Moving On

Moving On
Jawaban Lana



Lukas menatap wajah Lana yang memerah karena mabuk. Lelaki itu mengukir senyuman kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajah Lana cukup menjadi hiburan tersendiri bagi Lukas. Tawa dan ocehan gak jelas wanita itu membuat rasa geli di dalam dirinya.


“Lukas, kau pria yang cukup menggemaskan.” Lana meletakkan kedua tangannya di pipi Lukas. Wanita itu mengecup berulang kali bibir kekasihnya.


“Lana, katakan padaku. Siapa Morgan? Apa hubunganmu dengannya?” tanya Lukas sekali lagi. Ia tidak ingin berprasangka buruk kepada Lana. Perkataan Joy waktu di Monako masih membuat Lukas penasaran.


“Morgan?” Lana tertawa kecil sebelum berubah sedih, “Laki-laki breng*sek seperti dia tidak perlu di ingat. Aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padanya. Cinta, masa depan dan semuanya aku berikan padanya. Tapi dia pergi begitu saja.” Lana menundukkan wajahnya dengan tetesan air mata. Morgan merupakan bagian yang pernah singgah di dalam hatinya. Mengingat nama morgan sama saja membongkar perasaan sedih dan kecewa yang telah ia simpan rapi selama ini.


“Kau tahu kalau aku dan Morgan saling kenal? Bahkan kami bermusuhan?” Lukas menarik dagu Lana agar wanita itu bisa menatap wajahnya dengan jelas.


Lana membuka matanya yang terasa berat. Wanita itu menatap wajah Lukas dengan tatapan senduh, “Hei Lukas. Aku tidak tahu kalau kalian saling kenal. Kalau saja aku tahu sejak awal mungkin aku sudah membunuhmu saat pertama kali jumpa. Karena kau dia meninggalkanku begitu saja. Kau pria yang cukup jahat.” Wanita itu menepuk pipi Lukas dengan tawa kecil.


“Kenapa kau tidak membunuhku sekarang? Kau sudah tahu kalau aku dan Morgan bermusuhan. Ketika suatu saat nanti kami bertemu mungkin salah satu di antara kami akan ada yang mati.” Lukas menatap wajah Lana dengan seksama. Kali ini sorot matanya berubah tajam. Ia tidak akan mungkin mendapatkan kejujuran wanita itu jika dalam kondisi sadar.


“Karena aku mencintaimu Lukas. Kau sudah membuat nama pria breng*sek itu pergi dari hidupku. Kau-” Lana menjatuhkan kepalanya. Ia sudah tidak dapat menopang tubuhnya sendiri lagi saat itu.


“Lana, satu pertanyaan lagi.” Lukas menahan pinggang Lana agar wanita itu tidak terjatuh, “Jika ada aku dan Morgan. Siapa yang akan kau pilih?”


Lana menjatuhkan kepalanya di dada Lukas. Wanita itu tidak lagi peduli dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Lukas. Matanya terpejam dengan tangan di leher jenjang kekasihnya.


“Lana, bangun. Kau harus menjawabnya,” umpat Lukas kesal. Lelaki itu menatap minuman yang ia berikan pada Lana, “Aku tidak memberinya terlalu banyak. Kenapa dia bisa separah ini.” Lukas menghela napas. Lelaki itu mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya. Ia ingin mengembalikan Lana ke apartemen tempat wanita itu tinggal.


“Aku akan membunuh morgan dan melindungimu dengan nyawa terakhir yang aku punya,” celetuk Lana sebelum kehilangan kesadarannya. Bahkan kedua tangannya yang sempat ada di leher Lukas terlepas dan jatuh.


Lukas tertegun beberapa saat ketika mendengar jawaban terakhir Lana. Bibirnya mengukir senyuman dengan hati yang cukup bahagia, “Terima kasih. Maafkan aku karena harus menjebakmu dengan cara seperti ini.”


Lelaki tangguh itu berjalan menuju ke arah mobil. Walau tidak semua pertanyaan yang memebuhi hatinya terjawab oleh Lana, tapi setidaknya beberapa pertanyaan penting sudah mendapat jawabannya. Lukas tidak perlu lagi menerka-nerka jalan pikiran kekasihnya untuk ke depannya. Ia tidak lagi perlu mencurigai Lana.


Setelah memasukkan Lana ke dalam mobil, Lukas mengitari mobil. Lelaki itu masuk ke bangku kemudi. Ia kembali menatap Lana sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan markas Gold Dragon untuk kembali ke apartemen Lana.


***


Rumah Zeroun.


Kenzo membawa segelas jeruk dengan bibir tersenyum. Langkahnya cepat dan pasti. Ia cukup sadar kalau telah melakukan kesalahan terbesar karena sudah mengabaikan Shabira. Dengan hati-hati, Kenzo membuka pintu kamar dengan hati-hati. Lelaki itu masuk ke dalam kamar tanpa memberikan suara.


Kenzo melanjutkan langkah kakinya. Meletakkan jus jeruk yang ia bawa di atas meja. Secara perlahan, Kenzo mengangkat kaki Shabira. Meletakkannya di atas sofa agar wanita itu bisa berbaring sempurna. Bibirnya mengukir senyuman sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


“Maafkan aku karena terlalu lama,” ucap Kenzo sambil mengusap lembut pucuk kepala Shabira. Lelaki itu juga mulai memejamkan mata karena merasa cukup lelah. Selama perjalanan ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Baru beberapa menit ia memejamkan mata, terdengar suara ketukan pintu. Kenzo memandang ke arah pintu dengan wajah cukup kesal. Selalu saja ada yang mengganggunya. Bahkan di detik terakhir sebelum matanya terlelap.


Kenzo berjalan menuju ke arah pintu. Ia tidak mengeluarkan suara sedikitpun untuk menjawab seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Tangannya menarik handle pintu dengan gerakan cepat. Wajahnya berubah kesal saat melihat Zeroun yang berdiri di ambang pintu.


“Kakak Ipar, apa kau tidak bisa sekali saja untuk tidak menggangguku?” Kenzo melipat kedua tangannya sambil menatap tidak suka ke arah Zeroun berada, “Di mana kakak iparku?” kepalanya mencari keberadaan Emelie dengan wajah serius.


“Apa Zetta sedang tidur?” Sorot mata Zeroun yang tajam teralihkan ke arah sofa. Ada wanita yang cukup ia sayangi yang kini berbaring dan terlelap dalam mimpinya.


“Apa kau ke sini untuk mengganggu tidurku?” ucap Kenzo tanpa basa-basi.


Zeroun menatap wajah Kenzo dengan seksama, “Kapan kau pergi untuk membebaskan Inspektur Tao dan Agen Mia. Kau bisa pergi bersama Lukas. Aku akan mengatur orang-orang yang berusaha menghalangi pembebasan mereka.”


Kenzo menyandarkan tubuhnya di dinding. Lelaki itu menghela napas dengan begitu kasar. Baru saja hitungan jam ia tiba di Hongkong. Kini sang pemiliki rumah sudah mengusirnya bahkan menyuruhnya untuk kembali ke Inggris.


“Apa mereka orang yang penting?” tanya Kenzo sambil berjalan keluar dari kamar. Satu tangannya kembali menutup pintu sebelum berjalan ke arah sofa yang ada di lantai dua.


“Aku memiliki hutang budi padanya. Semua ini juga karena rencanaku. Sejak awal aku tidak berniat untuk menjebak mereka hingga seperti ini.” Zeroun berjalan menuju ke arah sofa yang sama.


“Tapi ini cukup beresiko,” jawab Kenzo pelan, “Aku akan memikirkannya nanti.”


“Kenzo, aku akan ke Inggris. Kami akan melaksanakan pernikahan di sana. Apa kau dan Shabira mau menemaniku hingga pesta pernikahan selesai? Emelie sangat ingin dekat dengan Shabira.”


.


.


.


Like ya Readers.... sebelum lanjut.