Moving On

Moving On
Strategi Damian dan Jesica



Damian membungkam mulut Adriana dengan ciuman. Tangannya yang nakal mulai mengelus paha mulus kekasihnya. Sentuhan lembut Damian membuat Adriana larut dan melayang.


“Jangan sekarang.” Adriana menolak dengan napas tersengal. Tetapi Damian tidak peduli dengan penolakan sang kekasih. Pria itu terus saja menjejaki setiap jengkal tubuh kekasihnya. Membuka dress putih itu dengan begitu tidak sabar.


“Aku merindukanmu, sayang.” Pria itu tidak lagi Bisa menunggu. Ia membawa tubuh Adriana ke atas tempat tidur.


“Damian, tapi ....” Adriana berusaha beranjak dari tempat tidur. Tapi, dengan cepat Damian mencegahnya. Memberikan kecupan di bibir merah yang basah itu. Adriana mencoba untuk menahan dirinya agar tidak mengeluarkan suara desahan. Sesekali wanita itu memandang kearah pintu. Pintu kamar tidak terkunci, wanita itu tidak ingin kemesraannya dilihat orang lain.


“Damian, hentikan!” Adriana mendorong tubuh Damian sebelum pria itu berhasil memasuki nya.


“Sayang ada apa?” wajah Damian memerah menahan kesal.


Aku tidak mau melakukannya sebelum kau menikahiku.” Adriana beranjak dari tempat tidur itu. Memungut seluruh pakaiannya yang berserak di permukaan lantai.


“Sayang, kita sudah sepakat untuk ....” ucapan Damian terhenti saat Adriana pergi begitu saja ke kamar mandi.


“Apa yang terjadi padanya.” Damian merapikan kembali pakaiannya. Berdiri dengan wajah kesal menghadap ke arah jendela. Ponselnya di dalam saku berdering. Pria itu mengangkat ponselnya dengan senyum licik di sudut bibirnya.


“Baiklah aku akan segera kesana,” jawab Damian sebelum mematikan panggilan masuk itu. Pria itu berjalan kearah lemari untuk mengambil jas hitam miliknya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku sebelum berjalan ke arah pintu.


Tetapi tiba-tiba Adriana keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah mengenakan pakaiannya kembali dengan rambut yang sudah tertata rapi, “Mau ke mana?” tanya Adriana sambil mengernyitkan dahinya.


“Sayang, Aku harus pergi.” Damian berjalan mendekati sang kekasih.


“Kemana?” tanya Adriana sekali lagi.


“Aku ingin membantu Jessica menyerang Zeroun hari ini.” Damian menyentuh lembut pipi Adriana.


“Apa kau tidak membohongiku?” Terlihat jelas kalau wanita itu tidak lagi percaya dengan sang kekasih.


“Apa kau tidak percaya lagi padaku?” Damian menatap Adriana dengan seksama.


“Aku percaya padamu,” jawab Adriana terpaksa.


“Aku mencintaimu sayang.” Damian mengecup pucuk kepala Adriana sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Adriana hanya berdiri mematung dengan melipat kedua tangannya. Ada rasa ragu dan kecewa didalam hatinya saat itu.


“Apa kau benar-benar mencintaiku, Damian?”


***


Diluar rumah megah itu. Beberapa orang bersenjata api milik Damian telah berbaris rapi. Jesica telah memberi perintah kepada Damian untuk menyerang markas Zeroun pagi ini. Keadaan di rumah Zeroun telah sunyi. Hal itu akan memudahkan Damian untuk menyerang Bos Mafia itu.


Sementara Jesica. Mereka mempercepat penyerangan gudang senjata hari ini juga. Bos mafia itu tidak ingin Gold Dragon tiba lebih dulu dan memasang perangkap untuk mereka.


“Pangeran, kami sudah memantau markas Gold Dragon. Di rumah itu hanya tersisa Zeroun Zein dan Putri Emelie. Pasukan Gold Dragon semua pergi menuju ke gudang senjata. Saya yakin, tanpa kehadiran Zeroun Zein di tempat itu akan memudahkan Nona Jesica untuk mendapatkan senjata itu.” Ada senyum licik di sudut bibir pria berbadan tgab itu.


“Ide bagus. Tetapi Aku ingin membuat Zeroun bingung lebih dulu saat ini. Kali ini kitabisa melihat sifat asli Zeroun Zein. Dia lebih memilih wanitanya atau pasukan setia yang telah lama ia kenal.” Damian berjalan menuju ke arah mobil. Pria itu sudah tidak sabar untuk melakukan aksinya pagi ini.


***


Zeroun memberi perintah kepada Lana untuk pergi bersama dengan Lukas. Dokter yang menangani Emelie juga sudah pergi. Sesuai dengan perkataan mata-mata Damian. Kini hanya ada Zeroun dan Emelie di rumah itu. Tidak ada rasa curiga sama sekali kalau kini Jesica dan Damian telah mengetahui rencananya.


Zeroun memberikan obat yang telah diberikan dokter wanita itu. Meminta Emelie untuk segera meminum obat itu.


“Sayang, beristirahatlah. Aku harap kau cepat sembuh. Jangan membuatku khawatir hingga separah ini.” Zeroun mengusap lembut pucuk kepala Emelie.


Ponsel Zeroun berdering di dalam saku. Zeroun menatap wajah Emelie sebelum mengangkat panggilan masuk dari Lukas. Ada pirasat buruk pagi itu. Lukas baru saja berangkat, tetapi bawahannya sudah menghubunginya saat ini.


Zeroun berjalan ke arah kolam renang sebelum mengeluarkan kata. Pria itu hanya mendengarkan semua info yang di sampaikan Lukas saat ini. Matanya kini dipenuhi dengan amarah. Satu nama yang sangat ingin ia bunuh saat ini hanya satu. JESICA!


Zeroun berjalan ke arah laci meja. Pria itu memasukkan pistol miliknya lalu berjalan ke arah tempat tidur. Menatap wajah pucat Emelie dengan perasaan kasihan. Wanita itu baru saja memejamkan mata, kini Zeroun harus mengganggu tidur nyamannya.


“Sayang ....” Mengusap lembut pipi Emelie.


Sentuhan Zeroun membuat Emelie membuka matanya lagi. Wanita itu tersenyum indah saat menatap wajah kekasihnya, “Ada apa?” ucap Emelie dengan nada lirih.


“Kita harus segera pergi dari sini.” Zeroun menarik selimut yang menutupi tubuh Emelie. Mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendonganya.


“Kemana?” tanya Emelie sambil mengeryitkan dahi.


“Maafkan Aku Emelie. Tapi, Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri di sini. Kau harus ikut bersamaku sekarang. Kita akan melawan Jesica dan Damian.” Zeroun melangkah dengan langkah kaki yang cepat. Pria itu tidak ingin Damian sampai sebelum ia pergi meninggalkan markas miliknya itu.


Emelie hanya diam saat mendengar penjelasan kekasihnya. Menatap sedih luka yang belum kering di tangan Zeroun. Baru saja tadi malam pria yang ia cintai itu pergi berkelahi. Tapi, pagi ini ia harus pergi berkelahi lagi.


Jantung Emelie tidak lagi normal. Wanita itu sungguh takut jika terjadi sesuatu dengan Zeroun nantinya.


Setelah tiba di halaman depan. Zeroun memasukkan Emelie ke dalam mobil dengan hati-hati. Memandang keadaanskitar dengan cukup waspada sebelum berjalan ke arah kursi kemudi. Dengan cepat, Zeroun melajukan mobilnya. Meninggalkan markasnya itu begitu saja. Ia sangat yakin, kalau Damian tidak akan jadi menyerang markas miliknya saat orang yang ia cari tidak ada di dalamnya.


“Emelie, Aku tidak bisa menyembunyikanmu di manapun saat ini. Seluruh pasukan yang Aku miliki berada di gudang senjata itu. Kita akan ke sana untuk membantu Godl Dragon. Tidak ada waktu lagi. Jika Jesica berhasil mendapatkan senjata itu, maka kita akan kalah.” Zeroun mencoba untuk memberi pengertian kepada kekasihnya.


“Mobil ini anti peluru. Jangan keluar apapun yang terjadi nantinya.” Zeroun terus menambah laju mobilnya.


Emelie mengangguk dengan wajah pucat. Wanita itu kini benar-benar takut. Bahkan napasnya juga terasa sesak. Bibirnya tidak lagi bisa mengelurkan kata apa-apa. Semua isi hatinya seperti tertahan di tenggorokan.