ARON

ARON
Rencana Melahirkan 100 anak



Segera, sepuluh menit berlalu, Yudas tersenyum dingin pada Aron : “Saya lihat kamu memang berlagak ya, dimana orangmu?”


Tapi begitu Yudas selesai bicara, dia merasakan tanah bergetar, dan seluruh bangunan tampak mulai bergetar!


​“Kak Yudas, diluar ada banyak orang!”


Saat ini seorang pemuda berkata pada Yudas.


Yudas tercengang dan segera melihat melalui jendela, dan menemukan ada kerumunan orang yang mengepung seluruh restoran!


Yudas terkejut, lalu dengan cepat dia kembali menjadi tenang dan berkata pada pemuda yang bingung itu : “Jangan khawatir, tidak peduli seberapa banyak orang yang datang, saya dilindungi oleh Tuan Jekson, tidak ada orang yang berani menyentuhku!”


Setelah berkata, terdengar suara langkah kaki seseorang yang bergegas naik ke atas!


“Kak Benny…..”


Yudas terkejut saat melihat orang yang datang!


Dia adalah Benny yang tangan kirinya sudah patah, saat ini Benny terlihat serius, dia sama sekali tidak melihat Yudas dan langsung menghampiri Aron dan berkata dengan hormat : “Tuan Aron……”


Saat ini Benny ketakutan, dia kehilangan tangan kirinya karena menyinggung Aron, dia memenggalnya sendiri, dan hari ini Jekson bergegas menyuruhnya kemari, dia takut akan ada masalah yang membuat dirinya terkait lagi!


Saat Yudas melihat Benny begitu sopan pada Aron, dia menjadi bingung.


“Benny, kamu kenal dengan anak ini?” Aron menunjuk Yudas dan bertanya padanya.


“Kenal, tapi tidak akrab!” Benny berkata dengan jujur.


“Saya tidak ingin melihatnya lagi, sedangkan orang yang lain, patahkan kakinya!”


Suara Aron terdengar, dan Yudas langsung berlutut!


Yudas berlutut dan semua saudara-saudaranya juga ikut berlutut!


“Aron…..bukan, kakak, ayah, kakek…..kakek Aron, saya mohon padamu, ampuni nyawaku!”


Yudas mati-matian bersujud pada Aron!


“Yudas, bukankah kamu mengatakan kamu adalah bawahan Jekson? Sekarang orangnya sudah datang, dimana kesombonganmu?”


Aron menyeringai.


Yudas tidak berhenti memohon!


Aron mendengus dingin, dia berbalik, dan mata Benny memancarkan cahaya dingin dia mengeluarkan pisau dan menusuk Yudas!


“Jangan mengagetkan keluargaku!” Aron berkata dengan datar.


“Baik Tuan Aron!” Benny mengangguk lalu berkata pada bawahannya : “Seret orang-orang ini ke sebelah!”


Segera, ada ledakan duka dari ruangan sebelah!


Saat ini bibi kedua Aron dan keluarganya menutup mata, hanya mata Shella yang melebar dan menatap Aron dengan tidak percaya!


Dalam perjalanan pulang, bibi kedua Aron menatap Aron, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun!


Keesokan harinya, Aron berencana membawa Shella pergi ke Kota Sanur untuk sekolah.


Karena Aron sebenarnya punya banyak masalah yang harus diurus saat ini, kalau tidak, dia pasti akan tinggal bersama dengan orang tuanya di kampung halaman untuk waktu yang lebih lama!


Pada saat bersamaan, desa juga mulai menyiarkan kalau rumah setiap keluarga akan dievaluasi kembali dan kali ini akan dirobohkan dengan standar nasional, tidak akan ada pembongkaran paksa atau harga yang jauh lebih rendah, dan ini membuat orang-orang di Desa Collin menjadi bersemangat!


Aron membawa Shella pergi ke Kota Sanur, berkat koneksi willy, dia menemukan sebuah sekolah menengah yang baik untuk Shella!


Aron dan Nuri tinggal bersama Jhonatan selama satu hari di Kota Sanur, lalu langsung pergi ke Kota Taka keesokan harinya!


Masalah Serikat Raja Obat, Lembah Ilusi dan Batu Spiritual di Gunung Hoju belum diselesaikan, Adon juga belum menyelidikinya, jadi dia tidak bisa berlama-lama di Kota Sanur!


“Maaf, membuatmu harus bolak balik bersamaku, tidak bisa menemani ayahmu di rumah!”


Dalam perjalanan, Aron berkata pada Nuri dengan wajah bersalah.


“Menikah dengan ayam, akan menjadi ayam, menikah dengan anjing akan menjadi anjing, menikah dengan belalang, jadinya melompat kesana kemari, siapa suruh saya menyukaimu!”


Nuri berkata sambil tersenyum!


Aron juga tersenyum penuh cinta : “Tenang saja, tidak lama lagi, saya akan memberikan kehidupan yang stabil untukmu, kita berdua akan hidup hingga ratusan tahun, dan kamu akan melahirkan seratus anak untukku!”


“Cuih, saya tidak mau melahirkan sebanyak itu untukmu, saya juga bukan babi!” Nuri melirik Aron dengan malas!