Moving On

Moving On
Kaburnya Adriana



Monako.


Adriana menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Damian. Pria itu juga kini mematung dengan wajah tidak terbaca. Kekasihnya kini sudah menjadi buronan di kota Cambridge. Cepat atau lambat, namanya juga akan terseret kedalam masalah ini. Damian terlihat sangat frustasi dengan semua yang terjadi. Ada rasa kesal dan amarah saat mendengar cerita Adriana pagi itu.


“Aku sudah bilang untuk hati-hati. Kenapa kau tidak pernah mendengarkan perkataanku, Adriana?” Damian memegang kedua pundak Adriana.


“Aku tidak tahu, kalau Emelie mengikutiku hingga ke ruang rahasia. Aku bahkan sudah berhasil mengurungnya di kamar.” Adriana menghapus air matanya.


“Mengurungnya? apa kau ingat, berapa kali ia dikurung di kamar itu dan berapa kali ia bisa kabur tanpa diketahui?” Damian melepas genggamannya dari tubuh Adriana. Berjalan ke arah jendela.


“Aku harus menyerahkanmu ke kantor polisi,” ucap Damian sambil memalingkan wajahnya.


“Kau ingin Aku di penjara?” Adriana terlihat kaget mendengar perkataan Damian.


“Aku akan segera membebaskanmu secepatnya. Untuk saat ini, kita harus membuat Emelie percaya, kalau kita tidak bekerja sama. Aku akan menyuruh Jesica untuk membebaskanmu nanti. Saat Aku sudah berhasil membunuh Emelie.”


“Apa kau tidak berbohong?” Wajah Adriana dipenuhi harapan terhadap ucapan Damian.


Damian memutar tubuhnya berjalan mendekati Adriana.


“Aku sangat mencintaimu, Adriana. Sejak dulu hingga sekarang. Aku tidak akan berbohong. Setelah Emelie kalah, Aku akan segera membebaskanmu. Bersabarlah sayang.” Damian mengusap lembut rambut Adriana.


“Aku sangat mencintaimu, Damian.” Adriana memeluk tubuh Damian dengan tetesan air mata. Hatinya masih terasa sakit, namun ada rasa bahagia saat mendengar parkataan Pangeran Damian.


“Saat ini Emelie pasti bersama Zeroun. Kita tidak bisa terburu-buru untuk melakukan rencana pembunuhan ini. Setelah semua selesai, Zeroun akan pergi meninggalkan kota Cambridge. Saat itu kita akan membunuh Emelie. Akan kita buat Emelie merelakan seluruh harta yang ia miliki sebelum kita membunuhnya.” Ada senyum licik dan jahat atas rencana yang sudah di susun oleh Damian.


“Untuk sekarang, Aku harus menelpon Inspektur Tao. Agar dia segera menangkapmu. Aku akan bilang padanya, kalau kau bersembunyi di Monako. Jangan katakan apapun yang melibatkan namaku atau Jesica. Kau harus menjadi gadis yang pintar nanti.” Damian mengelus lembut wajah Adriana.


Adriana mengangguk setuju, “Aku tidak akan melibatkan kalian berdua.”


“Bagus, itu baru wanitaku. Aku berjanji akan segera membebaskanmu dari penjara itu.” Damian mencium bibir Adriana.


“Jangan bersedih lagi. Percayakan padaku.” Menghapus setiap tetes air mata yang jatuh lalu memeluk Adriana lagi.


“Zeroun dan Emelie akan membayar semua ini. Aku akan membalaskan rasa sakit hatimu kepada mereka berdua.”


***


Desa Clovelly.


Malam kembali muncul. Permukaan langit dihiasi taburan bintang dan cahaya rembulan. Emelie duduk di kursi kayu sambil menatap langit malam. Bibirnya tersenyum menikmati hembusan angin pantai yang menerpa tubuhnya. Ada rasa dingin pada malam itu.


Tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya, ketika ia beranjak dewasa ia akan mengahadapi masalah seberat ini. Ketika orang tuangnya pergi, Emelie merasa kalau dirinya masih memiliki alasan untuk bertahan hidup. Tapi, saat mengetahui semua kejahatan Adriana, semua harapan itu juga ikut hancur dan menghilang.


Kini hatinya seperti serpihan kaca yang pecah berkeping-keping. Tidak ada lagi semangat untuk hidup. Untuk kekuasaan yang kini ia miliki, Emelie tidak lagi tertarik. Memang sejak dulu, ia tidak pernah menginginkan semuanya. Kini, ia tidak tahu lagi bagaimana menjalani kehidupan seterusnya.


Hatinya akan dipenuhi dengan luka dan bayang-bayang kesedihan saat ia kembali ke Istana yang megah dan mewah itu.


Emelie memandang gelang yang ada di tangannya. Ia melepas gelang itu dan menggeggamnya dengan erat. Kini ia sudah tahu, apa alasan Zeroun memberi gelang itu kepadanya. Pria itu tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya. Emelie juga tidak berharap lebih. Bisa membantu Zeroun hingga sekarang, sudah suatu balas budi yang membebaskan utangnya selama ini.


Zeroun berjalan mendekati Emelie. Pria itu duduk di kursi yang ada di hadapan Emelie. Menatap wajah sedih Emelie dengan tatapan tidak terbaca.


“Apa yang kau pikirkan?” Zeroun memperhatikan gelang yang sudah terlepas dari tangan Emelie.


Emelie terlihat menahan air mata, “Aku hanya ingin memberikan benda ini kembali padamu.” Emelie meletakkan gelang itu di atas meja.


“Gelang itu untukmu,” jawab Zeroun.


“Aku tidak menginginkannya lagi.” Emelie memalingkan pandangannya dari wajah Zeroun.


“Baiklah, jika kau tidak menginginkannya lagi.” Zeroun mengambil gelang itu dengan wajah kecewa.


“Terima kasih, karena kau berulang kali telah menyelamatkan nyawaku. Semua yang aku lakukan tidak sebanding dengan itu. “ Mata Emelie mulai terasa perih dan memerah.


Napasnya terasa sesak dengan jantung yang seakan di remas. Emelie memejamkan matanya agar bisa bernapas dengan normal.


“Setelah ini, Aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi.” Emelie tidak lagi bisa menahan air matanya.


Buliran air mata itu jatuh begitu saja membasahi wajahnya. Hatinya belum siap untuk ditinggal pergi oleh Zeroun. Ia ingin selalu berada di samping Zeroun. Menatap wajah Zeroun dan memastikan kalau pria itu akan baik-baik saja.


Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama. Hatinya juga terasa perih. Entah kenapa, tapi ia tidak tega melihat Emelie menangis. Setiap kali melihat air mata yang keluar membasahi pipi itu, jantungnya juga seperti di remas dengan kuat. Ingin sekali ia berdiri dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Mencium setiap tetes air mata yang jatuh.


Tapi, Zeroun tidak bisa melakukan semua itu. Membawa Emelie bersama dengan dirinya, itu sama saja membawa Emelie masuk ke dalam penderitaan. Kehidupan Zeroun saat ini sangat jauh berbeda, jika dibandingkan dulu saat ia memimpin perusahaan. Kini hidup dan matinya tidak lagi bisa diperhitungkan. Kapan saja bahaya mengancam dirinya, ia harus rela kehilangan nyawanya.


Emelie hanya seorang Putri Kerajaan yang tidak akan mungkin bisa mengadapi kehidupannya yang keras. Akan sangat sulit bagi Emelie untuk bertahan hidup, saat ia berada di sisi Zeroun saat ini. Zeroun tidak ingin larut dalam perasaannya.


“Aku ingin tidur, lebih dulu. Sebaiknya kau segera beristirahat, Emelie.”


Zeroun beranjak dari duduknya berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tidak ingin berlama-lama berada di depan Emelie. Hatinya terasa semakin sakit, saat melihat wajah sedih Emelie malam itu.


Sedangkan Emelie, menghapus setiap tetes air matanya yang jatuh. Sekuat mungkin ia berusaha mengukir satu senyum manis miliknya. Ia tidak ingin terpuruk semakin dalam lagi. Ia harus bisa melewati kesusahan hatinya saat ini.