Moving On

Moving On
S2 Bab 25



Lukas berjalan ke arah dapur untuk mengambil bubur yang telah ia pesan tadi. Hatinya di penuhi kesedihan. Zeroun memintanya kembali untuk mendampingi dirinya selama perjalanan bulan madu. Tidak ada orang lain yang bisa di percaya oleh Zeroun selain Lukas.


Zeroun tidak lagi ingin mengorbankan kebahagiaan istrinya. Semua yang sudah ia rencanakan akan tetap berjalan walau kini musuh telah hadir dan dekat dengan dirinya.


Sambil menuang air putih ke dalam gelas, Lukas kembali memikirkan kalimat yang pas untuk Lana. Sejam lagi ia harus sudah ada di dalam pesawat untuk berangkat ke Dubai. Baru saja beberapa menit yang lalu ia mendengar Lana mengatakan kata sedih. Wanita itu takut Lukas meninggalkan dirinya. Tapi, sekarang. Semua mimpi Lana seolah menjadi kenyataan.


Lukas tidak bisa membawa Lana dan mengorbankan kesehatan Lana. Di tambah lagi, Morgan saat ini juga masih berkeliaran dan berusaha mendapatkan kekasihnya lagi. Satu keadaan yang sangat membingungkan.


Gelas yang ada di genggaman Lukas kini telah dipenuhi air. Lukas tidak lagi menyadari air yang telah tumpah di lantai. Pria itu sibuk melamun dan memikirkan semua masalah yang kini ia hadapi.


Hingga akhirnya, kedua tangan Lana melingkari perutnya. Dengan senyuman, wanita itu merebut gelas Lukas dan teko yang sempat di genggam Lukas, “Apa yang kau pikirkan?”


Lana memutar tubuh Lukas agar Lukas bisa menatap jelas wajahnya yang pucat. Wanita itu berjinjit hingga bisa memberi kecupan singkat kepada Lukas.


“Lana, maafkan aku,” ucap Lukas dengan suara lirih.


Lana mengukir senyuman, “Apa mimpiku menjadi kenyataan?”


Lukas mengangguk pelan, “Maafkan aku. Bos Zeroun menghadapi masalah yang cukup serius. Aku harus segera membantunya.”


Lana mengukir senyuman, “Aku di tinggal?”


“Aku juga tidak tahu,” jawab Lukas bingung. Ia ingin Lana ikut, tapi keadaan wanita itu tidak memungkinkan. Ke Dubai bukan untuk berlibur. Mereka harus berkelahi dan itu cukup menguras tenaga dan pikiran. Lukas tidak ingin sakit Lana semakin parah. “Mungkin kau bisa menyusul setelah sembuh.”


Lana menunduk dengan wajah sedih. Tubuhnya saat ini benar-benar lemah dan tak berdaya. Tidak hanya bertarung, bahkan berdiri dalam waktu yang lama saja ia tidak sanggup, “Pergilah. Aku akan segera menyusul setelah sembuh.”


“Aku akan meminta Mia untuk menjagamu dari Morgan,” ucap Lukas dengan penuh hati-hati.


Lana mengangguk pelan, “Ya.” Ia tidak harus membantah saat ini. Keadaannya memang cukup serius, hingga Lana tidak bisa menolak kehadiran Agen Mia untuk menjaganya.


Lukas mengukir senyuman, “Dia wanita yang baik. Kalian memiliki karakter yang sama hingga sering berkelahi.”


Lana memandang wajah Lukas sebelum memeluk tubuh pria itu. Hatinya terasa sangat sedih saat membayangkan perpisahannya dengan Lukas. Ia masih ingin ada di dekat pria es tersebut. Pria yang selalu membuatnya nyaman dan berarti dalam menjalani hidup.


“Kau harus segera menghabiskan sarapanmu,” ucap Lukas sambil mengusap lembut punggung Lana.


Jika tidak saat sakit, kapan lagi ia bisa bermanja dengan Lukas. Walau berstatus pacaran, tetap saja Lukas jarang memperlakukannya dengan kelembutan seperti orang berpacaran pada umumnya.


“Cih, kau mengambil kesempatan saat sakit,” protes Lukas dengan wajah yang cukup serius.


Lana tertawa kecil sambil mencubit pipi Lukas, “Kau akan pergi. Setelah ini aku akan makan sendirian.”


Lukas menarik tangan Lana. Ia mengangkat pinggang Lana dan mendudukkan wanita itu di atas meja. Pria itu mengambil mangkuk bubur yang sudah ia persiapkan sejak tadi. Dengan penuh kesabaran, Lukas mengambil sesendok bubur. Memberikan suapan itu kepada Lana.


“Sebenarnya aku tidak suka bubur. Tapi, ini dari suapan perdanamu. Tidak akan aku sia-siakan begitu saja,” ucap Lana sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang bergantung.


Lukas mengukir senyuman kecil. Suapan demi suapan ia berikan dengan hati yang bahagia. Belum pernah ia melakukan hal semanis ini apa lagi kepada seorang wanita.


“Aku sudah kenyang. Jangan paksa aku lagi,” protes Lana sambil memakan suapan ke sepuluh. Perutnya terasa penuh hingga Lana tidak lagi mampu menerima suapan dari Lukas.


Lukas meletakkan mangkuk bubur yang sempat ada di tangannya. Pria itu mengambil air putih lalu memberikannya kepada Lana, “Aku harus pergi.”


Lana menerima gelas dari Lukas dengan wajah sedih. Namun, sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sedih itu. Lana tidak ingin menjadi penghalang dan membuat Lukas menjadi berat dalam melangkah.


“Hati-hati,” jawab Lana singkat sebelum meneguk minumannya. Wanita itu memegang gelasnya dengan bibir gemetar. Ia siap untuk menangis karena takut di tinggal. Namun, cairan bening itu masih tertahan di pelupuk matanya.


Lukas merebut paksa gelas yang digenggam Lana sebelum mencium bibir Lana. Sentuhan bibir Lukas bersamaan dengan tetesan air mata milik Lana jatuh. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Lukas. Ia ingin memeluk Lukas dengan begitu erat sebelum pria itu pergi menjauh.


Sama halnya dengan Lukas. Pria itu menarik pinggang Lana agar masuk ke dalam pelukannya. Setelah mencium bibir Lana, Lukas mencium dahi, pipi, mata dan hidung Lana. Bahkan pria itu juga mengusap air mata Lana yang terus saja menetes, “Aku akan menunggumu.”


Dengan berat hati ia melepas kedua tangan Lana yang sempat menahan tubuhnya. Pria itu mengusap lembut pipi Lana sebelum memutar tubuhnya. Ia tidak lagi mau melihat ke belakang dan mengeluarkan kata. Semua itu hanya akan membuatnya menjadi sulit untuk melangkah.


“Seperti ini cinta. Aku bahkan tidak rela menjauh darinya. Apa lagi harus kehilangannya. Melihatnya sakit tubuhku juga ikut sakit. Melihatnya tertawa hatiku juga bahagia.” Lukas menutup pintu apartemen sebelum bersandar di balik pintu tersebut. Matanya terpejam untuk menekan kesedihan yang kini memenuhi isi hati dan pikirannya.


Di dalam ruangan, Lana mengangis senggugukan. Ia marah dan kesal atas sakit yang kini membatasi kegiatannya. Dengan wajah kesal, wanita itu menyingkirkan semua barang yang ada di atas meja. Ia jatuh terduduk dengan wajah kecewa.


“Aku tidak ingin menjauh darinya,” ucap Lana di sela-sela isak tangisnya.