
Beberapa saat kemudian.
Zeroun telah tiba di markas Gold Dragon. Langkahnya terhenti saat melihat Emelie berdiri di depan pintu. Terlihat jelas kekhawatiran di raut wajah Emelie. Zeroun menutup pintu mobil sambil menatap wajah istri tercintanya.
Dari mobil lain, Agen Mia juga turun dari dalam mobil bersamaan dengan pasukan Gold Dragon lainnya. Wanita itu menatap wajah Emelie sekilas sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam markas bersama dengan pasukan lain.
Emelie mengukir senyuman dengan hembusan napas yang sangat lega saat melihat Zeroun muncul tanpa luka. Secara perlahan kakinya melangkah maju. Putri kerajaan itu ingin memeluk tubuh pria yang sangat ia cintai.
Zeroun membalas senyuman Emelie. Pria itu membuka kedua tangannya untuk menyambut tubuh istrinya. Jalanan yang di penuhi tangga itu seolah rata di pandangan Emelie. Gerakannya cepat dan pasti.
“Kenapa kau belum tidur?” ucap Zeroun saat tubuh Emelie telah ada di dalam pelukannya. Sambil memejamkan mata Zeroun membenamkan wajahnya di rambut Emelie. Aroma tubuh istrinya bisa ia hirup hingga membuatnya tenang. Kedua tangganya ia letakan di bagian punggung Emelie.
“Aku tidak bisa tidur. Aku terus-terusan memikirkanmu,” ucap Emelie dengan suara yang lembut. Zeroun membuka matanya dengan bibir tersenyum. Hatinya cukup bahagia saat mendengar kalimat yang di ucapakan oleh Emelie.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya Emelie sambil mendongakan kepalanya. Walau kini suaminya sudah ada di depan mata. Tapi tetap saja ia tidak bisa tenang sebelum Zeroun menceritakan semuanya.
Zeroun mengangguk pelan, “Ya, semuanya baik-baik saja. Aku telah berhasil mengalahkan Arron. Kini pria itu telah tewas.”
Emelie merasa sangat bahagia. Walau hatinya sendiri merinding saat membayangkan kematian Arron. Ia tahu kalau pertarungan yang terjadi pasti cukup menegangkan dan di penuhi dengan aksi tembak-tembakan.
“Sayang, apa kau ada bagian tubuhmu yang terluka lagi?” ucap Emelie dengan wajah khawatir. Wanita itu meletakkan tangannya di wajah Zeroun dan memeriksa setiap inci tubuh suaminya.
Zeroun memegang tangan Emelie. Pria itu justru mengecup punggung tangan istrinya dengan senyuan yang menggoda, “Aku baik-baik saja.”
Emelie mengukir senyuman sebelum memeluk Zeroun lagi, “Apa bulan madu kita bisa kita lanjutkan? Aku sangat ingin berlibur dan bersenang-senang.”
“Ya. Kita akan melanjutkan bulan madu kita yang tertunda.” Zeroun mengecup pipi Emelie berulang kali, “Tidak akan ada yang mengganggu bulan madu kita lagi.”
“Kabar gembira yang sangat menggembirakan.” Emelie melepas pelukannya untuk memandang wajah Zeroun dengan begitu jelas, “Barusan Paman Arnold menghubungiku. Ia memintaku untuk menghadiri pesta di istana kerajaan Madrid.”
“Pesta?” celetuk Zeroun sambil menaikan satu alisnya.
“Hanya sebuah makan malam,” jawab Emelie dengan senyum indah, “Aku cukup bahagia karena Paman Arnold tidak tahu kelakuan burukmu di sini, Pangeran Zeroun.”
Zeroun tersenyum indah, “Maafkan saya, Putri Emelie. Saya janji tidak akan membuat anda susah lagi.”
“Baiklah, maafmu saya terima.”
Suasana hening sejenak. Emelie dan Zeroun saling memandang satu sama lain sebelum tawa mereka berdua pecah. Hanya ada wajah bahagia dan berseri yang terpancar jelas di wajah sepasang suami istri itu.
Dari arah lain. Agen Mia berdiri di depan jendela sambil melipat kedua tangannya. Wanita itu menutup kembali jendela kamarnya karena tidak ingin ketahuan kalau sedang mengintip.
Agen Mia berjalan menuju ketempat tidur sambil meraih ponselnya yang baru saja menyala. Wanita itu terlihat tidak bersemangat dengan orang yang sedang menghubunginya. Dengan gerakan cepat Agen Mia mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas.
“Sepertinya masalah ini akan semakin panjang,” ucap Agen Mia sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu memandang langit-langit kamar sambil mengukir senyuman kecil. Ia sempat mendengar kabar kunjungan Emelie dan Zeroun ke sebuah pesta. Tiba-tiba saja rencana jahat memenuhi pikiran Agen Mia malam itu.
“Sepertinya akan terlihat seru jika aku berhasil mengerjai Putri Kerajaan yang manja itu,” gumam Agen Mia di dalam hati. Wanita itu memejamkan mata dengan bibir tersenyum. Bayang-bayang wajah tampan Zeroun memenuhi pikirannya. Bahkan Agen Mia sendiri berkhayal kalau dirinya ada di samping Zeroun. Di perlakukan dengan lembut dan penuh cinta.
Lukas menghentikan mobilnya di depan rumah bercat putih yang tidak terlalu luas. Beberapa mobil pasukan Gold Dragon berhenti di belakang mobil Lukas. Setiap kali mereka ingin melakukan pertarungan besar, maka Dokter mereka juga akan ikut ke negara di mana mereka bertarung.
Rumah yang didatangi oleh Lukas adalah rumah Dokter yang menjadi Dokter kesayangan Gold Dragon. Dengan gerakan cepat Lukas keluar dari dalam mobil. Pria itu membuka pintu mobil tempat Lana duduk dan mengangkat Lana ke dalam gendongannya.
Lukas memandang pasukan Gold Dragon yang berbaris rapi, “Tunggu di sini.”
“Baik, Bos,” ucap Pasukan Gold Dragon secara serempak.
Lukas tidak lagi mau menunggu lama. Pria itu berjalan cepat menuju ke arah pintu. Seorang pengawal yang menjaga keselamatan Dokter itu membuka pintu rumah dan membungkuk hormat.
“Kedatangan anda sudah di tunggu sejak tadi, Bos.”
Lukas tidak tertarik untuk menjawab. Pria itu berjalan masuk ke dalam rumah tersebut. Pintu kembali tertutup saat Lukas telah ada di dalam.
“Selamat malam, Lukas. Mari letakkan wanita itu di kamar,” ucap seorang Dokter yang telah berdiri menyambut Lukas. Dokter itu berjalan menuju ke sebuah pintu kamar yang berada tidak jauh dari ruang utama.
Lukas mengikuti jejak kaki Dokter itu dari belakang. Pria itu semakin panik dan kahwatir saat melihat kekasihnya tidak juga bangun sejak tadi. Ingatannya tentang racun yang diberikan oleh Morgan seperti sebuah belati yang secara perlahan mengiris hatinya.
Dokter itu membuka pintu kamar. Memberi jalan kepada Lukas untuk masuk lebih dulu sebelum menutup kembali pintu kamar. Di ruangan itu telah tertata rapi peralatan medis. Dengan gerakan cepat Dokter itu mengambil beberapa alat medis yang ia butuhkan.
Lukas berjalan pelan menuju ke tempat tidur. Ia meletakkan tubuh Lana di atas tempat tidur dengan hati-hati. Pria itu mundur beberapa langkah untuk memberi ruang kepada Dokter tersebut memeriksa kekasihnya.
“Dia di racuni. Aku harap itu hanya ancaman pria itu saja,” ucap Lukas sambil menatap wajah sang Dokter. Masih tersimpan jelas harapan di dalam hatinya kalau sejak awal Morgan hanya menggunakan kalimat itu sebagai sebuah ancaman.
“Baiklah, saya harus memeriksanya terlebih dahulu.” Dokter itu meraih tangan Lana untuk memeriksa denyut nadinya. Setelah selesai memeriksa denyut nadi, pemeriksaannya berlanjut kepada mata dan beberapa bagian tubuh lainnya. Wajah Dokter itu terlihat sangat serius.
Lukas terlihat mondar mandir di kamar itu dengan perasaan sangat khawatir, “Aku sudah hampir membunuhnya tadi andai saja pria itu tidak mengancamku dengan kalimat konyol ini,” ucap Lukas dengan wajah kesal.
Dokter itu cukup paham dengan suasana hati Lukas malam itu. Ia kembali memasukkan alat-alat medisnya. Kali ini ia mengambil sampel darah Lana untuk memastikan racun yang ada di dalam tubuh Lana.
“Bagaimana keadaan Lana?” tanya Lukas saat sang Dokter telah selesai mengambil darah Lana.
“Dari gejala yang di timbulkan. Memang benar kalau di dalam tubuh Nona Lana ada racun yang sudah menyebar di seluruh tubuh. Saya belum bisa mengetahui jenis racun ini hingga belum tahu jenis penawarnya. Secepatnya saya akan menyelidiki racun yang ada di dalam tubuh Nona Lana.” Dokter itu meletakkan sampel darah Lana dengan sangat hati-hati.
“Sembuhkan dia,” ucap Lukas dengan wajah memohon.
“Saya akan membantu Gold Dragon dengan segenap nyawa yang saya miliki. Jangan memohon seperti itu. Kau tidak pernah melakukannya selain untuk Zeroun selama ini.” Dokter itu menepuk pundak Lukas, “Saya sudah memberi obat mengurangi rasa sakit. Mungkin ia akan sadar keesokan hari. Bawa Nona Lana kembali ke markas. Saya akan berkunjung ke markas saat hasilnya telah keluar nanti.”
Lukas mengangguk pelan. Pria itu memandang punggung Dokter yang sudah hampir mendekati pintu, “Dok, apa saya dan Lana boleh tinggal di sini malam ini?”
Dokter itu menghentikan langkah kakinya lalu memutar tubuh untuk memandang Lukas, “Ini rumah anda. Anda berhak melakukan apapun di sini.” Dokter itu mengukir senyuman ramah sebelum menarik handle pintu. Ia kembali menutup pintunya dengan hati-hati hingga tidak terdengar suara sedikitpun.
Lukas mengabil ponselnya dari dalam saku. Pria itu menghubungi anak buahnya yang ada di luar rumah. Lukas ingin memberi perintah kepada pasukan Gold Dragon yang berjaga untuk kembali ke markas Gold Dragon lebih dulu.