
Emelie berdiri di pinggiran jalan. Udara terasa sangat dingin. Emelie hanya mengenakan piyama tidurnya yang cukup tipis. Dingin malam itu seperti menusuk-nusuk tulangnya hingga kebagian paling dalam. Emelie mulai bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini.
Untuk kembali ke istana juga ia tidak akan bisa semudah itu. Adriana, Ya. Malam itu ia sudah tahu kalau Adriana yang menjadi penyebab kecelakaan sang Ratu. Tapi, Adriana selalu ada di dalam istana. Emelie sangat yakin, kalau Adriana bekerja sama dengan orang lain.
Tapi, siapa? Emelie belum berhasil mengetahui semuanya.Tapi, ia sudah lebih dulu ketahuan. Sialnya lagi, Adriana seperti sudah merencanakan semuanya. Seluruh pelayan dan pengawal kepercayaan Emelie hilang entah kemana. Membuat Emelie menjadi bingung harus berbuat apa.
Kini ia sendiri di pinggiran jalan. Tanpa pengawal, tidak akan ada yang menyangka. Kalau dirinya adalah seorang putri kerajaan. Di tambah lagi, penampilannya kini seperti seorang gelandangan. Rambut terikat satu dan tanpa alas kaki.
Di lokasi yang tidak terlalu jauh, ada kursi kokoh di bawah sebuah pohon. Emelie berniat untuk beristirahat di kursi besi itu. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat segerombolan preman yang biasa mangkal di lokasi itu kini berdiri di hadapannya. Seperti mendapat mangsa yang sempurna. Preman-preman itu menatap tubuh Emelie dengan tatapan yang sensual.
Emelie lagi-lagi hanya bisa mundur beberapa langkah. Memikirkan cara untuk bisa kabur dari incaran preman-preman itu. Terdengar gelegar petir dari langit. Dalam sekejab, hujan turun dengan deras. Emelie terus saja mundur dari jangkauan preman-preman itu.
Baru mundur beberapa meter. Preman itu tidak lagi berjalan mendekati Emelie. Mereka mematung di posisi mereka berdiri. Emelie terlihat bingung dengan ekspresi preman-preman itu. Tubuhnya sudah basah dan terasa sangat dingin. Baju tipis yang basah itu membuat pakaian dalam yang kini ia kenakan terlihat dengan sangat jelas. Emelie berusaha menutupi bagian dadanya dengan kedua tangan.
Tapi, tiba-tiba ada jas hitam yang menutupi tubuhnya. Emelie kembali waspada. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, untuk melihat sosok yang kini berada di dekatnya. Matanya terbelalak kaget, saat meliat wajah Zeroun kini sangat dekat dengan wajahnya.
“Zeroun ....” ucap Emelie dengan nada pelan.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Zeroun pelan.
“Maafkan aku karena datang terlambat,” sambung Zeroun cepat.
Tatapan Emelie beralih pada pistol hitam yang ada di genggaman Zeroun. Ujung pistol itu mengarah langsung ke arah preman-preman itu. Emelie menatap ke arah preman-preman itu lagi. Mereka terlihat takut dan berlutut memohon ampun.
“Pergilah, malam ini aku tidak ingin membunuh orang.” Zeroun memasukkan pistol itu kedalam sakunya.
“Terima kasih, Tuan.” Preman-preman itu lari dengan cepat. Tidak lagi berani mengeluarkan kata ataupun memandang ke belakang.
“Ayo, kita pergi dari sini.” Zeroun memegang pundak Emelie membawanya menuju mobil.
“Dimana gelang itu?” tanya Zeroun dengan begitu tenang.
Emelie mengangkat tangan kirinya. Gelang itu tidak ada. Hilang entah kemana. Emelie sangat yakin, sebelum kabur dari istana, ia memasangkan gelang itu ditangan kirinya. Tapi, kini gelang itu tidak ada. Bahkan yang mengetahuinya pertama kali adalah orang yang memberikan gelang itu kepada dirinya.
“Aku akan mencarinya,” jawab Emelie sambil berjalan kembali ke arah istana.
“Hei, apa yang kau lakukan.” Zeroun menahan langkah Emelie. Mencengkram kuat tangan kanan Emelie.
“Aku pasti menjatuhkannya di suatu tempat,” jawab Emelie dengan wajah bersalah.
“Lupakan, sekarang ayo kita pergi.” Zeroun menarik tangan Emelie menuju ke mobil. Membuka pintu mobil untuk memberi jalan kepada Emelie.
Zeroun duduk di balik kemudi. Pakaian keduanya basah kuyup. Tetesan demi tetesan air itu membasai permukaan mobil. Zeroun menatap wajah Emelie lagi sebelum melajukan mobilnya.
“Aku ....” Bibir Emelie tertahan untuk menceritakan semuanya. Entah kenapa, tapi ia tidak ingin membuat Zeroun ikut dalam masalah kekuasaan yang kini ia alami.
“Baiklah, jika tidak ingin menjawab. Aku akan membawamu ke apartemenku.” Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menembus hujan deras yang kini menghalangi jarak pandangnya.
Emelie membuang tatapannya keluar jendela. Ada air mata yang menetes di sudut matanya. Wanita itu terlihat sangat menyesali sikapnya selama ini.
Andai saja aku tahu sejak awal, maka Ratu masih ada bersamaku saat ini.
Zeroun memandang Emelie yang kini membelakangi dirinya.
Emelie, apa kau tidak mau menceritakan semuanya padaku? apa kau tidak percaya padaku?
1 jam sebelum Zeroun tiba.
Zeroun mengotak-atik ponselnya. Memeriksa email yang baru saja di kirimkan oleh Lukas. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Kini pertahanan Gold Dragon di Brazil sudah semakin besar. Ada harapan menang, saat nanti dirinya akan berhadapan langsung dengan Mafia Heels Devils.
Namun, tiba-tiba saja Zeroun merasakan pirasat buruk. Ia tidak tahu apa yang kini ada di dalam hatinya. Nama Emelie muncul begitu saja di dalam pikirannya. Zeroun menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Putri kerajaan itu selalu tidur pada jam segitu.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Zeroun membuka ponselnya untuk melihat wajah Emelie melalui cctv gelang itu. Tapi, yang terlihat hanya kegelapan. Emelie selalu meletakkan gelangnya di dalam lemari.
Zeroun tidak ingin ambil pusing lagi. Ia hanya berpikiran positif kalau kini Emelie baik-baik saja. Namun, terdengar suara mobil yang melintas. Membuat Zeroun mengeryitkan dahinya. Tidak mungkin gelang itu ada di pinggir jalan. Emelie tidak akan membuang benda itu begitu saja.
Zeroun memutar rekaman yang tersimpan di dalam ponselnya. Rekamana sejak pagi hari, kini ia putar lagi untuk melihat apa yang terjadi. Semua berjalan dengan normal awalnya. Tapi, situasi berubah begitu saja. Emelie terdengar berdebat dengan Adriana. Dengan kasar, Adriana mendorong tubuh Emelie. Hingga akhirnya Emelie di bawa ke dalam kamar.
Zeroun semakin panik. Ia terus menyalahkan dirinya karena terlalu sibuk dan tidak memperhatikan Emelie seharian penuh. Rekaman itu ia percepat. Berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Emelie. Di dalam rekaman itu hanya terlihat Emelie yang menangis dengan penuh kesedihan.
Lagi-lagi hati Zeroun seperti di sayat-sayat belati. Pria itu tidak terima melihat Emelie kini menangis dengan perasaan hancur seperti itu. Beberapa menit kemudian, Zeroun melihat Emelie berhasil kabur dari dalam istana.
Dengan cepat, ia mematikan rekaman itu. Mengambil kunci mobil dan pistol. Zeroun pergi untuk mencari keberadaan Emelie saat itu. Tujuan utama Zeroun adalah ke tempat gelang itu berada. Karena, melalui gelang itu. Ia akan lebih mudah untuk mencari keberadaan Emelie.
Gelang itu terjatuh di pinggiran jalan yang tidak jauh dari posisi Emelie ditemukan. Zeroun memang tiba tepat waktu, sebelum preman-preman itu berbuat jahat kepada Emelie. Tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, kalau kini ia lagi-lagi menolong Emelie. Sekuat mungkin Zeroun menghindar untuk tidak ikut campur dengan masalah Emelie. Tapi, semua sia-sia. Zeroun memang tidak bisa menjauh dari masalah yang akan menimpah Emelie.
.
..
...
Yang kalau up banyak lupa like angkat tangan. 🤣