Moving On

Moving On
Tarian Jalanan



Sesuai dugaan Lukas malam itu. Lana menarik tangan kanan Lukas dan membawa pria itu untuk menjadi pasangan menarinya. Semua orang bertepuk tangan saat melihat sepasang penari itu.


Ada tiga pasang penari di tengah-tengah kerumunan orang. Lukas menatap sekeliling yang kini memperhatikan dirinya dan Lana. Ada rasa ingin menolak ajakan Lana malam itu. Namun, entah kenapa Lukas tidak ingin membuat wanita tangguh itu malu.


“Lukas, bukankah kau jago dalam menari. Malam ini, kau harus menari denganku. Lepaskan semua beban yang mengekang pikiranmu. Hanya bahagia yang harus ada di dalam pikiranmu.” Lana mundur beberapa langkah sambil menatap tajam wajah Lukas. Wanita itu tersenyum lagi sebelum maju dan mengajak Lukas untuk memulai aksi tarian.


Lukas tahu tarian itu. Ia sering melakukan tarian itu setiap kali dirinya harus menyamar di dalam pesta konglemerat dulunya. Dengan mudahnya Lukas memegang pinggang Lana dan mengikuti gerakan yang diinginkan oleh Lana.


“Kau memang berbakat, Tuan,” ucap Lana sebelum melanjutkan tariannya yang belum selesai. Irama musik yang terdengar semakin menghidupkan suasana di dalam terowongan itu.


Lana dan Lukas terlihat sangat kompak malam itu. Mereka berdua terlihat sudah sering latihan sebelumnya. Bahkan dua pasang penari lainnya terlihat kalah dengan tarian yang dilakukan Lana dan Lukas. Semua mata menatap takjub gerakan cepat Lana dan Lukas malam itu.


Hingga beberapa menit kemudian. Tarian itu telah berakhir. Semua orang memberikan tepuk tangan yang cukup meriah untuk ketiga pasangan yang baru saja selesai tampil. Lukas menatap wajah semua orang yang ada di sekitarnya.


Entah kenapa bibrinya ingin mengukir senyum bahagia malam itu. Namun, senyum itu hanya tertahan di dalam hati. Lukas tidak ingin Lana menertawainya saat bibirnya mengukir senyum. Ada rasa gengsi di dalam hati Lukas. Ia tidak ingin mengungkapkan isi hatinya bahwa ia merasa bahagia saat ini.


“Apa ini yang kau bilang bisa membuatku tertawa?” tanya Lukas dengan nada meledek. Bahkan sejak pertama kali tiba di terowongan itu, Lukas sudah cukup yakin kalau Lana pasti akan melakukan hal-hal aneh kepadanya.


“Tentu saja bukan. Ini hanya pembukaan saja,” jawab Lana dengan senyuman penuh percaya diri. Setelah semua orang bubar untuk berkumpul dengan kelompok masing-masing, di saat itu juga lagi-lagi Lana menarik tangan Lukas. Wanita itu menyeret paksa Lukas agar mengikuti langkah kakinya menuju ke tempat kedua yang sudah ia persiapkan.


Lukas hanya diam dan menurut untuk mengikuti langkah kaki Lana.


“Ayo cepat," ucap Lana lagi dengan penuh semangat.


Lana dan Lukas berhenti di sebuah tangga besi baja yang menjulang ke atas. Tangga itu menuju ke sebuah menara yang cukup tinggi. Dari atas menara itu, mereka bisa menatap keindahan kota Salvador.


“Kita harus naik ke atas,” ucap Lana sambil mendongakkan kepalanya menatap menara tinggi yang ada di depannya.


Lukas juga ikut melihat menara tinggi itu. Rencana Lana malam ini, tidak tertebak sama sekali oleh dirinya.


"Kau harus mengikuti, Lukas. Jangan kabur saat aku sudah naik," ancam Lana dengan satu tatapan sinis.


Tanpa banyak kata lagi, Lukas mengikuti Lana untuk menaiki tangga yang berukuran besar itu. Pria itu lebih memilih berada di bawah Lana dari pada harus memanjat dengan posisi sejajar.


Embun malam membuat besi itu basah. Lana menginjakkan kakinya dengan cukup hati-hati. Namun, tiba-tiba saja Lana terpeleset. Wanita itu melebarkan bola matanya karena kaget saat tangannya juga terlepas dari pegangannya yang cukup erat itu.


Dengan cepat, Lukas menahan pinggang Lana hingga wajah mereka berdua saling berdekatan. Ada debaran jantung yang tidak lagi normal saat kedua bola mata mereka saling menatap satu sama lain tanpa berkedip.


“Kau tidak terlalu ahli dalam memanjat. Kenapa bisa memiliki percaya diri yang besar seperti tadi,” ucap Lukas sambil mendorong tubuh Lana agar wanita itu kembali pada posisinya.


Lana membisu beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan kata, “Maaf.”


Tanpa mau menunggu lagi, Lana kembali memanjat tangga itu. Bibirnya mengukir senyuman saat membayangkan wajah panik Lukas saat menolongnya tadi.


Pipi Lana merah merona karena malu. Wanita itu menggeleng kepalanya untuk menghilangkan wajah Lukas yang kini memenuhi isi pikirannya.


Beberapa menit kemudian, Lana dan Lukas sudah hampir berhasil. Hanya tersisa beberapa belas anak tangga lagi, maka mereka akan tiba di puncak menara setinggi 40 meter itu. Wajah Lana terlihat berseri saat ia hampir berhasil tiba di tempat itu.


"Kita akan segera sampai," teriak Lana penuh semangat. Wanita tangguh itu sudah tidak sabar untuk menjejaki kakinya di puncak menara itu.


Lukas menghela napas saat mendengar teriakan Lana, "Aku memang telah terjebak di dalam perangkapnya malam ini."


“Akhirnya,” ucap Lana dengan napas terputus-putus. Tubuhnya basah karena keringat yang terus keluar dari pori-pori kulitnya, “Apa kau suka?”


Lukas menatap wajah Lana saat mendengar pertanyaan Lana, “Bahkan kita bisa berada di tempat yang jauh lebih tinggi daripada tempat ini. Tanpa harus bersusah payah dan mempertaruhkan nyawa seperti ini.”


Lana menggeleng kepalanya pelan, “Kau memang pria yang tidak berperasaan.”


Lukas mengeryitkan dahi, “Apa kau sudah puas?”


“Tentu saja belum. Kau belum tertawa sejak tadi." Lana masih berusaha mengatur napasnya agar normal kembali.


“Tidak ada yang bisa ditertawai di sini. Bahkan aku sangat ingin marah saat ini,” jawab Lukas dengan tatapan tajamnya.


“Begini caranya tertawa. Lihat aku dan ikuti.”


"Hahahahah."


Lana tertawa untuk mengajari Lukas bagaimana caranya tertawa. Tetapi usahanya seakan sia-sia saat Lukas tidak mau mengikuti arahannya. Wanita itu mundur dengan wajah menyerah. Segala cara sudah ia lakukan. Dari menceritakan cerita lucu. Membuat satu adegan memalukan. Tapi, tetap saja tidak membuat Lukas tertawa dengan sendirinya.


“Baiklah, aku tidak mau turun jika kau belum tertawa malam ini. Aku tidak peduli. Apa itu tertawa di paksa atau memang karena bahagia. Setidaknya kau tertawa walau hanya lima detik,” ucap Lana dengan wajah lesu.


“Kau tidak akan mendapatkan keuntungan apapun. Kenapa kau sangat memaksaku untuk melakukan hal konyol ini?” tanya Lukas dengan nada bercampur emosi. Hari sudah hampir larut malam. Namun, dia masih berada di atas menara bersama dengan Lana. Bahkan besok pagi mereka harus pergi ke Monako untuk menyelesaikan misi berbahaya.


“Pokoknya aku hanya ingin melihatmu tertawa,” ucap Lana yang masih tetap teguh pada pendiriannya.


Lukas menghela napas. Pria itu tertawa kecil hingga memperlihatkan giginya yang putih. Bukan Lukas yang tertawa dengan bahagia, justru Lana yang menjadi tertawa karen melihat tawa terpaksa Lukas malam itu.


“Lukas, apa ini kau? Sekali lagi,” ucap Lana sambil menahan tawa.


Lukas mengangkat satu alisnya, “Apa kau mau mengerjaiku lagi?”


“Ayo, sekali lagi,” pinta Lana saat membayangkan ekspresi lucu wajah Lukas beberapa detik yang lalu. Angin yang tiba-tiba tertiup dengan kencang membuat Lana kehilangan keseimbangan tubuhnya. Wanita itu terhuyung ke belakang. Namun, dengan cepat Lukas menarik tangannya hingga membuat tubuh Lana lagi-lagi ada di dalam pelukannya.