
“Ibu, kamu tidak apa-apa kan? Mereka sudah pergi!”
Setelah Doddy pergi, Aron langsung bertanya penuh cemas pada Sheli.
“Aduh, kamu ini! Baru saja pulang, sudah mencari gara-gara dengan mereka lagi!”
Sheli segera mengoceh pada Aron : “Cepat pungut uang yang ada di lantai, itu uang yang kita kumpulkan dengan susah payah.”
Aron jongkok dan memungut uang yang berjatuhan di lantai dan memasukkannya kembali kedalam kantongan.
“Ibu, lain kali biar saya saja yang mencari uang, ibu dan ayah beristirahat saja dirumah, dan saya juga akan mencari cara untuk menyembuhkan matamu.”
Aron menyimpan kembali uang itu dan menyerahkannya kepada Sheli.
“Niatmu saja sudah cukup!” Sheli berkata, lalu tiba-tiba mulai menangis : “Sekarang kamu sudah pulang, hati ibu sudah tenang, kalau bukan karena mengawatirkan mu, ibu pasti sudah mati sejak dulu…..”
Dia melihat ibunya menjadi seperti ini, mata Aron mulai berapi-api!
Bam…..
Aron tidak tahan lagi, dia meninju meja yang ada dihadapannya!
BUuk…..
Meja itu hancur berkeping-keping dalam sekejap!
Keluarga Jhonson…..
Keluarga Lendra…..
Saya pasti akan membuat mereka menanggung akibatnya, pasti…..
Sekujur tubuh Aron dipenuhi dengan aura kemarahan yang berapi-api!
Seolah merasakan kemarahan Aron, Sheli berkata dengan tergesa-gesa : “Aron, kamu jangan mencari perkara ya, sekarang kamu sudah kembali, kamu fokus mencari pekerjaan saja, semuanya akan menjadi lebih baik lagi setelah ini.”
“Ibu, jangan khawatir, saya tahu harus berbuat apa, saya mau keluar sebentar!”
Aron menghibur ibunya sendiri, lalu pergi keluar, dia mau pergi mencari Shanti untuk meminta penjelasan!
Setelah keluar dari rumah pun aura kemarahan masih melekat di tubuh Aron!
Tapi saat Aron hendak menyebrang jalan, tiba-tiba sebuah Porsche merah melaju kencang, sangat kencang dan langsung menabrak Aron hingga terlempar!
Baam….
Tubuh Aron bertubrukan dengan aspal, kalau saja dia tidak dilatih oleh Liu Khang, tabrakan itu pasti sudah mencabut nyawanya!
“Siapa yang tidak punya mata!”
Aron yang bawaannya memang sedang marah, menjadi lebih marah lagi karena tertabrak!
“Bajingan, kamu menyebrang tidak lihat-lihat dulu, tidak punya mata?”Tepat saat Aron memaki dan berusaha bangkit berdiri, sebuah suara mendecitt terdengar!
Seorang gadis terlihat turun dari Porsche itu, dia mengenakan gaun berwarna putih, dan mengenakan sepatu hak tinggi, dia terlihat sangat cantik, dan menatap Aron dengan tatapan kesal!
Aron mengernyitkan keningnya, awalnya dia berusaha bangkit berdiri, tapi malah kembali terbaring di tanah.
“Diantara kita siapa yang tidak punya mata? Jelas-jelas kamu yang mnabrakku, kamu terlihat begitu cantik tapi kenapa saat membuka mulutmu malah seperti kotoran busuk?”
Aron berkata dengan tegas kepada gadis itu.
“Kamu berani memakiku?”
Gadis itu menatap Aron dengan emosi, dan tiba-tiba mengangkat kakinya dan menendang Aron.
Gadis itu mengenakan sepatu hak tinggi, hak sepatu itu seruncing pisau, kalau tendangan itu mengenai tubuh orang pasti akan langsung berdarah!
“Nuri, berhenti…..”
Melihat gadis itu melayangkan tendangannya kearah Aron, seorang pria paruh baya membuka pintu mobil dan turun dari mobil.
Pria paruh baya itu terlihat acuh tak acuh, terlihat seperti seseorang yang sudah lama memiliki jabatan tinggi !
Namun wajah pria itu terlihat sedikit memucat, nafasnya terengah-egah, setelah meneriakkan kalimat itu, dia langsung berpegangan pada pintu mobil dan menarik nafas dengan susah payah!
“Ayah, kenapa Ayah turun!”
Setelah melihat pria paruh baya itu, Gadis itu langsung bergegas menghampirinya dan memapahnya.
“Ayo cepat kita ke rumah sakit, jangan menghabiskan waktu lagi….”
Pria paruh baya berkata pada gadis itu.
Gadis itu mengangguk, dan kembali ke hadapan Aron, dia mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan melemparkannya pada Aron : “Disini ada sepuluh juta, segera ambil uang itu dan pergi, kami masih ada urusan penting!”
Aron tidak mengambil uang itu, dia berdiri dan menatap pria paruh baya yang berada tidak jauh darinya dan berkata : “Tidak perlu ke rumah sakit, sudah tidak sempat.”
Selesai berkata, Aron berbalik dan hendak pergi, dia bisa melihat kalau pria paruh baya ini sudah sekarat dan tidak akan sempat sampai ke rumah sakit!
“Berhenti!” Gadis itu menghalangi jalan Aron dan menatapnya dengan jengkel : “Apa maksudmu, jelaskan maksud dari ucapanmu barusan atau jangan harap bisa pergi dari sini!”
Disaat itu pria paruh baya juga mengernyitkan keningnya dan berjalan beberapa langkah menuju Aron!
“Ayahmu punya penyakit tersembunyi yang akut, lukanya ada di paru-paru sebelah kiri, tidak sampai lima menit dia akan mengalami kesulitan bernafas dan mati lemas, dalam lima menit apakah kamu bisa sampai ke rumah sakit?”
Aron berkata dengan tenang sambil bertanya pada gadis itu.
“Bicara sembarangan, ayahku itu hanya pilek…..”
“Nuri…..”
Pria paruh baya itu memanggil anaknya, lalu kembali melangkah beberapa langkah menuju Aron, matanya penuh keterkejutan : “Adik, bagaimana kamu bisa mengetahui kalau paru-paru kiri ku pernah terluka?”
“Kujlaskan pun kamu tidak akan mengerti, saya ada urusan penting, tidak punya waktu untuk dibuang-buang disini….”
Aron berkata lalu berbalik dan hendak pergi!
“Adik….huk huk…..” pria paruh baya itu memanggil Aron, lalu terbatuk-batuk, ketika dia sedikit stabil, dia langsung melangkah menuju Aron dan menarik lengannya : “Adik, kamu bisa mengetahui penyakit ku, kamu pasti bisa menyembuhkannya juga, saya berharap Adik ini bersedia menyelamatkan nyawaku, berapapun harganya akan ku bayar, ini adalah kartu namaku!”
Awalnya Aron tidak ingin menerimanya, dan tidak peduli, tapi saat dia melihat nama yang tertera pada kartu nama itu, dia langsung mengambilnya dan bertanya : “Kamu adalah Direktur dari Perusahaan Utomo, Jhonatan Utomo?”
“Tepat sekali!” Jhonatan mengangguk.
Tiba-tiba Aron menembakkan tangannya kearah Jhonatan, dua jarinya menitik pada beberapa titik akupunktur utama lainnya.
Kecepatan Aron sangat cepat, sehingga Jhonatan dan Nuri pun belum sempat menyadarinya.
“Apa yang kamu lakukan?” Nuri bergegas menuju kearah Jhonatan, tapi pada saat itu Aron sudah selesai.
Tapi, Jhonatan yang sudah ditotok oleh Aron merasa jauh lebih baik, nafasnya berangsur-angsur ringan dan wajahnya mulai terlihat segar.
“Saya hanya mengontrol lukamu untuk sementara, untuk benar-benar pulih akan memerlukan waktu, penyakit tersembunyimu harus disembuhkan perlahan-lahan karena faktor usiamu!”
Aron berkata dengan datar.
“Terima kasih, adik, sudah bersedia turun tangan mengobatiku, saya sangat berterima kasih….” Jhonatan meraih dan menjabat tangan Aron dengan semangat dan terus berterima kasih kepadanya.
Nuri yang melihat wajah ayahnya menjadi lebih segar, dan terlihat lebih sehat dibandingkan sebelumnya juga merasa sangat kaget.“Saya menyelamatkanmu karena saya tahu kamu sering berderma, membangun belasan sekolah, karena alasan itu saya harus turun tangan!”
Aron menyelamatkan Jhonatan karena dia tahu Jhonatan adalah orang yang sangat baik, kalau hanya seseorang yang dia temui secara kebetulan dan apalagi tidak saling mengenal, Aron belum tentu akan turun tangan dan menyelamatkannya, apalagi tadi Nurii juga bersikap dan bertutur kata tidak sopan kepadanya, hampir menabraknya hingga mati, Aron bukan tipe berhati malaikat yang membantu siapa saja!
Mendengar itu Jhonatan merasa sedikit canggung : “Yang saya lakukan bukan apa-apa, masih jauh dari kata kebajikan, Adik, kamu sudah menyelamatkan nyawaku, apapun yang kamu inginkan, katakan saja, sekarang sudah hampir siang, bagaimana kalau saya mengajakmu makan di Hotel Sadewa ?”
“Tidak usah, saya masih ada urusan!”
Aron menggelengkan kepalanya dan menolak, dia harus menemukan Santi dan meminta penjelasannya.
Jhonatan merasa aneh melihat Aron yang menolak tawarannya, sebagai orang terkaya di Kota Sanur banyak orang yang menginginkan kesempatan untuk mentraktirnya dan makan bersama dengannya, dan semua orang-orang itu juga memiliki kekuasaan.
Sekarang, dia berinisiatif mengajak Aron makan, tapi tidak disangka malah ditolak, ini diluar dugaannya!
“Adik, bagaimanapun kita harus makan bersama, ini sebagai tanda terima kasihku!”
Jhonatan menarik lengan Aron dengan erat.
Aron menyadari kalau Jhonatan sangat ingin mentraktirnya karena ingin mengetahui tentang pengobatan selanjutnya, tapi dia juga tahu kalau Jhonatan juga berniat baik dan tulus, Aron akhirnya mengangguk : “Begini saja, saya akan mengurus urusanku dulu, baru menemui mu.
Setelah Aron berkata seperti itu Juan baru melepaskan genggamannya : “Baik, janji ya, kalau sudah sampai, telepon saja saya!”
Aron menganguk , lalu bergegas pergi menuju Kediaman Keluarga Lendra!
………………
“Dimana Santi? Saya mau menemuinya!”
Disebuah vila yang sedikit tua, Aron sedang berbicara dengan wanita paruh baya yang ada didepannya!
Wanita paruh baya ini adalah ibunya Santi, Jessi, dulu Aron tidak akan berani berbicara dengan nada seperti itu pada Jessi, tapi sekarang, setelah dia mendengar cerita ibunya, Aron menjadi sangat marah, tidak langsung menghabisi mereka saja sudah bagus.
Jessi mengenakan gaun, dia terlihat sombong dan kedua tangannya dilipat didepan dadanya, dia menatap Aron dengan jijik dan berkata : “Cepat enyah dari sini, hari ini putriku akan menikah, kamu seorang pecundang buangan akan membawa sial….”
“Menikah?”
Aron mengernyitkan keningnya, ternyata apa yang dikatakan Doddy itu benar!
“Dimana Santi? Dia menikah dengan siapa? Suruh dia keluar dan jelaskan padaku…..”
Aron memasang wajah dingin dan langsung menerobos kedalam vila!“Aduh….dasar sinting, bagaimana bisa menerobos rumah orang begitu saja?”
Jessi menarik Aron dengan sekuat tenaga!
Tapi kekuatannya tidak sebanding dengan Aron, dia malah terseret kedalam vila bersama dengan Aron!
Melihat Aron yang menerobos masuk, seorang wanita yang mengenakan baju pengantin bergegas menghampirinya dengan wajah marah!
Melihat wanita itu, Aron langsung menghentikan langkahnya.
“Santi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang terjadi? Jelaskan padaku!”
Aron menatap Santi dengan penuh amarah dan bertanya padanya!
“Aron, pergilah, jangan cari saya lagi, saya sudah membuat keputusan untuk menikah dengan Ronal!”
Santi berkata dengan wajah tak berekspresi pada Aron!
Aron menyipitkan matanya, dia mengepalkan tinju dengan erat, meskipun dia sudah mengetahuinya tapi mendengar langsung dari mulut Santi membuat hatinya seperti dihantam dengan keras.
Dia dijebloskan ke dalam jurang, dan sekarang pacarnya sendiri malah mau menikah dengan Ronal?
Sungguh ironis!
Tiba-tiba Aron tertawa pahit, dia merasa dirinya sangat naif…..
“Ini adalah keinginanmu?”
Aron menatap Santi, kemarahan diwajahnya sirna, dan kepalan tangannya sudah direngangkan.
“Benar!” Santi mengangguk : “Saya ingin hidup sebagai orang kaya, dan kamu tidak bisa memberikan itu kepadaku.”
“Lalu sekarang kamu pengangguran kamu belum tentu bisa menafkahi dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa menafkahiku?”
“Melihat hubungan kita sebelumnya, ini ada beberapa ratus ribu, ambillah, setidaknya kamu tidak perlu tidur di jalanan!”
Setelah berkata, Santi mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan melemparkannya ke wajah Aron.
Seketika itu Aron menatap Santi, hatinya sudah mati rasa, wanita yang ada dihadapannya bukan lagi pacarnya yang dulu
“Kamu akan menyesal!
Selesai berkata, Aron langsung membalikkan badannya dan pergi, dia tidak mengambil uang Santi.
“cih, kalau menikah dengan orang miskin sepertimu baru akan menyesal.
Jessi yang ada dibelakang langsung meludah dengan kuat!.