Moving On

Moving On
S2 Bab 73



Di dalam ruangan perawatan, beberapa perawat memeriksa jarum infus yang tertancap di punggung tangan Shabira. Setelah semua aman dan berjalan dengan lancar, perawat-perawat itu pergi meninggalkan kamar. Hanya tersisa Shabira, Zeroun dan Kenzo di dalam ruangan serba putih itu.


Kenzo berjalan pelan mendekati Shabira. Walau merasa takut dan bersalah, tapi ia tetap memberanikan diri untuk mengajak istrinya berbicara malam itu.


“Pergi!” ucap Shabira dengan nada kesal. Bahkan wanita itu membuang tatapannya karena tidak ingin memandang wajah dua pria yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya.


“Sayang, aku bisa menjelaskan semua ini.” Kenzo tetap melangkah. Pria itu tidak bisa diam saja melihat hubungan kakak adik itu berubah menjadi permusuhan.


“Aku bilang pergi! Tinggalkan aku sendiri saat ini,” sambung Shabira dengan nada yang tidak kalah tinggi dari kalimat sebelumnya.


Zeroun memegang pundak Kenzo. Pria itu berusaha menahan tubuh Kenzo agar tidak lagi mendekat dengan Shabira, “Biarkan dia sendiri. Kita juga harus memberinya waktu untuk menenangkan diri.”


Kenzo menghela napas saat mendengar kalimat yang diucapkan Zeroun. Pria itu memutar tubuhnya lalu berjalan ke arah pintu. Malam itu Kenzo juga tidak bisa memaksa Shabira untuk mendengarkan penjelasannya. Dokter bilang kondisi kandungan Shabira masih lemah. Akan berdampak buruk bagi keselamatan kandungan Shabira jika ia memberi tekanan yang berlebihan.


Zeroun memandang wajah Shabira yang masih berpaling darinya, “Zetta. Kau tahu bagaimana Kakak selama ini. Kakak tidak pernah mengambil keputusan jika tidak ada alasan di balik semua itu. Maafkan Kakak karena sudah berbohong padamu. Semua ini demi kebaikan kau dan anak yang kau kandung juga.”


Zeroun tidak lagi mau menunggu respon yang diberikan oleh adik kandungnya. Pria itu juga memutar tubuhnya untuk meninggalkan Shabira sendirian di dalam kamar. Dengan membiarkan Shabira sendirian di dalam kamar itu, Zeroun berharap kesehatan adik kandungnya bisa kembali pulih.


Kenzo dan Zeroun berdiri di depan ruangan. Mereka menatap wajah Emelie yang berdiri di sana dengan wajah sedih.


“Sayang, kemarilah.” Zeroun membuka tangannya untuk menyambut tubuh istrinya. Bibirnya mengukir senyuman untuk menyembunyikan rasa bingung dan sedihnya saat itu.


Emelie melangkah pelan sebelum berhambur ke dalam pelukan Zeroun. Wanita itu tidak lagi bisa membendung kesedihannya. Tangisnya pecah detik itu juga saat tubuhnya telah ada di dalam pelukan suaminya.


“Maafkan aku. Aku tidak memiliki niat untuk membuat Zetta masuk ke dalam rumah sakit seperti ini.”


Zeroun mengusap lembut punggung Emelie. Pria itu mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh cinta, “Jangan bersedih, Sayang. Semua akan baik-baik saja.”


“Kenapa kau bisa setenang itu? Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan tenang saat ini. Bagaimana kalau Zetta benar-benar marah padamu?” Emelie mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Zeroun.


“Tidak akan. Aku kenal Zetta sejak lama. Dia bukan wanita pendendam. Percayalah padaku.” Zeroun menyelipkan rambut Emelie di belakang telinga. Pria itu mengeryitkan dahi saat merasakan basah pada baju yang dikenakan istrinya.


Zeroun memandang wajah Lana sekilas. Pria itu baru saja sadar kalau kekasih Lukas telah bisa berjalan dengan normal. Ada rasa lega di dalam hatinya.


“Zeroun, aku ingin menemui Inspektur Tao. Aku tahu dia dalang semua ini. Bukankah sejak awal dia yang tahu semua rahasia Mia.” Kenzo berdiri di samping tubuh Zeroun dengan wajah sedih.


“Apa yang ingin kau lakukan saat kau bertemu dengannya? Apa kau ingin memukulnya? Atau membunuhnya? Kenzo, masalah kita di sini bersama dengan Shabira belum selesai. Jangan buat masalah baru lagi.” Zeroun tampak tidak setuju dengan keputusan Kenzo malam itu. Pria itu berusaha melarang Kenzo agar tidak berbuat gegabah.


Emelie memandang wajah Zeroun dan Kenzo secara bergantian sebelum menatap pintu kamar Shabira, “Aku yang akan bicara pada Zetta.”


Zeroun dan Kenzo menatap wajah Emelie dengan seksama. Bukan mereka tidak setuju. Awalnya memang hubungan Emelie dengan Shabira cukup dekat. Tapi, sejak kejadian penembakan tadi. Mereka tidak lagi yakin kalau Shabira akan mau di ajak bicara oleh Emelie.”


“Aku sudah cukup sering menghadapi masalah seperti ini. Aku punya caraku sendiri untuk menghadapi Zetta.” Kalimat yang diucapkan oleh Emelie dipenuhi dengan keyakinan yang cukup mendalam.


Zeroun mengangguk pelan. Ia akan selalu memberi kepercayaan dan kesempatan kepada Emelie. Zeroun tidak ingin menjadi sosok suami yang selalu mengatur dan menghalangi keputusan istrinya. Bagaimanapun juga baik dirinya maupun Emelie sama-sama sosok pemimpin. Mereka memiliki jabatan yang cukup tinggi dan selalu dihargai walau dalam kelas yang berbeda.


Emelie memandang wajah Lana. Wanita itu mengulurkan tangannya sebagai kode agar Lana ikut dengannya masuk ke dalam. Lana tidak banyak mengeluarkan kata. Wanita itu melangkah cepat untuk mendekati posisi Emelie berada. Dua wanita itu berjalan beriringan menuju ke kamar Shabira.


Zeroun duduk di sebuah kursi yang berada tidak jauh dari posisi kamar Shabira berada. Ia mengambil ponselnya lalu meletakkannya di telinga, “Apa semua baik-baik saja?”


Wajah Zeroun berubah serius saat itu. Ia memijat dahinya sebelum memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.


Lukas memperhatikan Zeroun dengan seksama. Pria itu membungkuk hormat di hadapan Zeroun sebelum memberi tahu informasi yang baru saja ia dapat, “Bos, jasad Agen Mia telah berhasil ditemukan. Malam ini akan segera di bawa ke rumah sakit sebelum besok dikebumikan.”


Zeroun mengangguk pelan, “Ya. Sebaiknya pastikan kalau Inspektur Tao tidak berbuat yang aneh-aneh saat ini. Jika pria itu masih tetap berontak, kau boleh melakukan apapun kepadanya.”


“Baik, Bos.” Lukas membungkuk hormat sebelum kembali berdiri di samping Zeroun berada. Ia melirik wajah Kenzo sekilas, “Bos Kenzo cukup tertekan batinnya malam ini. Kejadian ini memang tidak pernah di duga sebelumnya. Aku sendiri cukup kaget saat melihat Nona Emelie muncul,” gumam Lukas di dalam hati.


“Lukas, dalam waktu dekat aku akan kembali ke Inggris. Ada hal penting yang harus kami selesaikan di sana. Aku harap kau dan pasukan Gold Dragon bisa mengalahkan Morgan dan gengnya. Mereka bukan lawan yang hebat. Aku cukup yakin, kalau kau akan memenangkannya. Malam ini pergilah cari Inspektur Tao. Bawa dia untuk menemuiku.”


“Baik, Bos. Saya permisi dulu.” Lukas membungkuk hormat lagi sebelum pergi meninggalkan rumah sakit. Ia tidak terlalu memikirkan Lana karena kini wanita yang ia cintai telah berada di antara orang yang bisa ia percaya. Lukas cukup yakin kalau Lana akan baik-baik saja hingga ia nanti bertemu kembali dengannya.