Moving On

Moving On
Sambutan untuk Emelie



Emelie meletakkan bunga pemberian Zeroun di atas makam Raja dan Ratu. Wanita itu mengukir senyuman sebelum beranjak dari posisinya. Ia berdiri di samping Zeroun sambil menatap batu nisan dengan hati yang cukup tegar. Bukan waktunya untuk bersedih. Emelie ingin segera bangkit dari beban masa lalu yang pernah membuat hidupnya menjadi sulit. Ia ingin berjalan maju ke depan tanpa mau mengingat luka lama.


“Yang Mulia ... Ini Zeroun Zein. Pria yang Emelie cintai di dalam hidup Emelie. Kami akan segera menikah. Emelie harap kalian bisa merestui kami di alam sana.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan mata berkaca-kaca.


Zeroun mengukir senyuman sebelum memandang makam Raja dan Ratu, “Yang Mulia, jangan kahwatir. Saya akan menjaga Putri Emelie dengan sebaik mungkin. Melindunginya hingga tetes darah terakhir yang saya miliki. Jangan khawatirkan Putri Emelie lagi. Mulai sekarang, Putri Emelie akan menjadi tanggung jawab saya.”


Shabira dan Kenzo menatap haru atas kalimat yang diucapkan sepasang kekasih itu. Pemandangan yang tersaji di depan mata memang cukup menyayat hati. Kedua bela pihak tidak lagi memiliki kedua orang tua. Di tambah lagi, sepasang kekasih itu memiliki latar belakang yang cukup mustahil untuk bersatu. Tapi, takdir berkata lain. Kini sepasang kekasih yang di bilang memiliki dua sisi yang berlainan itu telah menemukan jalan untuk menyatu. Cinta mereka yang pernah di uji telah membuahkan hasil yang begitu manis.


“Sayang, ayo kita berangkat. Hari sudah mulai gelap.” Zeroun mengusap lembut lengan Emelie. Lelaki itu memandang ke arah langit senja yang kini sudah berubah menjadi jingga.


Emelie mengangguk sebelum memutar tubuhnya. Ada satu tetes air mata yang tiba-tiba jatuh. Ia mengusap dengan segera air matanya agar tidak terlihat dengan yang lain. Bibirnya mengukir senyuman manis.


Zeroun dan yang lainnya berjalan pelan menuju ke mobil. Di pinggiran jalan Lukas telah membuka pintu mobil untuk memberi jalan kepada Emelie dan Zeroun. Supir dari mobil yang sebelumnya membawa Kenzo dan Shabira juga membukakan pintu.


Semua orang masuk ke dalam mobil kecuali Lana. Wanita itu mengukir senyuman sambil memandang wajah Lukas yang sudah mau masuk ke dalam mobil. Lukas memberik kode dengan gerakan kepala agar Lana masuk ke dalam mobil. Tapi, kode yang ia berikan justru di jawab Lana dengan gelengan. Wanita itu tetap bersandar di samping mobilnya dengan tatapan menantang.


Lukas cukup kesal saat itu. Ia masuk ke dalam mobil tanpa mau memperdulikan Lana lagi. Mobil yang ia tumpangi ia lajukan dengan cepat. Lukas ingin membawa Zeroun dan Emelie segera tiba di depan gedung istana.


“Mau kemana dia,” umpat Lukas di dalam hati. Lelaki itu semakin tidak kosentrasi saat melihat Lana memutar mobilnya. Wanita tangguh yang ia cintai kini tidak lagi melajukan mobilnya di jalan yang sama dengan Lukas.


Lukas hanya bisa menghela napas. Hatinya sangat ingin memberi Lana pelajaran. Tapi, ia tidak bisa gegabah. Bagimanapun juga Zeroun masih ada bersama dengannya.


Zeroun dan Emelie berbincang dengan satu canda tawa. Kekhawatiran yang kini ada di wajah Lukas tidak lagi mereka ketahui.


“Sayang, apa kau bisa menunggang kuda?” ucap Emelie sambil menyandarkan kepalanya di pundak Zeroun.


“Aku pernah naik kuda. Tapi, tidak begitu ahli,” jawab Zeroun penuh keraguan.


“Kalau memanah?” sambung Emelie lagi sambil mengukir senyuman manis.


Zeroun menggeleng pelan, “Aku tidak pernah memanah. Bukankah itu cukup lambat dalam menghabisi target kita. Senjata api jauh lebih cepat.”


“Siapa yang menyuruhmu untuk memanah agar bisa membunuh manusia!” protes Emelie dengan wajah yang cukup serius.


“Lalu? Apa kegunaan memanah jika bukan mencari korban. Bukankah panah sering di gunakan untuk berburu binatang di hutan? Apa itu bukan korban?” sambung Zeroun dengan ekspresi dingin favoritnya.


Emelie membuang tatapannya ke arah lain, “Benar juga. Tapi, memanah jauh lebih seru dari menembak.” Wanita itu memikirkan satu rencana. Satu tangannya terangkat ke atas sambil menunjuk ke arah wajah Zeroun, “Aku akan mengalahkanmu kali ini, Zeroun Zein.”


Zeroun mengeryitkan dahi, “Maksudnya dengan cara memanah?”


Emelie mengangguk cepat, “Apa kau takut? Kali ini aku yang jauh lebih unggul.” Emelie memasang wajah penuh percaya diri. Mengangkat tubuhnya dengan tangan terlipat di depan dada, “Kau pasti kalah, Zeroun Zein.”


Tawa Zeroun pecah detik itu juga. Ia tidak pernah menyangka kalau bisa mendapat tantangan dari wanita yang ia cintai. Di tambah lagi tantangan itu belum pernah ia coba sama sekali, “Baiklah Putri, kita akan memanah nanti. Aku yakin kau yang akan kalah.” Zeroun mengusap lembut pipi Emelie dengan senyuman indah.


“Jika aku menang, apa hadiah yang akan aku dapatkan?” Zeroun mengusap lembut punggung Emelie. Kepalanya sedikit terangkat karena ada kepala Emelie di bawah kepalanya.


“Kau boleh meminta apa saja jika aku kalah. Tapi, jika aku menang. Kau juga harus mengabulkan permintaanku.” Emelie mempererat perlukannya.


“Baiklah. Deal!” ucap Zeroun dengan tawa kecil.


Beberapa saat kemudian.


Mobil Zeroun telah tiba di depan istana. Seperti sebuah kejutan tak terduga. Semua penghuni istana tidak lagi bisa memperhatikan penampilan mereka. Saat seorang pengawal memberi kabar kepulangan Emelie, dengan penampilan seadanya mereka berbaris di depan pintu istana untuk menyambut sang Putri.


Ada Paman Arnold dan Istri di antara keluarga kerajaan yang menyambut Emelie dan Zeroun. Mereka berbaris di kerumunan keluarga besar kerajaan. Di sisi lain telah ada beberapa pelayan dan pengawal dengan senjata pedang yang juga telah siap menyambut kedatangan Emelie.


Empat pengawal berlari cepat menuju ke arah mobil untuk membuka pintu mobil. Menunduk hormat saat orang yang ada di dalam telah melangkahkan kaki untuk keluar.


Emelie mengukir senyuman saat berdiri di depan mobil. Wanita itu memutar tubuhnya untuk menunggu Zeroun yang sedang berjalan mendekati posisinya berada. Shabira dan Kenzo juga berjalan mendekati Emelie.


Rombongan Emelie yang baru saja tiba berjalan di atas red karpet dengan begitu elegan. Setiap orang menunduk hormat saat Emelie berada tepat di hadapan mereka.


“Selamat datang kembali, Putri Emelie,” ucap Paman Arnold dengan wajah berseri.


Emelie berjalan mendekati keluarga besarnya. Wanita itu memeluk satu persatu keluarga yang sangat ia rindukan. Hatinya cukup lega karena semua keluarganya yang pernah di sekap oleh Damian kini masih berdiri di hadapannya dalam keadaan sehat.


Zeroun memutar tubuhnya untuk melihat Lukas. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan istana. Sepertinya pria tangguh itu tidak lagi bisa bersabar untuk menghukum sang kekasih. Zeroun mengangkat satu alisnya sebelum memandang wajah Emelie lagi.


Shabira berjalan mendekati Zeroun. Wanita itu menarik jas hitam milik Zeroun dengan wajah bingung, “Kak, aku merasa tidak pantas berada di tempat ini.”


“Tentu saja kau pantas. Kau adikku, Zetta.” Zeroun menggandeng pinggang Shabira dengan tawa kecil.


Kenzo menarik paksa tangan Shabira agar wanita itu masuk ke dalam dekapannya, “Kakak Ipar, kau jangan mencari kesempatan di dalam kesempitan.”


Zeroun melanjutkan tawanya di sambung dengan Shabira. Tawa Kakak beradik itu mengalihkan pandangan Emelie. Putri kerajaan itu berjalan mendekati posisi Zeroun berada. Membawanya masuk ke dalam istana sambil menggandeng lengan kekar kekasihnya. Hatinya cukup bahagia bisa kembali ke dalam istana bersama dengan Zeroun sore itu.


.


.


.


Jangan lupa dkung like, komen dan vote.


Insyah Allah, besok malam kita Uda normal update lagi...😘😘