Moving On

Moving On
Bahaya Emelie



Dengan cepat, Zeroun berlari untuk mengindari polisi itu. Pria itu berlari sambil memikirkan cara untuk membawa Emelie kabur bersama dengan dirinya. Tidak jauh dari arah depan, ada Lana dan Lukas yang juga sudah siap siaga. Mereka sudah mengetahui kehadiran Agen Mia di pusat perbelanjaan itu.


“Kalian alihkan pandangan mereka. Aku harus kembali untuk membawa Emelie.” Zeroun memandang ke arah Gold Dragon yang berkumpul.


“Berlari dan menghindar dengan sekuat tenaga yang kalian miliki. Aku tidak ingin ada yang tertangkap hari ini.” Zeroun menatap satu persatu wajah bawahannya dengan tatapan tajam.


“Baik, Bos.”


Zeroun berlari ke arah berlawanan dari Lana dan Lukas. Sedangkan Lukas dan Lana berusaha mengalihkan pandangan polisi-polisi itu agar tidak lagi mengejar Zeroun.


Sesuai dengan rencana, Agen Mia dan timnya tidak menyadari keberadaan Zeroun yang bersembunyi. Mereka lebih fokus mengejar Lukas dan pasukan Gold Dragon yang kini berlari untuk menghindar.


Satu topi dan kaca mata hitam yang baru saja didapatkan oleh Zeroun kini ia kenakan untuk menyamar. Pria itu berjalan dengan santai menuju ke toilet untuk menjemput Emelie.


Di dalam Toilet.


Emelie berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya. Sosok wanita mengenakan topi dan masker juga masuk kedalam toilet itu. Wanita misterius itu berdiri di depan cermin untuk membuka topi dan masker yang ia kenakan.


“Selalu saja ada tikus kecil yang mengganggu rencanaku!” umpatnya dengan wajah kesal.


Emelie melebarkan matanya saat melihat wanita yang kini berdiri di sampingnya. Dengan cepat, ia memutar tubuhnya dan menunduk agar tidak dikenali oleh wanita itu.


Jesika?


Tubuh Emelie terasa gemetar saat kini ia berada di samping pembunuh. Tidak sama dengan Jesica, wanita itu belum menyadari kalau kini Emelie ada di sampingnya. Mangsanya yang selama ini ingin ia habisi kini telah berada disampingnya tanpa perlindungan.


Jesica bersembunyi di dalam toilet untuk menghindari kejaran polisi yang kini memenuhi isi pusat perbelanjaan itu. Wanita itu tidak tahu, kalau kini Zeroun dan pasukan Gold Dragon juga ada di lokasi yang sama dengan dirinya.


Dengan hati-hati, Emelie memandang pintu keluar yang jaraknya hanya beberapa meter dari posisinya. Kakinya terasa kaku saat ingin kabur dari ruangan itu. Ia kembali ingat dengan perkataan Zeroun, jika ia teriak Zeroun akan muncul untuk menolongnya.


Emelie, Kau harus tenang. Wanita ini sepertinya tidak mengenalimu. Ok, tenang. Jika terjadi sesuatu, Kau bisa berteriak dan Zeroun akan menolongmu.


Dengan hati-hati, Emelie melangkah untuk menjauh dari posisi Jesica.


“Berhenti!” teriak Jesica. Sejak tadi, wanita itu mulai menyimpan rasa penasaran atas wajah wanita yang membelakanginya. Satu pistol dikeluarkan Jesica untuk mengancam lawannya saat itu.


“Berputarlah, Aku ingin melihat wajahmu!” perintah Jesica.


Emelie mematung dengan wajah semakin pucat. Debaran jantungnya tidak lagi normal. Napasnya seakan berubah sesak.


Apa hari ini Aku akan kehilangan nyawaku?


Batin Emelie dengan tubuh semakin gemetar. Hanya Zeroun malaikat penolong yang akan menyelamatkannya dalam keadaan seperti ini. Tetapi, jika ia berteriak maka Jesica akan segera menarik pelatuk pistol itu dan membuat nyawa satu-satunya yang ia miliki hilang begitu saja.


Emelie memegang tas kecilnya dengan begitu kuat. Memutar cepat tubuhnya lalu memukul wajah Jesica dengan tas miliknya. Tidak lagi sempat memandang wajah Jesica, Emelie lari dengan cepat untuk keluar dari dalam toilet itu. Wajahnya semakin panik saat tidak menemukan Zeroun di depan toilet itu. Dengan langkah cepat, ia berlari untuk meninggalkan jesica yang masih ada di dalam toilet itu.


Emelie tidak lagi peduli dengan teriakan wanita itu. Ia terus berlari menuju ke pusat keramaian untuk melindungi dirinya dari serangan Jesica. Wajahnya menunduk dan tidak lagi bisa memandang ke arah depan. Putri Kerajaan itu benar-benar takut dan tidak tahu harus kemana. Hingga akhirnya tubuhnya menabrak seorang pria.


“Maaf, maaf!” ucap Emelie dengan bibir gemetar dan kepala menunduk.


“Emelie, ini Aku. Ada apa?” Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya.


Emelie memberanikan diri untuk memandang wajah kekasihnya, “Zeroun, apa ini benar-benar Kau?”


“Iya sayang, apa yang terjadi?” Zeroun memegang kedua pipi Emelie yang terlihat pucat karena ketakutan.


“Jesica, dia mengejarku.” Emelie mempererat pelukannya.


“Jesica?” Zeroun mengeryitkan dahi.


Tidak jauh dari posisi mereka berdiri, Jesica berdiri dengan topi hitam menutupi wajahnya. Wanita itu menodongkan pistolnya ke arah tubuh Emelie.


Dengan cepat, Zeroun mengeluarkan pistol miliknya dan mengeluarkan satu tembakan. Tidak cukup sekali, Zeroun terus saja melepas tembakan demi tembakan untuk membuat Jesica kalah pagi itu.


Suara tembakan itu lagi-lagi membuat keributan di dalam pusat perbelanjaan itu. Semua pengunjung terlihat berlari-lari karena ketakutan. Jesica tidak ingin tertangkap oleh polisi, Bos mafia itu pergi untuk melarikan diri.


Sama halnya dengan Zeroun. Dengan cepat ia menarik Emelie untuk pergi meninggalkan tempat itu. Emelie terus saja mengikuti langkah kaki Zeroun. Sesekali ia memberanikan diri untuk memandang ke arah belakang. Putri Kerajaan itu kembali bernapas lega saat melihat wajah Jesica tidak lagi mengikutinya.


“Emelie, apa kau lelah?” Zeroun berdiri di depan Emelie sambil memandang wajah cantiknya.


Emelie menggeleng pelan kepalanya. Wanita itu memang tidak pernah merasa lelah kalau untuk urusan berlari. Berlari untuk kabur memang sudah menjadi hobinya sejak dulu.


“Jangan berbohong,” sambung Zeroun sambil tersenyum kecil.


Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama, “Apa kau bahagia hidup dengan cara seperti ini? Bahkan nyawamu bisa hilang kapan saja.”


Kalimat Emelie membuat Zeroun terdiam dan mematung. Pria itu memperhatikan keadaan sekitar yang menurutkan belum aman.


“Emelie, ayo kita pergi dari tempat ini.” Zeroun tidak ingin menjawab pertanyaan Emelie. Pria itu lebih memilih untuk pergi lebih jauh lagi agar terbebas dari kejaran polisi maupun Heels Devils musuhnya.


Emelie mengunci mulutnya saat tidak lagi mendapat jawaban dari Zeroun. Kejadian hari ini membuatnya semakin takut. Putri kerajaan itu tidak ingin pria yang sangat ia cintai selalu berada dalam bahaya seperti ini.


Zeroun, Aku tidak marah padamu. Aku hanya takut Kau pergi meninggalkanku seperti yang lainnya. Aku tidak mau kehilangan lagi. Aku tidak mau bersedih lagi karena kehilangan. Zeroun Zein, Aku sangat mencintaimu.


Emelie menghapus tetes air matanya yang terjatuh sebelum Zeroun melihat wajah sedihnya.


Emelie, maafkan Aku. Sejak awal Aku memang tidak ingin kau terlibat dalam masalah ini. Kau akan merasa lelah dengan semua ini nantinya. Semua sudah terjadi, Aku tidak akan bisa melepaskanmu lagi. Mulai sekarang, Kau harus bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang Aku miliki. Aku harap Kau mengerti dengan perasaanku saat ini. Aku sangat mencintaimu, Emelie.