
Lana dan Lukas berlari dengan arah yang berbeda dari Gold Dragon. Mereka berlari ke arah jalan raya yang terlihat ramai akan pengunjung. Dari belakang, Agen Mia masih setia mengikuti langkah kaki Lana dan Lukas. Polisi tangguh itu seperti tidak memiliki kata lelah dalam melaksanakan misinya.
Lana merasakan lelah yang sangat luar biasa. Sudah berpuluh-puluh kilometer ia berlari. Bahkan bisa dibilang, ini adalah lari terjauh yang pernah terjadi seumur hidupnya. Wanita itu menghentikan langkah kakinya sambil membungkuk. Menatap ke bawah saat tetes keringat mengalir deras membasahi wajahnya.
“Lana, apa yang kau lakukan?” Lukas melihat kehadiran Agen Mia yang muncul dengan senjata apinya.
Dengan cepat, tangan kanan Zeroun itu mengeluarkan senjata api untuk melindungi rekannya. Lana memandang ke arah Agen Mia. Wanita itu juga mengeluarkan senjata apinya untuk membantu Lukas.
“Aku tidak sanggup berlari lagi,” ucap Lana dengan napas terputus-putus.
“Jika kau ingin berlari, berlari saja sendiri. Aku akan menghalangi polisi wanita ini di sini.” Lana terus saja fokus pada tembakan yang ia arahkan ke arah Agen Mia.
“Apa Kau pikir Aku akan meninggalkanmu sendiri di sini dan berlari untuk menyelamatkan diri sendiri?” Lukas terlihat tidak suka dengan tawaran yang baru saja diucapkan oleh Lana.
Lana menatap wajah Lukas dengan seksama. Ada rasa bahagia saat mendengar jawaban Lukas saat itu.
“Apa kau bisa berenang?” tanya Lukas tanpa memandang.
“Ya, Aku bisa berenang,” jawab Lana dengan nada tertahan.
“Untuk apa kau menanyakan hal konyol seperti itu?” Mengeryitkan dahi.
Lukas memandang ke arah jembatan yang posisinya tidak jauh dari mereka berdiri. Dengan cepat, pria itu menarik tangan Lana untuk berlari ke arah jembatan itu. Mereka berdiri di tepi jembatan sambil memandang arus sungai yang tidak terlalu deras.
Lana merasa sangat takut saat melihat sungai yang ada di hadapannya. Bagaimana tidak, selain sungai itu terlihat begitu lebar, jarak jembatan dan sungai itu bisa dibilang cukup jauh. Walaupun pandai berenang, ada rasa ragu di dalam diri Lana untuk bisa keluar dari sungai itu hidup-hidup.
“Apa kau siap?” ucap Lukas sambil mencengkram kuat tangan Lana.
“Tunggu, tunggu. Kau ingin kita melompat ke dalam sungai ini? sekarang?” Lana masih tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang kini berdiri disampingnya itu.
“Ya, Kau tidak sanggup berlari. Ini satu-satunya cara agar kita bisa menghindari polisi wanita itu.”
Tanpa menunggu persetujuan Lana lagi, Lukas melompat sambil membawa tubuh Lana bersama dengannya. Lukas dan Lana masuk kedalam sungai secara bersamaan.
Agen Mia berhenti di tepi jembatan dengan wajah kesal. Tidak pernah ia gagal dalam misi pengejaran penjahat sebelumnya. Tapi, hari ini saat menyerang Gold Dragon dan Heels Devils, polisi wanita itu harus merasa kecewa.
“Baiklah, kali ini kalian bisa lolos. Tapi secepatnya kalian akan berada di balik jeruji besi.” Agen Mia memasukkan pistol miliknya sebelum pergi meninggalkan lokasi itu.
Lana dan Lukas muncul secara bersama-sama di permukaan air yang ada di bawah jembatan. Mereka saling memandang satu sama lain. Masih tersisa raut wajah kesal di wajah Lana. Wanita itu menghempaskan genggaman Lukas sebelum berenang ke tepian.
Lukas menggeleng kepalanya sebelum mengikuti Lana dari belakang.
“Apa Kau masih marah padaku?” ucap Lukas saat mereka berdua sudah ada di tepian sungai.
“Apa Aku boleh marah padamu?” jawab Lana tanpa memandang. Tidak peduli dimana ia kini berada. Lana membaringkan tubuhnya di atas tanah untuk melepas rasa lelah yang kini ia rasakan. Memandang langit biru dan gumpalan awan putih yang terbentang di angkasa.
“Kenapa Kau selalu saja menyebalkan.” Lukas duduk di samping Lana sambil memandang ke arah sungai.
“Hidup di dalam lingkungan mafia memang keras seperti ini. Tidak peduli kalau Kau pria atau wanita. Kau akan mendapat perlakuan yang sama. Jika kau tidak bisa bertahan hidup, maka kau akan mati,” sambung Lukas dengan senyuman tipis.
“Lukas, Aku punya ide untuk menghadapi polisi wanita itu.” Lana duduk sambil tersenyum memandang Lukas.
“Apa?” Wajah Lukas berubah serius.
Lana menceritakan semua rencana yang terlintas di dalam pikirannya. Wajahnya tersenyum penuh kepuasan karena bisa membalas prilaku Agen wanita yang membuatnya lelah itu.
“Ide yang bagus,” jawab Lukas.
“Aku akan memberi tahu Bos Zeroun tentang ide ini. Semoga saja ia setuju.” Lukas beranjak dari duduknya. Menatap wajah Lana dengan seksama.
“Kita harus kembali ke markas.”
Lana mengangguk cepat sebelum beranjak dari duduknya. Wanita itu tersenyum memandang Lukas. Tatapan Lana yang cukup mencurigakan membuat Lukas sedikit berpikir keras.
“Apa lagi sekarang?” Lukas mengeryitkan dahi.
Lana mengelurkan sebuah pistol miliknya. Wanita itu menyodorkan pistol itu di hadapan Lukas.
“Aku ingin lihat, bagaimana kau menembak burung dengan menggunakan senjata kecil milikku ini.” Ada senyum kemenangan di wajah Lana karena bisa membalaskan perbuatan Lukas tadi pagi.
“Kau meragukan kemampuanku? He?” Lukas menaikan satu alisnya.
“Tidak, Aku tahu kau pria yang sangat hebat. Apa kau bisa memberi contoh yang baik padaku?” Lana melipat kedua tangannya saat pistol itu diterima Lukas.
Lukas menarik napas secara kasar. Pria itu mencari-cari target di atas. Satu burung yang sedang terbang menuju pohon menjadi sasaran Lukas saat itu. Dengan sigap pria itu menarik pelatuknya.
DUARRR!
Tembakan itu tepat sasaran dan berhasil membuat Lana diam seribu bahasa.
“Kau? bagaimana Kau bisa melakukannya?” ucap Lana tidak percaya.
Lukas tersenyum kecil, melekatkan wajahnya di telinga Lana, “Sebelum memberi perintah Aku sudah pasti bisa melakukannya. Tadinya ku pikir Kau bisa mengalahkan kemampuanku. Tapi, tidak di sangka. Kau ternyata hanya wanita lemah yang mudah marah dan menyerah.”
“Kau!” Lana memandang wajah Lukas hingga wajah mereka saling berdekatan satu sama lain. Bahkan hangatnya napas mereka begitu terasa. Jantung Lana berdebar dengan begitu cepat saat kini ia berada sangat dekat dengan pria berbahaya itu.
Lukas menatap kedua bola mata Lana dengan seksama. Ini pertama kalinya ia bisa sangat dekat dengan wanita. Bibir Lana yang merah benar-benar sangat menggodanya waktu itu.
Tapi, Lukas tidak ingin membuat hal yang ceroboh. Dengan cepat pria itu menjahui wajah Lana dan memutar arah tubuhnya.
“Kita harus segera meninggalkan tempat ini,” ucap Lukas sambil berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Lana tersadar dari lamunannya. Wanita itu mengikuti langkah Lukas dari belakang tanpa bisa mengeluarkan kata lagi.
Kenapa ada yang aneh saat berada sangat dekat seperti tadi.
Lana terus saja berusaha menghilangkan ingatan itu. Wanita itu tidak ingin larut dalam perasaannya saat ini.