
Melihat Junio mengarahkan pistol padanya, senyuman di wajah Aron terlihat semakin jelas!
Melihat Aron sama sekali tidak ketakutan, Junio menjadi marah : “Saya benar-benar akan menembakkannya, asalkan saya menarik pelatuk ini, kamu akan langsung bersimbah darah….”
“Kalau begitu tembakkan saja, saya lihat tanganmu gemetar hebat, saya takut pelurumu akan meleset, saya mendekat ya, agar kamu menembak tepat pada sasaran….”
Aron justru melangkah mendekat pada Junio, agar pistol di tangan Junio semakin dekat dengannya!
Melihat Aron merespon seperti ini, Junio menjadi lebih marah lagi : “Aron,saya benar-benar akan menembak, kamu lebih baik segera pindah dari Kota Sanur, dan saya akan mengampuni nyawamu sekali ini, kalau tidak saya akan membunuhmu….”
Wajah Junio semakin merah, dia tidak pernah membunuh orang, dia juga tidak pernah menembak seseorang sampai mati, pistol ini juga dia rakit sendiri dengan suku cadang yang dia beli, saat diluar negeri, dia sangat tertarik dan menyukai pistol, namun saat kembali ke Indonesia, pistol merupakan barang terlarang dan pengawasannya sangat ketat, jadi Junio diam-diam merakitnya!
Meskipun dia senang menembak, tapi dia tidak pernah menembaki orang, apalagi sampai membunuhnya, sekarang Junio sedang berusaha mengendalikan dirinya sendiri, tapi kedua tangannya gemetar hebat!
Melihat sikap Junio, Aron tersenyum dingin : “Orang sepertimu, takutnya membunuh ayam saja tidak berani, masih mau membunuh orang?”
“Kamu jangan memaksaku, saya benar-benar bisa menembak….”
Junio seketika berkeringat hebat, meskipun dia sudah menetapkan keputusannya, tapi pada akhirnya dia tetap merasa gugup!
“Sekarang kalau kamu meletakkan pistolnya, saya mungkin akan membiarkanmu tetap hidup, tapi kalau kamu berani menembak, maka yang akan mati adalah kamu….
Aron berkata dengan wajah serius!
“Membual lah sesuka hatimu, sekarang saya bisa membunuhmu lalu kabur ke luar negeri, siapa yang bisa menangkapku….”
Junio tidak percaya pada perkataan Aron, sekarang pistol itu ada ditangannya, maka keputusan pun ada ditangannya!
“Kalau kamu tidak percaya, coba saja tembakkan, tembak….”
Aron tiba-tiba menaikkan nada bicaranya dan membuat Junio kaget!
Dan karena itu juga, Junio tiba-tiba menarik pelatuk pistol yang ada ditangannya!
Bam!
Setelah suara tembakan terdengar, kepala pistol itu mengeluarkan percikan api, dan sebuah peluru langsung terbang keluar!
Saat itu, Junio benar-benar sangat terkejut, dia belum mempersiapkan hatinya, dan menarik pelatuk tanpa sengaja karena kaget!
Tangan kosong Aron menangkis peluru itu, dan membuat peluru itu berada dalam genggamannya, pada saat itu, tangan Aron diselimuti oleh energi spiritual, dan peluru itu sama sekali tidak melukainya!
Dia membuka genggaman tangannya dengan perlahan, dan sebuah peluru berwarna kekuningan terlihat!
Menahan peluru dengan tangan kosong?
Seketika itu juga Junio tercengang, pistol yang ada ditangannya terjatuh ke lantai!
“Saya sudah bilang kan, kalau kamu menembak, orang yang mati adalah kamu….”
Selesai berkata, tubuh Aron mengeluarkan aura pembunuh yang sangat menakutkan!
Aura pembunuh itu seolah menyelimuti sekujur tubuh Junio, dan setelah merasakan aura pembunuh dari Aron, Junio merasa sekujur tubuhnya mati rasa, seolah terjatuh kedalam jurang tak berdasar!
“Tidak….tidak…tidak mungkin, ini tidak mungkin….bagaimana kamu bisa menahan peluru itu?”
Wajah Junio penuh keterkejutan, dia menggelengkan kepalanya sekuat tenaga, dia tidak percaya dengan apa yang baru dia lihat, dia tidak mengerti, ini sudah diluar nalarnya!
Junio hanyalah seorang biasa, dia bahkan bukan orang yang berlatih bela diri, karena itu dia tidak tahu tentang seni bela diri yang mistis seperti ini.
“Tidak ada yang tidak mungkin, kalau kamu tidak percaya, tembakkan saja lagi….”
Aron menyipitkan kedua matanya, seberkas cahaya dingin dimatanya membuat Junio langsung terkulai di kursinya!
Junio tidak berani menembak lagi, dia bahkan sudah tidak punya keberanian untuk meraih pistol itu lagi!
Menahan peluru dengan tangan kosong? Meskipun Junio tidak percaya, tapi dia tidak bisa mengelak fakta yang terpampang didepan matanya!
Pada saat itu Junio seketika menyadari, kenapa Nuri bisa menyukai Aron yang terlihat biasa-biasa saja..
Junio tahu Aron pasti punya identias lain, yang tidak terlacak olehnya!
Junio seketika teringat saat di Restoran Lima, Hercules tidak melakukan apapun terhadap Aron, malah memakinya dan membuatnya bingung, setelah diingat-ingat saat ini, sepertinya Hercules tahu tentang identitas lainnya Aron.
Ternyata dia dan Aron bukanlah orang yang satu dunia, Junio malah terus membanggakan dirinya sendiri, dan mengira dirinya ratusan kali lebih hebat dibandingkan dengan Aron, tapi seketika itu dia menyadari, kalau dirinya tidak ada apa-apanya!
“Kumohon, kumohon jangan bunuh saya…..”
Junio menciut, dia takut, dia takut mati, pelatuk pistol tadi juga tertarik karena kegugupannya, walaupun dia sudah mempersiapkan diri sebelumnya, tapi pada saat dihadapkan dengan situasi itu, Junio tetap tidak memiliki keberanian untuk membunuh seseorang!
Melihat Junio yang seperti itu, Aron kehilangan keinginannya untuk membunuh, dia membuang peluru itu ke lantai dan berkata dengan dingin : “Mulai hari ini, enyahlah dari Kota Sanur, jangan sampai saya melihatmu lagi…..”
Selesai berkata, Aron langsung bangkit berdiri dan meninggalkan ruangannya!
Setelah pintu ruangan terbuka, sekretaris tepat berada didepan pintu, dan saat melihat Junio yang berlutut dilantai dia langsung tercengang.
Aron melirik sekretaris itu sejenak dan membuatnya terkejut, hanya saja Aron tidak mengatakan apapun, dia juga tidak menutup pintu itu dan membiarkan sekretaris melihat Junio yang sedang berlutut di lantai!
“Enyah, enyah…..”
Junio berteriak marah pada sekretarisnya!
Sekretarisnya yang kaget segera pergi dari sana, hatinya merasakan ketakutan, dia takut dia akan dipecat karena dia melihat Junio yang dipermalukan.! Namun sekretaris itu tidak tahu apa-apa, pada saat itu Junio perlahan-lahan meraih pistol dan peluru yang ada di lantai, dia melihat sekilas ruangannya, lalu pergi!
Dan sejak saat itu, Junio juga tidak pernah terlihat lagi di perusahaan, maupun di kota Sanur!
“Aron, Pak Junio mencarimu untuk membahas masalah komisi? Apa yang kamu katakan pada Pak Junio?”
Melihat Aron yang kembali dari ruangan Junio, Billy bergegas bertanya padanya.
Meskipun dia tidak suka berbicara dengan Aron, tapi demi masalah komisi, Billy juga menghampiri Aron!
“Tidak mengatakan apapun!” Aron melirik Billy sekilas, dan berkata dengan dingin!
“Aron, saya rasa kamu ingin mengambil semua komisi itu sendirian ya? Saya beritahu ya, peraturan perusahaan menetapkan siapapun dari departemen pemasaran yang berhasil menandatangani kontrak, manajer departemen pemasaran akan tetap mendapatkan bagian dari komisi, apalagi kerja sama dengan Laurents sudah kami urus
terlebih dulu selama beberapa bulan,kamu ini hanya menerima kontrak tanpa mengerjakan apa-apa, jangan kira kamu sudah sangat hebat, kalau bukan saya yang merekomendasikanmu, apa kamu bisa masuk ke perusahaan ini?”
Mona melihat sikap Aron yang seperti itu seketika menjadi jengkel dan mulai memaki!
“Saya tidak tertarik pada komisi itu, kalaupun ada, saya tidak akan mengambil sedikitpun….”
Aron melirik Mona sekilas dan berkata dengan tenang!
“Aron, ini adalah perkataanmu sendiri ya, semua orang mendengarnya, kamu tidak mau sedikitpun, jangan menyesal pada akhirnya….”
Billy yang mendengarnya seketika berteriak dengan keras, dia takut Aron akan menarik perkataannya!
“Tidak akan menyesal!” Aron tersenyum sinis!
Billy seketika tersenyum sungmirah, kalau Aron tidak menginginkan komisinya, maka semua itu akan menjadi miliknya, pada saat itu membayar uang muka untuk membeli rumah di Perumahan Bumi Sejuk pun tidak akan ada masalah!
Seluruh departemen pemasaran terkejut setelah mendenar ucapan Aron, mereka menertawai Aron dan mengoloknya, kontrak sebesar itu, komisinya pasti banyak, tapi Aron malah tidak menginginkannya!
“Yenni, kamu dan Aron kan satu tim, Aron tidak menginginkan komisinya, tapi bagianmu harus kamu ambil, jangan ikuti dia, dasar gila….”
Ivanna menghampiri Yenni dan berbisik padanya!
Yenni melihat Aron yang berada tidak jauh darinya, dan kemudian menggelengkan kepalanya : “Saya juga tidak mau!”
Kontrak itu berhasil ditanda tangani bukan karena dia, Yenni juga tidak menginginkan komisinya!
Mengenai kenapa Aron tidak menginginkan bagiannya, Yenni juga tidak menanyakannya, mungkin karena dia sudah mendapatkan seorang pacar kaya, dan uang sesedikit itu tidak ada artinya baginya!
“Dua orang ini gila ya, atau punya dendam dengan uang….”
Ivanna pergi dengan cemberut..