Moving On

Moving On
Pertarungan Besar Part. 2



Zeroun terus mengejar mobil kecepatan tinggi itu. Ia tahu kalau Jesica pasti mengincar suatu tempat untuk menjebaknya. Di belakang Zeroun juga ada beberapa mobil Gold Dragon yang berhasil mengikuti laju mobil yang ia kendarai. Hingga tiba-tiba dari arah samping ada truk berukuran besar yang ingin menabrak mobil Zeroun yang telah melaju dengan cepat.


Zeroun bersikap cukup tenang saat melihat mobil besar itu. Satu bom ia lempar sebelum mobil itu berhasil mendekatinya. Hingga ledakan yang cukup memekakan telinga terdengar. Beberapa pasukan Gold Dargon dan Heels Devils yang tidak siap juga terkena ledakan itu.


Jesica memutar arah mobilnya dengan putaran ke kanan. Kini mobil itu mengarah langsung ke arah mobil Zeroun berada. Wanita itu ingin menabrak mobil Zeroun dengan mobil miliknya. Ia sangat yakin, kalau triknya pasti bisa membuat Zeroun mengalami Luka. Dengan kecepatan tinggi, Jesica mengarahkan mobilnya ke arah mobil Zeroun berhenti.


Ada senyuman licik di sudut bibir Jesica kalau ia akan menang. Tetapi, belum sempat mobilnya mendekat, Zeroun juga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu tidak ingin menyerah begitu dengan saja dengan trik yang dilakukan. Walau ia cukup tahu, jika dibandingkan dengan mobil Jesica, mobil yang kini ia kemudikan tidak ada apa-apanya.


BRUUAAKKK


Suara tabrakan mobil terdengar dengan cukup jelas. Kini mobil Zeroun bagian depan sudah hancur tak terbentuk. Dari arah samping, Zeroun keluar dengan senjata api di tangannya. Ada luka kecil di dahinya. Tapi, Zeroun tidak terlalu memperdulikan luka kecil itu.


Jesica juga keluar dari dalam mobilnya. Satu senjata api ada di genggaman tangannya. Ada senyuman indah sebagai sambutannya kepada Zeroun saat itu.


“Selamat datang di pertarungan besar ini, Zeroun Zein. Bukankah tempat ini sangat pas untuk kita bertarung? Tidak ada sirine polisi yang membuat telinga sakit bukan?” Jesica memetikkan jarinya hingga membuat seluruh pasukannya yang tersembunyi keluar dengan ujung senjata api mengarah ke tubuh Zeroun.


Zeroun mengukir senyuman tipis. Tanpa perintah darinya. Di saat yang bersamaan, pasukan Gold Dragon yang sudah ia persiapkan juga keluar dengan senjata api.


Jesica memandang sekelilingnya. Sesuai dengan perkiraannya sejak awal. Tidak akan mudah mengalahkan pria tangguh yang kini berdiri di hadapannya.


Sorot tajam kedua bola mata kedua bos mafia itu saling memandang satu sama lain. Belum ada pergerakan apa-apa dan perintah apapun yang ingin mereka berikan kepada bawahan yang setia melindungi nyawa mereka.


Hingga tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara tembakan yang cukup memekakan telinga. Lukas muncul bersamaan dengan pasukan Gold Dragon yang tersisa. Sepertinya mereka lagi-lagi berhasil melewati penghalang yang sempat mereka temui beberapa saat yang lalu.


Jesica memutar tubuhnya sebelum mengeluarkan satu tembakan. Wanita itu tidak ingin kalah. Ia memilih untuk menyerang Zeroun lebih dulu. Pergerakan yang di buat Jesica membuat seluruh pasukan Heels Devils juga mengeluarkan tembakan.


Zeroun menghadang gerakan Jesica hanya dengan satu trik sederhana yang ia miliki. Dengan begitu ahli ia melintir tangan Jesica hingga wanita itu merasakan sakit yang sangat luar biasa.


Tidak mau kalah secepat itu, Jesica mengeluarkan satu tembakan ke arah lengan Zeroun. Kali ini peluru yang ia arahkan mendarat dengan cukup sempurna. Ada senyum kecil di sudut bibir Bos mafia itu saat berhasil membalas perlakuan Zeroun.


Zeroun tidak bergeming. Baginya tembakan di lengan itu tidak ada apa-apanya. Bahkan tidak ada rasa sakit sama sekali. Zeroun mengarahkan senjata apinya ke arah Jesica. Ia ingin memberi tembakan balasan kepada Jesica.


Tapi, belum sempat tangannya menarik pelatuk tembakannya. Jalanan yang berada tidak jauh dari posisi nya berdiri mengeluarkan ledakan yang cukup dahsyat. Lana yang berada sangat dekat dengan ledakan itu juga terpental. Zeroun berlari untuk menghindari jalanan yang mulai runtuh itu.


“Tidak semudah itu, Jesica,” ucap Zeroun sebelum menghajar wajah Jesica untuk memberi pelajaran kepada wanita itu.


Di sisi lain. Lukas melompat saat jalanan luas itu berlubang karena ledakan yang terjadi. tangannya menggenggam erat tangan Lana agar tidak terperosok ke dalam runtuhan jalan karena terkena ledakan. Kedua bola matanya melebar saat melihat lubang besar seperti markas yang ada di bawah jalanan. Ia tidak pernah menyangka kalau kini mereka sudah masuk ke dalam perangkap Jesica. Lukas bisa melihat jelas bom-bom yang belum sempat meledak di bawah jalanan itu.


“Apa kau baik-baik saja?” Lukas menarik tubuh Lana ke dalam pelukannya. Kini mereka berdua berdiri tepat di pinggiran jalan yang berdampingan dengan lubang besar.


“Aku baik-baik saja,” jawab Lana dengan napas terputus-putus. Kematian itu terasa sangat dekat beberapa detik yang lalu. Jika tangan kekar itu tidak segera menggenggamnya mungkin ia akan terperosok bersama beberapa pasukan Gold Dragon yang tidak tersisa.


Lukas melepas pelukannya. Membawa Lana ke posisi yang cukup aman. Pria itu memandang wajah pria dari Heels Devils yang kini berhasil memperoleh remot pacu yang terlepas dari tangan Jesica. Dengan gerakan cepat Lukas berlari. Ia tidak ingin ledakan terjadi lagi. Bahkan ia juga tidak tahu, jalanan mana yang akan segera meledak untuk sesi berikutnya.


“Sekarang!” teriak Jesica. Kini wanita itu ada di depan senjata api milik Zeroun. Kesempatanya untuk hidup seperti tidak ada lagi, “Kau harus mati bersamaku Zeroun Zein!”


Jesica menangkis senjata api Zeroun sebelum pria itu berhasil mengeluarkan peluru. Ledakan kedua terjadi. Kali ini ledakannya berada di level sedang. Ledakan itu berbentuk lingkaran. Zeroun memandang jalanan yang mulai runtuh, pria itu berusaha berlari dan melompat agar tidak ikut dengan reruntuhan yang akan segera terjadi. Tapi, di detik ia sebelum berlari, Jesica mengeluarkan satu tembakan. Tembakan itu tepat mengenai dada Zeroun. Setelah melepas tembakan kepada Zeroun, Jesica mulai memejamkan mata. Wanita itu juga sudah tidak sanggup menahan rasa sakit yang saat itu ia terima.


Zeroun mematung tanpa bisa bergerak lagi. Ada darah yang mengalir deras di bagian dadanya. Pria itu tidak lagi merasa kesakitan karena tembakan. Di detik-detik sebelum jalanan itu runtuh, wajah Emelie kembali terbayang. Senyum wanita itu dan semua tentang tunangannya terbayang dengan begitu indah.


“Bos!” teriak Lukas dengan wajah Frustasi. Lukas menembak pria yang kini memegang kendali. Tembakan itu tepat mengenai dahi musuhnya hingga ledakan yang ketiga tidak berhasil ia ciptakan. Remot pacu itu jatuh ke jalanan bersamaan dengan pria yang memegangnya.


Lukas melebarkan matanya dengan debaran jantung yang gak karuan. Jalanan itu runtuh hingga membuat lubang yang begitu luas. Zeroun masih ada di tengah-tengah jalanan itu dengan luka di dadanya. Lukas berusaha untuk melompat berharap bisa menolong Zeroun saat itu.


Tapi, tiba-tiba tangan Lana melingkari pinggangnya. Wanita itu menagis sejadi-jadinya saat melihat bos yang selama ini ia hormati akan segera menghilang bersamaan dengan pasukan Heels Devils dan Gold Dragon yang ada di atas jalan.


“Jangan lakukan itu, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk menolongnya,” ucap Lana ditengah-tengah isak tangisnya.


Lukas benar-benar syok saat melihat jalanan yang di penuhi dengan bangunan di atasnya roboh seperti sebuah longsor. Seluruh mobil yang ada di atas badan jalan ikut masuk ke dalam lubang besar itu. Detik itu juga pria itu merasakan sakit yang luar biasa saat menyaksikan sendiri hilangnya Zeroun. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam membisu tanpa kata.


Dari kejauhan terdengar sirine polisi dan mobil pemadam kebakaran. Bahkan warga kota Rio yang tidak bersalah juga ikut menjadi korban dalam insiden besar itu.


“Kita harus segera pergi meninggalkan Brasil. Tidak ada waktu lagi.” Lana kembali mengingatkan Lukas. Seperti itu perintah Zeroun sebelum mereka melakukan misi hari ini. Pria itu memberi perintah kepada siapa saja yang selamat untuk meninggalkan Brasil dan kembali ke Hongkong. Nama mereka sudah cukup dikenal sebagai penjahat dunia. Bahkan hukuman mati saja tidak setimpal dengan kejahatan yang sudah mereka lakukan.


Lukas memandang mobil-mobil polisi yang melaju mendekatinya. Pria itu memandang reruntuhan itu sekali lagi. Ia berharap kalau Zeroun akan segera terlihat di detik-detik terakhir.