
Adriana kini berjalan di pinggiran kota Rio dengan isak tangis. Tadi malam, wanita itu berkelahi hebat dengan Damian. Dengan hati yang terluka ia pergi meninggalkan rumah yang dihuni kekasihnya itu. Hatinya cukup kecewa atas niat di hati kekasihnya untuk menyentuh Emelie.
Kini wanita itu tidak lagi tahu harus kemana. Langkah kakinya terus saja berjalan tanpa tujuan. Adriana tidak lagi peduli dengan statusnya yang kini buronan. Bahkan fotonya ada di mana-mana sebagai orang yang di cari di seluruh belahan dunia. Kejahatan Adriana memang cukup berat. Kasus pembunuhan berencana yang menewaskan Sang Ratu memang bukan masalah yang bisa di anggap sepele.
Langkahnya terasa cukup lelah. Adriana terduduk di pinggiran jalan yang cukup ramai. Asap kendaraan dan abu jalanan kini menerpa wajahnya yang lesu. Wanita itu melanjutkan tangisannya untuk melampiaskan rasa kecewanya saat ini.
Dari kejauhan, Damian memperhatikan wanitanya dari dalam mobil. Sejak pertikaian tadi malam, Damian tidak membiarkan Adriana pergi sendirian. Pria itu dengan setia mengawasi kekasihnya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Bagaimanapun juga, Adriana memang wanita yang sangat ia cintai. Semua yang ia lakukan kepada Emelie karena nafsu yang tiba-tiba memuncak siang itu. Bahkan pria itu kini telah menyesali perbuatan yang telah ia lakukan.
“Maafkan Aku, Sayang,” ucap Damian pelan sambil meletakkan tangannya di atas stir. Dari kejauhan, Damian memandang gerombolan polisi yang kini ingin menangkap kekasihnya. Pria itu berusaha membuka pintu mobil untuk membawa kekasihnya masuk ke dalam mobil. Namun, langkahnya terhenti saat pria itu sadar dengan status yang kini ia miliki. Pria itu masih menyandang status Pangeran Monako. Ia tidak ingin mencoreng nama kerajaannya, jika polisi Brasil melihatnya melindungi pembunuh Sang Ratu.
“Sial!” umpat Damian kesal sambil mencari-cari sesuatu di dalam laci mobilnya. Pria itu menemukan topi hitam. Dengan sigap. Damian memakai topi itu untuk menutupi identitasnya. Ia berlari cepat untuk mendekati posisi Adriana kini berada.
“Sayang, ayo kita pergi!” teriak Damian sambil menarik paksa tangan Adriana. Pria itu berlari cepat menuju ke arah mobilnya yang hanya berjarak beberapa meter.
“BERHENTI!” teriak salah satu polisi sambil menodongkan senjata ke arah Damian. Tapi, Pangeran Monako itu tidak terlihat takut. Beberapa bawahnnya yang sejak tadi berada di lokasi itu juga mengeluarkan tembakan ke arah polisi untuk melindungi Damian.
Damian mendorong tubuh Adriana agar wanita itu masuk ke dalam mobil. Pria itu mengeluarkan tembakan demi tembakan sebelum berlari menuju ke arah kursi kemudi.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Damian sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Adriana hanya diam membisu. Wanita itu tidak ingin menjawab pertanyaan kekasihnya. Ia lebih memilih membuang tatapannya daripada harus menatap wajah pria yang ia cintai itu.
“Sayang, maafkan Aku,” sambung Damian sambil melirik ke arah spion. Satu mobil polisi kini mengikuti mobilnya dengan laju yang tidak kalah cepat.
Damian mengambil ponselnya untuk menghubungi Jesica. Hanya wanita itu yang kini bisa menyelamatkan dirinya dan Adriana. Setelah berhasil menghubungi Jesica, pria itu memutar arah mobilnya sesuai dengan petunjuk Bos mafia Heels Devils itu. Ia percaya seratus persen dengan rencana yang disiapkan oleh Jesica.
Damian tiba-tiba saja memberhentikan laju mobilnya hingga membuat tubuh Adriana hampir saja jatuh ke depan. Kini, tepat di jalan lurus ke depan ada mobil Agen Mia yang berusaha menghalanginya untuk kabur. Wanita tangguh itu mengukir senyuman tipis saat melihat wajah Damian dari kaca mobilnya.
“Sudah aku duga sejak awal. Kalau Pangeran Monako terlibat dalam masalah besar ini.” Agen Mia memegang stirnya dengan begitu erat. Kedua bola matanya terlihat waspada. Ia tidak ingin kehilangan Adriana dan Damian hari ini. Beberapa mobil polisi juga sudah mengepung mobil Damian saat ini. Membuat pria itu cukup bingung dan tidak mempunyai ide lagi untuk menghindar.
“Sayang, maafkan aku. Aku tidak ingin kita tertangkap, tetapi,” ucap Damian dengan wajah bingung.
“Aku hamil,” ucapnya pelan.
Damian menatap wajah Adriana dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu masih membisu untuk mencerna berita yang baru saja ia dengar. Rasa bahagia dan sedih itu bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
“Sayang, aku akan melindungimu dan anak kita,” ucap Damian dengan penuh keyakinan. Pria itu kembali memegang stir mobilnya sambil membidik arah yang bisa ia gunakan untuk lepas dari kepungan itu. Pria itu menginjak gas mobilnya ke arah mobil Agen Mia. Membuat Agen Mia kembali waspada dengan laju mobil Damian saat ini.
“Apa pria ini gila! umpat Agen Mia sambil mencengkram kuat stir mobilnya. Setelah berjarak cukup dekat dengan mobil Agen Mia, Damian memutar stir mobilnya dengan cukup kuat. Hingga bagian belakang mobil Damian menabrak bagian depan mobil Agen Mia. Memberi jalan di sela-sela mobil polisi itu.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” ucap Damian sebelum melanjukan mobilnya ke cela sempit itu. Pria itu lagi-lagi beruntung hari ini. Dengan mudahnya Damian kabur dari kepungan mobil polisi yang sejak tadi mengelilinginya. Bahkan Agen Mia yang terlihat bersemangat untuk menangkapnya kini terjebak saat mobil miliknya rusak parah akibat tabrakan Damian.
Di persimpangan jalan yang ada di depan, Jesica sudah menunggu kedatangan Damian dengan beberapa Heels Devils. Kota Rio memang daerah kekuasannya. Hal itu membuat Jesica cukup percaya diri kalau kini mereka bisa menghindari serangan polisi yang ingin mengejar Damian.
“Sudah saatnya,” perintah Jesica dengan senyuman kecil. Kedua kakinya ia letakkan di atas stir dengan tubuh bersandar di posisi nyaman.
Beberapa pasukan Heels Devils melempar bahan peledak di jalanan saat mobil Damian sudah berhasil melintasi jalan jebakan itu. Terdengar ledakan yang membuat polisi yang ingin melintasi jalan itu menghentikan laju mobilnya.
“Cukup mudah bukan?” ucap Jesica dengan senyum liciknya. Hari ini, ketua mafia itu tidak mau gagal untuk membunuh Agen Mia. Rencananya tadi malam gagal saat Agen Mia berada di dalam kantor polisi hingga pagi.
“Tikus kecil, saatnya malaikat maut menjemputmu. Sayang sekali, Aku tidak bisa memberimu kesempatan untuk mengucapkan kata—kata terakhir,” ucap Jesica dengan penuh percaya diri. Wanita itu menurunkan kakinya untuk mengemudikan mobil miliknya. Posisi Agen Mia yang kini sudah berganti mobil membuat Jesica semakin bersemangat untuk mencelakai wanita tangguh itu.
Jesica melajukan mobilnya yang berukuran kecil dan kokoh itu ke arah mobil Agen Mia. Kedua bola matanya semakin tajam saat mobilnya semakin dekat dengan mobil Agen Mia. Kali ini, Jesica menggunakan cara yang sama untuk membunuh Agen Mia dengan pembunuhan Ratu malam itu.
“Selamat tinggal Tikus kecil!”
Vote, Like, Komen. Terima kasih Readers 😘