
Lukas cukup menyesal karena sudah masuk ke dalam jebakan wanita itu. Hanya ada hasrat tidak terkendali yang ia rasakan. Lukas membanting botol kosong yang sejak tadi ia genggam. Pria itu menatap wajah wanita seksi yang duduk di hadapannya.
“Aku akan membunuhmu,” ucap Lukas sambil mengeluarkan sebuah belati. Tanpa segan-segan lagi Lukas meletakkan belati itu di leher wanita yang telah menjebaknya.
“Tuan, maafkan saya. Saya tidak melakukan apapun terhadap anda. Saya di minta seseorang untuk melayani anda malam ini,” ucap Wanita itu dengan bibir gemetar ketakutan. Bahkan di ujung nyawanya yang sudah tidak terselamatkan lagi, wanita itu masih sempat membuang kesalahannya kepada orang lain.
Lukas memeriksa setiap inci tubuh wanita itu. Sekilas memang tubuh wanita itu sangat seksi dan menggoda. Tapi, Lukas tidak ingin kehilangan kendali. Ia menebas leher wanita itu lalu mendorongnya agar menjauh.
Wanita itu tewas detik itu juga. Tubuhnya tergeletak di lantai dengan darah di lehernya. Matanya melebar dengan wajah yang cukup menyedihkan.
Beberapa pengunjung yang ada di lokasi tersebut terlihat ketakutan melihat kelakuan Lukas malam itu. Sebagian lagi ada yang kabur karena takut. Lukas mengambil sebuah tisu lalu membersihkan darah dari belati miliknya yang berharga. Sorot matanya menatap wajah semua orang yang malam itu mencuri pandang terhadapnya.
Lukas menahan tubuhnya. Pria itu berjalan pergi meninggalkan club malam itu. Beberapa pasukan Gold Dragon yang masih setia mendampingi Lukas tampak menunduk hormat.
Lukas mengacak rambutnya frustasi, “Carikan aku seorang wanita.”
“Baik, Bos,” jawab salah satu pasukan Gold Dragon malam itu.
Tiba-tiba seorang pria muncul dengan senyum indah di bibirnya. Pria itu tidak terlihat memusuhi Lukas. Bahkan terlihat akrab dengan pasukan Gold Dragon.
“Kami memiliki wanita yang pasti cocok untuk menemani anda malam ini, Bos Lukas.” Pria itu meletakkan pistolnya di atas meja, “Saya akan menjaga anda di sini bersama benda ini. Wanita itu akan saya kirimkan ke kamar anda sesegera mungkin.”
Lukas menatap wajah pria itu dengan sorot mata yang cukup tajam. Ia tidak lagi mau menolak. Lukas memandang pintu bercat cokelat yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah botol berisi minuman keras kembali diteguk oleh Lukas dengan begitu rakus. Cukup mustahil bagi Lukas untuk tidur dengan wanita. Tapi, malam itu ia telah berbuat ceroboh. Lukas cukup kesulitan menahan hasrat di dalam tubuhnya. Ia butuh pelepasan!
Lukas berjalan pelan menuju ke pintu kamarnya. Malam itu Lukas sudah mabuk berat. Apapun yang akan terjadi ia tidak akan lagi ingat. Mungkin hanya dengan cara seperti itu agar ia tidak ingat perbuatannya malam ini.
Lukas membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya. Beberapa pasukan Gold Dragon yang ia percaya berdiri di depan kamar untuk berjaga-jaga.
Kamar hotel itu cukup rapi dengan setelan lampu yang tidak terlalu terang. Memang kamar hotel itu bukan hotel bintang lima. Lukas tidak memiliki banyak waktu hanya untuk mencari hotel terbaik. Hotel itu juga bagian dari club malam yang ia tempati untuk minum-minum. Bahkan sejak awal sudah ia tentukan untuk menjadi tempatnya beristirahat.
Lukas berjalan ke arah kamar mandi. Pria itu ingin membersihkan wajahnya yang terlihat kotor. Pria itu berdiri di depan wastafel dengan sorot mata yang lelah. Ia tidak pernah separah ini. Ia tidak suka wanita. Bahkan bersentuhan wanita saja cukup jarang. Kecuali ia dalam keadaan terjebak seperti ini.
Lukas keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu melihat wanita yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Entah sejak kapan wanita itu masuk ke dalam kamar. Lukas tidak menyadarinya. Satu hal yang memenuhi pikirannya, kalau hasratnya harus segera tersalurkan.
Lukas membuka jas hitam yang melekat di tubuhnya. Pria itu tidak lagi peduli dengan nasip wanita malang yang ada di hadapannya. Ia hanya berpikir kalau wanita itu sama dengan wanita yang sering ia lihat.
Malam itu juga yang menjadi pertemuan pertama Lukas dengan Lana. Tanpa cinta dan saling kenal. Mereka melewati malam indah penuh kenikmatan. Setelah puas menodai wanita yang ada di tempat tidur, Lukas beranjak dari tempat itu.
Samar-samar ia kembali ingat kalau wanita yang baru saja ia tiduri masih perawan. Lukas cukup murkah dengan semuanya. Jika memang harus melakukan hal seperti itu. Lukas tidak ingin melukai hati wanita lain.
Lukas tidak ingat dengan wajah wanita yang baru saja ia tiduri. Baginya wanita itu sudah tidak berguna lagi karena hasratnya telah tersalurkan. Lukas memakai satu persatu pakaiannya. Ia ingin meninggalkan Spanyol secepat mungkin.
Lukas mengeluarkan sejumlah uang. Meletakkannya di atas meja yang tidak jauh dari posisi Lana tergeletak. Bagi Lukas, uang itu sudah cukup untuk ucapan terima kasihnya kepada wanita yang kini berbaring tak berdaya itu. Walau di dalam hatinya, kini di penuhi rasa penyesalan yang cukup besar. Bahkan Lukas sendiri cukup sulit memaafkan dirinya sendiri.
Di depan kamar, Lukas lagi-lagi di sambut oleh pria yang sejak awal mengenalkannya dengan wanita itu.
“Bos, apa ada yang anda butuhkan lagi?”
Lukas menarik baju pria itu. Mecengkramnya dengan begitu kuat, “Apa kau menjebakkau dengan wanita itu?”
“Ma-maafkan saya, Bos. Saya pikir anda tidak suka dengan wanita bekas. Jadi, saya memilih yang masih suci,” ucap pria itu terbata-bata.
Lukas melepas cengkramannya. Tubuhnya lelah. Ia tidak lagi ingin memukul orang. Tanpa banyak kata, Lukas pergi meninggalkan pria itu. Ia ingin segera pindah ke tempat lain dan beristirahat.
***
Lukas dan Morgan saling berhadapan. Mereka kembali ingat dengan pertemuan pertama mereka yang membuat mereka bermusuhan hingga detik ini. Hanya ada rasa sok hebat di antara dua pria tersebut. Hingga akhirnya Lana menjadi salah satu alasan mereka untuk bertarung lagi.
“Aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang di rasakan Lana malam ini,” ucap Lukas.
“Kau ingin membalas rasa sakit yang kini di rasakan oleh Lana? Eh? Wanita seperti dia tidak pantas untuk di selamatkan.” Morgan membuang tatapannya ke arah lain.
“Apa kau tahu, Morgan. Sejak awal Lana memang sudah di ciptakan untuk menjadi wanitaku. Bukankah kau sendiri juga tahu, kalau kau bukan lagi pria pertamanya. Jadi, berhentilah bermimpi kalau Lana adalah wanita yang pantas berada di sampingmu.”
Morgan semakin murkah saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Lukas malam itu, “Aku akan melepas wanita itu, jika malam ini kau berhasil mengalahkanku!”
Kedua geng itu melingkari arena pertarungan. Lukas dan Morgan tampak berdiri saling menatap benci. Masing-masing mengeluarkan pistol yang tersimpan. Mereka memang bertarung tanpa menggunakan senjata malam itu.
Pertarunganpun di mulai, Lukas memiting Morgan dengan begitu mudah. Morgan semakin tambah agresif, dia kembali membalas Lukas. Keduanya saling memukul, hingga Lukas berhasil menekuk kedua tangan Morgan dan memukul wajahnya dengan sangat sadis.
Morgan jatuh terjerembam, sementara Lukas melangkah mundur sambil mengukir senyuman tipis. Tiba-tiba dari kejahuan, terdengar sirine polisi. Dua pria tangguh itu tampak memandang dengan pikiran yang sama.
Mereka tidak ingin berurusan dengan polisi lagi. Bertemu dengan polisi sama saja meminta masalah baru hadir di dalam hidup mereka.
“Kau tidak akan lolos hingga secepat itu,” ucap Lukas dengan tangan terkepal kuat.
Suara sirine polisi semakin dekat. Lukas dan Morgan memutuskan untuk pergi meninggalkan lokasi pertempuran itu. Dua pria itu melajukan mobil mereka menuju tujuan yang sama. Yaitu tempat di mana kini Kenzo berada.