ARON

ARON
Teras Obat



Saat itu, keluarga Wisono pernah diincar oleh musuh, ratusan orang mengepung kediaman Keluarga Wisono, dan belasan orang dari Keluarga Wisono berada dalam bahaya, pada akhirnya mereka hanya mengandalkan Paman Joni seorang untuk mengalahkan semua musuh itu, dan pada akhirnya Keluarga Wisono sudah menganggap Paman Joni seperti keluarga sendiri!


“Paman Joni, bawalah beberapa orang untuk pergi ke Kota Namae, kamu harus membawa pulang orang yang sudah membuat Tuan Muda menjadi cacat, kalau tidak bisa dibawa kemari hidup-hidup, mayatnya juga harus kamu bawa kemari, kalau masalah ini tidak bisa diselesaikan takutnya Keluarga Rangga akan semakin memandang rendah Keluarga Wisono!”


Saat ini bagaimana pun caranya Arka harus menghabisi Aron, kalau tidak setiap hari dia akan dimarahi oleh istrinya, dan diremehkan oleh anggota Keluarga Rangga, dan dia pun tidak berani menjawab!


“Tuan Besar, tenang saja saya pasti akan membawa orang itu padamu!”


Paman Joni mengangguk lalu berbalik pergi!


Keesokan paginya!


Aron dan yang lainnya baru bangun lalu sarapan di hotel, Nuri datang dengan mengendarai mobilnya!


“Kak Nuri, Kak Tedi takut kalian tidak mengenalinya jadi memintaku kemari untuk menjemput kalian!”


Yuri berkata pada Nuri.


“Baik, kalau begitu ayo berangkat!”


Nuri Mengangguk.


“Kak Nuri, semalam kamu dan pacarmu tidak tidur bersama kan?”


Yuri menghampiri Nuri dan bertanya dengan suara kecil.


“Sembarangan, kami tidur di kamar masing-masing!”


​Nuri memelototi Yuri!


Diantarkan oleh Yuri, Aron dan yang lainnya segera tiba di toko pusat Teras Obat!


Toko itu terletak di pusat kota dengan luas mencapai ribuan meter persegi, bisa dilihat kalau kekuatan Teras Obat tidak kecil!


“Baiklah!” Yuri menganggukkan kepala, dan menggandeng tangan Nuri : “Kak Nuri, ayo kita ke aula belakang!”


Aron dan Jekson mengikuti dua wanita itu dari belakang, pada saat itu Aron sedang melihat-lihat seluruh Teras Obat, meskipun masih pagi, tapi tokonya sudah dipenuhi oleh pelanggan, ada yang sedang memeriksa barang dan ada yang sedang melakukan tawar menawar.


Di tengah aula Teras Obat, ada ribuan jenis bahan obat, dan setiap bahan obat itu dipajang di etalase dan dilabeli dengan nama serta manfaatnya, terlihat jelas kalau Teras Obat sangat profesional!


Aron diam-diam merasakan dan menyadari kalau seluruh bahan obat yang ada di aula ini hanyalah bahan obat biasa, dia tidak merasakan adanya energi spiritual yang kuat, tapi kalau dipikir-pikir lagi ada benarnya juga, siapa yang mungkin memajang bahan obat langka di aula besar seperti ini.


Setelah melewati aula utama, mereka melalui sebuah lorong dan akhirnya sampai di aula besar yang ada di bagian belakang, ada gudang di kedua sisi aula besar ini, yang di dalamnya terdapat tumpukan kantong-kantong bahan obat!


“Saudara Aron, kalian sudah sampai ya….”


Melihat Aron dan yang lainnya sudah tiba, Tedi bergegas menghampiri dan menyambut dengan senyuman : “Kalian duduk dulu sebentar ya, saya sedang ada tamu, setelah selesai saya akan membawa kalian berkeliling!”


“Kak Tedi, tidak usah tergesa-gesa, kamu sibuk saja dulu!” Aron tersenyum.


Tedi mengangguk : “Pelayan, bawakan teh untuk mereka!”


Setelah menyuruh seseorang untuk membawakan Aron dan yang lainnya minuman, Tedi beranjak pergi, pada saat ini ada seorang pria paruh baya yang duduk di samping Meja Delapan Dewa yang ada di tengah ruangan, dan Tedi juga langsung duduk dihadapan pria itu!


Dua orang itu berbincang, dan ditengah meja Delapan Dewa itu juga terdapat sebuah kotak kayu yang sangat indah, sepertinya mereka sedang bertransaksi!


Aron duduk dan mencoba tehnya, dan karena bosan dia melihat-lihat sekelilingnya.


“Pak Tedi, ginseng yang saya bawa ini adalah ginseng liar yang sudah berusia ratusan tahun lebih, coba kamu lihat dulu kualitasnya, lihatlah kepala ginseng dan akarnya, ini ginseng liar kelas atas, 20 miliar untuk ginseng seperti ini tidak mahal, kalau Teras Obat tidak mau membelinya, saya bisa mencari Rumah Herbal, mereka tidak akan keberatan membayar 20 miliar untuk ginseng ini!”


​Pria paruh baya itu tiba-tiba meninggikan suara bicaranya pada Tedi.