Moving On

Moving On
Tawa Bahagia



“Sayang, berhentikan mobilnya biar aku yang mengemudikannya,” ucap Zeroun sambil memandang wajah Emelie dengan tatapan serius. Pria itu tidak ingin Emelie merasa lelah karena menyetir mobil dengan jarak tempuh yang cukup jauh.


“Tidak mau. Aku ingin melajukan mobil ini hingga tiba di rumah,” jawab Emelie dengan bibir tersenyum. Wanita itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang baru saja ia dapatkan. Dengan penuh percaya diri, Emelie menambah laju mobilnya. Menembus kabut malam yang begitu pekat.


Zeroun menggeleng pelan kepalanya. Mobil mereka sudah memasukii wilayah kekuasaan Gold Dragon. Memang sudah bisa di pastikan kalau kini mereka sudah benar-benar aman. Lelaki itu tidak lagi menyimpan rasa khawatir atas keselamatan kekasihnya saat ini. Melihat Emelie bersemangat untuk mengemudikan mobil, Zeroun hanya bisa pasrah. Pria itu memandang ke jalan lurus di depan. Tidak lama lagi mereka akan segera tiba di markas yang selama ini mereka tempati.


“Ini perjalanan jauh yang pernah aku tempuh. Biasanya hanya melaju beberapa kilometer saja, Yang Mulia sudah memberi perintah kepada pengawal untuk menghentikanku.” Emelie mengukir senyuman saat mengingat momen-momen masa ramajanya yang cukup indah, “Saat usia 17 belas tahun aku mencuri kunci mobil dari saku seorang supir. Aku mengancamnya dengan ancaman yang aku sendiri sudah lupa.” Ada tawa kecil yang terdengar dari bibir Emelie.


“Setelah itu tidak pernah mengemudikan lagi?” tanya Zeroun dengan wajah tidak percaya.


Emelie menggeleng pelan kepalanya dengan wajah menahan tawa, “Bukankah kemampuanku juga tidak perlu di ragukan?” ucap Emelie dengan wajah penuh percaya diri.


“Ya, kau memang wanita yang cepat belajar dan menguasai segala hal.” Zeroun membuang tatapannya ke luar jendela.


“Termasuk memenangkan hati bos mafia sepertimu,” sambung Emelie dengan tatapan meledek. Kalimat yang di ucapkan Emelie berhasil membuat Zeroun kembali menatap wajahnya.


“Sayang, kau belajar darimana kata-kata seperti itu?” tanya Zeroun sambil mengeryitkan dahi.


“Dari Lana,” jawab Emelie dengan senyuman manis, “Juga darimu.”


“Hmm, baiklah. Aku kalah. Sekarang fokus dengan kemudimu dan jangan bercanda lagi. Sebentar lagi kita akan segera sampai,” ucap Zeroun sambil mengusap lembut rambut Emelie.


“Aku beruntung bisa mencintai wanita sepertimu, Emelie. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Menetaplah selamanya di hatiku. Aku sudah mengunci namamu di dalam sini dan membuang kuncinya jauh di dasar jurang. Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkanmu pergi menjauh dari hatiku.”


Beberapa saat kemudian.


Emelie memberhentikan mobilnya di depan rumah mewah yang selama ini ia tempati. Secara bersamaan, Zeroun dan Emelie melepas sabuk pengaman yang melindungi mereka. Sepasang kekasih itu juga turun secara bersamaan dari dalam mobil.


Zeroun menggandeng tangan Emelie dan membawanya berjalan beriringan menuju ke dalam rumah. Belum sempat tangan Zeroun menyentuh handle pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dulu.


Lukas dan Lana berdiri di ambang pintu dengan wajah yang cukup bahagia, “Selamat malam, Bos,” ucap Lukas dan Lana secara bersamaan.


“Lana,” teriak Emelie kaget. Wanita itu melepas genggaman tangannya bersama Zeroun sebelum berlari untuk memeluk tubuh wanita yang beberapa hari ini sangat ia rindukan.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Emelie sambil menepuk pelan pundak Lana.


“Saya baik-baik saja, Nona,” jawab Lana dengan senyuman cukup bahagia. Ia tidak pernah menyangka kalau Emelie akan memasang wajah begitu bahagia saat melihat dirinya selamat.


Zeroun dan Lukas saling memandang satu sama lain. Hati Zeroun semakin lega karena melihat Lukas kini sudah ada di depan matanya. Pria itu tidak lagi perlu mengkhawatirkan rencana yang akan segera mereka lakukan nantinya.


“Aku tidak lagi mau membahas masalah. Masih ada banyak hal yang harus kita pikirkan selain masalah itu,” jawab Zeroun sambil memandang tubuh kekasihnya, “Sayang, sudah sangat larut. Sebaiknya kita segera ke kamar untuk istirahat.”


Emelie melepas pelukannya dari tubuh Lana. Wanita itu mengukir senyuman lagi saat wajahnya saling berhadapan, “Selamat tidur, Lana.”


“Terima kasih, Nona dan selamat atas pertunangan anda malam ini,” ucap Lana dengan wajah berseri.


Emelie mengangguk tanpa bicara lagi. Satu tangannya menggandeng lengan Zeroun dengan cukup manja. Zeroun berjalan menuju ke arah tangga bersama Emelie di sampingnya. Hatinya juga sangat bahagia karena berhasil melamar Emelie malam ini. Setelah masalahnya dengan Heels Devils selesai, Zeroun ingin segera menikahi kekasihnya.


Lana memegang kedua pipinya saat melihat kemesraan Zeroun dan Emelie saat itu. Wanita itu berteriak kegirangan saat Lukas memberi tahu proses lamaran yang di lakukan Zeroun di atas gedung.


“Apa yang kau pikirkan?” ucap Lukas dengan wajah yang penuh tanya.


“Lihatlah, mereka sangat cocok bukan? Aku ingin segera memenangkan pertarungan ini agar bisa melihat pesta pernikahan Bos Zeroun dan Putri Emelie.”


Lukas mengukir senyuman saat mendengar perkataan Lana. Pria itu juga memiliki harapan yang sama dengan kekasihnya. Ia ingin Bos yang selalu ia hormati itu bisa menikah dan hidup bahagia bersama wanita yang ia cintai dan juga mencintainya.


“Istirahatlah, aku juga ingin istirahat,” ucap Lukas sebelum pergi menuju ke kamar tidur miliknya.


Lana menatap wajah punggung Lukas dengan tatapan tidak suka, “Kenapa ia tidak bersikap romantis seperti Bos Zeroun. Dasar Bos Lukas!” umpat Lana sebelum berjalan menuju ke kamar miliknya.


Di sisi lain.


Emelie berbaring di atas tempat tidur setelah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Di samping tempat tidur, Zeroun duduk sambil mengusap lembut rambutnya. Bibir pria itu mengukir senyuman indah yang bisa membuat hati Emelie selalu tenang.


“Aku sangat mencintaimu,” ucap Emelie dengan wajah manjanya.


“Aku juga sangat mencintaimu, Emelie,” jawab Zeroun dengan senyuman bahagia.


“Aku sangat lelah.” Emelie menarik tangan Zeroun. Melekatkannya di pipi sebelum mengecupnya dengan penuh cinta. Hatinya benar-benar sangat bahagia. Ia ingin hari pernikahan itu segera tiba. Ia ingin segera menikah dengan Zeroun. Pria yang menjadi cinta pertamanya dan suami yang akan menjaganya seumur hidup.


“Aku ingin mandi lebih dulu,” jawab Zeroun sebelum mendaratkan satu kecupan di bibir Emelie, “Tidurlah lebih dulu. Jangan menungguku, Sayang.” Zeroun menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuh kekasihnya. Tangannya mengusap lembut pipi Emelie sebelum beranjak pergi menuju ke kamar mandi.


Emelie memandang punggung Zeroun sebelum hilang di balik pintu kamar mandi. Perlahan matanya mulai terpejam saat rasa ngantuk dan lelah melebur menjadi satu. Adegan balap di jalan tadi cukup membuat tubuhnya merasa lelah. Kini tidak ada hal lain yang di pikirkan oleh Emelie selain memejamkan mata dan meraih mimpi yang indah untuk menemani tidurnya.


Vote yang banyak ya reader. biar author seneng ngetiknya. terima kasih...