
“Saya ada urusan, sementara kita tidak jadi pergi ke Gunung Hoju dulu, tapi kamu perlu membeli lebih banyak batu kasar dari Gunung Hoju!”
Setelah menutup telepon, Aron berkata pada Kevin.
Kevin mengangguk : “Baik, kalau begitu saya akan pergi ke Gunung Hoju sendiri, dan mendesak beberapa penambang batu kasar!”
Setelah Kevin pergi, Aron menjelaskan masalahnya kepada Nuri, dan Nuri juga mengerti karena kondisi hidup di pedesaan cukup sulit, dan Nuri juga setuju!
Dua orang itu langsung berkendara menuju rumah lama Aron!
Rumah lama Aron ada di sebuah desa di Kota Sanur, yang awalnya hanyalah sebuah desa kecil tetapi setelah berkembang pesat, sekarang sudah banyak berubah!
Dan saat Aron kembali, dia melihat bahwa ada kata ‘robohkan’ di setiap rumah-rumah, dan sepertinya ini akan menjadi tempat pembongkaran, saat itu paman kedua Aron, Wahyu juga menginginkan rumah leluhur juga karena pembongkaran dan pembangunan!
Saat memasuki desa, ada segerombolan anak yang berlari namun Aron tidak mengenal satu pun dari mereka, dia sudah lama tidak pulang!
“Paman kedua, bibi ketiga, kalian sedang istirahat ya!”
Setelah masuk ke dalam desa, ada beberapa pria dan wanita yang duduk di samping jalan, dan Aron segera menurunkan jendela mobilnya dan menyapa!
Aron kenal dengan orang-orang ini, karena bagaimana pun dia dibesarkan di sini, dan setelah lulus sekolah menengah pertama, Aron baru pindah ke kota karena pekerjaan ayahnya, Wahyu!
Setelah mendengar suara Aron, beberapa pria tua dan wanita tua itu menoleh, segera, seorang wanita paruh baya mengenali Aron dan berkata : “Bukankah itu Aron? Bukankah kamu Lama Menghilang? Sejak kapan kamu kembali? Baru muncul sudah mengendarai Mercedes Benz?”
Wanita paruh baya itu menatap mobil yang dikendarai oleh Aron dan berkata.
Aron tersenyum canggung : “Bibi ketiga, saya baru Kembali belum lama!”
“Oh, kamu pulang untuk menghadiri pernikahan adik sepupumu ya? Saya beritahu ya, sekarang Shella sangat hebat, suaminya adalah seorang bos, sangat kaya, kebetulan kamu pulang kemari, kamu bisa berbicara baik-baik dengannya, mungkin saja kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, cepat pergilah…..”
Wanita paruh baya itu berkata dan mengibaskan tangannya.
Aron mengangguk, lalu menaikkan kembali jendela mobil dan terus melaju, lalu menatap Nuri dengan canggung : “Wanita di perdesaan itu semuanya seperti ini, mulut mereka mengatakan hal-hal yang buruk tapi maksud mereka tidak jahat, saat saya kecil bibi ketiga sering diam-diam merebus telur untuk saya makan!”
Segera, Aron menghentikan mobilnya di depan sebuah halaman kecil, halamannya tidak besar tapi sangat bersih, rumah dari batu bata itu juga baru di cat, ini adalah kampung halaman Aron, sepertinya sejak orang tuanya pulang, mereka sudah membersihkan rumah ini!
“Ayah, ibu………..”
Setelah turun dari mobil, Aron langsung berteriak keras.
Melihat rumah dari bata yang ada di depannya, dan teriakannya kepada orang tuanya, Aron tiba-tiba mengingat kembali masa kecilnya!
Dia ingat setiap kali dia pulang sekolah yang pertama dia lakukan adalah memanggil orang tuanya, lalu melemparkan tas sekolahnya ke halaman, lalu berbalik dan pergi bermain!
“Aron, kamu sudah pulang?”
Sheli berlari keluar dari dalam kamar dengan senang.
“Bibi!” saat Nuri melihat Sheli, dia tersenyum tipis.
“Aduh, Nuri juga datang, ayo cepat duduk di dalam!”
Sheli melihat Nuri benar-benar datang dan merasa sangat bahagia hingga ingin melompat.
Dia awalnya mengira seorang nona muda seperti Nuri, tidak akan suka datang ke pedesaan yang lingkungannya kotor dan berantakan, saat itu setelah menutup telepon, hati Sheli masih merasa gelisah, dia bertanya-tanya apakah Nuri akan datang, sekarang saat melihat Nuri, Sheli benar-benar sangat senang!
“Dimana ayah?” Aron bertanya pada Sheli.
“Dia pergi ke rumah bibi keduamu, untuk melihat apa ada yang bisa dibantu!”
Kata Sheli.
Di perdesaan memang seperti ini, setiap ada acara bahagia, semua orang akan bergotong royong dan saling membantu, karena bibi kedua Aron juga berasal dari Desa Collin, jadi sudah seharusnya yang tinggal di satu desa turut membantu!