Moving On

Moving On
Terjebak



Lana sibuk mengolah beberapa bahan masakan yang tadi sempat ia beli bersama Emelie. Ada ikan dan aneka sayuran yang terlihat begitu lengkap di atas meja. Setelah mencuci bersih sayur dan ikan, Lana mulai mengiris beberapa bumbu. Wanita itu terlihat terampil dalam memasak. Semua masakan yang ia olah terlihat cukup menggugah selera. Walaupun ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya karena tidak jadi memasak bersama dengan Emelie siang itu.


Setelah menunggu beberapa lama. Semua menu yang cukup lezat itu matang, Lana menyusun rapi makanan-makanan itu di atas meja. Wajahnya tampak berseri saat itu. Wanita tangguh itu terlihat penuh percaya diri kalau masakannya akan disukai oleh semua orang.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sudah waktunya untuk makan siang. Bahkan sudah lewat dari jadwal yang biasa mereka lakukan. Lana duduk di salah satu kursi sambil memandang masakan buatannya.


“Seharusnya Nona Emelie sudah bangun dan makan siang. Tapi, kenapa sampai sekarang belum juga muncul.” Lana mencari-cari ke arah lain. Wanita itu tidak berani mengganggu Bos Zeroun dari tidur siangnya. Hanya Lukas satu-satunya harapan Lana untuk memanggil Zeroun dan Emelie agar segera makan siang.


Tetapi, sejak tadi. Lana tidak melihat Lukas. Entah pergi kemana pria berbahaya itu saat ini. Beberapa pasukan Gold Dragon juga tidak terlihat di dalam rumah.


“Apa Mereka latihan di halaman depan?” Lana beranjak dari duduknya untuk mencari Lukas di halaman depan. Langkahnya terlihat sangat cepat saat itu. Ia tidak ingin masakannya berubah dingin dan tidak lezat lagi.


Setelah tiba di halaman depan, Lana tidak juga melihat batang hidung pria yang ia cari. Hanya ada beberapa pasukan Gold Dragon yang terlihat bersantai. Bahkan di antaranya terlihat tidur dengan lelap.


“Kemana dia?” Lana memutar arah tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah lagi. Wanita itu mencoba mencari Lukas di kamar tidurnya.


Setelah mengetuk pintu berulang kali ia tidak kunjung mendapat jawaban. Tidak seperti biasanya. Hanya dengan satu kali ketukan saja biasanya Lukas sudah muncul dari balik pintu. Lana membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu.


Tidak ada seorangpun di dalam kamar. Kamar itu terlihat rapi seperti belum disentuh sebelumnya.


“Dia juga tidak ada di dalam kamar,” ucap Lana dengan wajah kecewa. Wanita itu duduk di tepian tempat tidur sambil memandang koleksi senjata api dan belati milik Lukas. Semua benda-benda berbahaya tergeletak begitu saja di atas meja yang tidak jauh dari tempat tidur.


“Mobilnya juga ada di halaman. Seharusnya dia masih berada di rumah ini.” Lana menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar sambil berpikir keras.


“Gudang senjata. Ya, dia pasti ada di situ.” Lana segera beranjak dari tempat tidur milik Lukas. Wanita itu memperceat langkah kakinya menuju ke arah gudang senjata yang terletak di lantai bawah.


Lorong menuju ke arah gudang senjata terbilang cukup rahasia. Jalan menuju ke ruangan itu terlihat terang namun tetap saja menyeramkan. Lokasi ruangan itu memang jarang di lalui oleh penghuni rumah. Belum lagi, ada banyak bom yang sudah di pasang di setiap sudutnya. Bom-bom itu akan meledak jika remot pacu yang disimpan Zeroun dan Lukas di tekan. loorng itu memang selalu membuat semua orang yang ingin pergi keruangan itu harus berpikir dua kali.


Lana membuka gudang senjata dengan hati-hati. Tetap saja dia tidak berhasil menemukan Lukas di ruangan itu. Wanita itu benar-benar kesal dan terus saja mengumpat di dalam hati.


“Kemana dia!” Lana mengepal kuat tangannya sebelum menutup kembali gudang senjata itu.


Dari ujung lorong terlihat satu pintu yang terbuka. Lana tertarik untuk memeriksa ruangan itu. Wanita itu berjalan dengan langkah waspada dan hati-hati ke arah ruangan itu.


Setelah tiba di depan ruangan itu. Hanya terlihat rak-rak yang berisi minuman keras di situ. Lana mencoba masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah hati-hati. Wanita itu melihat pintu yang terbuka dengan bebas. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong pintu itu agar tertutup kembali sebelum memeriksa isi ruangan itu.


Wajahnya berubah panik saat pintu itu tertutup rapat. Seperti telah terkunci dengan begitu kencang. Bahkan suhu di ruangan itu berubah dingin seketika.


“Apa yang kau lakukan?” ucap Lukas dari arah belakang.


“Lukas, Aku sudah memasak. Apa kau bisa membantuku untuk membangunkan Bos Zeroun dan Nona Emelie?” Lana memperhatikan keadaan sekitar yang terlihat mencurigakan.


“Apa kau pikir kita bisa keluar dari tempat ini dengan selamat?” Lukas melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar di salah satu rak minuman keras itu.


Lana tertegun dengan ucapan Lukas siang itu, “Tempat apa ini?”


“Ruangan pendingin Bir,” jawab Lukas dengan wajah tenangnya.


“What?” celetuk Lana tidak percaya.


“Maksudmu kita terjebak di dalam kulkas raksasa ini?” Lana membulatkan kedua bola matanya.


Lukas mengangguk pelan, “Bisa di bilang begitu.”


“Aku harus segera keluar dari sini.” Lana memutar tubuhnya lalu menggedor-gedor pintu tempatnya masuk. Wanita itu berteriak dengan begitu kuat berharap seseorang mendengarnya.


“Percuma saja, ruangan ini kedap udara. Walaupun Kau berteriak hingga tenggorokanmu kering tetap saja tidak ada yang mendengar.” Lukas berjalan mendekati posisi Lana berada.


“Berikan pistol milikmu. Aku tidak membawanya saat ini.” Lukas merentangkan tangannya meminta senjata api itu kepada Lana.


Lana mencoba mencari-cari pistol miliknya. Wanita itu kembali ingat kalau telah meletakkan pistol miliknya di dapur saat memasak. Wajahnya semakin terlihat bingung saat itu, “Ketinggalan di dapur.”


Lukas menarik napas kasar saat menerima jawaban yang tidak memuaskan itu. Pria itu berjalan pergi ke posisinya semula tanpa mau mengeluarkan kata lagi.


“Lukas, Kau pria yang begitu cerdas. Kenapa terlihat bingung dengan situasi seperti ini? Ayo kita keluar dari sini, Kau pasti ingin mengerjaiku bukan?” Lana mengikuti Lukas dari belakang. Wanita itu meletakkan tangannya di pinggang ketika melihat Lukas mala duduk dengan santai di salah satu kursi yang tersedia.


“Lukas, apa yang kau lakukan? kenapa tidak berusaha keluar dari ruangan ini? kita akan mati membeku di dalam sini jika tidak segera keluar.”


Lukas menatap wajah Lana dengan seksama, “Pintu itu hanya bisa dibuka dari luar. Satu lagi, semua ini kesalahanmu. Kenapa sekarang lagi-lagi Kau menyalahkanku?”


“Maaf. Sejak awal mendesain rumah ini Aku tidak pernah tahu kalau kita memiliki ruangan ini.” Lana menunduk karena merasa bersalah.


“Selama kita berada di Brasil, sejak itu juga bisnis minuman ini tetap berjalan. Apa kau pikir semua yang kita dapat itu gratis. Tentu saja dari hasil bisnis besar ini.” Lukas memandang beberapa minuman yang tersusun rapi di rak.


“Harapan satu-satunya adalah Bos Zeroun. Semoga dia sadar kalau kita menghilang saat ini.”


Like, Komen dan Vote.Terima kasih.