
Malam hari, di rumah sakit.
Tabrakan yang cukup kuat itu membuat mobil yang ditumpangi Agen Mia berputar-putar di jalanan dan berhenti dengan posisi terbalik. Samar-samar, Agen Mia memandang mobil Jesica yang berjarak tidak jauh dari tatapannya. Wanita tangguh itu kini terjepit di dalam mobilnya. Darah berkucur deras dari kepalanya.
Disamping Agen Mia, ada rekannya yang sudah tidak lagi bernyawa.
“Jesica!” umpatnya di detik-detik kesadarannya. Beberapa rekan polisi mengejar mobil Jesica. Sisanya berlari untuk menolong polisi wanita itu. Ada senyum kecil sebelum Agen Mia memejamkan mata. Tubuhnya benar-benar terasa sakit semua dengan tenaga yang hilang entah kemana.
“Aku akan membalasmu Jesica.”
Agen Mia terbangun dengan napas yang terputus-putus. Kejadian sebelum dirinya tidak sadarkan diri kembali menghantui pikirannya. Wanita itu memandang ruangan yang kini ia tempati. Ada jarum infuse yang tertancap di punggung tangannya. Kepalanya juga masih di pasang perban atas luka kecelakaannya tadi siang.
“Dimana ini? apa aku selamat dari kecelakaan itu?” Agen Mia memandang ke arah jendela untuk melihat langit sudah berubah menjadi gelap. Wanita tangguh itu kembali memegang kepalanya yang terasa cukup sakit.
“Awas saja kau Jesica!” umpatnya kesal saat kembali membayangkan perbuatan Jesica yang sudah berhasil membuatnya celaka.
Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Seorang pria yang sangat ia kenali muncul dari balik pintu itu. Ada senyuman lega di dalam hatinya saat melihat pria itu kini berdiri kembali di hadapannya.
“Mia, apa kau baik-baik saja?”
“Kakak,” ucap Agen Mia dengan senyum yang cukup indah.
Inspektur Tao tersenyum bahagia. Kini adik kesayangan telah bangun dan berhasil melewati masa kritisnya. Sama halnya dengan dirinya beberapa hari yang lalu. Inspektur Tao juga sudah berhasil melewati masa kritisnya akibat serangan yang dilakukan bawahan Damian malam itu. Kini pria itu sudah bisa kembali berdiri untuk membalaskan dendamnya kepada Damian.
“Siapa yang telah melakukan semua ini padamu?” tanya Inspektur Tao sambil duduk di tepian tempat tidur. Pria itu mengusap lembut pucuk kepala adiknya.
“Jesica yang melakukan semua ini,” jawab Agen Mia dengan wajah kesal.
Inspektur Tao mengukir senyuman, “Aku akan membalas perbuatan mereka nanti.”
Agen Mia mengukir senyuman bahagia saat bisa melihat wajah kakak yang sudah membuatnya hingga menjadi seperti sekarang. Tidak ada ikatan darah diantara mereka saat ini. Agen Mia menjadi adik angkat Inspektur Tao saat wanita itu pergi meninggalkan keluarga besarnya. Sejak saat itu juga Agen Mia berubah menjadi wanita yang cukup tangguh.
Seluruh keluarga Alexander yang sempat membuatnya terluka juga sudah ia habisi beberapa tahun yang lalu. Catatan kriminal itu cukup tersimpan rapi saat Inspektur Tao membantunya. Menjadi Agen ternama seperti sekarang, juga tidak luput dari campur tangan kakak angkatnya itu. Hanya Zeroun, orang yang berhasil mengetahui masa lalu yang ia miliki saat ini.
“Kak, apa benar perkataan Zeroun Zein kalau bukan dia yang mencelakai kakak? Sebelum kakak mengalami penyerangan malam itu, kakak bertemu dengan Zeroun bukan?” Agen Mia masih penasaran dengan kebenaran yang dikatakan Zeroun malam itu. Polisi wanita itu tidak bisa percaya begitu saja sebelum mendengar penjelasan dari orang yang bersangkutan langsung.
“Justru Zeroun yang menyelamatkanku malam itu. Jika Zeroun tidak mengirim bawahannya untuk menolongku, mungkin aku tidak bisa berdiri di depanmu seperti ini.” Inspektur Tao memandang ke arah jendela.
“Kita memiliki musuh yang sama dengannya kali ini. Jesica dan Damian harus segera kita tangkap saat mereka sedang melakukan aksi.”
“Maksud Kakak, kita biarkan Gold Dragon berbuat sesuka hatinya?” Agen Mia mengeryitkan dahinya.
“Tidak seperti itu juga. Hanya saja, saat ini kita memiliki musuh yang sama dengan mereka. Sudah seharusnya kita bekerja sama dalam hal ini untuk memperkuat pertahanan kita melawan Heels Devils.”
Inspektur Tao mengangguk dengan senyuman setuju. Ya, pria itu memang sudah memiliki rencana besar untuk bekerja sama dengan Zeroun.
“Kau harus segera sembuh, Mia. Kita harus segera menemuinya dan membicarakan semua ini,” ucap Inspektur Tao sambil mengusap lembut rambut Agen Mia.
“Baiklah,” jawab Agen Mia dengan senyuman. Wanita itu kembali membayangkan wajah Zeroun Zein. Sejak awal, wanita itu memang sudah kagum dengan kemampuan bos mafia itu. Tidak di sangka, kini dirinya akan segera menawarkan kerja sama dengan pria yang sempat berstatus sebagai targetnya itu.
***
Markas Heels Devils.
Damian mengusap lembut rambut Adriana dengan penuh cinta. Pria itu mulai memikirkan kehamilan Adriana saat ini. Pernikahan dirinya dengan Adriana tidak akan bisa berlangsung secepatnya. Bagaimanapun juga, pria itu masih memiliki ikatan dengan Emelie. Perjanjian antar keluarga kerajaan tidak semudah itu untuk dibatalkan. Ditambah lagi, sejak kemarin baik dirinya maupun Emelie belum melakukan penolakan pertunangan itu di depan keluarga kerajaan.
“Damian,” ucap Adriana sambil menatap wajah kekasihnya, “Apa yang kau pikirkan? Apa kau tidak bahagia dengan kehamilanku?”
Damian mengukir senyuman sebelum mengecup pucuk kepala kekasihnya itu, “Aku sangat senang dengan kabar kehamilanmu, Sayang. Hanya saja, aku sedikit sedih atas pernikahan kita.” Wajah Damian berubah.
“Ada apa dengan pernikahan kita? Kau berjanji untuk menikahiku secepatnya,” ucap Adriana mulai kesal saat mendengar jawaban Damian yang terlihat tidak serius dengan dirinya.
“Sayang, bukan begitu. Kau pasti tahu dengan peraturan kerajaan, kalau aku dan Emelie masih sah berstatus tunangan. Bahkan seluruh orang yang ada di dunia ini tahu dan menunggu tanggal pernikahan kami.”
“Emelie lagi!” umpat Adriana kesal sambil menghempaskan tangan Damian yang sejak tadi ada di kepalanya.
“Sayang ....”
“Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu saat ini.” Adriana membuang tatapannya ke arah lain. Wanita itu benar-benar kecewa dengan penjelasan Damian malam ini. Ada buliran air mata kecewa di pelupuk matanya saat ini.
Damian menghela napas kasar sebelum beranjak dari tempat tidur itu. Pangeran Monako itu tidak ingin membuat marah dan kesal kekasihnya lagi.
“Maafkan aku, Sayang,” ucap Damian sebelum menutup pintu kamar itu.
“Kenapa selalu saja ada alasan untuk tidak menikahiku,” ucap Adriana dengan wajah sedihnya. Wanita itu semakin dendam dengan Emelie. Ingin sekali ia membunuh Emelie dengan tangannya sendiri. Sejak dulu, Emelie memang selalu unggul jika di bandingkan dirinya. Entah itu dari bidang olahraga, memasak, kesenian atau pendidikan. Walau sudah berusaha sekeras mungkin, Adriana tidak pernah bisa mengimbangi Emelie.
“Aku akan membuatmu menderita Emelie, lihat saja nanti.” Jutaan rencana licik lagi-lagi terukir di dalam kepalanya. Tidak ada lagi rasa kasihan di dalam hati Adriana saat rasa benci dan cemburunya menguasai hatinya.
Mohon maaf, belum bisa crazy up. Author masih revisi novel Mafia's in Love.
Diusahakan senin kita crazy up.
terima kasih atas pengertiannya😊