
Beberapa jam kemudian. Seluruh Gold Dragon sudah tiba di markas. Termasuk Zeroun dan Lukas. Tidak ada satupun pasukan Gold Dragon yang tertangkap hari itu. Smeua berhasil lolos dari kejaran Agen Mia.
Di sebuah ruangan berukuran luas dengan cat berwarna putih bersih. Ada beberapa pasukan Gold Dragon yang berjaga di ruangan yang cukup terang itu.
Emelie duduk di sofa sambil menatap kantung-kantung plastik yang berisi bahan makanan. Wanita itu sedikit melamun saat membayangkan betapa sulitnya berbelanja sayuran sederhana itu. Bukan hanya bertaru nyawa tetapi juga mempertaruhkan keselamatan dari kejaran para polisi.
Keinginan untuk memasak sepertinya sudah hilang entah kemana. Wanita itu terlihat tidak bersemangat untuk melakukan aktifitas apapun siang ini.
Zeroun, Lukas dan Lana memandang wajah cantik Emelie yang terlihat melamun. Putri Kerajaan itu hanya diam dengan hembusan napas yang mulai normal kembali. kedua tangannya ia letakkan di atas pangkuan. Kedua bola matanya sesekali berkedip dengan begitu tenang.
“Emelie,” ucap Zeroun sambil meraih tangan sang kekasih.
Sapaan Zeroun memecah lamunan Emelie siang itu. Wanita itu menatap wajah Zeroun dengan mata yang penuh tanya, “Zeroun, Aku ingin tidur.” Tanpa menunggu kalimat yang keluar dari bibir Zeroun, Emelie pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu. Langkah kakinya ia percepat agar bisa segera tiba di dalam kamar.
Zeroun memandang punggung Elviana dengan wajah yang cukup tenang. Pria itu menghembuskan napas sebelum memandang wajah Lana dan Lukas secara bergantian.
“Apa sudah ada kabar dari Inspektur Tao?” ucap Zeroun dengan dua bola mata yang sangat tajam.
“Beliau belum sadarkan diri, Bos.” Lukas angkat bicara sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
“Seperti dugaan anda Bos. Kita bisa menaklukan Agen Mia dengan menggunakan Inspektur Tao. Hanya saja, saat ini beliau belum bisa membela kita karena ia belum sadar.” Lukas menyodorkan ponselnya untuk memamerkan kedekatan Agen Mia dengan Inspektur Tao.
Zeroun meraih ponsel Lukas sambil berpikir, “Apa Damian tahu soal ini?”
“Tidak, Bos. Pria itu menganggap kalau Inspektur Tao telah tewas dalam insiden malam itu. Pihak kita datang tepat waktu sebelum rumah itu meledak. Ada satu jenazah yang mereka anggap sosok Inspektur Tao saat itu.”
Zeroun meletakkan ponsel itu di atas meja. Memikirkan cara terbaru untuk menghadapi Agen Mia yang akan menjadi penghalang untuk misinya nanti.
“Kita harus menemuinya. Setidaknya kita harus memberitahu pada polisi wanita itu kalau chip itu tidak bersama kita.”
Lukas menatap wajah Lana. Pria itu kembali ingat dengan ide Lana saat di sungai. Seluruh keinginan Zeroun siang itu, bisa terwujud jika ide milik Lana berjalan dengan lancar nantinya.
“Bos, kita akan membuat Agen Mia menemui kita malam ini.” Lukas terlihat begitu percaya diri.
Zeroun mengangguk pelan, ”Kau benar, biar dia yang menemui kita. Kita tidak perlu sulit-sulit untuk mencarinya bukan?” Ada senyum bahagia di bibir Zeroun siang itu.
“Persiapkan semuanya untuk nanti malam.” Zeroun beranjak dari duduknya diikuti Lana dan Lukas yang menunduk.
“Lana, masak sesuatu untuk makan siang. Emelie sepertinya tidak lagi tertarik untuk memasak makanan itu.”
“Baik, Bos,” jawab Lana cepat.
Lana mengambil kantung-kantung berisi bahan makanan itu dengan wajah ceria. Wanita itu membawa kantung itu menuju ke arah dapur. Sedangkan Lukas hanya mematung di posisinya. Pria itu lebih memilih pergi menuju kearah lain yang berlawanan dari Lana.
***
Zeroun menutup kembali pintu kamar miliknya. Di dalam kamar, terlihat Emelie yang berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang terpejam. Bajunya sudah terganti. Dari wajahnya yang terlihat segar, sangat jelas kalau putri kerajaan itu baru saja selesai mandi.
Saat mendengar suara sepatu Zeroun yang semakin mendekat, Emelie membuka matanya perlahan. Wanita itu mengukir senyuman sebelum duduk di atas tempat tidur.
“Apa sudah selesai?” ucap Emelie dengan suara yang begitu lembut.
Zeroun mengangguk pelan sebelum duduk di samping Emelie. Pria itu mengusap lembut rambut kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Hanya dengan melihat kehadiran Emelie, sudah bisa membuat Zeroun lupa akan beban berat yang kini ia miliki.
“Maafkan Aku, Aku tidak lagi ingin memasak hari ini. Suasana hatiku berubah buruk karena melihat wajah Jesica tadi.” Emelie memasang wajah cemberut.
“Tidak apa-apa. Ada Lana yang akan memasak untuk makan siang kita. Tadinya Aku berpikir untuk membeli makanan di luar. Tetapi, bukankah kau pernah bilang kalau makanan beli itu tidak sehat?” Zeroun mengukir senyuman.
Emelie tersenyum kecil sebelum mengangguk setuju, “Ya, Kita masih punya Lana. Dia seorang wanita, sudah pasti bisa memasak. Sangat lucu bukan jika seorang wanita tidak pintar dalam memasak?”
Mendengar perkataan Emelie, Zeroun tertegun beberapa saat. Pria itu kembali ingat dengan sahabatnya yang memang tidak bisa memasak. Bahkan hingga detik ini, wanita itu belum juga pintar dalam memasak.
“Sayang, Aku mau mandi dulu.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie sebelum beranjak dari tempat tidur. Pria itu berjalan menuju ke arah kamar mandi tanpa mau berbalik lagi.
Sedangkan Emelie. Wanita itu lebih memilih untuk melanjutkan tidur siangnya yang sempat terganggu. Melemaskan otot-ototnya yang terasa begitu kaku karena terlalu jauh untuk berlari.
“Aku tidak ingin bertemu Jesica lagi. Wanita itu sungguh menakutkan jika dilihat dari jarak yang begitu dekat. Sayang sekali, wajahnya padahal terlihat begitu cantik. Tapi, kenapa wanita cantik menjadi pembunuh.” Matanya terpejam dengan senyuman indah yang menemani tidurnya.
Setelah beberapa menit di kamar mandi. Zeroun keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Pria itu tersenyum saat melihat kekasihnya sudah tertidur pulas.
Berjalan dengan santai ke arah lemari untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan siang itu. Terpaan angin dari luar membuat gorden-gorden putih berterbangan. Zeroun menutup sedikit jendela kaca kamar itu agar angin tidak terlalu bebas untuk masuk ke dalam.
Matanya juga terasa ngantuk dengan tubuh yang lelah. Setelah mengenakan pakaian, Zeroun memilih naik ke atas tempat tidur untuk tidur dengan kekasihnya. Pria itu mengusap lembut rambut cokelat Emelie, sebelum mengecup pucuk kepalanya.
“Bukan hanya Jesica yang akan mengganggumu. Tetapi ada Adriana dan Damian yang kini juga menginginkanmu, Emelie. Selama Aku masih bernyawa, Aku akan selalu melindungimu dari orang-orang yang sangat membencimu itu.”
Zeroun membaringkan tubuhnya di samping Emelie. Pria itu memeriksa pistol yang selalu ada di bawah bantalnya sebelum memejamkan mata. Secara perlahan, Bos mafia itu berusaha untuk melupakan masalah yang telah terjadi. Napasnya yang sudah berangsur normal menandakan tubuhnya yang mulai terlelap dalam tidur siangnya.
Like, Komen, Vote. Terima kasih😘💗