
Lukas dan pasukan Gold Dragon telah menunggu kedatangan Zeroun. Sudah cukup lama mereka menunggu Bos Mafia itu keluar. Lana terlihat muncul dengan jaket hitam dan celana pendek ciri khasnya. Terlihat jelas pistol dan belati yang ada dipaha kanan dan kirinya.
Lukas mengeryitkan dahi saat melihat kemunculan wanita itu. Pria itu kembali membayangkan ciuman yang diberikan Lana kepadanya. Ada rasa malu yang membuatnya salah tingkah seketika. Tapi, semua kejadian itu tidak di sadari oleh Lana. Hal itu cukup membuat Lukas sedikit tenang malam ini,
Rasa kesal itu berubah menjadi rasa kasihan saat mengajak wanita tangguh itu pergi bertugas pada malam ini. Bibir Lana yang masih pucat menandakan bahwa wanita itu belum sembuh total dari sakitnya.
“Selamat malam Lukas,” ucap Lana sebelum duduk di salah satu kursi yang ada di halaman depan itu.
“Sebaiknya kau tidak perlu ikut malam ini.” Lukas memandang ke arah lain.
“Aku sudah lebih baik. Jika berada di rumah, itu akan membuatku menjadi semakin lemah.” Lana mengecek peluru yang ia bawa malam itu. Menghitung satu persatu peluru berwarna emas itu dengan begitu teliti.
Zeroun muncul secara tiba-tiba dengan ekspresi dingin favoritnya. Seluruh pasukan Gold Dragon berbaris rapi di hadapannya, termasuk Lukas dan Lana. Pria itu memandang satu persatu wajah bawahannya dengan ekspresi membunuh.
“Gold Dragon akan saya bagi tiga malam ini.” Kalimat Zeroun membuat Lukas mendongakkan wajah. Bahkan jika di bagi dua mereka masih kurang untuk bertarung melawan Heels Devils. Bagaimana bisa bos mafia itu membagi Gold Dragon dengan kata tiga.
“Sebagian tetap di rumah, sebagian lagi berangkat ke Sapporo malam ini. Aku ingin kalian melindungi Zettaku di sana,” sambung Zeroun cepat. Ada wajah sedih di kedua bola mata Zeroun saat itu.
“Siap, Bos,” jawab Gold Dragon secara bersamaan.
“Setelah rencana malam ini berhasil kalian sudah bisa berangkat ke Sapporo. Jangan pernah kembali sebelum keadaan di sana benar-benar aman.”
“Siap, Bos.”
Zeroun memandang wajah Lukas dengan tatapan penuh arti. Walau pria itu belum menceritakan segalanya, tangan kanan Zeroun Zein itu sudah tahu masalah apa yang kini terjadi di kota Sapporo.
“Kita berangkat sekarang,” ucap Zeroun sambil berjalan menuju mobil. Lukas membuka pintu mobil untuk memberi jalan pada pria itu. Dengan cepat Lukas memutari mobil berwarna hitam itu dan melajukannya dengan cepat. Lana mengemudikan mobilnya sendiri di belakang mobil Lukas. Beberapa anggota Gold Dragon yang sudah ditentukan Zeroun juga mengikutinya dari belakang. Sisa lainnya menjaga Emelie dari bahaya malam ini.
Di dalam mobil. Lukas terlihat mencuri pandang melalui spion. Ingin sekali pria itu protes atas keputusan sepihak yang baru saja dikeluarkan oleh Zeroun. Tetapi, sejak dulu apapun yang menjadi keputusan Zeroun tidak akan pernah bisa untuk diprotes lagi.
“Aku tidak bisa membiarkan mereka bertarung sendirian.” Zeroun mengerti isi pikiran Lukas saat ini.
“Tapi Bos. Jesica dan Damian masih ada di Brasil. Sudah bisa dipastikan kalau Nona Erena dan Nona Zetta bisa mengalahkan mereka. Ditambah lagi, pasukan Tuan Kenzo dan Tuan Daniel cukup kuat saat ini.” Lukas masih berusaha untuk mengagalkan rencana Zeroun malam itu.
“Aku tidak akan tenang menghirup udara bebas ini, saat Heels Devils belum pergi meninggalkan kota itu. Nanti kita akan pikirkan lagi caranya untuk menambah jumlah pasukan yang kita miliki.”
“Tidak ada waktu lagi, Bos. Mereka akan melakukan penyerangan dua hari lagi.”
“Siap tidak siap kita juga harus menghadapi hari itu. Jika kita tidak berhasil mendapatkan senjata itu, mereka juga tidak boleh mendapatkan senjata itu.” Mata Zeroun menghitam dengan tangan terkepal kuat.
“Ledakkan gudang senjata itu saat kita tidak berhasil mengalahkan mereka,” sambung Zeroun dengan wajah dipenuhi dendam.
***
Pukul 12 malam.
Mobil Lukas dan Lana berada di tengah-tengah gedung tinggi yang terlihat tidak berpenghuni. Zeroun duduk di depan mobil sambil memandang ke arah jalan. Sedangkan Lukas bersandar di gedung batu itu sambil memutar-mutar pistol miliknya.
Lana juga bersandar didinding yang berada tidak jauh dari Lukas. Wanita itu memandang ke arah jalan dengan wajah harap-harp cemas. Jika rencananya gagal, malam ini mereka bertiga akan tidur di dalam penjara.
Dari ujung jalan terlihat mobil polisi yang melaju dengan cepat. Ada lima mobil polisi yang kini ingin mengepung lokasi Zeroun berada. Ada senyum puas di bibir Zeroun saat melihat mobil-mobil polisi itu tiba.
Agen Mia turun sambil menodongkan senjata api ke arah Zeroun. Beberapa rekan polisi lainnya juga terlihat menodongkan senjata ke arah Zeroun, Lukas dan Lana berada. Polisi-polisi itu melingkari posisi Zeroun berada dengan wajah penuh kemenangan.
“Zeroun Zein, kau ditahan!” teriak Agen Mia dengan nada cukup lantang. Kedua bola mata abu-abunya terlihat tidak berkedip. Wanita itu tidak lagi ingin kehilangan tawanan yang ia cari selama ini.
“Aku tidak ingin di tahan, karena Aku masih menginginkan kebebasan ini,” jawab Zeroun dengan ekspresi dingin tanpa berkedip pula. Bahkan kedua bola mata hitamnya tidak kalah menyeramkannya dengan milik Agen Mia.
“Kami sudah memiliki bukti untuk menangkapmu malam ini. Kau terlibat dalam pencurian chip rahasia dan pembunuhan Agen kami.”
“Bukan Aku yang membunuhnya, Jesica pelakunya,” jawab Zeroun dengan santai.
“Aku ditugaskan untuk menangkap dua nama. Zeroun Zein dan Jesica Gigante.”
Zeroun mengangguk dengan senyum tipis, “Aku rasa itu cukup adil.”
“Sekarang Kau harus ikut denganku dan mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu. Berbaliklah dan letakkan tanganmu di belakang kepala. Aku tidak akan mempersulitmu jika kau mau di mengikuti perkataanku.” Masih dengan pistol yang di todongkan ke arah Zeroun. Wanita itu cukup percaya diri kalau malam ini ia akan berhasil menangkap Bos mafia Gold Dragon itu.
“Jika Aku tidak mau?” Zeroun mengangkat satu alisnya. Membuat lawan bicaranya semakin merasa kesal dan tidak lagi bersabar.
“Kau tidak memiliki pilihan kedua! tempat ini sudah kami kepung!” Seluruh polisi yang ada di tempat itu siap menarik pelatuk pistolnya. Lana dan Lukas semakin waspada dengan keadaan yang terjadi saat ini.
“Sekarang giliranku yang berbicara.” Zeroun menyimpan senjata api miliknya sebelum menatap wajah Agen Mia lagi.
“Chip itu tidak bersamaku saat ini. Aku, Zeroun Zein, tidak bekerja sama dengan Heels Devils, justru kami juga bermusuhan. Soal rekan anda yang tewas, itu juga perbuatan dari Jesica.” Zeroun mengangkat bahunya.
“Aku rasa anda sudah menangkap orang yang salah,” sambung Zeroun lagi.
“Cukup! kau bisa menjelaskannya di kantor polisi nanti. Sekarang kau hanya punya dua pilihan, tertembak atau ikut denganku sekarang!” teriak Agen Mia dengan wajah yang tidak lagi bersabar. Tidak ada satu katapun yang ia percaya dari ucapan Zeroun malam itu. Sejak awal, wanita itu berpikir kalau Zeroun dan Jesica bekerja sama untuk menyerang gudang senjata milik negara. Jari-jari polisi itu sudah siap menarik pelatuk pistonya. Lukas dan Lana juga semakin waspada. Suasana malam itu benar-benar terasa begitu menegangkan.
(Untuk penyerangan di kota Sapporo akan kita bahas di novel mafia’s in love nantinya ya.)