Moving On

Moving On
Pertarungan Singkat



Lana menyandarkan kepalanya di pundak Lukas. Wanita itu memejamkan matanya yang terasa sangat berat. Sudah berjam-jam mereka berada di dalam kereta api. Kereta api itu akan membawa mereka ke Italia. Perjalanan dari Monako ke Italia memakan waktu kurang lebih 12 jam. Wajah cantik Lana terlihat sangat lelah. Ada beberapa debu yang melekat di wajahnya. Bahkan baju yang ia kenakan sejak semalam belum terganti. Baju itu basah dan kering di tubuhnya. Lana tidak memiliki waktu yang tepat untuk mengganti pakaiannya.


Lukas menatap wajah Lana dengan tatapan cukup serius. Sesekali ia menghapus debu yang melekat di wajah kekasihnya. Walau sudah berhasil mengungkapkan perasaan masing-masing. Tapi, tetap saja Lukas masih menyimpan tanya atas keberadaan musuhnya yang bernama Morgan. Ia tidak pernah menyangka kalau Lana akan kembali mengingatkannya dengan musuh yang sudah lama ingin ia lupakan.


Lana mengedipkan matanya saat kereta api berhenti di salah satu stasiun. Kedua bola matanya memandang ke arah luar jendela. Langit sudah berganti gelap. Tidak lama lagi mereka akan segera tiba di lokasi tujuan pelarian.


“Kau sudah bangun?” tanya Lukas dengan suara khasnya.


Lana mengangguk pelan sambil mengukir senyuman. Menatap wajah Lukas dengan seksama, “Apa aku boleh bertanya?”


Lukas menaikan satu alisnya, “Katakan.”


“Apa semua itu mimpi?” Wajah Lana terlihat serius. Wanita itu masih tidak percaya kalau Lukas telah membalas cintanya dan kini menjadi pacarnya.


“Tentang,” jawab Lukas singkat.


“Tentang-” ucapan Lana tertahan saat Lukas menundukkan kepalanya. Di luar kaca, ada beberapa bawahan Damian yang sepertinya ingin melacak keberadaan mereka saat ini.


“Ada apa?” bisik Lana bingung.


“Apa kau masih memiliki pistol?” tanya Lukas sambil memandang wajah Lana. Kini tatapan mereka sangat dekat dengan posisi membungkuk.


Lana mengangguk pelan sebelum mengeluarkan pistol yang terselip di paha kirinya. Memberikan pistol itu kepada Lukas masih dengan wajah bingung.


“Tetap di sini,” perintah Lukas sebelum beranjak dari kursinya.


“Tidak,” teriak Lana tidak terima, “Aku ikut.”


Lukas menghela napas sebelum menyetujui permintaan Lana. Kini sepasang kekasih itu berjalan menuju ke gerbong paling belakang untuk bersembunyi. Akan sangat sulit untuk bagi Lukas menyerang jika mereka berada di tengah-tengah penumpang yang begitu padat.


“Lukas, bukankah kau memiliki pistol. Kenapa meminjam milikku!” protes Lana di sela-sela langkah kakinya.


“Pelurunya habis,” jawab Lukas tanpa memandang.


“Aku sungguh menyesal karena sudah terlihat sok hebat tadi. Padahal kau hanya memiliki satu peluru,” ledek Lana dengan tawa renyahnya. Lukas tidak lagi memperdulikan ledekan Lana. Kedua telingannya mulai terbiasa saat mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari bibir Lana.


“Berhenti!” teriak seseorang dari belakang.


Lana dan Lukas menghentikan langkah kakinya, “Apa mereka musuh?” bisik Lana pelan.


“Ada berapa pelurunya?” Lukas memandang pistol yang ada di genggamannya.


“Kita harus menghemat tiga peluru ini,” jawab Lukas dengan satu alis terangkat ke atas.


“Tapi, aku punya ini.” Lana mengeluarkan sebuah belati. Ia sangat yakin kalau Lukas pasti akan sangat suka dengan benda yang saat ini ia miliki. Belati memang senjata favorit kekasihnya.


Lukas mengukir senyuman kecil sebelum mengambil belati yang ada di tangan Lana. Secara bersamaan mereka memutar tubuh untuk memandang pria yang berteriak sebelumnya.


“Sudah ku duga. Kalian bersembunyi di kereta api ini.” Pria berbadan tegab dengan rambut terkucir satu kini berdiri di hadapan Lana dan Lukas. Di belakangnya ada beberapa pria berbadan tegab yang berjumlah sekitar enam orang. Masing-masing memegang pistol dan siap untuk melepaskan peluru yang ada ke tubuh Lana dan Lukas.


Lukas menatap satu persatu wajah lawannya. Kereta api itu sudah berjalan. Gerbong yang kini mereka tempati juga terlihat sangat sunyi. Hanya ada beberapa kotak barang yang tersusun rapi di dalamnya.


“Tangkap mereka hidup-hidup!” teriak pemimpin geng itu kepada anak buahnya.


Tembakan mulai di lepas satu persatu. Lukas mendorong tubuh Lana agar wanita itu menjauh. Dengan gerakan cepat dan begitu ahli Lukas menyerang dengan tangan kosong. Membuat pria yang menjadi pemimpin penyerangan itu mundur beberapa langkah. Tidak menunggu lama lagi, Lukas merebut pistol yang terselip di antara tali pinggang. Melempar pistol itu ke arah Lana yang sudah berdiri tegab.


Pistol itu mendarat dengan sempurna di tangan Lana. Dengan tatapan mata yang cukup dingin, Lana menembak satu persatu musuhnya yang hanya berjumlah hitungan jari. Satu persatu musuhnya terjatuh. Walau hanya satu tembakan tapi Lana berhasil membidik dahi lawannya. Latihan yang di ajarkan Lukas selama ini cukup membuatnya menjadi penembak handal.


DUARR DUARR


Tepat di saat kereta api itu melaju dengan kecepatan tinggi, pertarungan itu terjadi. Lana melempar pistol yang sudah tidak memiliki peluru. Masih tersisa dua pria lagi yang masih bertahan dan berhasil menghindari tembakannya. Dengan gerakan cepat Lana menyerang dengan tangan kosong. Walau selama ini selalu saja kalah, tapi malam itu Lana tidak ingin mengalami nasip yang sama. Sekilas ia melirik Lukas yang terlihat sibuk memukul dan menghindar.


“Rasakan ini!” Lana memutar tubuhnya dengan satu kaki terangkat. Mengincar bagian kepala lawannya sebelum menyerang bagian perut dengan tangan. Kali ini Lana cukup beruntung. Entah lawannya yang tidak seimbang entah karena ilmu bela dirinya sudah naik tingkat. Satu hal yang pasti, Lana memenangkan pertarungan melawan enam pria berbadan kekar itu. Ada wajah sombong di raut wajahnya. Bahkan senyumannya terlihat jelas kalau kini ia tidak sabar untuk pamer kepada Lukas.


Berbeda dengan Lukas yang cukup menguras tenaga saat melawan musuhnya. Pria yang kini menjadi lawan Lukas lagi-lagi pria yang memiliki kemampuan hebat. Lana berlari untuk menolong Lukas yang terlihat kesulitan. Merebut pistol yang masih ada di genggaman musuhnya yang tidak lagi bernyawa.


Dengan hati-hati, Lana menembak kaki pria berbadan besar yang kini di hadapi Lukas. Luka itu membuat lawannya lengah hingga Lukas berhasil menusuknya berulang kali dengan belati. Darah berkucur deras. Lukas memukul lagi tubuh lawannya sebelum melemparnya keluar dari kereta api. Napasnya terputus-putus dengan beberapa darah di bagian wajahnya.


Lukas memutar tubuhnya untuk memandang wajah wanita yang ia cintai, “Apa kau baik-baik saja?”


Lana berlari untuk mendekati tubuh Lukas, “Kau pria yang cukup egois. Selalu saja mendorongku. Tidak selamanya kita bisa menghindari peluru seperti tadi. Bagaimana kalau peluru itu menancap di salah satu bagian tubuhmu.”


“Aku tidak ingin kau terluka. Cukup aku yang terluka,” jawab Lukas dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jemarinya mulai menyentuh pipi Lana sebelum mengecup bibir merah Lana yang terlihat kering, “Jika kau terluka itu akan terasa dua kali lebih perih dari luka yang aku alami.”


Lana meneteskan air mata haru saat mendengar kalimat yang diucapkan Lukas. Kedua bola matanya melihat beberapa darah yang ada di wajah kekasihnya. Setiap kali situasi mendesak, Lukas memang selalu saja mengkhawatirkan tentang dirinya.


“Apa kau mengerti apa yang aku rasakan?” Lukas mengatur napasnya agar normal kembali.


Lana mengangguk pelan sebelum melekatkan hidungnya pada hidung Lukas. Napas mereka saling bertukar dan terasa begitu hangat, “Aku akan mengobati lukamu,” ucap Lana pelan. Wanita itu memejamkan matanya beberapa detik sebelum menjauhkan wajahnya dari Lukas.