
Emelie tertawa dengan terbahak-bahak, hingga suaranya memenuhi isi ruangan itu. Beranjak dari duduknya, berdiri tegab di hadapan Damian sambil melipat kedua tangannya.
“Apa kau pikir aku wanita yang bodoh. Kau sengaja membuat drama pembunuh bayaran itu bukan? Kau ingin membunuhku malam itu.” Emelie membuang tatapannya.
“Setidaknya malam itu Aku jadi tahu sifat asli anda, Pangeran Damian.” Mata Emelie dipenuhi api amarah yang kini menyala-nyala.
“Aku juga terluka malam itu. Bagaimana mungkin kau bisa menuduhku seperti itu?” ucap Damian tidak terima.
“Apa kau pikir Aku percaya?” Emelie mengeryitkan dahinya.
Damian tertawa kecil, “Aku tidak menyangka, wanita seperti ini yang akan aku nikahi kelak. Sungguh menarik, kau tidak sama dengan Putri Kerajaan pada umumnya. Satu hal yang harus kau ingat, Emelie. Kau masih berstatus sebagai tunanganku. Cepat atau lambat, kau akan menjadi istriku.” Damian mendekatkan wajahnya di depan wajah Emelie.
Terdengar suara pecahan kaca dari arah samping. Emelie dan Damian memandang ke sumber pecahan kaca itu. Terlihat Adriana berdiri di depan pintu. Ada potongan buah dan pecahan piring yang berserak dilantai.
“Maaf,” ucap Adriana sambil menahan tangis.
“Putri Adriana, apa yang kau lakukan?” Emelie berlari ke arah Adriana, untuk mencegah wanita itu agar tidak mengambil pecahan kaca yang berserak.
Dalam waktu yang bersamaan, pelayan muncul dengan wajah ketakutan. Bersujud di depan Emelie dengan wajah penuh penyesalan.
“Maafkan Kamu, Putri,” ucap pelayan itu dengan tangan gemetar.
Emelie tidak mengeluarkan kata lagi. Menarik tangan Adriana agar wanita itu berdiri.
“Adriana, biar pelayan yang melakukan semua itu.”
“Tadinya Adriana ingin memberi buah ini untuk Putri. Tapi, Adriana justru mengganggu Putri Emelie dan Pangeran Damian.” Adriana menatap wajah Pangeran Damian dengan ekpresi tidak terbaca.
“Aku hanya berbicara sedikit dengan Pangeran Damian. Tapi, sudah selesai. Sepertinya Pangeran Damian terlalu sibuk, ia juga tidak punya waktu untuk berlama-lama di sini. Bukankah begitu Pangeran?” Emelie menatap wajah Pangeran Damian dengan mata melebar.
“Ya, Saya permisi dulu Putri.” Damian berlalu pergi meninggalkan Emelie dan Adriana di dalam ruangan itu. Melirik wajah Adriana saat berpapasan langsung dengan wanita itu.
“Adriana, mari saya antar ke kamar. Wajahmu terlihat pucat, apa kau sedang sakit?” Emelie menarik paksa tangan Adriana untuk membawa Adriana istirahat di dalam kamar. Wajahnya terlihat sangat khawatir pagi itu.
Sepertinya Aku harus segera menyingkirkan semua penghalang yang ada di hadapanku. Tidak ada waktu lagi, semua ini harus segera dituntaskan.
Umpat Adriana di dalam hati.
***
Lukas melajukan mobilnya sambil memandang kota yang kini mereka lewati. Tatapannya terhenti pada beberapa mobil hitam yang terlihat mencurigakan. Dengan cepat, Lukas mengikuti laju mobil itu dengan penuh waspada.
Lana memperhatikan wajah Lukas dengan perasaan bingung. Sudah berjam-jam mereka berada di mobil yang sama. Namun suasana di dalam mobil itu terasa sangat mencekam. Lana tidak berani untuk mengeluarkan kata lebih dulu. Tapi, Lukas. Pria itu juga tidak tertarik untuk mengeluarkan kata.
“Bos, kita mau kemana? Kota ini sudah kita lewati beberapa kali.” Lana mencoba untuk mengeluarkan kata dengan penuh hati-hati.
Lukas tidak menjawab pertanyaan Lana. Ia memberhentikan mobilnya di tempat yang tidak jauh dari posisi dua mobil itu berhenti. Menatap dengan seksama ke arah beberapa pria berjaket hitam yang baru saja keluar dari dalam mobil.
“Bos ....” ucap Lana untuk mengalihkan pandangan Lukas.
“Tempat apa itu?” tanya Lukas masih dengan tatapan serius ke arah gedung yang ada di hadapannya.
“Gedung ini terlihat tidak terawat dan jauh dari kota. Sudah dipastikan, gedung ini tidak terpakai lagi,” jawab Lana dengan wajah kesal.
“Ternyata ada disini markas mereka,” sambung Lukas dengan senyum puas.
“Markas? apa ini markas musuh yang tadi ingin kita serang?” Lana juga memperhatikan gedung kumuh itu.
“Aku harus menyelidikinya lebih lanjut.”
“Bos, saya akan menyelidikinya. Beritahu saya, apa yang harus saya cari tahu saat saya berhasil masuk ke dalam gedung itu.” Lana menatap wajah Lukas dengan penuh kayakinan.
“Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?” Lukas terlihat menakut-nakuti Lana agar wanita itu tidak lagi memiliki niat untuk masuk ke dalam gedung itu sendirian.
“Bos, ini pekerjaan pertama saya. Setidaknya saya memiliki satu kesan yang bagus untuk Gold Dragon.” Lana memasang wajah manis untuk meyakinkan Lukas saat itu.
“Begini saja Bos. Jika dalam waktu 1 jam saya belum keluar dari dalam gedung itu. Anda masuk ke dalam untuk menolong saya, bagaimana?” Lana terlihat sangat semangat saat membujuk Lukas.
“Setengah jam, Jika setengah jam kau tidak bisa keluar. Aku akan masuk ke dalam.”
“Ok, deal.” Lana tertawa menyeringai. Membuka jaket hitam yang saat itu ia kenakan. Hingga hanya terlihat pakaian bertali yang begitu ketat.
“Apa yang kau lakukan?” Mata Lukas terbelalak kaget.
“Bos, saya akan lebih mudah masuk ke dalam gedung itu, dengan pakaian seperti ini. Tenang saja.” Lana membuka pintu mobil, berjalan dengan tenang ke arah gedung itu. Mengenakan celana pendek dan baju ketat bertali membuat penampilan Lana menggoda setiap laki-laki yang memandang tubuhnya.
“Apa wanita itu benar-benar bisa keluar dengan cepat,” umpat Lukas dengan wajah kesal.
.
.
.
Sudah hampir setengah jam Lukas menunggu didalam mobil itu dengan begitu gelisah. Mengetuk-ngetuk stir mobil dengan tatapan serius ke arah pintu masuk gedung itu.
“Apa wanita itu masih hidup!” Lukas membuka pintu mobil. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Lana keluar dari gedung itu dengan kondisi selamat. Tidak ada luka di sekujur tubuhnya. Wanita itu masih dalam keadaan sama saat ia masuk ke dalam.
Satu senyum manis mengembang di bibir Lukas. Lana berjalan dengan langkah cepat menuju ke mobil Lukas. Membuka pintu mobil, lalu duduk dengan wajah berseri-seri.
“Apa kau berhasil?” tanya Lukas dengan wajah tenang.
“Bos, gedung itu memang markas musuh yang kita cari. Ada banyak benda-benda terlarang di dalam. Senjata api dan bom juga mereka rakit di dalam gedung ini. Sudah bisa dipastikan, gedung ini markas utama mereka yang ada dikota ini.” Lana terlihat sangat bersemangat menceritakan semua info yang baru saja ia ketahui.
“Kerja yang bagus,” jawab Lukas sebelum melajukan mobilnya meninggalkan gedung itu.
“Hanya itu?” tanya Lana dengan wajah kurang suka.
“Lalu, apa yang kau harapkan? apa kau meminta imbalan atas hasil kerjamu saat ini?”
“Tidak, tidak perlu.” Lana memandang keluar jendela sambil mencengram kuat jaket hitam miliknya.
“Terima kasih,” sambung Lukas.
Lana menatap wajah Lukas dengan senyum bahagia.
“Bos, apa anda sadar mengatakan kata-kata itu?”
Lukas menatap wajah Lana dengan tatapan membunuh. Membuat Lana mengunci mulutnya dan lebih memilih untuk tidak mengganggu Lukas lagi.
*Kenapa Aku bisa terjebak dengan pria menakutkan seperti ini.
Umpat Lana di dalam hati.
**Like,Komen,Vote. Kalau mau update banyak terus....😊***