Moving On

Moving On
Hadiah Zeroun



Di dalam kamar, Adriana mondar-mandir dengan wajah ketakutan. Salah satu pengawal telah memberi tahu Adriana kalau pengawal rahasia Ratu telah dipanggil oleh Emelie.


Pengawal itu sangat sulit untuk ditemui. Selain perintah Ratu, tidak ada perintah siapapun yang ia ikuti. Tapi hari ini, pengawal itu datang untuk menemui Emelie.


“Bagaimana ini. Akan semakin bahaya jika pengawal rahasia ikut campur dalam masalah ini,” ucap Adriana sedikit frustasi.


“Tidak. Tidak akan ada yang tahu. Aku harus tenang.” Adriana duduk sambil mengingat kembali kejadian yang telah berlalu. Kejadian sebelum Ratu kerajaan itu mengalami kecelakaan.


.


..



1 jam sebelum Ratu pergi meninggalkan istana.


Adriana baru saja tiba di rumah setelah pesta. Matanya memandang tidak suka saat Emelie dan Pangeran Damian pulang sambil bergandengan tangan. Hatinya benar-benar dipenuhi luapan emosi yang sangat besar saat itu.


Adriana berlari ke arah kamar dengan wajah yang kesal. Membanting pintu kamar. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengepal seprei tempat tidur. Buliran air mata menetes atas luka di hatinya. Suara ketukan pintu membuat Adriana secepat mungkin menghapus air matanya. Dari balik pintu Damian muncul dengan senyum kecil ciri khasnya. Pria itu berjalan mendekati posisi Adriana.


“Pangeran,” ucap Adriana sedih sambil berlari untuk memeluk tubuh Damian. Hatinya sangat rindu dengan pria yang ia cintai.


“Sayang, apa kau menangis karena cemburu?” Damian memegang dagu Adriana. Menghapus setiap tetes air mata yang jatuh.


“Aku tidak suka kau terlalu dekat dengannya,” Adriana memasang wajah polosnya.


Damian menarik pinggang Adriana. Mencium bibirnya dengan penuh gairah.


“Sayang, Aku sangat merindukanmu.” Tangannya mulai nakal. Melepas resleting gaun Adriana malam itu. Bibirnya masih tetap mengunci bibir Adriana dengan sangat ahli. Satu persatu kancing kemeja Damian juga mulai dilepas oleh Adriana. Wanita itu juga sangat merindukan sentuhan Damian.


Setelah melewati malam indah dengan penuh cinta, Pangeran Damian keluar meninggalkan kamar Adriana. Ada senyum puas dan bahagia dari bibirnya. Pria itu berjalan dengan santai menuju ke kamar tidurnya.


Tetapi, dari kejauhan. Ratu telah memperhatikan semua itu. Damian sedikit mematung saat melihat Ratu berdiri dengan tatapan tidak terbaca.


“Yang Mulia, sudah larut. Apa yang anda lakukan di sini?” Damian berusaha menghilangkan suasana canggung malam itu.


“Saya ingin turun ke bawah untuk melihat-lihat. Apa yang Pangeran Damian lakukan di sini?” Ratu tersenyum kecil.


“Saya,” ucapan Pangeran Damian tertahan.


Tiba-tiba Adriana keluar dari dalam kamar saat mendengar suara keributan di depan pintu kamarnya. Wajahnya terbelalak kaget saat melihat Ratu dan Pangeran Damian berdiri di depan pintu kamarnya.


“Adriana, Kau belum tidur?” Ratu memasang wajah manis.


“Saya ….” Adriana menatap lekat wajah Damian.


“Saya belum ngantuk, Yang Mulia.” Tertunduk dalam.


Ratu mengangguk sambil memandang pengawal yang ada di sampingnya.


“Siapkan mobil, saya ingin mencari udara segar.” Ratu berlalu pergi begitu saja. Membuat Adriana dan Damian saling memandang satu sama lain.


“Aku harus kembali ke kamar,” ucap Damian.


Adriana juga masuk ke dalam kamar. Tapi jantungnya tidak lagi berdetak normal. Sikap Ratu terlihat berubah dan tidak terbaca.


“Pasti wanita tua itu mengetahui sesuatu.” Adriana mengambil ponselnya untuk menghubungi Jesica. Malam itu juga ia meminta Jesica untuk menghabisi nyawa Ratu. Tidak ada lagi waktu untuk menunggu. Adriana ingin semua penghalang yang ada pergi.



..


.


“Sebelum wanita itu tahu, kalau aku yang membunuh Ratu, sebaiknya aku segera menghabisi nyawanya juga.” Tangan Adriana terkepal kuat dengan dendam yang memenuhi pikirannya.


***


Cafe XIP Diamond.


Emelie duduk dengan begitu tenang. Memandang keluar jendela dengan senyum kecil. Satu tangannya mengaduk-ngaduk jus yang ada di hadapannya. Kursi itu terletak di pinggiran kaca yang menghubungkan ke arah jalan raya. Emelie sengaja memilih tempat itu untuk menikmati pemandangan kota di sore hari.


“Untuk apa kau memanggilku,” ucap Zeroun tanpa basa-basi. Ia duduk dengan tangan terlipat dan ekspresi dingin favoritnya.


Emelie memandang Zeroun dengan seksama. Pria itu memakai topi dan kaca mata hitam. Membuat Emelie hanya bisa menghela napas kasar.


“Tuan Zeroun, maafkan saya. Secepatnya saya akan membersihkan nama anda.” Emelie bersandar, memandang wajah Zeroun dengan seksama. Hatinya merasa sangat senang setiap kali ia berada di dekat Zeroun.


“Apa Putri sudah mengetahui semuanya?” Zeroun terlihat memancing Emelie saat itu.


Emelie mengangguk pelan, “Kenapa tidak kembali ke Hongkong saja? Polisi Hongkong akan melindungi kalian.”


“Apa anda meminta saya untuk melarikan diri?” Wajah Zeroun berubah. Ada tatapan kebencian di sudut matanya.


“Bukan begitu maksudku. Hanya saja Aku belum punya bukti untuk membela anda. Bersabarlah beberapa hari lagi. Aku akan mengurus semuanya. Orang kepercayaanku akan mengurus semuanya.” Emelie menunduk sedih.


Sudah satu minggu ia tidak mengetahui tindakan polisi itu. Kali ini, Emelie bertekad kalau dirinya akan berhasil. Walau semua terasa agak sulit. Semua bukti memang mengarah langsung kepada Zeroun.


“Pakai ini.” Zeroun menyodorkan sebuah gelang di hadapan Emelie.


“Untuk apa aku harus memakai ini.” Emelie mengambil gelang itu, memandangnya dengan seksama. Ada lampu merah yang menyala di salah satu permata gelang itu.


“Benda apa ini?” tanya Emelie dengan penuh curiga.


“Gunakan saja,” jawab Zeroun tanpa ingin menjelaskan tujuannya memberikan gelang itu kepada Emelie.


Terdengar suara sirine polisi dari kejauhan. Zeroun dan Emelie memandang keluar jendela. Beberapa mobil polisi memang sedang menuju ke lokasi Emelie dan Zeroun saat itu.


“Aku harus segera pergi,” ucap Zeroun sambil berlalu pergi.


Emelie tidak lagi bisa menghalangi langkah Zeroun. Walau sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu Zeroun dengan waktu yang lama.


Tapi, Emelie kembali tersenyum saat memandang gelang pemberian Zeroun saat itu. Dengan wajah berseri, Emelie mengenakan gelang itu.


Dalam hitungan menit, beberapa polisi telah masuk ke dalam cafe itu. Menodongkan senjata, memeriksa beberapa pengunjung yang ada di dalamnya.


Emelie memasang masker dan kacamata agar tidak dikenali. Membuang tatapan keluar jendela agar polisi-polisi itu tidak mengetahui keberadaannya.


Kenapa Aku terlihat seperti buronan saat ini. Sungguh merepotkan.


Umpat emelie di dalam hati. Sambil memikirkan cara selanjutnya untuk kabur dari tempat itu agar tidak diketahui oleh pihak kepolisian.


Pengawal rahasia Emelie membuat satu keributan di bagian dapur. Membuat polisi itu berlari dengan cepat menuju ke arah dapur. Emelie tersenyum kecil saat melihat polisi-polisi itu pergi. Dengan sigap, ia berlari ke arah pintu untuk meninggalkan cafe itu.


Zeroun tertawa kecil di dalam mobilnya. Memandang wajah Emelie dari layar ponselnya. Gelang itu sudah ia bekali dengan camera cctv berukuran kecil. Selama Emelie mengenakan gelang itu, Zeroun bisa mendengar semua perkataan Emelie dan memandang wajahnya dati kejauhan.


“Kau memang gadis nakal Emelie.” Zeroun melajukan mobilnya meninggalkan lokasi itu.