
Suasana di ruangan luas itu berubah hening. Emelie meneteskan air mata haru karena masih bisa melihat wajah paman yang sangat ia cintai. Kabar terakhir yang ia terima kalau lelaki paruh baya itu telah tewas di tangan Damian. Sungguh satu kejutan yang tidak pernah terbayangkan di dalam benak Emelie.
Kini sosok yang sudah ia anggap tiada itu telah berdiri di hadapannya dan bisa kembali mengukir senyuman. Sosok Paman Arnold adalah sosok orang tua pengganti bagi Emelie sejak Raja tiada. Bagi Emelie Paman Arnold adalah malaikat penolong yang dititipkan langit untuk melindunginya. Namun, karena bujukan keluarga kerajaan serta dukungan Ratu. Paman Arnold tidak lagi berpihak padanya. Justru lelaki paruh baya itu mati-matian mendukung hubungan antara Emelie dan Damian.
Tidak di sangka. Justru lelaki sempurna yang selama ini ia pandang merupakan sosok yang cukup menyeramkan. Paman Arnold cukup menyesal atas keputusan yang ia ambil. Hingga akhirnya detik ini ia memberanikan diri untuk menemui keponakan cantiknya. Ia ingin menebus segala dosa yang sudah ia perbuat selama ini.
“Putri Emelie, apa anda baik-baik saja?” ucap Paman Arnold dengan wajah sendu.
“Emelie baik-baik saja, Paman. Emelie senang karena Paman masih hidup.” Emelie memejamkan matanya untuk merasakan pelukan hangat seperti pelukan Raja yang sudah lama hilang.
“Putri Emelie, maafkan saya. Saya telah melakukan satu kesalahan yang membuat anda mengalami semua ini. Saya pantas untuk di hukum.” Paman Arnold melepas pelukannya dari tubuh Emelie. Lelaki paruh baya itu berlutut di hadapan Emelie sambil menekuk kepalanya.
“Paman, apa yang Paman lakukan?” Emelie memegang pundak pria berstatus pamannya itu, “Berdirilah, Paman.”
Paman Arnold berdiri dengan posisi siap. Lelaki itu masih tetap menundukkan kepalanya di depan wanita yang memiliki status jauh lebih tinggi daripada dirinya.
“Paman, jangan seperti ini. Paman adalah Raja sementara selama aku belum menikah. Paman tidak boleh terlihat lemah seperti ini. Damian memang pria yang cukup licik. Hanya saya yang tahu bagaimana jahatnya dia selama ini. Sangat di sayangkan, kalau seluruh anggota kerajaan tidak ada yang menyadari kelakuan buruknya.” Emelie menghela napas. Mengingat nama Damian membuat dadanya kembali terasa sesak.
“Terima kasih, Putri. Saya sangat senang karena anda masih memaafkan kesalahan saya dan keluarga saya selama ini. Soal kekalahan Gold Drgaon tempo lalu. Itu juga karena pasukan kerajaan, Putri. Saya telah mengirim orang untuk menangkap setiap polisi yang bekerja sama dengan-” ucapan Paman Arnold terhenti. Lelaki itu menatap wajah Zeroun Zein dengan seksama.
Emelie memutar tubuhnya untuk memandang wajah kekasihnya yang kini berdiri tidak jauh dari posisinya berada, “Mengalahkan Zeroun Zein?” celetuk Emelie pelan.
“Ya. Maafkan Saya, Putri Emelie.” Paman Arnold kembali menundukkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.
“Apa anda juga menangkap Agen Mia dan Inspektur Tao?” ucap Zeroun tanpa banyak basa-basi. Sejak awal ia tidak sadar kalau penyerangan itu juga ada campur tangan dari keluarga tunangannya sendiri.
“Mereka berdua telah di vonis hukuman mati,” jawab Paman Arnold dengan suara yang cukup pelan.
Paman Arnold menggeleng kepalanya pelan, “Maaf, Tuan. Anda juga buronan saat ini.”
Emelie menatap wajah Paman Arnold dengan seksama, “Apa Paman sudah melakukan sesuatu untukku? Paman pasti tahu, apa yang di alami Zeroun itu semua karena demi menyelamatkan hidupku.”
“Saya sudah mengusahakannya, Putri. Untuk Tuan Zeroun kami bisa menyelamatkannya. Tapi tidak untuk kedua polisi yang sudah melanggar aturan negara. Bahkan mereka juga terlibat di dalam penyerangan di Monako hingga membuat kerajaan Monako rugi besar.” Paman Arnold menjelaskan semua hal yang sudah ia lakukan dan semua hal yang tidak bisa ia lakukan. Lelaki itu cukup melindugi Emelie dan Zeroun agar tidak terlibat masalah.
“Paman, Saya dan Zeroun sudah bertunangan. Kami memiliki niat baik untuk segera menikah. Apa ini tidak melanggar aturan kerajaan? Jika memang saya harus keluar dari kerajaan, saya tidak akan mempermasalahkannya, Paman.” Emelie manatap wajah lelaki paruh baya yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan cukup serius. Ia telah bersungguh-sungguh dengan kalimat yang ia ucapkan. Emelie rela melepas segala yang ia miliki asal bisa hidup bahagia bersama pria yang sangat ia cintai.
“Saya sudah menyelidiki masa lalu dari Tuan Zeroun. Tuan Zeroun Zein bisa menikah dan menjadi Pangeran di istana kita asal ia meninggalkan dunia mafia yang ia miliki. Bukankah Tuan Zeron Zein juga memiliki perusahaan yang sangat berkembang di Jepang?” Paman Arnold menatap wajah Zeroun dengan seksama. Satu hal yang kini memenuhi pikirannya bahwa Zeroun Zein adalah salah satu pria kaya yang memiliki kedudukan tinggi.
Kenzo menepuk pundak Zeroun sambil mengukir senyuman penuh arti, “Kakak ipar. Apa itu artinya kau ingin mengambil Z.E. Group lagi? Kau sebenarnya memberikan perusahaan itu padaku atau hanya sekedar meminjamkannya beberapa bulan saja?” sindir Kenzo dengan wajah sedikit kesal.
Zeroun tidak terlalu peduli dengan apa yang di katakan Kenzo. Lelaki itu menatap wajah Paman Arnold dengan satu senyuman, “Anda benar, Tuan. Saya memiliki perusahaan di Jepang. Tapi, perusahaan itu sudah saya serahkan kepada adik saya. Sekarang saya tidak lain hanya pria biasa yang tidak memiliki kekayaan. Mungkin jika di bandingkan dengan lelaki yang sempat di jodohkan kepada Emelie sangat berbanding jauh,” ucap Zeroun.
Kenzo terlihat menahan tawa saat mendengar jawaban Zeroun saat itu. Ia tidak menyangka kalau Zeroun akan merendahkan dirinya hingga separah itu. Bahkan jika untuk menghidupi tujuh turunannya saja tanpa bekerja, Zeroun masih sanggup melakukannya. Lelaki itu memiliki kekayaan yang cukup fantastis hingga bisa dengan bebas melakukan hal yang ia inginkan.
Emelie terlihat berpikir keras. Wanita itu juga sempat syok saat Zeroun mengatakan hal tersebut kepada Paman Arnold, “Apa Zeroun saat ini tidak memiliki apa-apa lagi karena pertempuran besar akhir-akhir ini?” gumam Emelie di dalam hati.
Paman Arnold terlihat berpikir keras untuk menentukan keputusan besar yang menyangkut masa depan keponakannya. Akan sangat sulit untuk memasukkan Zeroun ke dalam kerajaan jika pria itu hanya lelaki biasa. Setidaknya harus lelaki berstatus tinggi yang pantas bersanding dengan Putri Emelie.
“Paman, saya sudah memutuskan sebelumnya. Saya akan menyerahkan kerajaan kepada Paman. Saya akan hidup bersama Zeroun di rumah ini,” ucap Emelie dengan satu senyuman.
“Maaf, Putri. Hal itu tidak bisa saya setujui. Anda satu-satunya pewaris yang sudah di tentukan untuk melanjutkan kejayaan kerajaan kita. Anda kandidat yang cukup sempurna.” Paman Arnold tetap tidak mau menyetujui permintaan keponakan cantiknya. Tujuannya datang ke Hongkong untuk membawa Emelie kembali ke kerajaan. Ia tidak ingin gagal dan pulang dengan tangan kosong saat kembali nantinya.