Moving On

Moving On
S2 Bab 43



Waktu terus berlalu. Hingga malampun kembali tiba. Zeroun dan Lukas sudah bersiap-siap untuk melakukan penyerangan. Dua pria tangguh itu cukup serius dalam memeriksa senjata yang akan mereka bawa. Agen Mia di minta oleh Zeroun untuk menjaga Emelie selama ia pergi bertarung. Untuk malam ini, Zeroun tidak lagi berani ambil resiko dengan meletakkan Emelie di sisinya.


Selain itu, Emelie juga terlihat sangat lelah karena terlalu lama bermain di pantai tadi siang. Mereka tidak hanya bermain kejar-kejaran. Tapi, siang itu Emelie meminta Zeroun untuk mandi di tengah ombak yang menerjang. Bahkan Zeroun harus segera menutupi tubuh Emelie yang basah. Gaun yang di kenakan Emelie memamerkan lekuk tubuhnya yang seksi.


Dengan wajah sedikit kesal, Zeroun meminta seluruh pasukan Gold Dragon untuk pergi sejauh mungkin agar tidak melihat istrinya yang belum berganti pakaian. Masih terbayang jelas di dalam pikiran Emelie bagaimana kelakukan lucu Zeroun tadi siang.


Emelie duduk di sebuh sofa sambil tersenyum ceria. Tidak ada wajah khawatir sama sekali walau sebentar lagi suami tercintanya akan pergi bertarung. Putri Kerajaan itu terlalu asyik membayangkan momen indah tadi siang bersama suaminya.


“Emelie, aku pergi dulu.” Zeroun mendaratkan satu kecupan di pipi Emelie. Pria itu terlihat tidak peduli walau kini ada banyak pasukan Gold Dragon di dalam ruangan itu.


Emelie mulai sadar dengan tujuan utama suaminya pergi. Wanita itu beranjak dari sofa lalu menatap wajah Zeroun dengan seksama. Kali ini sorot matanya dipenuhi rasa khawatir atas keselamatan suaminya.


“Hati-hati,” ucapnya dengan wajah sedih.


Zeroun mengukir senyuman kecil sebelum pergi. Diikuti Lukas dan pasukan Gold Dragon lainnya. Agen Mia yang sejak tadi berdiri di samping Emelie terlihat memandang tidak suka. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Melukai Emelie itu sama saja mencari jalan kematian untuk dirinya sendiri.


“Putri, apa anda tidak ingin istirahat?” ucap Agen Mia dengan senyuman ramah.


Emelie memutar tubuhnya. Ia mengukir senyuman sambil memandang wajah Agen Mia, “Terima kasih. Saya sangat mengantuk, saya ingin istirahat di kamar,” ucap Emelie penuh kebohongan. Jelas saja wanita itu tidak bisa tidur dengan nyenyak saat pria yang ia cintai sedang bertarung nyawa di luar sana.


“Apa anda mau saya temani, Putri?” tawar Agen Mia dengan penuh kelembutan.


Emelie menggeleng pelan, “Tidak. Saya akan tidur sendirian. Semua akan baik-baik saja,” ucap Emelie dengan senyuman sebelum melangkah pergi meninggalkan Agen Mia sendirian di tempat tersebut.


***


Di sisi lain. Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di belakang mobil Zeroun ada Lukas dan pasukan Gold Dragon lainnya. Malam ini Zeroun ingin menyerang Arron di tengah jalan. Pria itu tidak akan pernah menyangka kalau Zeroun akan muncul secara mendadak di hadapannya.


Zeroun sudah menyiapkan rencana yang jauh lebih bagus untuk markas Arron. Ia cukup yakin, kalau semua trik yang sudah ia pikirkan dengan penuh perhitungan itu akan membuahkan hasil.


Dari kejauhan, terlihat rombongan White Tiger yang sedang melaju cepat. Jalanan itu lurus menanjak. Sangat gelap dan sunyi. Hanya ada padang rumput yang luas sejauh mata memandang.


Cahaya bulan yang cukup terang menjadi cahaya untuk lokasi gelap tersebut. Taburan bintang yang begitu indah seolah memberi tanda kalau langit sedang cerah dan mendukung rencana Zeroun.


Suara tembakan terdengar dimana-mana saat pasukan White Tiger telah sadar akan kehadiran pasukan Gold Dragon malam itu. Tanpa mau memperdulikan peperangan yang terjadi di antara bawahannya dan Arron, Zeroun terus saja mengejar laju mobil Arron yang berusaha kabur.


Zeroun mengeluarkan senjata apinya lalu mengincar bagian ban mobil yang di tumpangi Arron. Tembakan Zeroun tepat sasaran. Dengan laju mobil yang sangat cepat, ledakan yang terjadi pada bagian ban membuat keseimbangan mobil itu tidak ada lagi.


Mobil Arron terlihat terguling-guling di jalanan. Namun, dalam waktu yang tepat. Arron berhasil melompat dari dalam mobil. Pria itu bergulung di rerumputan untuk menyelamatkan diri.


Mobil yang ia tumpangi telah meledak karena tergesek jalanan dan membuat percikan api. Bahan bakar yang telah tumpah membuat sambaran api itu semakin cepat dan tidak bisa terhindari lagi.


Zeroun menghentikan laju mobilnya. Di ikuti Lukas di belakang. Dua pria itu turun bersamaan. Sorot mata yang cukup tajam dari dua pria itu kini menatap wajah Arron dengan tatapan membunuh.


Zeroun mengeluarkan senjata apinya. Sama halnya dengan Lukas. Pria itu juga mengeuarkan senjata apinya. Tembakan demi tembakan mereka layangkan untuk memberi peringatan kepada Arron. Pria itu sendirian. Tidak ada yang membantunya apa lagi berusaha melindunginya seperti yang sebelumnya terjadi.


“Apa kau menyerah?” ledek Zeroun dengan senyuman menghina.


“Aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan tetap di sini untuk membunuhmu, Zeroun Zein. Bukankah semalam jelas terlihat, siapa yang menang di antara kita. Kau harus mengakui kalau ilmu bela diriku jauh lebih hebat.”


Arron berdiri tegak dengan tubuh siap bertarung. Satu tangannya berusaha mencari pistol yang terselip rapi. Hatinya kembali lega saat mengetahui kalau senjata api itu masih tetap aman pada posisinya.


Zeroun dan Lukas berlari kencang untuk menyerang Arron. Dua pria itu terlihat sangat murkah saat melihat wajah Arron. Mereka ingin detik itu juga memberi pejaran yang cukup berarti buat Arron.


BRUAKK


Satu pukulan yang cukup kuat dari Zeroun berhasil membuat wajah Arron membiru. Pukulan berikutnya berasal dari Lukas. Pria itu menendang perut Arron hingga membuat pria itu merasakan sakit yang luar biasa.


“Hanya segini kemampuan kalian?” ledek Arron dengan senyuman tipis. Pria itu membuka jaket hitam yang menutupi tubuhnya. Menggulung lengan kemeja warna hitam yang ia kenakan. Wajahnya terlihat tidak sabar untuk membalas perlakuan Lukas dan Zeroun.


Sebuah belati yang cukup tajam Arron mainkan di hadapan Zeroun dan Lukas. Dengan senyuman tipis, Lukas juga mengeluarkan belati kesayangannya. Sama halnya dengan Zeroun. Pria itu juga mengeluarkan sebuah belati yang cukup tajam dan memainkannya di hadapan Arron.


“Aku sudah tidak sabar mencincang tubuhmu dengan senjata ini,” ucap Zeroun dengan tatapan membunuh.