Moving On

Moving On
S2 Bab 35



Beberapa saat kemudian.


Lana dan Lukas tiba di Markas Gold Dragon. Setelah tiba di kota itu, Lukas langsung mencari markas Gold Dragon. Tapi, pria itu tidak ingin muncul dan meminta bantuan Gold Dragon.


Lukas ingin menyelamatkan kekasihnya sendirian, walau akan mengambil resiko. Ia tidak ingin membuang-buang tenaga pasukan miliknya hanya untuk menghadapi Morgan dan pasukannya yang menurutnya tidak ada apa-apanya.


Beberapa pasukan Gold Dragon yang melihat kemunculan Lana dan Lukas terlihat menunduk hormat. Mereka juga membawa Lana dan Lukas menuju ke kamar yang seharusnya mereka tempati.


Di dalam rumah itu ada Agen Mia yang sudah siap untuk beristirahat. Wanita tangguh itu menaikan satu alisnya saat melihat kemunculan Lana dan Lukas. Tidak ingin terlalu lama berdiri di situ, Agen Mia melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar.


Lana menatap wajah Agen Mia dengan wajah biasa saja. Sudah cukup baginya memasang wajah tidak suka kepada Agen Mia selama ini. Mulai malam ini, Lana bertekad untuk menjalin persahabatan dengan Agen Mia. Ia tidak lagi ingin berdebat dengan wanita itu.


“Istrahatlah. Besok akan menjadi hari yang melelahkan bagi kita semua,” ucap Lukas memecahkan lamunan Lana. Pria itu menatap wajah Lana dengan seksama.


Lana mengangguk pelan, “Aku tidur duluan. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku malam ini. Aku sangat bahagia, bisa berada di tengah-tengah Gold Dragon dan berada di dekatmu.”


Lukas memegang pipi Lana dengan lembut, “Aku akan selalu menolongmu.”


Lana mengukir senyuman sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu berjalan cepat menuju ke kamar yang akan menjadi tempatnya beristirahat. Lukas memperhatikan punggung Lana hingga wanita itu hilang di balik pintu.


“Mungkin besok waktu yang tepat untuk memberi tahu kabar kepergian Alika kepadanya,” gumam Lukas di dalam hati. Pria itu juga pergi meninggalkan ruangan itu untuk menuju ke kamar tidurnya.


***


Pagi yang cerah dan indah. Awan putih terlihat menghiasi langit biru. Semua pasukan Gold Dragon telah berkumpul dan memulai latihan. Ada yang latihan bela diri, ada juga yang latihan menembak.


Termasuk Lana dan Mia. Dua wanita tangguh itu terlihat berlatih tembak dan saling berdampingan. Lukas yang baru saja muncul memperhatikan Lana dan Mia dengan seksama. Pria itu menatap tajam ke arah pasukan Gold Dragon yang berlatih sebelum berjalan mendekati Lana dan Mia.


“Lana, ada yang ingin aku katakan padamu.” Lukas sudah memutuskan untuk mengatakan kepergian Alika pagi ini. Ia hanya perlu mencari tempat yang pas saat ini sebelum menceritakan semuanya.


Lana menghentikan latihannya. Wanita itu mengukir senyuman kepada Mia lalu berjalan mendekati Lukas. Mia menatap wajah Lana dengan tatapan bingung. Selama ini ia yang selalu ramah dandi balas dengan wajah tidak suka. Tapi pagi ini, di saat ia bersifat sebaliknya, justru Lana mengukir senyuman untuknya.


“Ada apa?”


“Kita harus bicara di suatu tempat.” Lukas berjalan lebih dulu untuk menuju ke tempat yang ingin ia tuju. Lana mengikutinya dari belakang.


Lana berjalan dengan tenang menelusuri jalan setapak. Wanita itu memperhatikan dinding yang kini mengapitnya. Sesekali Lana memegang dinding tersebut untuk merasakan bebatuan yang terukir dengan indah.


Lukas berjalan di hadapan Lana. Pria it uterus saja membawa Lana pergi hingga berada jauh dari markas. Tidak tahu, mau kemana ia akan membawa Lana nantinya.


“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Lana untuk yang kesekian kalinya. Sejak pertama kali melangkahkan kaki, pertanyaan itu sudah muncul namun tidak juga mendapat jawaban dari Lukas.


Jalanan yang di tuju Lukas adalah jalanan mendaki. Pria tu sengaja membawa Lana menuju ke sebuah tembok yang menjulang tinggi ke atas. Ada pemandangan kota yangcukup indah di sana. Lukas ingin menunjukkan pemandangan indah itu kepada kekasihny.


“Tempat apa ini?” tanya Lana pada Lukas saat pria itu telah menghentikan langkah kakinya. Lana berdiri di samping Lukas sambil menatap keindahan kota yang tersaji di depan mata.


“Lana, pesawar kami benar mengalami kecelakaan. Aku selamat karena menyadari kesalahn itu lebih dulu.” Lukas menatap ke arah kota. Ia belum sanggup untuk menceritakan kabar duka itu sambil menatap wajah kekasihnya.


“Hanya aku yang selamat,” sambung Lukas lagi.


Lana masih mengukir senyuman, “Memang hanya kau yang aku tunggu untuk menjemputku. Memang kau pikir siapa lagi? Kau tidak akan memiliki banyak waktu untuk menyelamati yang lainnya bukan?” ucap Lana yang seolah ia mengerti posisi Lukas saat pesawat itu belum meledak.


“Hanya aku, Lana.” Kali ini Lukas menatap wajah Lana dengan seksama, “Tidak ada siapapun yang selamat selain diriku.” Lukas kembali mempertegas kalimatnya.


Lana menatap wajah Lukas dengan wajah bingung. Tiba-tiba saja ia kembali ingat dengan Alika, “Bukankah Kak Alika ada di Dubai bersama Bos Zeroun?” ucap Lana dengan suara mulai serak dan mata berkaca-kaca. Sejak awal, ia cukup yakin kalau kakak tercintanya baik-baik saja.


“Alika ikut dalam pesawat penjemputan,’’ jawab Lukas dengan suara yang pelan.


Lana mematung dengan bibir gemetar. Suaranya seperti hilang hingga ia tidak mampun berkata lagi. Kakinya juga mulai terasa lemah dan tidak sanggup lagi menopang tubuhnya yang ringan. Kabar buruk ini sama seperti sebuah belati yang menusuk ke dalam hatinya. Membuat rasa yang begitu perih hingga sulit untuk di tahankan.


“Kak Alika,” ucap Lana lirih sebelum tubuhnya hampir terjatuh ke permukaan lantai.


Dengan sigap Lukas menangkap tubuh Lana dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya, “Maafkan aku,” ucap Lukas penuh rasa bersalah.


“Aku tidak ingin di tinggal pergi.” Tangis Lana pecah. Tetes demi tetes air mata mulai membasahi pipinya, “Aku masih membutuhkannya.”


Lukas mempererat pelukannya. Ia cukup tahu, bagaimana perasaan Lana saat itu. Sebisa mungkin Lukas menenangkan kekasihnya.


“Kak Alika,” ucap Lana dengan suara yang serak.


Di tempat itu hanya terdengar suara isak tangis Lana. Lukas sengaja membawa Lana ketempat sunyi itu agarbisa dengan bebas menenangkan wanitanya. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihat kesedihan Lana pagi itu. Lukas ingin, Lana selalu di pandang sebagai sosok yang kuat dan tegar. Bukan wanita lemah yang mudah menangis.


“Kau boleh menangis sepuasnya. Setelah ini berjanjilah padaku untuk bangkit dan tersenyum kembali,” ucap Lukas sambil mengusap lembut punggung Lana.


Lana memeluk Lukas dengan begitu erat. Tetes air matanya berhasil membasahi baju Lukas pagi itu. Kedua tangannya mencengkram kuat baju yang di kenakan kekasihnya.


Dengan sabar Lukas menunggu hingga tangisan Lana reda.Tapi, belum lagi wanita itu kembali tenang,sudah terdengar suara tembakan dari arah markas milik mereka. Lukas menatap dengan tajam ke sumber suara. Jika di hitung dari waktu latihan, seharusnya sudah tidak ada lagi yang bermain-main dengan senjata api itu.


Lana masih menenggelamkan kepalanya di dalam dekapan Lukas. Wanita itu masih melampiaskan kesedihannya hingga hatinya kembali tenang.


“Lana, maafkan aku. Tapi kita harus kembali ke markas. Sepertinya sesuatu telah terjadi,” ucap Lukas sambil memegang kedua pipi Lana.


Lana mengangguk pelan dengan wajah yang masih sedih, “Aku akan berusahan kuat walaupun kini Kak Alika telah tiada.”


Lukas menghapus sisa air mata yang membasah wajah Lana. Pria itu mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana, “Jangan bersedih lagi. Aku ada di sini untuk menjagamu.”


DUARR DUARR


Suara tembakan itu semakin tiada henti. Lana dan Lukas cukup yakin, kalau kini markas mereka telah di serang. Sambil berpegangan tangan, Lukas dan Lana berlari kencang menuju ke arah markas.


Kalau gak sibuk pasti crazy up kok.