Moving On

Moving On
S2 Bab 97



Pesta pernikahan malam itu dilaksanakan dengan gaya yang di pilih langsung oleh Emelie. Wanita itu terlihat bersemangat dengan pernikahan Lana dan Lukas hingga akhirnya mengirimkan orang dari Inggris hanya untuk pesta pernikahan Lana dan Lukas. Segalanya berasal dari yang terbaik. Pernikahan Lukas dan Lana terbilang luar biasa mewah. Emelie ingin membuat siapa saja yang memandang Lana iri saat resepsi pernikahan Lana. Sesuai dengan keinginan Emelie.


Susunan acara berjalan sesuai dengan aturan WO yang di pesan Emelie. Ada acara dansa, potong kue hingga sesi foto bersama dengan orang-orang terdekat antara kedua pengantin.


Setelah acara resmi berjalan sukses dan tamu undangan kembali pulang, kini Lukas, Zeroun dan yang lainnya melanjutkan perkumpulan mereka di sebuah meja berukuran besar berbentuk lingkaran.


Mereka duduk dengan pasangan mereka masing-masing. Ada beberapa minuman keras yang tersusun rapi di meja. Kartu-kartu telah di bagi di masing-masing pemain. Hanya Emelie yang tidak ikut. Wanita itu tidak memiliki bakat apa-apa dalam permainan kartu.


Beberapa pria berdiri dan menuang anggur merah ke dalam gelas bertangkai yang tersusun di atas meja. Pelayan-pelayan itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan meja tersebut.


Serena mengambil minuman kaleng yang ada di hadapannya. Masih sama seperti dulu. Daniel tidak mengijinkannya untuk meminum minuman beralkohol. Shabira dan Emelie lebih memilih jus malam itu. Berbeda dengan Lana. Wanita hamil itu justru di hidangkan segelas minuman beralkohol di hadapannya.


Sambil tetap fokus pada kartu yang ada ditangannya, Lana meraih gelas itu dan ingin meneguk isinya. Dengan gerakan cepat Lukas menahan tangan Lana. Pria itu merebut paksa gelas yang ada di genggaman Lana lalu meneguk isinya. Ia menatap wajah Lana dengan tatapan tidak suka.


Perbuatan Lukas mendapat perhatian khusus dari Serena. Wanita itu memandang curiga atas sikap Lukas malam itu, “Hanya sedikit. Bukankah Lana biasa meminum minuman seperti ini. Apa kau melarangnya setelah menikah?” ucapan Serena membuat perhatian semua orang juga tertuju ke arah Lukas dan Lana.


Lukas menunduk. Pria itu bingung jika harus mengatakan kini Lana telah hamil. Tapi, tidak ada pilihan lain. Lana akan semakin sedih jika malam ini ia berusaha menutupinya.


“Lana, tidak boleh meminum minuman beralkohol Nona. Karena-” ucapan Lukas terhenti.


“Lana hamil?” sambung Shabira cepat.


“Hamil?” celetuk Emelie cepat.


Lana mengangguk pelan dengan kepala menunduk, “Ya, Nona. Saya hamil.”


Ekspresi wajah semua orang berubah serius. Termasuk Zeroun yang tiba-tiba saja menutup kartunya. Pria itu memandang wajah Lukas dan Lana secara bergantian. Tatapan mengerikan seperti itu membuat Lana dan Lukas tidak lagi bisa tenang. Mereka takut disalahkan atas kecerobohan yang pernah mereka lakukan saat itu.


“Selamat, Lukas,” ucap Zeroun lebih dulu.


Emelie mengukir senyuman sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh Lana sambil mengucapkan selamat, “Lana, kau menggemaskan. Kenapa kau merahasiakan kehamilanmu dariku?”


“Maafkan saya, Nona. Saya berencana untuk memberi tahukannya nanti, Nona. Saat waktunya telah tepat,” ucap Lana sambil memegang lengan Emelie.


“Berapa usia kehamilanmu?” ucap Emelie penuh semangat.


“Empat minggu, Nona,” jawab Lana dengan senyuman.


“Usia kehamilan kita sama. Kau wanita yang cukup hebat Lana. Kau hamil tapi tetap terlihat sehat dan tidak mengalami masalah apapun.”


“Hanya sedikit mual saat pagi hari, Nona.” Lana memandang wajah Lukas dengan wajah berseri.


Semua orang yang melingkari meja tersebut mengucapkan selamat kepada Lana dan Lukas. Untuk pertama kalinya di sebuah pesta pernikahan mereka mendapatkan kabar kehamilan dari pengantin wanita. Kabar baik yang membuat semua orang bahagia. Serena, Shabira dan Emelie tidak seberuntung itu. Mereka harus bersabar dan berjuang keras untuk hamil setelah menikah.


***


Malam semakin larut. Lana sudah ada di dalam kamar pengantin. Ia duduk di tepi ranjang. Wanita itu mengukir senyuman saat membayangkan wajah berseri orang-orang terdekatnya tadi. Lana kini tidak lagi merasa sendirian. Semua orang menyayanginya.


Namun, tiba-tiba Lana merasakan perasaan aneh yang begitu berbeda dari biasanya. Malam ini tidak akan pernah menjadi malam pertamanya dengan Lukas. Tapi, malam ini bisa di bilang pertama kalinya ia bercinta dengan Lukas dalam keadaan sadar. Tanpa obat atau pengaruh alkohol.


Saat pintu terbuka, Lana terperanjat kaget. Karena terlalu lama melamun, wanita itu sampai kaget ketika Lukas masuk ke dalam kamar. Lelaki itu masih mengenakan jas yang di pakaiannya saat pesta. Dasinya sudah terlepas dan tidak tahu ada dimana. Kancing kemejanya bagian atas sedikit terbuka. Pria itu terlihat bingung ketika melihat Lana kaget.


“Kenapa? Apa kau tidak suka aku masuk ke dalam kamar ini?” ucap Lukas asal saja. pria itu melepas jasnya hingga hanya menyisakan kemeja putih saja. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan berdiri di depan Lana. Ia berjongkok lalu memegang tangan Lana, “Belum mandi?”


Lana menggeleng pelan, “Apa yang lain sudah tidur?”


“Ya. Tuan Daniel, Bos Kenzo dan Bos Zeroun sudah berada di kamar mereka masing-masing.” Lukas duduk di tepian tempat tidur. Ia berada di samping Lana. Terdengar suara ketukan pintu. Lukas beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati pintu.


Seorang pelayan wanita berdiri di ambang pintu. Ada segelas susu yang dibawakan pelayan wanita tersebut. Lukas menerima gelas susu itu sebelum menutup kembali pintu kamarnya.


Lana memandang gelas susu yang di bawa Lukas dengan rasa penasaran, “Apa itu?”


“Susu,” ucap Lukas sambil melirik gelas yang ia genggam.


“Sejak kapan kau suka susu?” ucap Lana semakin bingung. Tidak mungkin pria seperti Lukas merubah kebiasaannya sejak menikah.


“Ini untukmu,” jawab Lukas sebelum memberikan susu itu kepada Lana, “Ini minumlah. Nona Emelie juga meminumnya. Kata Nona Emelie dan Nona Shabira, wanita hamil wajib meminumnya agar anak kita sehat di dalam sana.”


Lana menerima susu tersebut. Sejak dulu ia tidak suka dengan susu. Tapi, menolak pemberian Lukas itu sama saja mencari masalah dengan pria itu. Lukas tidak akan menyerah sampai Lana mau menerimanya.


“Apa ini enak?” Lana menghirup aroma susu tersebut. Tiba-tiba saja ia ingin muntah. Aroma susu itu sungguh tidak enak baginya. Lana memberikan susu itu kepada Lukas lalu berlari ke arah kamar mandi.


Lana mengeluarkan segala yang ia makan di wastafel. Wanita itu merasa mual dan tidak enak dengan perutnya, “Susu itu tidak enak,” ucap Lana pelan. Ia mengangkat wajahnya hingga dari cermin terlihat jelas wajah Lukas yang sedang berdiri di belakang tubuhnya.


“Kau tidak mau meminumnya?” ucap Lukas dengan tatapan yang cukup serius.


“Itu tidak enak,” rengek Lana sambil memutar tubuhnya. Wanita itu memandang wajah Lukas dengan seksama, “Aku mau mandi saja.”


“Minum dulu susunya,” pinta Lukas dengan wajah serius.


“Itu tidak enak, Lovely.” Lana mendekati Lukas. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di hadapan Lukas. Tentu saja tubuhnya tidak terjatuh. Ada tangan kekar Lukas yang secara otomatis menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


“Lana, itu hanya minuman. Kau harus memaksanya agar bisa masuk ke dalam perutmu demi anak kita,” ucap Lukas dengan wajah semakin serius.


“Kau juga harus meminumnya agar kau tahu bagaimana rasanya.” Lana menjauh dari tubuh Lukas. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kesal.


“Ok, deal,” jawab Lukas mantap.


Lana tercengang. Kedua matanya melebar dengan ekspresi wajah tidak percaya. Dalam hitungan detik, Lukas mengangkat tubuh Lana dan membawanya pergi meninggalkan kamar mandi.


“Tubuhmu terasa lebih ringan. Kau jarang makan dan sekarang menolak meminum susu itu,” protes Lukas sambil berjalan ke arah tempat tidur. Ia meletakkan tubuh Lana di atas tempat tidur dengan hati-hati.


“Kita bagi dua,” ucap Lana lagi.


“Baiklah. Sekarang, kau dulu yang meminumnya.” Lukas mengambil gelas susu yang ada di atas meja dan memberikannya kepada Lana lagi.


Lana meneguk susu itu dengan mata terpejam dan hidung tertutup.


Lukas mengukir senyuman, "Lagi, sedikit lagai susu itu akan menjadi bagianku." Lukas terpaksa berbohong agar Lana mau menghabiskan susu itu sendirian.


Lana membuka matanya saat isi di dalam gelas telah habis. Wanita itu menyipitkan kedua matanya, "Kau mengerjaiku."


Lukas menaikan satu alisnya, "Itu demi kebaikan anak kita."


"Hmm, baiklah. Aku tidak ingin sering-sering meminumnya."


Setelah selesai meminum susu itu, Lukas memutuskan untuk mandi lebih dulu. Setelah ia selesai, Lana yang bergantian Mandi.


Hingga beberapa saat kemudian.


Lukas memperhatikan wajah Lana dengan seksama. Wanita masih marah. Tapi entah kenapa terlihat sangat menggemaskan.


“Apakah sudah selesai? Aku akan melanjutkan ke babak selanjutnya,” ucap Lukas sambil menarik pinggang Lana. Pria itu menyelipkan rambut Lana di balik telinga, “Malam pertama kita.”


“Aku sempat berpikir kalau kau akan melewatkannya. Satu lagi. Malam ketiga, ini malam ketiga kita. Apa kau lupa?” ucap Lana sambil melingkarkan tangannya di leher Lukas.


“Yang dua tidak dihitung. Aku bahkan tidak ingat bagaimana indahnya tubuhmu waktu itu,” jawab Lukas sambil mendaratkan satu kecupan singkat di leher Lana.


“Hmm, baiklah. Ini malam pertama kita,” ucap Lana sambil menahan diri karena sentuhan Lukas yang cukup memabukkan, “Berhati-hatilah. Jangan sampai membuat anak kita tidak nyaman.”


Jemari Lukas mulai membuka tali handuk kimono yang menutupi tubuh polos Lana. Pria itu melakukannya sambil mengecup bibir istrinya. Sesuai dengan perkataan Lana, Lukas ingin melakukannya dengan hati-hati agar tidak membuat anak meraka terganggu.


Hati Lukas sangat puas dan bahagia. Kini wanita yang ada di hadapannya adalah istrinya. Calon ibu untuk anaknya sekaligus wanita yang paling ia cinta di dunia ini. Sama halnya dengan Lana. Wanita itu tidak lagi bisa mengungkapkan rasa bahagianya. Lukas telah menerima keadaannya dengan lapang dada. Pria itu tidak pernah mau mengungkit masa lalu milik Lana hingga membuat Lana merasa sangat nyaman dengan Lukas.


Hingga percintaan mereka malam itu terjadi. Hanya ada rasa sayang dan kepemilikan di sana. Lana dan Lukas saling melepas diri untuk memberi kesenangan untuk orang yang mereka cintai.


Lana tergeletak di hadapan Lukas. Tubuh mereka sama-sama miring dan saling berhadapan. Tertutup selimut yang sama untuk melindungi tubuh mereka yang sudah polos.


“Lukas,” ucap Lana dengan napas terputus-putus, “Aku mencintaimu. Terima kasih karena kau hadir dalam hidupku.” Lana mengusap lembut pipi Lukas.


Lukas meraih tangan Lana yang ada di pipinya. Pria itu mendaratkan satu kecupan di punggung tangan Lana, “Aku yang seharusnya berterima kasih, Lana. Karena bertemu denganmu, aku tahu bagaimana tersenyum dan aku sangat menikmatinya. Di tambah lagi, aku bertemu dengan masa lalumu hingga membuatku tahu, arti pengorbanan.”


Lana mengukir senyuman, “Aku akan selalu menjadi Lanamu. Kau harus berjanji untuk menjadi Lukasku yang tersayang. Tercinta, dan terlove-love.” Lana tertawa kecil.


“Kau memang wanita yang unik. Sekarang, tidurlah. Ini sudah sangat malam bahkan hampir pagi.” Lukas mengusap lembut rambut Lana.


Lana bergeser dari posisi tidurnya. Wanita itu menjadikan lengan kekar suaminya sebagai bantal. Satu tanganya mengusap lembut tato naga yang ada di dada bidang suaminya.


“Berawal menjadi wanita jagoan yang tidak jago. Aku terjebak di dua hati hingga menjadi wanita paling berdosa. Namun, malam ini aku telah di sadarkan akan satu hal. Cinta sejati, selamanya akan selalu menghampiri. Tidak peduli bagaimana kerasnya kau berusaha pergi,” gumam Lana di dalam hati sebelum memejamkan mata.


Lukas mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana sebelum memejamkan mata. Pria itu melindungi Lananya dengan penuh waspada walau dalam keadaan tidur. Ia tidak ingin ada yang melukai Lana dan calon anaknya.