Moving On

Moving On
S2 Bab 16



Mohon maaf ya Reader. Author lagi ada kesibukan di dunia nyata. Jadi semalam harus meninggalkan dunia halu dulu. Tadinya hari ini belum bisa up. Tapi, author sempatkan demi reader setia yang sudah menunggu. Mohon maaf sekali lagi. Silahkan membaca. Nanti malam up nomal lagi jam 12 ya.


.


.


Zeroun menghentikan mobilnya di depan istana. Setelah mobilnya tiba, dua pengawal segera berlari untuk membukakan pintu mobil. Tidak lupa dua pengawal tersebut membungkuk hormat kepada Zeroun dan Emelie.


Dengan bibir tersenyum Emelie memandang wajah bawahannya. Putri kerajaan itu segera berlari mendekati Zeroun untuk menggandeng lengan kekar suaminya. Gaunnya yang cukup indah terlihat mengikuti setiap gerakan yang di lakukan Emelie. Hatinya sangat berbunga-bunga siang itu.


Zeroun mengukir senyuman sebelum mendaratkan satu kecupan singkat di pucuk kepala Emelie. Jika saja mereka sedang ada di Hongkong mungkin Zeroun sudah mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya. Ia akan mengecup bibir wanita itu tanpa henti hingga tiba di dalam kamar.


“Jangan memandang ke arah manapun agar kau tidak perlu menemui siapapun,” ancam Zeroun dengan bisikan. Satu tangannya mencengkram kuat tangan Emelie seolah tidak ingin wanita itu menjauh darinya. Walau hanya satu meter. Pria tangguh itu tidak ingin adegan romantisnya dengan Emelie gagal. Dirinya sudah kesulitan mengontrol hasrat yang sejak tadi telah terpancing.


Mendengar perkataan Zeroun membuat Emelie tertawa riang. Wanita itu mengangkat tangannya yang kini ada di dalam genggaman Zeroun. Mengecup punggung tangan pria itu sambil terus berjalan. Satu matanya berkedip dengan begitu menggoda.


“Selamat siang, Putri Emelie ....”


Zeroun dan Emelie menghentikan langkah kaki mereka. Suara seorang pria yang cukup dominan kini terdengar dengan begitu jelas. Sepasang suami istri itu memutar tubuh mereka secara bersamaan. Ada senyum terpaksa dari kedua bibir mereka.


Kini telah berdiri Paman Arnol dengan senyum yang tidak kalah indah dari Zeroun dan Emelie. Pria itu mengangkat sebuah berkas di hadapan Emelie dan Zeroun.


“Ada beberapa kegiatan yang membutuhkan persetujuan anda, Putri.” Paman Arnold memandang wajah Zeroun dan Emelie. Ia merasa ada yang salah dengan kemunculannya siang itu. terlihat jelas kalau sepasang suami istri yang ada dihadapannya tidak suka.


Emelie memandang wajah Zeroun sebelum membebaskan tangannya dari genggaman Zeroun. Tapi, dengan gerakan cepat Zeroun kembali mencengkram tangan Emelie. Ia tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja. Bukan hanya satu jam. Jika sudah membahas masalah kerajaan, Emelie bisa meninggalkannya hingga berjam-jam lamanya. Pria itu tidak ingin mengalami hal buruk dengan cara menunggu di kamar sendirian.


“Paman Arnold, Emelie sedang tidak enak badan. Ia perlu beristirahat. Mungkin anda bisa mewakili semuanya saat ini. Saya tidak tega jika melihat istri saya terlalu memaksakan diri apa lagi di saat dia sakit.” Zeroun menatap wajah Emelie dengan tatapan penuh arti. Ada kerja sama yang diharapkannya agar Emelie tidak membongkar kebohongannya siang itu.


Paman Arnold berubah khawatir. Apapun masalah yang terjadi, Emelie tidak boleh sampai sakit, “Maafkan saya, Putri. Saya akan menghubungi Dokter untuk memeriksa anda.”


“Jangan, Paman Arnold,” ucap Emelie dan Zeroun bersamaan. Setelah membantah secara bersamaan, Zeroun dan Emelie saling memandang satu sama lain. Ada tawa tertahan dari sudut bibir mereka.


“Tapi, Putri ....” ucapan Paman Arnold sudah di penuhi kekhawatiran.


“Aku hanya kurang tidur. Tadi malam kami berkumpul di rumah Tuan Daniel dan kami tidur saat hari mulai pagi. Siang ini aku ingin tidur dan jangan menggangguku hingga besok pagi. Aku juga tidak akan makan malam di meja makan.”


Emelie berbicara sambil memijat leher belakangnya dengan wajah yang cukup menyakinkan. Aktingnya siang itu berhasil membuat Paman Arnold percaya hingga tidak lagi berani memaksanya untuk menandatangani berkas dan membahas masalah di kerajaan.


“Putri, anda harus banyak-banyak istirahat. Saya akan mengambil alih semuanya,” jawab Paman Arnold dengan sungguh-sungguh.


Zeroun menaikan satu alisnya dengan hati berbunga-bunga. Bukan hanya menyelamatkan dirinya di siang saja. Bahkan dari kalimat yang di ucapkan oleh Emelie sudah berhasil membuat Zeroun lebih bersemangat lagi.


“Paman Arnold, kami permisi dulu,” ucap Zeroun dengan nada yang cukup sopan.


“Ya, Pangeran. Silahkan beristirahat. Saya titip Putri kepada anda. Hanya anda orang yang paling dekat dengan Putri saat ini.” Paman Arnold membungkuk.


Zeroun dan Emelie segera memutar tubuh mereka dan berjalan cepat menuju tangga. Bibir dan hati mereka sudah tidak lagi bisa menahan tawa. Beberapa pelayan dan pengawal yang mereka lalui juga hanya bisa melirik bingung sambil membungkuk hormat.


Setelah tiba di dalam kamar, Zeroun dan Emelie melepas tawa mereka hingga puas. Sepasang suami itu terlihat sangat bahagia karena berhasil mengerjai Paman Arnold.


“Aku tidak pernah merasa bahagia seperti ini setelah membohongi Paman Arnold. Aku juga tidak menyangka, jika Paman Arnold percaya begitu saja ketika kita membohonginya. Ia pria yang cukup disiplin dann tidak suka di bohongi.”


“Ada dua kemungkinan, Sayang. Pertama ia tahu kalau kita ingin bersama dan tidak ingin di ganggu. Kedua ia benar-benar percaya dengan apa yang telah kita katakan,” sambung Zeroun dengan wajah berseri.


“Aku berharap ia ada di poin pertama. Jadi aku tidak perlu merasa bersalah padanya saat ini,” jawab Emelie dengan tawa kecil.


Zeroun menghentikan tawanya. Menggantikan tawa riangnya dengan senyum indah. Melihat tawa Emelie sungguh membuat hatinya menjadi tenang. Seperti tidak ada lagi beban di dalam hidupnya. Semua telah terlupakan dan tidak muncul lagi di dalam ingatan.


“Aku sangat mencintaimu, Sayang,” ucap Zeroun sebelum menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Satu tangannya mengusap lembut punggung istrinya dengan penuh cinta, “Sangat-sangat mencintaimu.” Satu kecupan ia daratkan di pucuk kepala Emelie sebelum memeluk Emelie lagi dengan erat.


Emelie memejamkan mata sambil membalas pelukan Zeroun, “Aku juga sangat-sangat mencintaimu. Hanya ada namamu di dalam hatiku selamanya.”


Zeroun dan Emelie saling berpelukan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kedua bola mata sepasang suami istri itu terpejam untuk merasakan kehangatan. Setelah puas berpelukan, Zeroun mulai ingat dengan apa yang menjadi tujuan mereka berada di dalam kamar tersebut.


Dengan gerakan lembut Zeroun mengangkat dagu Emelie. Pria itu mencium bibir Emelie dengan lembut namun tetap menggoda. Satu tangannya menahan pinggang Emelie sedangkan satu tangannya yang lain berada di rambut belakang Emelie. Tangannya terus menarik kepala Emelie hingga berada di posisi yang pas untuk ia kecup.


Ciuman Zeroun turun ke leher Emelie dan menggoda wanita itu di sana. Emelie hanya bisa memejamkan mata sambil menikmati aliran aneh yang kini ia rasakan. Sesekali ia tertawa kecil saat Zeroun membuat sentuhan yang membuatnya geli dan tidak bisa menahan tawa.


Secara spontan, kedua tangan Emelie naik ke atas dan membuka jas Zeroun. Jemarinya yang lentik membuka satu persatu kancing kemeja Zeroun. Setelah suaminya berhasil bertelanjang dada, Emelie menyentuh tato naga yang cukup indah yang ada di tubuh suaminya. Sejak dulu ia memang selalu kagum saat melihat bagian dada suaminya yang berotot. Setiap kotak yang terbentuk dipenuhi dengan godaan yang membuat Emelie senang menyentuhnya.


Zeroun menghentikan cumbuannya saat melihat wajah istirnya mengukir senyuman sambil menatap tato miliknya. Pria itu membungkuk sebelum memegang tangan Emelie, “Apa itu bentuk godaan yang sengaja kau buat untukku? He?!”


“Godaan?” celetuk Emelie dengan wajah bingung.


Zeroun mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya. Bibirnya mengunci bibir Emelie dengan kecupan mesra dan cukup menggoda. Pria itu berjalan ke arah tempat tidur untuk memulai semuanya. Ia sudah ada di puncak hasrat yang tidak terkendali. Saat itu juga Zeroun ingin segera memiliki istrinya.


Zeroun meletakkan Emelie di atas tempat tidur. Cumbuannya kembali ia lanjutkan agar wanita itu benar-benar tergoda dan siap untuknya, “Berikan aku seorang anak,” bisik Zeroun dengan mesra di telinga Emelie.


Emelie mengukir senyuman sebelum menarik leher Zeroun dan mengecup mesra suaminya. Sejak malam pertama ia lalui dengan Zeroun, Emelie sudah memutuskan untuk segera hamil agar bisa memberikan anak untuk Zeroun. Ia juga sangat sayang dengan anak kecil hingga membuatnya tidak sabar untuk mengandung dan melahirkan.


.


.


.


Skip lagi. Silahkan berkhayal ria dengan gaya bebas 🤣🤣


Jangan lupa Like, Komen dan Vote.