
Shabira mengangkat satu tangannya ke arah pintu kamar yang di tempati Emelie. Wanita itu mengetuk pintu dengan durasi yang cepat. Ada senyum di bibir Shabira bahkan di saat pintu itu belum terbuka. Ia kembali memutar tubuhnya untuk melihat keadaan sekitar sebelum Emelie membuka pintu.
Tidak perlu menunggu lama pintu sudah terbuka. Emelie berdiri di ambang pintu dengan satu senyuman manis miliknya. Wanita itu cukup bahagia saat melihat Shabira berdiri di hadapannya. Malam ini mereka tidak melakukan makan malam secara bersama-sama. Hingga membuat Shabira dan Emelie tidak ada jumpa selain tadi siang.
“Zetta,” ucap Emelie dengan wajah bahagia sebelum memeluk tubuh Shabira. Satu tangannya mengusap lembut pundak Shabira, “Aku sangat bahagia karena kau mau menemuiku saat ini. Sejak tadi aku sangat merindukanmu, Zetta. Zeroun melarangku untuk mengganggumu karena kau sedang istirahat dan dalam keadaan hamil.”
Shabira membalas pelukan Emelie. Wanita itu mengukir senyuman saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh kakak iparnya. Saat bangun tidur, Kenzo telah menceritakan kunjungan Paman Arnold. Lelaki itu juga bercerita tentang rencana pernikahan Zeroun dan Emelie yang akan di laksanakan di Inggris. Tidak sampai di situ saja, lelaki berstatus suaminya itu juga menyampaikan pesan dari Zeroun untuk mengikuti mereka ke Inggris hingga pesta pernikahan berlangsung.
“Kak Emelie, apa Kakak sibuk? Apa aku mengganggu Kakak?” tanya Shabira dengan ragu-ragu.
Emelie melepas pelukannya. Wanita itu menggeleng pelan kepalanya, “Aku tidak sibuk.”
Shabira mengukir senyuman, “Ayo kita bercerita di bawah. Ada tempat yang cukup indah yang baru saja aku temui. Aku ingin memandang bintang dan bulan bersama dengan kak Emelie,” ucap Shabira dengan penuh semangat.
Emelie cukup terharu dengan ucapan Shabira. Matanya berubah berkaca-kaca sebelum menggandeng lengan adik iparnya dengan begiu akrab, “Ayo kita pergi ke tempat indah itu. Aku akan menemanimu untuk melihat bulan dan bintang malam ini.”
Shabira dan Zetta berjalan beriringan menuju ke arah tangga. Wajah kedua wanita itu terlihat bahagia. Sesekali mereka bercanda hingga membuat satu tawa riang yang cukup menyejukkan hati. Dari lantai atas Kenzo mengukir senyuman. Lelaki itu baru saja selesai mandi. Wajahnya tampak bingung saat melihat istrinya tidak ada di kamar.
“Sayang,” ucap Kenzo yang juga menuruni anak tangga. Lelaki itu mendekati posisi Shabira dan Emelie yang sudah berada di lantai satu, “Mau kemana? Apa kau sudah makan?”
Shabira mengukir senyuman saat melihat Kenzo di hadapannya, “Aku tidak lapar.”
“Zetta, kau tidak boleh seperti itu. Kau sedang hamil. Ayo kita ke dapur. Aku akan menemanimu makan malam.” Emelie menggandeng tangan Shabira sambil tersenyum.
Kenzo juga terlihat bahagia, “Terima kasih, Kakak ipar. Aku akan mengunjungi Zeroun di ruangannya.” Kenzo mengusap lembut rambut Shabira sebelum pergi menuju ke ruangan Zeroun. Ruangan lelaki itu ada di lantai satu. Kenzo tidak butuh waktu lama untuk tiba di ruangan yang kini di tempati Zeroun.
Shabira dan Emelie memandang punggung Kenzo yang hilang di balik pintu sebelum berjalan menuju ke arah dapur.
“Kak, tapi aku tidak berselera untuk makan,” rengek Shabira sambil menjatuhkan kepalanya di pundak Emelie.
“Tapi itu tidak baik untuk kesehatanmu dan bayi yang kau kandung. Aku akan membuat sebuah salad buah dan sayur. Bagaimana?” Emelie menatap wajah Shabira dengan seksama, “Aku akan menemanimu memakannya nanti. Kita akan makan di luar sambil menatap bintang dan juga bulan.”
“Ya. Baiklah,” ucap Shabira pasrah.
Emelie membawa Shabira menuju ke arah dapur. Wanita itu sangat bahagia karena bisa membuat salad untuk adik ipar yang sangat ia sayangi. Sudah cukup lama ia tidak melakukan hal seperti itu.
Beberapa menit kemudian Shabira dan Emelie sudah ada di sofa yang ada di halaman belakang. Sofa itu dikelilingi lampu dan lilin-lilin yang cukup indah. Di depan sofa ada kolam ikan yang terlihat cukup indah.
Malam hari duduk di sofa itu memang menjadi pilihan yang tepat. Saat langit cerah, bintang dan bulan bisa terlihat dengan begitu jelas. Embun malam yang sejuk menambah suasana indah di tempat itu.
“Buka mulutmu, Zetta,” pintah Emelie sambil menyodorkan sesendok salad di hadapan Shabira. Sesuai perjanjian dan rayuan Emelie, suapan itu adalah suapan terakhir.
Shabira membuka mulutnya dengan wajah terpaksa. Ia sudah tidak sanggup untuk menghabiskan makan malamnya walau masih tersisa banyak, “Kakak, sudah ya.”
Emelie mengukir senyuman sebelum mengusap lembut rambut Shabira. Wanita itu meletakkan salad buatannya di atas meja. Kini tubuh dua wanita itu bersandar di sofa sambil menatap keindahan langit. Taburan bintang yang cukup indah seolah menyambut mereka.
“Aku sudah lama tidak merasa tenang seperti ini. Tersenyum dan merasa bahagia.” Emelie menatap wajah Shabira yang kini ada di sampingnya, “Zetta, jika kau merasa kehilangan seseorang. Namun, orang itu sangat kau benci. Kira-kira apa yang akan kau lakukan? Aku sudah berusaha melupakannya. Tapi, itu cukup sulit. Mengingat seumur hidupku telah aku habiskan dengannya. Hanya hitungan waktu kejahatan yang ia buat di dalam hidupku, tapi itu tidak berhasil untuk menghapus kenangan yang sudah bertahun-tahun kami lewati.”
“Kakak ingat dengan Adriana?” Shabira menatap wajah Emelie dengan seksama.
Emelie mengangguk pelan, “Dia adikku. Selamanya akan menjadi adikku. Aku sudah memaafkan kesalahannya. Senyuman indahnya sebelum ia jatuh dari gedung selalu terbayang di dalam pikiranku.”
Shabira menarik tubuh Emelie. Mengusap lembut pundak kakak iparnya. Ia cukup tahu dengan apa yang kini di rasakan oleh Emelie. Sama dengan apa yang ia rasakan beberapa waktu yang lalu. Saat dirinya berusaha membenci ketua Queen Star yang lama, tidak di pungkiri kalau masih ada rasa sayang karena sejak kecil hidupnya di perlakukan dengan baik. Walau tujuan akhir wanita itu terbilang cukup jahat.
“Jangan lupakan kenangan indah yang sudah Kakak lalui bersamanya. Tapi, lupakan kenangan buruk yang pernah ia lakukan. Dengan begitu selamanya Kakak akan mengenangnya sebagai orang yang baik saja,” ucap Shabira pelan.
“Aku akan berusaha untuk melupakan kenangan buruk yang telah ia lakukan,” jawab Emelie sebelum memejakan mata. Hatinya kembali lega saat mendengar jawaban Shabira malam itu. Setidaknya, hadirnya Shabira bisa membantu hatinya melupakan kenangan jahat Adriana.