Moving On

Moving On
Sorry Baby!



Beberapa menit kemudian. Emelie keluar dari kamar mandi dengan gaun indah berwarna kuning muda. Ada handuk putih yang kini melilit rambutnya di atas kepala. Wanita itu memandang Zeroun yang tergeletak dikursi panjang dengan celana basahnya. Kaosnya sudah tergeletak bebas di lantai. Pria itu berjemur di bawah sinar matahari pagi. Kaca mata hitam ia kenakan dengan tangan menopang kepala.


Emelie berjalan keluar untuk memandang wajah kekasihnya itu. Wajahnya yang polos tanpa make up terlihat sangat cantik. Ada senyum kecil di bibir wanita itu saat membayangkan kelakuan kekasihnya di kolam tadi.


“Hei,” ucap Emelie sambil menarik kaca mata hitam milik Zeroun. Handuk yang melilit di kepalanya Ia lepas untuk menutupi bagian dada Zeroun yang terbuka.


“Baby,” ucap Zeroun sambil mengukir senyuman indah.


“Kenapa kau menutupinya?” Zeroun beranjak dari tidurnya lalu duduk menghadap ke arah Emelie. Memberikan handuk kecil itu kepada wanita yang ada di hadapannya.


“Aku hanya tidak suka melihatmu memamerkan tubuhmu yang ....” ucapan Emelie tertahan. Wanita itu merasa malu saat harus melanjutan perkataannya.


“Yang ....” ucap Zeroun yang masih setia menanti sambungan kalimat Emelie.


Tidak mungkin Aku harus bilang kalau tubuhnya sangat indah. Bahkan bisa membuatku gila dan terbang melayang.


“Yang jelek itu,” sambung Emelie cepat sebelum beranjak dari kursi itu, “Aku akan membuatkan sarapan.”


Zeroun menggeleng pelan mendengar jawaban Emelie. Pria itu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah mulai berkeringat.


Emelie berjalan ke arah dapur sambil memikirkan menu yang akan ia masak pagi ini. Langkahnya terhenti saat melihat Lukas sibuk memberi perintah kepada pasukan Gold Dragon di ruang tengah. Putri kerajaan itu memperhatikan luka yang ada di setiap wajah pasukan Gold Dragon.


“Aku yakin, luka itu bukan karena terpeleset di kamar mandi. Selalu saja berbohong!” umpat Emelie kesal. Wanita itu mengurungkan niatnya untuk membuat sarapan spesial untuk Zeroun. Dengan langkah gusar, Emelie kembali ke kamar tidur untuk memarahi kekasihnya.


Setibanya di dalam kamar. Zeroun masih belum selesai mandi. Emelie duduk di tepian tempat tidur dengan wajah kesal. Ia sangat yakin, kalau sesuatu yang buruk telah terjadi tadi malam. Membuat rasa penasarannya meningkat hingga 99 persen.


Terdengar suara deringan ponsel dari dalam laci. Emelie beranjak dari duduknya dan berjalan pelan menuju ke lemari yang ada di samping tempat tidur.


“Zeroun, ada telepon,” teriak Emelie sambil menatap ragu ke arah laci. Tidak ada jawaban dari kamar mandi. Deringan yang tidak kungjung berhenti itu membuat Emelie semakin penasaran. Dengan hati-hati ia menarik laci cokelat yang ada di depannya. Mengambil ponsel milik Zeroun yang masih berdering.


“Erena?” ucap Emelie sambil menatap nama yang terukir di layar ponsel itu. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar dengan cepat. Napasnya yang semula baik-baik saja kini berubah sesak. Dengan tangan gemetar, Emelie meraih ponsel itu. Mengangkat panggilan masuknya dengan bibir membisu.


{Zeroun, apa yang kau lakukan? Aku sudah mengirim kembali pasukan Gold Dragon. Aku baik-baik saja. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri di sini. Jangan pernah meragukan kemampuanku.] Terdengar tawa kecil milik Serena dari sebrang sana.


“Erena?” ucap Emelie pelan.


Suara Serena terhenti sejenak saat mendengar suara wanita yang kini mengangkat ponsel sahabatnya. Zeroun belum pernah menceritakan kedekatannya dengan Emelie selama ini.


“Maaf, apa ini benar Erena?” ucap Emelie untuk kembali memastikan.


{Ya, Aku Erena. Siapa anda?}


Suasana berubah hening. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan Emelie kepada Erena. Tapi, entah kenapa semua pertanyaan itu tertahan di dalam hati. Tangannya dipenuhi keringat hingga membuat ponsel milik Zeroun basah. Emelie memutar pandangannya saat melihat Zeroun keluar dari kamar mandi.


“Emelie, ada apa?” Zeroun mengeryitkan dahi saat melihat wajah Emelie berubah.


“Seseorang menelpon,” jawab Emelie sambil menyerahkan ponsel Zeroun.


Zeroun menerima ponsel itu. Ada senyum indah di bibirnya saat melihat nama sahabatnya kini menghubunginya.


“Serena, apa kau baik-baik saja?” ucap Zeroun sambil berjalan ke arah sofa.


Serena? apa Serena dan Erena adalah wanita yang sama? wanita tangguh itu Serena. Berarti mantan kekasihnya wanita yang cukup jago bela diri. Tapi, kenapa dia melarangku untuk menembak?


Emelie duduk sebagai pendengar setia di dalam kamar itu. Zeroun melirik kekasihnya sambil mendengarkan omelan-omelan yang keluar dari mulut ratu mafia itu.


“Percuma saja, mereka tidak akan berani kembali ke sini. Serena, kau harus tahu. Aku bosnya. Mereka akan menuruti perintahku daripada perintahmu.” Zeroun kembali melirik wajah Emelie yang terlihat sedih.


[Zeroun! tetapi situasi di sana jauh lebih berbahaya. Jangan mengambil resiko hingga separah ini.]


Kalimat terakhir Zeroun menjadi pusat perhatian Emelie saat itu. Serena dan Zeroun mengatakan satu kalimat yang sama persis. Putri kerajaan itu tidak lagi tahan dengan obrolan kekasihnya dengan sang mantan. Wanita itu berlari pergi meninggalkan kamar dengan wajah semakin kesal.


“Emelie!” teriak Zeroun sambil beranjak dari duduknya.


{Emelie? wanita itu bernama Emelie?}


Zeroun menatap layar ponselnya, “Serena, nanti kita sambung lagi. Ada urusan yang jauh lebih penting saat ini.” Zeroun memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak. Membuat lawan bicaranya terdiam seribu bahasa menerima prilakunya yang terbilang langkah itu.


Emelie menabrak tubuh Lukas hingga membuat peluru yang dibawa Lukas berserak di lantai. Pria itu menatap wajah Emelie dengan wajah menahan amarah.


“Kenapa Kau menabrakku!” protes Emelie lebih dulu dengan suara serak.


“Nona, maafkan saya.” Lukas memandang wajah Emelie sejenak sebelum memperhatikan pelurunya.


Zeroun keluar dari dalam kamar dengan wajah paniknya. Emelie melanjutkan langkah kakinya saat menyadari kehadiran Zeroun.


“Emelie, berhentilah!” teriak Zeroun yang kini berdiri di depan pintu kamar. Teriakan Zeroun berhasil membuat Emelie menghentikan langkah kakinya.


“Kau menyebalkan. Kenapa tidak pernah bilang kalau Erena dan Serena adalah wanita yang sama. Aku bahkan sudah menyimpan rasa kagum kepada wanita bernama Serena.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan tangan terlipat di depan dada.


“Kau menyebalkan!” teriak Emelie hingga suaranya memenuhi ruangan luas itu.


Lukas berjongkok untuk mengutip peluru yang berserak di lantai. Kini pria itu ada di tengah-tengah Zeroun dan Emelie untuk mendengarkan perdebatan sepasang kekasih itu.


“SORRY BABY!” celetuk Zeroun. Ungkapan hati Zeroun membuat Lukas menahan tawa. Pria itu menundukkan kepalanya agar Zeroun tidak tahu kalau bibirnya sedang berjuang keras menahan tawa.


“Lukas, pergi dari sini!” umpat Zeroun kesal saat ucapannya didengar oleh Lukas.


“Sorry, Bos.” Lukas menutup mulutnya atas kalimatnya yang terbilang mengejek.


Zeroun menatap Lukas dengan tatapan membunuh.


“Maksud saya ....”


“Pergi!” ucap Zeroun sekali lagi. Tidak punya pilihan lain, pria tangguh itu pergi meninggalkan peluru miliknya yang masih berserak di lantai.


Emelie juga terlihat menahan tawa saat mendengar perkataan Zeroun pagi itu. Walaupun sedang marah dan kesal. Tetapi ucapan Zeroun selalu bisa memenangkan hatinya.


“Emelie,” ucap Zeroun sambil melangkah pelan.


Emelie memutar tubuhnya untuk membelakangi Zeroun, “Aku tidak marah jika kau menjelaskan semuanya sejak awal. Kenapa selalu saja berbohong padaku. Malam ini juga kalian pergi berkelahi bukan?”


“Siapa yang mengatakan kalau kami berkelahi?” tanya Zeroun dengan wajah penasaran.


“Lukas,” jawab Emelie asal saja dengan wajah masih memerah karena marah.


Lukas yang belum jauh dari ruangan itu menghentikan langkah kakinya. Sejak awal ia tidak ikut-ikutan dalam masalah yang di hadapi bosnya itu. Tetapi kini, Emelie telah menyeret dirinya ke dalam masalah percintaan itu.


Jawaban Emelie membuat Zeroun menatap wajah Lukas dengan tatapan tidak terbaca lagi. Saat melihat tatapan membunuh milik Zeroun, pria itu hanya bisa pasrah. Apapun yang ia ucapkan hanya akan menjadi satu kesalahan. Belum pernah pria itu mengalami penderitaan yang berat seperti ini sebelum bertemu dengan Emelie dan Lana.


Bagus Nona. Jual saja nama saya jika itu bisa membuat anda senang.


Umpat Lukas di dalam hati sambil menunduk dalam tanpa punya pilihan lagi.