Moving On

Moving On
Pernikahan



Tujuh hari kemudian.


Hari ini adalah hari pernikahan Emelie dan Damian. Pesta itu diadakan di gedung istana di Inggris. Zeroun telah kembali ke Hongkong dengan selamat. Namun, Emelie tidak mendapatkan kabar terbaru dari pria yang berstatus tunangannya itu.


Damian mengunci Hongkong. Tidak ada satu orangpun yang bisa pergi meninggalkan Hongkong selama tujuh hari terakhir ini. Ia tidak ingin Zeroun datang untuk menggagalkan pernikahannya.


Emelie duduk di tepi ranjang dengan gaun pengantin yang sangat indah. Wajahnya terlihat sangat cantik, walaupun masih membekas kesedihan di sudut bibirnya. Hatinya lagi–lagi di selimuti rasa bersalah karena harus meninggalkan Zeroun.


Cinta pertama sekaligus pria pertama yang selalu menolongnya. Canda tawanya selama bersama Zeroun membuat satu senyuman indah dibibirnya. Putri Kerajaan itu memandang cincin pertunangan yang diberikan Zeroun kepadanya. Mengecup cincin itu dengan penuh cinta.


“Apa kau benar-benar tidak akan menjemputku hari ini?” tanya Emelie sambil terus memandang cincin pertunangan itu.


Emelie memandang pintu yang terbuka. Wanita berambut panjang masuk dengan pakaian pelayan. Setelah masuk ke dalam, wanita itu mengunci pintu kamar. Membuka baju pelayan hingga penampilannya terganti dengan celana hitam dan baju hitam yang terlihat berbahaya. Wanita itu membawa satu tumpukan baju dan membawanya mendekati Emelie. Melemparkan setelan hitam disamping tempat tidur Emelie.


“Gunakan pakaian itu,” ucapnya dengan ekspresi dingin. Ekspresi wanita itu mengingatkan Emelie kepada Zeroun. Mereka memiliki ekspresi wajah yang hampir sama. Dingin dan sangat misterius.


Emelie menggenggam baju itu dengan penuh tanya. Ada rasa bahagia saat kini ia memiliki kesempatan untuk kabur. Namun, ada keraguan saat wanita yang berdiri di hadapannya adalah orang asing. Bukan hanya asing, tapi wanita itu terlihat seperti penjahat.


Ada dua pistol terselip rapi di pahanya. Belati kecil terselip di dalam sepatu high heels hitamnya yang tinggi. Jaket hitam dan celana pendek. Bukan hanya itu, kulitnya yang putih dan mulus terlihat kuat. Emelie mematung tanpa melakukan apa–apa. Matanya tidak berkedip memperhatikan wanita itu. Pemandangan itu seperti sebuah mimpi yang mengejutkan baginya.


“Cepat!’’ teriak wanita itu terlihat mulai kesal.


Wanita itu mengambil senjata api laras panjang yang ada di bawah tempat tidur Emelie. Mata Emelie terbelalak kaget. Ia tidak pernah tahu, kalau di kamar tidurnya ada senjata api seperti itu.


Wanita itu berjalan ke arah jendela, membidik sasarannya dengan begitu ahli. Tembakan demi tembakan ia keluarkan. Membuat seluru pengawal berkumpul di area yang ia tembaki. Ada satu senyum kecil terukir di bibirnya. Sepertinya itu bagian dari salah satu rencananya pagi ini.


“Waktu kita tersisa lima belas menit lagi,” ucap wanita itu untuk memperingati Emelie yang tidak kunjung mengganti pakaiannya. Wanita tangguh itu tidak ingin memandang wajah Emelie. Ia terlihat asyik dengan tembakan demi tembakan yang kini ia kerjakan.


Emelie tersadar. Mengambil baju itu berlari ke ruang ganti. Dalam waktu yang singkat Emelie keluar dengan memakai baju yang sudah di siapkan. Dengan sigap wanita itu menarik tangan Emelie untuk meninggalkan kamar. Mengganti senjatanya dengan dua pistol.


Di depan kamar, terlihat beberapa pengawal yang ingin menghalangi kaburnya Emelie. Pengawal-pengawal itu mengeluarkan senjata api untuk melumpuhkan orang yang membawa kabur Emelie.


Tapi, wanita itu terlihat tidak mau kalah. Satu senyuman manis ia ukir sebelum tubuhnya berputar dan menembak ke segala arah.


DUARR!


Tembakan demi tembakan di layangkan demi melindungi Emelie.


“Ayo berlarilah dengan sedikit cepat,” perintah wanita itu sambil terus menembak setiap pengawal yang datang menghalangi.


Emelie masih tetap memandang wajah itu dengan penuh rasa penasaran.


“Siapa anda?” tanya Emelie saat melihat situasi sudah mulai aman.


Tetapi, wanita itu tidak bergeming. Tembakan demi tembakan di layangkan tanpa peduli dengan pertanyaan Emelie.


“Serena!” celetuk Emelie penuh hati–hati. Entah kenapa, wanita itu membuat Emelie kembali ingat dengan cerita wanita tangguh yang pernah di ceritakan oleh Zeroun. Sosok sahabat yang sangat ia sayangi dan akan selalu ia lindungi dengan seluruh nyawanya.


Wanita itu menghentikan aksinya. Memandang wajah Emelie dengan seksama.


“Apa Zeroun telah menceritakan sesuatu yang buruk tentang Saya?” Serena menatap wajah Emelie dengan seksama.


Serena mengangguk setuju. Menarik tangan Emelie agar berlari kencang untuk meninggalkan istana megah itu.


“Zeroun pernah bilang, di dunia ini hanya ada satu wanita tangguh yang tidak bisa ia kalahkan. Wanita itu bernama Serena.” Emelie melanjutkan ceritanya agar Serena tidak salah paham terhadap Zeroun.


Mendengar cerita Emelie, Serena tersenyum kecil.


“Ayo kita pergi.” Emelie dan Serena berlari melewati rute yang sudah di siapkan oleh Serena. Beberapa hari ini, Serena memang sudah ada di dalam istana itu untuk mempersiapkan semuanya. Ia sudah menyusun rencana pelarian Emelie dengan begitu rapi.


Membuat Damian tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghalangi rencananya. Bagi Serena, membawa Emelie kabur dari dalam istana ini merupakan pekerjaan yang sangat mudah. Tapi, semua itu memang harus mereka lakukan hari ini. Mereka bekerja sama untuk membuat Damian hancur di hari pernikahan yang sudah ia persiapkan.


Di pinggir jalan sudah ada dua mobil terparkir menunggu dua wanita itu. Serena melepas genggaman tangannya saat situasi sudah mulai aman. Berlari cepat ke arah pria yang sudah beberapa hari ini merindukannya.


“Sayang kenapa kau lama sekali.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Mengecup bibir istrinya tanpa peduli dengan situasi yang ada.


“Maafkan Aku, ada sedikit kendala tadi. Tapi aku baik-baik saja.” Serena mengukir senyum manis.


Emelie sangat kaget saat melihat perubahan sifat Serena. Tadi Serena terlihat sangat berbahaya. Namun, dalam sekejap wanita tangguh itu berubah menjadi wanita yang manja dan manis. Bahkan mengalahkan sifat lembut yang ia memiliki. Biao menunduk saat melihat drama romantis itu. Sedangkan Kenzo berdiri di depan pintu mobil dengan satu senyuman. Memandang wajah Emelie dengan seksama.


“Putri Emelie,” ucap Kenzo dengan senyum ramah ciri khasnya.


“Iya, saya Emelie. Dimana Zeroun? Apa dia baik–baik saja?” Emelie mencari-cari keberadaan Zeroun. Putri Kerajaan itu menyimpan harapan kalau Zeroun juga ada di tempat itu untuk menjemputnya. Ia sangat ingin memeluk tunangannya.


Kenzo mengangkat kedua bahunya sebelum menjawab pertanyaan Emelie.


“Sebelum pergi ke sini dia masih duduk manis di Hongkong. Untuk sekarang, Saya juga tidak tahu Zeroun ada dimana. Putri, Kami tidak bisa membawa anda dalam aksi perang–perangan ini.” Kenzo menjelaskan semua rencana yang sudah mereka susun untuk membalas dendam Zeroun kepada Jesica dan Damian.


Emelie mengangguk. Ia juga tidak ingin menganggu dan merusak semua rencana yang sudah di susun oleh Serena.


“Terima kasih atas pengertiannya, Putri. Masuklah ke dalam mobil. Biao akan mengantar anda ke bandara. Anda harus pergi ke Hongkong hari ini. Di sana tempat yang paling aman untuk menyembunyikan anda.”


Emelie tersenyum manis sebelum masuk ke dalam mobil. Biao mengambi alih kemudi. mobil itu pergi melaju dengan cepat meninggalkan Serena, Daniel dan Kenzo.


“Oke! saatnya bertarung.” Kenzo mengokang senjata api miliknya.


“Aku ingin segera pulang agar bisa memeluk Shabira.” Daniel dan Serena tertawa lepas mendengar perkataan Kenzo. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang sama untuk melakukan aksi besar yang sudah menanti di depan mata.


.


.


.


Uda puas Readers.... Serena Uda datang😆


Aku Uda crazy up karena sayang sama kalian... Aku mau kalian bagi crazy vote juga buat babang Zeroun dan baby Emely...


Terima kasih....


Satu lagi, Biao's Lovers update besok siang jam 12. author mau bobok...fokus di Moving on seharian...