja kau. Aku akan memberimu pelajaran nanti!” protes Lana dengan suara yang cukup pelan.
.
.
.
Like, Vote dan Komen. terima kasih atas pengertiannya ya reader 😘